<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>makanan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/makanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/makanan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2024 15:26:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>makanan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/makanan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2024 15:26:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[variety show]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7335</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang pernah Penulis bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, belakangan ini Penulis kembali mengikuti dunia per-K-Pop-an sejak berkenalan dengan Twice. Bahkan, yang kali ini bisa dibilang lebih intens berkat algoritma yang dimiliki oleh YouTube Music. Meskipun menikmati musiknya, sebenarnya Penulis tidak terlalu suka menonton video performance atau konser mereka. Penulis justru lebih tertarik menonton berbagai acara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/">Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seperti yang pernah Penulis bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, belakangan ini Penulis kembali mengikuti dunia per-K-Pop-an sejak berkenalan dengan Twice. Bahkan, yang kali ini bisa dibilang lebih intens berkat <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">algoritma yang dimiliki oleh YouTube Music</a>.</p>



<p>Meskipun menikmati musiknya, sebenarnya Penulis tidak terlalu suka menonton video <em>performance </em>atau konser mereka. Penulis justru lebih tertarik menonton berbagai acara <em>reality show </em>maupun <em>talkshow </em>yang melibatkan mereka.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis juga jadi sering menonton acara yang melibatkan para <em>idol girlband</em> yang musiknya Penulis dengarkan, terutama <em>Runningman </em>dan <em>Weekly Idol</em>. Apalagi, banyak dari mereka yang memiliki acaranya sendiri, seperti<em> <strong><a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Time to Twice</a></strong></em><strong> </strong>dan <strong><em>1, 2, 3 IVE</em></strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<p>Saat menonton acara-acara tersebut, Penulis pun jadi sadar akan sesuatu. Hampir di semua episode <em>reality show </em>tersebut, terselip berbagai hal yang terkesan &#8220;mempromosikan&#8221; Korea Selatan kepada dunia. <em>Reality show </em>digunakan untuk mempromosikan negaranya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Reality Show Korea Selatan Menjadi Sarana Promosi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-7477" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Acara Runningman Memperkenalkan Banyak Wisata dan Makanan Korea Selatan (<a href="https://lifeadventuresofgenina.blogspot.com/2013/09/tuesday-running-man-episode-161-running.html">Life Adventure of Gegina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelum bersentuhan dengan dunia K-Pop, yang Penulis ketahui tentang Korea Selatan hanya mereka pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Selain itu, yang Penulis tahu lagi tentu Park Ji-sung, pemain sepak bola top yang pernah berseragam <a href="https://whathefan.com/olahraga/daftar-pemain-manchester-united-yang-ingin-saya-jual-musim-depan/">Manchester United</a>. </p>



<p>Setelah berkenalan dengan K-Pop, Penulis jadi mulai mengenal Korea Selatan lebih luas. Selain dari segi musik dan persaingan industri yang keras, Penulis juga jadi banyak mengenal banyak hal mulai dari bahasa, budaya, hingga makanan.</p>



<p>Salah satu yang &#8220;berjasa&#8221; untuk hal tersebut bagi Penulis adalah <em><strong>Runningman</strong></em>. Acara yang sudah berjalan ratusan episode tersebut kerap diadakan di berbagai tempat di Korea Selatan, yang secara tak langsung menjadi sarana promosi wisata untuk menarik wisatawan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="[RUNNINGMAN] The spicy and scary chili jjamppong which has capsaicin and chilis (ENGSUB)" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/SkcP-I53Tyo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Meskipun acaranya &#8220;kejar-kejaran&#8221; (setidaknya di episode-episode awal), selalu ada saja<em> B-roll</em> yang memperlihatkan keindahan lokasi yang digunakan untuk syuting, entah itu di pusat kota Seoul hingga tempat yang jauh seperti Jeju Islands.</p>



<p>Tidak hanya tempat wisata yang ditonjolkan, banyak episode <em>Runningman </em>yang juga menonjolkan kuliner asli Korea Selatan. Selalu ada <em>shot </em>di mana para <em>member </em>dan bintang tamu terlihat sangat menikmati hidangan yang ada.</p>



<p>Pola ini juga Penulis temukan di <em>reality show </em>lainnya yang Penulis tonton seperti <em>Time to <strong>Twice</strong> </em>dan <em><strong>1, 2, 3 IVE</strong></em>. Bahkan salah satu <em>member </em>dari IVE, Rei, memiliki kanal YouTube sendiri bernama <strong>따라해볼레이 by섭씨쉽도 (Follow Rei)</strong> dan memiliki pola yang serupa. </p>



<p>Contoh di episode 27 ketika acara tersebut mengundang <em>member </em>IVE lainnya, Leeseo. Pada episode tersebut, Rei dan Leeseo melakukan piknik di pinggir sungai Han yang terkenal sembari menikmati berbagai makanan Korea Selatan. </p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="아이브 활동 중 레이 이서 업고 한강으로 튀어 | 따라해볼레이 EP.27" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/sOToBNXkYoM?list=PLvGP2JpRxVlCGFshQuu-avxGQcth2sMdB" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Selain itu, bahasa yang digunakan sudah pasti menggunakan bahasa Korea. Sama seperti penonton anime, penonton <em>reality show </em>Korea Selatan pun jadi termotivasi untuk bisa memahami bahasa Korea Selatan agar tidak perlu menggunakan <em>subtitle </em>lagi untuk menonton.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Indonesia (Harusnya) Bisa Mengadopsi Strategi Reality Show Korea Selatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7478" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/reality-show-korea-selatan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Konsep Reality Show Korea Selatan Bisa Kita Adopsi (<a href="https://x.com/JYPETWICE/status/1522501423543590913">X</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu Korea Selatan tidak hanya memanfaatkan K-Pop dan <em>reality show </em>untuk menyebarkan berbagai budaya dan mempromosikan pariwisata serta makanannya. Drama dan film Korea Selatan pun sudah sangat mendunia.</p>



<p>Namun, menurut Penulis memanfaatkan <em><strong>reality </strong></em><strong><em>show </em>sebagai sarana promosi negara adalah ide yang cerdik</strong>.<em> </em>Berbeda dengan K-Pop dan drama yang mungkin cukup <em>segmented</em>, <em>reality show </em>cenderung bisa lebih dinikmati oleh orang banyak.</p>



<p>Contoh, Penulis biasanya mengajak ibunya untuk menonton acara-acara <em>reality show </em>Korea Selatan, tentu yang sekiranya bisa masuk dan dipahami oleh beliau. Walau kadang lebih banyak berkomentar mengenai &#8220;operasi plastik,&#8221; ibu Penulis ternyata bisa menikmati <em>reality show </em>tersebut.</p>



<p>Salah satu alasannya adalah<strong> <em>reality show </em>dikemas dalam bentuk hiburan</strong>, sehingga terkesan ringan dan mudah untuk dinikmati. Kita tidak perlu mengikuti alur cerita atau memiliki selera musik tertentu, karena <em>reality show </em>memang dibuat agar mudah dipahami.</p>



<p>Karena perannya untuk menghibur, tentu penonton akan sering tertawa ketika menontonnya. Oleh karena itu, penonton pun tak keberatan (dan mungkin tidak sadar) jika di dalam acara tersebut terselip promo-promo terselubung, entah dari segi pariwisata, budaya, maupun makanan.</p>



<p>Konsep inilah yang menurut Penulis perlu Indonesia tiru, <strong>bagaimana cara mempromosikan negara kita tercinta ini melalui acara <em>reality show </em>yang bisa diterima oleh banyak orang secara global</strong>. Menurut Penulis, peluang ini masih belum sering kita eksplorasi.</p>



<p>Mungkin permasalahan utamanya adalah <strong>belum terlalu mendunianya para <em>public figure </em>kita</strong> jika dibandingkan dengan <em>public figure </em>Korea Selatan. Penulis sendiri menonton <em>reality show </em><a href="https://whathefan.com/musik/feel-special-twice/">Twice</a> dan IVE karena itu acara mereka. Jika yang melakukan orang lain, mungkin Penulis tidak akan menontonnya, tak peduli mau semenarik apapun acaranya.</p>



<p>Memang sudah banyak sekali <em>public figure </em>kita yang mendunia, entah dari dunia musik, film, dan lainnya. Namun, Penulis cukup ragu kalau nama mereka sampai digila-gilai oleh orang dari negara lain seperti mereka menggilai <em>idol </em>K-Pop.</p>



<p>Kalaupun belum bisa mengglobal karena alasan tersebut, menyasar pasar lokal dulu pun tidak masalah. Kalau menargetkan masyarakat kita sendiri, tentu tujuannya adalah <strong>meningkatkan pariwisata domestik </strong>sekaligus <strong>memberikan edukasi</strong>.</p>



<p>Contoh yang baru saja Penulis temukan adalah seri <strong>Kisarasa </strong>di YouTube. Dipandu oleh Chef Renata dan Chef Juna, acara ini mampu membalut acara kuliner secara unik, di mana sinematografi dan narasinya berbeda dengan kebanyakan kanal kuliner lainnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="KISARASA | S3 - Episode 5 - RAGAM HIDANGAN PETIS KHAS SURABAYA" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/O5f_x5iMLNo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Kisarasa seolah dibuat untuk melestarikan makanan-makanan khas nusantara, dengan menayangkannya kepada penonton. Dengan melihat episode-episodenya, pengetahuan kita akan kuliner menjadi meningkat, sekaligus menimbulkan keinginan untuk membeli makanan tersebut.</p>



<p>Namun, Kisarasa lebih cocok disebut sebagai dokumenter daripada <em>reality show</em> karena tidak memiliki unsur hiburan. Penulis merasa konten-konten berkualitas seperti acara ini kurang bisa diterima oleh mayoritas penonton Indonesia, apalagi jika melihat jumlah <em>view</em> video-videonya yang kebanyakan hanya berkisar di angka ratusan ribu hingga satu jutaan.</p>



<p>Penulis membayangkan ada sebuah konsep acara hiburan dengan kualitas seperti Kisarasa, tapi dibuat lebih ringan, penuh candaan, dan diselipi oleh berbagai promosi budaya, wisata, makanan, hingga bahasa daerah. Bahkan, kalau bisa acara tersebut dinikmati hingga penonton di luar Indonesia.</p>



<p>Semoga saja sebenarnya sudah ada, Penulis saja yang belum mengetahuinya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Korea Selatan memanfaatkan <em>variety show </em>sebagai media promosi wisata, budaya, hingga makanannya</p>



<p>Foto Feature Image: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=sOToBNXkYoM&amp;list=PLvGP2JpRxVlCGFshQuu-avxGQcth2sMdB&amp;index=31">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/">Korea Selatan dan Reality Show: Sarana Promosi Negara ke Dunia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/korea-selatan-dan-reality-show-sarana-promosi-negara-ke-dunia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jam Malam Corona</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2021 08:47:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[jam malam]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4316</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun sudah berganti, namun masalah yang kita hadapi justru semakin banyak. Selain banyaknya bencana di awal tahun, Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari muka bumi. Berbagai aturan dan protokol kesehatan sudah dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Bahkan, presiden dengan bangganya menyatakan Indonesia bisa mengatasi virus ini. Benarkah demikian? Entahlah, Penulis tidak berani memberikan penilaian. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/">Jam Malam Corona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun sudah berganti, namun masalah yang kita hadapi justru semakin banyak. Selain <a href="https://whathefan.com/renungan/mungkin-alam-mulai-enggan-bersahabat-dengan-kita/">banyaknya bencana di awal tahun</a>, <strong>Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi</strong> dari muka bumi.</p>
<p>Berbagai aturan dan protokol kesehatan sudah dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Bahkan, presiden dengan bangganya menyatakan Indonesia bisa mengatasi virus ini.</p>
<p><em>Benarkah demikian? </em>Entahlah, Penulis tidak berani memberikan penilaian.</p>
<p>Di antara semua aturan yang diterapkan demi menekan kenaikan pasien Covid-19, adanya<strong> jam malam</strong> lah yang paling tidak Penulis pahami.</p>
<h3>Nasib Para Penjaja Makanan di Malam Hari</h3>
<p><div id="attachment_4318" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4318" class="size-large wp-image-4318" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/jam-malam-corona-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4318" class="wp-caption-text">Penjual Nasi Goreng (<a href="https://www.bisikanbisnis.com/2017/02/asumsi-biaya-dan-penghasilan-jualan.html"><span class="pM4Snf">BisikanBisnis.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika alasannya untuk menghindari kerumunan, kenapa <strong>tidak melakukan pembatasan</strong> saja seperti yang diterapkan pada siang hari?</p>
<p>Kalau Penulis sendiri mungkin tidak terlalu mendapatkan efeknya secara langsung. Paling hanya kebingungan jika sedang lapar dan tidak ada makanan di rumah.</p>
<p>Yang Penulis pikirkan adalah bagaimana dengan <strong>penjual makanan yang hanya berjualan di malam hari</strong> seperti penjual nasi goreng, sate, martabak, dan lain sebagainya.</p>
<p>Makanan-makanan tersebut umumnya hanya ditemukan pada malam hari. Jika mereka dilarang berjualan karena jam malam, lantas darimana penjualnya mendapatkan pemasukan?</p>
<p>Berjualan siang hari? Penulis yakin ada alasan-alasan mengapa mereka tidak bisa melakukan hal tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan <strong>anak kos yang tidak memiliki kemampuan memasak</strong>? Kalau malam sudah tiba, di mana mereka bisa mendapatkan makanan?</p>
<p>Jangankan tempat berjualan makan, minimarket pun sudah pada tutup semua. Kalau beli makanan dari sore, pasti malamnya sudah dingin.</p>
<p>Penulis pun membayangkan, pelarangan jam malam ini tentu bisa diterima jika ada solusi dari pemerintah. Mungkin dengan membeli dagangan para penjual tersebut untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.</p>
<p>Implementasinya memang sulit, tapi itu lebih baik daripada hanya melakukan pelarangan tanpa memberi solusi apapun. <strong>Rakyat butuh makan dan sudah seharusnya pemerintah hadir</strong>.</p>
<p>Atau setidaknya, biarlah usaha makan itu tetap buka karena penjual dan pembelinya sama-sama membutuhkan. Usaha lain yang tidak berkaitan dengan perut mungkin bisa ditutup.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dulu di tempat kerja Penulis, kantor menerapkan jam masuk dimajukan satu jam. Para karyawannya pun heran, apa Covid-19 mulai beraksi di atas jam sembilan pagi.</p>
<p>Hal yang sama pun berlaku untuk aturan jam malam ini. Yang namanya virus tidak mengenal waktu. Ia bisa menyerang siapa saja dan kapan saja.</p>
<p>Ketika mencoba mencari berbagai informasi, Penulis belum menemukan berita yang menyatakan kalau pemberlakukan jam malam berhasil meredam Covid-19.</p>
<p>Penulis hargai kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk menekan angka pasien Covid-19. Hanya saja, menurut pendapat pribadi Penulis hal ini <strong>kurang efektif</strong>.</p>
<p>Bagaimana jika masyarakat yang merasa stres karena tidak boleh keluar malam, akhirnya malah berkumpul di siang hari dan menimbulkan kerumunan yang padat? Kan sama saja jadinya.</p>
<p>Kalau mau total kan sebenarnya memang harus <em>lockdown</em> seperti negara lain. Hanya saja, negara kita rasanya belum mampu menghidupi ratusan juta rakyatnya sekaligus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2020, terinspirasi dari banyaknya penjual dan pembeli makanan yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.liputan6.com/global/read/4206023/foto-suasana-quezon-city-filipina-saat-penerapan-jam-malam-karena-corona?page=1">Liputan 6</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3643628/ini-fungsi-jam-malam-saat-pandemi-virus-corona">Ada Jam Malam, Bisakah Tekan Kasus Virus Corona? (klikdokter.com)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/">Jam Malam Corona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/jam-malam-corona/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggoreng Isu</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Nov 2018 13:49:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[isu]]></category>
		<category><![CDATA[koki]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[menggoreng]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1735</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di dalam KBBI, isu memiliki makna masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya) atau kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya. Coba perhatikan kata-kata terakhir pada definisi terakhir. Tidak terjamin kebenarannya. Sayang, kini isu telah menjadi &#8220;makanan favorit&#8221; masyarakat yang mengunyahnya dari media. Yang namanya makanan, terserah kokinya bukan? Mau dibuat pedas, mau dibuat asin, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/">Menggoreng Isu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam KBBI, isu memiliki makna <em>masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya) </em>atau <em>kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya</em>.</p>
<p>Coba perhatikan kata-kata terakhir pada definisi terakhir. <strong>Tidak terjamin kebenarannya</strong>. Sayang, kini isu telah menjadi &#8220;makanan favorit&#8221; masyarakat yang mengunyahnya dari media.</p>
<p>Yang namanya makanan, terserah kokinya bukan? Mau dibuat pedas, mau dibuat asin, mau dibuat pahit, koki memilki hak sepenuhnya dalam meracik makanannya.</p>
<p><strong>Kecuali, ada yang &#8220;memesan&#8221; makanan tersebut. </strong>Jika ada pemesan, koki membuat masakan sesuai pesanan. Mau seburuk apapun masakannya, sang koki tidak peduli karena ia sudah dibayar.</p>
<p>Selain itu, koki juga memiliki wewenang untuk mengurangi atau menambah bahan masakan tersebut. Jika ada seekor ayam, bisa saja yang ia ambil hanya bagian <em>brutu</em>-nya saja alias hanya bagian yang buruk.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah realita yang terjadi di tengah masyarakat kita, terlebih lagi para elit politik. Penulis sebagai pengamat awam, merasa kecewa dengan hal ini. Andai yang digoreng bukan isu, melainkan program kerja, tentu akan lebih sehat bagi kita.</p>
<p>Selain itu, para penggoreng isu juga seringkali berbuat nakal dengan hanya mengambil sebagian kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh. Penulis ambil contok ucapan kalimat <strong>Titiek Soeharto</strong> mengenai kembali ke era <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/soeharto-sendiri-setelah-reformasi/">Soeharto</a>.</p>
<p>Jika dilihat secara utuh, yang dimaksud Titiek adalah bagaimana kita bisa swasembada pangan seperti di era Order Baru. Akan tetapi, oleh beberapa pihak hanya dipotong sebagai keinginan Titiek untuk mengulang masa-masa buruk pada era tanpa demokrasi tersebut.</p>
<p>Memang Faisal Basri mengatakan bahwa swasembada beras pada era tersebut hanya sebuah kesemuan yang menyengsarakan petani, tapi bukan di situ poinnya. Poinnya adalah tentang harapan bagaimana Indonesia bisa mandiri secara pangan.</p>
<p><strong>Wah, jadi penulis ini partisan Orba ya?</strong></p>
<p>Tentu tidak. Penulis masih balita sewaktu gelombang reformasi menyerbu Jakarta. Akan tetapi, penulis banyak membaca buku-buku tentang sejarah Orde Baru, sehingga paham bagaimana suramnya kehidupan pada saat itu, terutama karena dibungkamnya kebebasan berbicara.</p>
<p>Kembali ke topik penggorengan isu. Jika yang terjadi seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Mudah saja, jangan mau menerima makanan-makanan isu seperti itu. Toh jika makanan tersebut tidak laku, nantinya mereka akan berhenti menggoreng.</p>
<p>Sama seperti yang sudah penulis sebutkan pada tulisan sebelumnya, kita sebenarnya memiliki kontrol penuh atas apa yang beredar di media sosial. Tergantung diri kita sendiri, mau menelan isu tersebut atau mengabaikannya agar segera basi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 24 November 2018, terinspirasi dari banyaknya isu yang digoreng demi kepentingan politik semata</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/APDMfLHZiRA?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Kevin McCutcheon</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/cooking?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/">Menggoreng Isu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/menggoreng-isu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2018 08:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Aruna dan Lidahnya]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1446</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yang jelas, penulis merasa lapar setelah menonton film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo tersebut. Bagaimana tidak, sepanjang film penulis melihat orang makan dengan lahapnya, di berbagai daerah di Indonesia. Film ini merupakan film kesebelas yang penulis tonton tahun ini, dan film Indonesia yang ketujuh. Bisa jadi, semangat film lokal yang penulis miliki berawal dari ajakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/">Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Yang jelas, penulis merasa lapar setelah menonton film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo tersebut. Bagaimana tidak, sepanjang film penulis melihat orang makan dengan lahapnya, di berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p>Film ini merupakan film kesebelas yang penulis tonton tahun ini, dan film Indonesia yang ketujuh. Bisa jadi, semangat film lokal yang penulis miliki berawal dari ajakan Chelsea Islan dengan hashtag andalannya, #banggafilmindonesia.</p>
<p>Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama, garis besar film ini adalah perjalanan investigasi Aruna, seorang ahli wabah, untuk menyelidiki kasus flu burung yang baru. Dalam perjalanan tersebut, ia ditemani oleh dua sahabatnya, Bono sang chef (Nikolas Saputra) dan Nad sang kritikus makanan dan penulis (Hannah Al Rasyid).</p>
<p>Pada perjalanan investigasi tersebut, mereka <em>nyambi </em>dengan menyicipi berbagai kuliner yang ada di daerah. Di tengah-tengah perjalanan, muncul Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja sekaligus laki-laki yang Aruna cintai.</p>
<p>Genre film ini bisa dibilang drama komedi, karena banyak adegan-adegan yang membuat penonton tertawa. <em>Rating</em>-nya yang dewasa membuat bahan bercanda yang dibawakan pun sedikit vulgar.</p>
<p>Yang menarik dari film ini adalah peran Aruna yang sering berbicara ke arah kamera untuk sekedar mencurahkan apa yang ia rasakan. Kadang, ia hanya menampilkan ekspresi wajah untuk menunjukkannya. Penulis membayangkan, seandainya tidak ada teknik tersebut, film ini akan terasa membosankan.</p>
<p><em>Plot twist </em>juga disediakan film ini, namun pada bagian mananya pembaca diharapkan menonton sendiri filmnya. Yang jelas, entah mengapa penulis merasa bahagia setelah menonton film ini. Mungkin karena merasa terhibur.</p>
<p>Ada bagian yang membuat penulis sedikit merinding, ketika Nad menceritakan kehidupan bebasnya. Ngeri membayangkan jika gaya hidup Nad yang ogah menikah ditiru oleh kalangan muda.</p>
<p>Jika pembaca adalah penikmat kuliner, penulis menyarankan menonton film ini dan bawalah alat tulis untuk mencatat nama-nama makanan yang disantap para pemeran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 8 Oktober 2018, terinspirasi setelah menonton film Aruna dan Lidahnya</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://omovies.org/movie/535077/aruna-and-her-palate-2018-hd-720p-full-movie">https://omovies.org/movie/535077/aruna-and-her-palate-2018-hd-720p-full-movie</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/">Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
