<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>maaf Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/maaf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/maaf/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Jun 2022 15:45:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>maaf Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/maaf/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2022 15:43:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hak]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[minta maaf]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasan bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5786</guid>

					<description><![CDATA[<p>Manusia adalah tempatnya salah. Rasanya mustahil ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan satu kali pun seumur hidupnya. Bahkan jika pernah membaca kisah-kisah nabi, mereka pun dituliskan pernah berbuat salah hingga ditegur langsung oleh Tuhan. Kesalahan yang dilakukan oleh manusia juga bermacam-macam. Ada yang dilakukan ke diri sendiri, ada juga yang dilakukan ke orang lain. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/">Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Manusia adalah tempatnya salah. Rasanya mustahil ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan satu kali pun seumur hidupnya. Bahkan jika pernah membaca kisah-kisah nabi, mereka pun dituliskan pernah berbuat salah hingga ditegur langsung oleh Tuhan.</p>



<p>Kesalahan yang dilakukan oleh manusia juga bermacam-macam. Ada yang dilakukan ke diri sendiri, ada juga yang dilakukan ke orang lain. Ketika sudah melakukan kesalahan, hal yang perlu kita lakukan adalah meminta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<p>Namun, tak jarang kita memiliki pikiran kalau kesalahan kita ke orang terlalu parah, sehingga muncul perasaan kalau kita tidak pantas untuk dimaafkan. Penulis juga pernah merasa seperti itu, sehingga ingin mengulas sedikit perihal ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban untuk Meminta Maaf</h2>



<p>Sejak kecil, Penulis diajarkan oleh orang tuanya mengenai tiga kata sakti: <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/"><strong>Tolong</strong>, <strong>Terima Kasih</strong>, dan<strong> Maaf</strong></a>. Ketiga kata ini dianggap sebagai landasan utama ketika berinteraksi dengan orang lain.</p>



<p>Gunakan kata tolong jika membutuhkan bantuan orang lain, katakan terima kasih jika menerima kebaikan orang lain, dan ucapkan maaf jika kita berbuat salah. Penulis pun berusaha untuk menerapkan ini dalam kehidupannya sehari-hari.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis selalu menganggap<strong> meminta maaf setelah berbuat kesalahan adalah sebuah kewajiban</strong>. Penulis tidak merasa dirinya sebagai orang yang kesulitan atau merasa segan untuk mengeluarkan kata maaf dari mulutnya.</p>



<p>Apalagi, Penulis adalah tipe pemikir yang lebih sering <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">menyalahkan diri sendiri</a> daripada menyalahkan orang lain. Daripada berdebat siapa yang salah, Penulis memilih untuk melakukan interopeksi diri dan meminta maaf jika menyadari kesalahannya.</p>



<p>Tentu, permintaan maaf tersebut harus tulus dari hati, bukan hanya sekadar terucap. Maaf juga harus disertai adanya tindakan yang menunjukkan kalau kita akan berusaha untuk tidak mengulangi atau berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memaafkan adalah Hak Mereka</h2>



<p>Dalam kasus yang ekstrem (misal sedang bertengkar dengan seseorang), Penulis merasa kalau kontrol emosinya masih buruk. Orang yang sedang dikuasai oleh emosi, biasanya akan terlontar kata-kata yang kurang terpuji dan menyakitkan.</p>



<p>Setelah emosinya mereda dan otak mulai bisa berpikir dari jernih, muncul perasaan bersalah karena sudah berbuat seperti itu. Jika mengaitkannya dengan poin sebelumnya, seharusnya Penulis harus langsung minta maaf karena telah menyadari kesalahannya.</p>



<p>Hanya saja, muncul perasaan kalau tindakan buruk yang sudah Penulis lakukan ke orang tersebut cukup parah dan keterlaluan. Alhasil, keinginan untuk minta maaf pun jadi meluntur karena merasa tidak layak untuk dimaafkan.</p>



<p>Padahal, <strong>memaafkan adalah hak mereka sepenuhnya</strong>. Mau dimaafkan atau tidak oleh mereka, kita tetap harus melaksanakan kewajiban untuk meminta maaf. Kita tidak sepatutnya merebut hak orang lain dengan menentukan apakah kita layak untuk dimaafkan atau tidak.</p>



<p>Jika memang kesalahan kita dianggap &#8220;tak termaafkan&#8221; oleh mereka, ya sudah itu hak mereka. Yang penting, kewajiban kita sudah selesai dilakukan. Berdoa saja agar Tuhan mau mengetuk hatinya agar mau memaafkan kesalahan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis paham terkadang ada kondisi yang membuat kita merasa kesulitan untuk meminta maaf. Mengakui kesalahan dan meminta maaf membutuhkan keberanian yang luar biasa, tidak semua orang mampu melakukannya.</p>



<p>Untuk itu, coba untuk membiasakan mana yang menjadi kewajiban kita dan mana yang menjadi hak mereka. Sekali lagi, kewajiban kita adalah meminta maaf, sedangkan memaafkan adalah hak mereka. </p>



<p>Usahakan jangan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">menghakimi diri sendiri</a> apakah diri ini pantas untuk dimaafkan atau tidak. Selain bisa bersifat destruktif ke diri sendiri, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">rasa bersalah bisa terus menghantui dan membelenggu kita</a>.</p>



<p>Beberapa tips umum yang bisa diterapkan jika hendak minta maaf adalah mencari momen yang tepat, tunjukkan ketulusan dalam meminta maaf, serta berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.</p>



<p>Penulis percaya, berani meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat akan jauh melegakan hati daripada terus memendam kesalahan karena merasa tidak pantas untuk dimaafkan. </p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 29 Juni 2022, terinspirasi setelah menyadari terkadang dirinya merasa bersalah dan tidak pantas untuk dimaafkan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@alex-green/">Alex Green on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/">Minta Maaf Itu Kewajiban Kita, Memaafkan Itu Hak Mereka</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/minta-maaf-itu-kewajiban-kita-memaafkan-itu-hak-mereka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbelenggu Rasa Bersalah</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Sep 2019 10:47:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[menyesal]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang mudah khawatir bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana. Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi. Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230; Manusia adalah tempatnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-khawatir/">orang yang mudah khawatir</a> bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana.</p>
<p>Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi.</p>
<h3>Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230;</h3>
<p>Manusia adalah tempatnya salah, sehingga wajar jika manusia melakukan kesalahan. Walaupun penulis menyadari hal tersebut, kenyataannya tetap saja sering merutuki diri sendiri ketika melakukan kesalahan.</p>
<p>Contoh, ketika tanpa sengaja melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang menusuk. Yang akan penulis lakukan adalah terus menerus meminta maaf, kadang secara berlebihan, kepada yang bersangkutan.</p>
<p>Akibat berkali-kali meminta maaf, pada akhirnya orang yang bersangkutan pun akan menjadi jengkel ke kita. Perasaan marah yang sebelumnya tidak seberapa akhirnya jadi bertambah.</p>
<p>Tidak cukup hanya di situ. Meskipun sudah dimaafkan, penulis akan tetap terbebani karena merasa yang memberi maaf tidak sepenuhnya memberi maaf. Ada saja pikiran-pikiran tambahan yang datang dan menambah rasa bersalah.</p>
<p>Frustasi karena itu, penulis pun memaki diri sendiri karena sudah berbuat bodoh. Penulis melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mengubah keadaan, baik bagi penulis sendiri maupun orang yang telah disakiti.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena munculnya perasaan menyesal yang begitu mendalam, penyesalan yang sebenarnya tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.</p>
<h3>Yang Seharusnya Dilakukan</h3>
<p>Ketika kita sudah berbuat salah, tentu yang harus kita lakukan adalah meminta maaf. Perkara dimaafkan atau tidak, sebenarnya tidak perlu kita risaukan. Yang penting, kita sudah mengakui kesalahan dan berani meminta maaf.</p>
<p>Kita tidak perlu tersiksa karena perasaan bersalah tersebut. Lebih baik, kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengusir rasa bersalah tersebut.</p>
<p>Kalau memang hubungan kita dengan yang bersangkutan cukup dekat, mungkin kita bisa menjelaskan alasan mengapa kita sampai berbuat seperti itu.</p>
<p>Tak perlu merasa malu apabila kita harus mengucapkan kalimat seperti <em>maaf, aku seperti itu karena aku butuh kamu</em>. Asal tidak berlebihan, penulis rasa orang tersebut akan mau mendengarkan kita.</p>
<p>Selain itu, seharusnya penulis bisa menjadikan kesalahan tersebut sebagai momen untuk berubah menjadi lebih baik. Penulis juga akan mencari akar penyebabnya sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.</p>
<p>Penulis selalu percaya, semua peristiwa pasti memiliki hikmahnya, termasuk ketika kita berbuat kesalahan. Jawabannya akan bisa kita temukan dengan melakukan perenungan atau <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">kontemplasi</a>.</p>
<h3>Memaafkan Diri Sendiri</h3>
<p>Terbelenggu oleh rasa bersalah yang dimiliki itu sangat tidak mengenakan. Kita seharusnya tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Membuat kesalahan itu benar-benar hal yang wajar bagi manusia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat kita merasa berat ketika berbuat kesalahan kepada orang lain adalah karena kita susah untuk memaafkan diri sendiri. Entah mengapa, rasanya memaafkan orang lain jauh lebih mudah, setidaknya bagi penulis.</p>
<p>Padahal, dengan memaafkan diri sendiri, kita bisa lebih mudah melepaskan rasa bersalah yang sudah kita buat sendiri. Kita akan berdamai dengan diri kita sendiri tanpa perlu lagi merutuki kebodohan yang telah diperbuat.</p>
<p>Berlarut-larut dalam perasaan bersalah tidak akan memberikan dampak positif bagi siapapun. Maka dari itu, penulis berjanji kepada diri sendiri agar tidak mudah terbelenggu lagi oleh perasaan bersalah di masa depan. Semoga para pembaca pun seperti itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melawai, 15 September 2019, terinspirasi setelah melakukan kesalahan tolol yang sama berkali-kali</p>
<p>Foto: <a href="https://optimalpositivity.com/wp-content/uploads/2018/11/6-Behaviors-that-Push-People-Away-And-How-to-Reverse-Them-970x475.jpg">Optimal Positivity</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[santun]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua. Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.</p>
<p>Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah <strong>maaf</strong>, <strong>tolong</strong>, dan <strong>terima kasih</strong>. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.</p>
<p><strong>Maaf</strong></p>
<p>Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata <strong>maaf</strong>. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak <em>semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang</em>.</p>
<p>Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak <strong>baper</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1616" class="size-large wp-image-1616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash.jpg 1800w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1616" class="wp-caption-text">Photo by Tim Mossholder on Unsplash</p></div></p>
<p>Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.</p>
<p>Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata <strong>permisi</strong>, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.</p>
<p>Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.</p>
<p><strong>Tolong</strong></p>
<p>Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata <strong>tolong </strong>harus terucap.</p>
<p>Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di <em>chat</em>. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.</p>
<p>Alih-alih berkata &#8220;mas, tolong save ya&#8221;, mereka justru hanya berkata &#8220;mas save&#8221;. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.</p>
<p><div id="attachment_1617" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1617" class="size-large wp-image-1617" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg" alt="" width="1024" height="735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-768x551.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-356x255.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash.jpg 1097w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1617" class="wp-caption-text">Photo by Dane Deaner on Unsplash</p></div></p>
<p>Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.</p>
<p>Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.</p>
<p>(Peribahasa Jawa <em>kebo nyusu gudhel </em>yang bermakna <strong>yang tua belajar kepada yang muda</strong> benar-benar kerap terjadi di era ini)</p>
<p>Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.</p>
<p><strong>Terima Kasih</strong></p>
<p>Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, <strong>terima kasih </strong>bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.</p>
<p><div id="attachment_1618" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1618" class="size-full wp-image-1618" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-356x244.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1618" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.</p>
<p>Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah <strong>sama-sama</strong>. Bisa juga dengan kata sederhana seperti <em>oyi, siap, yuhuu</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.</p>
<p>Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.</p>
<p>Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>chat</em> dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/VZILDYoqn_U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Caleb Woods</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sorry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
