<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>negatif Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/negatif/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/negatif/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>negatif Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/negatif/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 11:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bad mood]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Walau sudah menghapus banyak aplikasi media sosial di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit. Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan. Selain itu, Penulis juga kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Walau sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/istirahat-dari-media-sosial/">menghapus banyak aplikasi media sosial</a> di ponsel, Penulis masih memiliki aplikasi Pinterest. Itupun dibatasi sehari maksimal 15 menit.</p>



<p>Salah satu alasan Penulis tetap menggunakan Pinterest adalah karena aplikasi ini tidak terlalu memberikan efek candu seperti yang diberikan TikTok. Main Pinterest selama 15 menit saja sudah timbul rasa bosan.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga kerap menemukan ide dari aplikasi ini. Salah satunya adalah kalimat yang Penulis jadikan judul pada tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Penulis merasa dirinya cukup <em>moody</em>. Bahkan, <em>mood </em>bisa tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya. Tiba-tiba rasanya jadi murung dan merasa negatif begitu saja.</p>



<p>Masalahnya, <em>bad mood </em>ini bisa menimbulkan efek yang buruk tidak hanya bagi Penulis, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini karena Penulis menjadi orang yang lebih sensitif dari biasanya.</p>



<p>Karena <em>bad mood, </em>mulut Penulis rasanya bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan-ucapannya yang menusuk. Tidak hanya secara verbal, di <em>chat </em>pun Penulis akan menunjukkan hal yang sama.</p>



<p>Secara tidak langsung dan mungkin tidak sadar, Penulis telah <strong>menyakiti perasaan orang lain</strong> karena <em>bad mood </em>yang sedang dialami.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika sedang tenang seperti saat menulis artikel ini, Penulis menyadari sepenuhnya kalau hal tersebut salah. Mau seburuk apapun hari atau kejadian yang menimpa kita, seharusnya orang lain tidak boleh kena getahnya, terlebih orang-orang yang peduli dan perhatian dengan kita.</p>



<p>Hanya saja kalau sedang <em>bad mood</em>, Penulis kadang suka gelap mata dan tidak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Rasanya Penulis ingin melampiaskan buruknya <em>mood </em>ini ke orang lain tanpa memedulikan perasaan orang lain.</p>



<p>Menyadari kekurangan ini, Penulis tentu ingin memperbaikinya. Tentu tidak mudah, tapi harus Penulis lakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti akibat perbuatan Penulis.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Dari yang pernah Penulis baca, salah satu cara mengatasi <em>bad mood </em>adalah dengan <strong>mengubah suasana hati</strong>. Cara yang paling sering Penulis lakukan adalah berjalan-jalan. Ketika di Jakarta, Penulis sering melakukan hal ini sekalian mengeksplorasi ibukota.</p>



<p>Bagaimana kalau kita <em>mager </em>keluar? Sebenarnya menjadi masalah lain, tapi tidak apa-apa. Jika memang malas keluar, coba cari perubahan suasana dengan <strong>menonton sesuatu yang menyebarkan energi positif</strong>.</p>



<p>Penulis sama sekali tidak merekomendasikan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">media sosial seperti TikTok</a>. Jika kita melarikan diri ke aplikasi adiktif seperti itu, yang ada kita malah merasa &#8220;bersalah&#8221; karena telah membuang-buang waktu.</p>



<p>Selain itu, cobalah untuk <strong>duduk sejenak dan menjernihkan pikiran</strong>. Coba jujur kepada diri sendiri, apa yang membuat <em>mood </em>kita berantakan. Jika memungkinkan, coba selesaikan akar permasalahan agar <em>mood </em>kita membaik.</p>



<p>Jika kesusahan menghadapinya sendiri, mengapa tidak kita coba untuk meminta bantuan kepada orang lain? Inilah salah satu masalah yang Penulis garis bawahi di tulisan ini.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Karena sedang <em>bad mood</em>, kita bisa saja justru menyakiti orang lain yang ingin kita mintai bantuan. Bisa karena solusi atau tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan ekspetasi kita, bisa kitanya saja yang memang kelewat sensitif.</p>



<p>Banyak yang mengatakan <strong>perasaan yang terlalu lama disimpan sendiri bisa menjadi racun untuk mental </strong>kita. Diri kita memiliki batasan, jangan sampai kita membuat diri kita menyimpan semuanya sendiri hingga wadah tersebut tidak lagi mampu menampungnya.</p>



<p>Akan tetapi, kita takut untuk menyakiti orang lain karena <em>mood </em>kita. Kok jadi dilema begini? Lalu mana yang harus dilakukan?</p>



<p>Menurut Penulis, coba saja kita minta bantuan orang lain sembari menahan diri untuk tidak bersikap kelewat batas. Mau seburuk apapun perasaan kita, coba untuk terus mengingat <strong>jangan sampai menyakiti perasaan orang lain</strong>.</p>



<p>Dengan adanya <em>mindset </em>seperti itu, kita pun (harusnya) bisa lebih mengontrol <em>mood </em>kita ketika bercerita ke orang lain. Mau tanggapan orang tersebut tidak sesuai dengan ekspetasi sekalipun, kita tidak akan mudah terpancing untuk melampiaskan <em>bad mood </em>kita ke orang tersebut.</p>



<p>Selain itu, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman (selama bukan mereka yang menjadi sumber penyebab <em>bad mood</em>) juga bisa membantu kita mengubah suasana hati. Oleh karena itu, jangan segan untuk meminta bantuan kepada orang lain.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p><em>Bad mood </em>memang salah satu sifat yang manusiawi. Rasanya semua orang pernah mengalami hal ini, baik dikarenakan masalah yang pelik maupun sepele.</p>



<p>Hanya saja, kalau <em>bad mood </em>tersebut memengaruhi kehidupan kita dan memberikan efek yang negatif kepada orang lain juga kurang baik. </p>



<p>Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki sikap kita menghadapi <em>bad mood </em>dengan beberapa cara yang sudah disebutkan di atas.</p>



<p>Enggak apa-apa <em>bad mood</em>, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain, ya!</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Mei 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah <em>post </em>di Pinterest seperti yang tertera di judul</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://deepstash.com/idea/57892/handling-a-bad-mood">Deepstash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/">&#8220;Gapapa Bad Mood, tapi Jangan Nyakitin Orang Lain, ya&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/gapapa-bad-mood-tapi-jangan-nyakitin-orang-lain-ya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<p><div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<p><div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suka Duka Seorang Pemikir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Feb 2020 08:14:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3364</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial Aku Ingin Tahu dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal. Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sejak kecil Penulis menyadari bahwa dirinya merupakan seorang pemikir. Salah satunya mungkin karena banyaknya buku ilmu pengetahuan yang dibaca seperti serial <em>Aku Ingin Tahu </em>dan biografi komik tokoh-tokoh terkenal.</p>
<p>Menjadi pemikir itu ada suka dukanya sendiri alias ada sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu, kali ini Penulis ingin membaginya kepada Pembaca sekalian. Siapa tahu, ada yang merasakan hal serupa.</p>
<h3>Sisi Positif Seorang Pemikir</h3>
<p><div id="attachment_3372" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3372" class="size-large wp-image-3372" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3372" class="wp-caption-text">Mampu Merancang Strategi (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@campaign_creators">Campaign Creators</a>)</p></div></p>
<p>Dengan menjadi seorang pemikir, Penulis sering <strong>merencanakan beberapa langkah ke depan</strong> sekaligus sehingga bisa melakukan antisipasi jika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi.</p>
<p>Menjadi pemikir juga akan mendorong kita untuk <strong>sering berpikir sebelum bertindak</strong>. Kita akan melihat, konsekuensi seperti apa yang akan dihadapi jika kita melakukan sesuatu.</p>
<p>Hal ini penting jika kita harus merancang strategi di dunia pekerjaan ataupun sedang menghadapi suatu permasalahan. Memang tidak semuanya bisa diantisipasi, namun setidaknya kita lebih siap secara mental.</p>
<p>Sifat pemikir juga bisa <strong>merangsang rasa ingin tahu</strong> yang akan membuat kita banyak membaca literasi ataupun menonton video yang membahas topik yang dicari.</p>
<p>Jika sedang menemukan sesuatu yang tidak diketahui, kita akan langsung mencarinya di Google ataupun bertanya kepada orang yang lebih paham karena dihinggapi rasa penasaran itu tidak enak.</p>
<p>Seorang pemikir juga jadi <strong>banyak merenungi hal-hal yang kerap diabaikan</strong> oleh orang kebanyakan, mulai dari masalah lingkungan yang memburuk hingga <a href="https://whathefan.com/renungan/apa-yang-terjadi-sebelum-big-bang/">bagaimana alam semesta ini tercipta</a>.</p>
<p>Penulis juga jadi <strong>sering melakukan interopeksi diri</strong>. Apa saja yang harus dibenahi dari diri ini, langkah apa yang harus diambil agar bisa lebih baik, dan lain sebagainya. Sering kali seorang pemikir juga pandai memotivasi dirinya sendiri.</p>
<h3>Sisi Negatif Seorang Pemikir</h3>
<p><div id="attachment_3373" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3373" class="size-large wp-image-3373" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/suka-duka-seorang-pemikir-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3373" class="wp-caption-text">Mudah Stres (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@gunaivi">ahmad gunnaivi</a>)</p></div></p>
<p>Hanya saja, jika sifat pemikir yang dimiliki menjadi berlebihan, efek sampingnya juga tidak kalah banyak. Bahkan, bisa lebih banyak dari sisi positif yang sudah Penulis sebutkan di atas.</p>
<p>Entah ini karena Penulis pemikir atau emang dari <em>sononya</em>, Penulis merasa <strong>menjadi orang yang kaku dan kurang bisa santai</strong> dalam menjalani hidup. Terkadang, Penulis iri ketika melihat ada orang yang hidupnya bisa <em>santuy</em>.</p>
<p>Hal itu bisa terjadi karena kita <strong>mudah kepikiran terhadap sesuatu</strong>, termasuk dari kejadian yang sepele. Jika ada seorang teman yang tidak membalas chat, pikiran kita akan melayang ke mana-mana dan mulai menyalahkan diri sendiri.</p>
<p>Contoh dampak negatif lainnya adalah <strong>sulit membuat keputusan</strong> karena terlalu memikirkan banyak kemungkinan. Kita menjadi bimbang dalam memilih tindakan apa yang harus diambil dalam suatu kondisi.</p>
<p>Pemikir juga kerap memikirkan masa lalunya yang membuat kita <strong>melakukan penyesalan tak berarti</strong>. Biasanya, aktivitas ini dibumbui dengan kata <em>seandainya begini seandainya begitu</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pemikir juga <strong>kerap mengkritisi dirinya sendiri</strong> bahkan hingga membenci dirinya sendiri. Penulis telah menyadari bahwa perilaku tersebut tidak baik dan sudah seharusnya tidak dilakukan.</p>
<p>Menjadi seorang pemikir yang berlebihan juga kerap <strong>membuat kita stres</strong>. Ujung-ujungnya, kesehatan kita (fisik dan mental) pun menjadi terganggu.</p>
<p>Kalau yang sering Penulis alami, Penulis sering merasa <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">khawatir secara berlebihan</a>. Kadang khawatir sama masa depan, khawatir kalau orang lain meninggalkan Penulis, dan lain sebagainya. Hasilnya akan membuat kita gampang merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Banyak hal yang Penulis pikirkan dalam hidupnya sehari-hari, mulai yang sepele seperti <em>nanti siang makan apa </em>sampai yang berat seperti <em>bagaimana kalau aku besok mati dengan dosa yang masih menumpuk</em>.</p>
<p>Jika boleh jujur, Penulis ingin menjadi orang yang lebih <em>santuy </em>dalam menikmati hidup. Tetap menjadi pemikir tidak masalah, namun tidak sampai berlebihan yang ujung-ujungnya membuat stres.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis berusaha untuk mengurangi kadar pemikirnya dan banyak membaca buku seputar topik tersebut. Dengan demikian, Penulis bisa menjadi seorang pemikir tanpa perlu merasa stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Februari 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang pemikir</p>
<p>Foto: <a href="https://www.visitphilly.com/things-to-do/attractions/the-thinker/">Visit Philadelphia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/suka-duka-seorang-pemikir/">Suka Duka Seorang Pemikir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Itu Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2019 16:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[toxic positivity]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat hidup tak semudah cocote Mario Teguh? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali. Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya. Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat <em>hidup tak semudah cocote Mario Teguh</em>? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali.</p>
<p>Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya.</p>
<p>Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat manisnya seolah tak bisa ia terapkan untuk dirinya dan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Penulis bukan penggemarnya, sehingga tidak merasakan apa-apa. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang sangat percaya dengan kata-katanya?</p>
<p><em>Apakah mereka menjadi kecewa dan mengatakan motivasi itu omong kosong?</em></p>
<h3><em>Toxic Positivity</em></h3>
<p><div id="attachment_2909" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2909" class="size-large wp-image-2909" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2909" class="wp-caption-text">Toxic Positivity (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@blancotejedor">Aarón Blanco Tejedor</a>)</p></div></p>
<p>Rekan kantor memperkenalkan istilah <em>toxic positivity,</em> yang secara sederhana kurang lebih berarti motivasi positif bisa menjadi racun untuk kita.</p>
<p>Menurut penulis, istilah tersebut ada benarnya. Alasannya, tidak ada yang baik dengan berlebihan, termasuk memelihara pikiran untuk selalu positif dalam keadaan apapun.</p>
<p>Masalahnya, kita hanya manusia biasa lengkap dengan segala kekurangannya. Di saat lapang mungkin mudah untuk berpikir positif, namun di saat sempit? Susahnya bukan main, dan Mario Teguh telah membuktikan hal tersebut.</p>
<p>Penulis mengambil contoh <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">kepunahan burung Dodo</a> yang legendaris untuk menggambarkan betapa bahayanya memiliki pola pikir yang terlalu positif.</p>
<p>Ketika manusia datang ke pulau tempat mereka tinggal, burung Dodo tidak menaruh curiga apapun. Mereka berpikir positif bahwa manusia adalah makhluk yang baik. Akibatnya? Mereka punah karena habis diburu oleh manusia.</p>
<p>Pikiran-pikiran negatif pasti datang menghampiri kita pada saat-saat tertentu. Terkadang, mengusirnya dengan pikiran positif justru makin memperparah keadaan tersebut.</p>
<p>Ini juga berlaku terhadap orang lain. Jika ada yang mengeluhkan permasalahannya ke kita, jangan asal menyemburkan kalimat penyemangat.</p>
<p>Lihat dulu situasi, kondisi, dan karakteristik orang yang bercerita. Tidak semua orang mampu menangkap energi positif ketika sedang terpuruk. Yang ada, mereka akan menjadi semakin <em>down </em>(<em>dan penulis sering melakukan kesalahan tersebut</em>).</p>
<h3><em>Lantas, apakah motivasi itu omong kosong?</em></h3>
<p>Kembali ke permasalahan utama, apakah motivasi itu omong kosong? Jawabannya adalah iya, jika hanya sekadar berbentuk teori tanpa ada praktek.</p>
<p>Semua kata-kata Mario Teguh terasa sebagai omong kosong karena yang mengucapkannya sendiri tidak mampu mempraktekkannya hingga menghancurkan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Semua tulisan penulis yang berbau motivasi di <em>Whathefan</em> ini juga akan menjadi omong kosong jika tidak penulis terapkan untuk kehidupannya sendiri.</p>
<p>(<em>Salah satu alasan mengapa penulis sering menulis tulisan berbau motivasi adalah agar dirinya terpacu untuk melakukan apa yang ditulis. Itu juga sebagai terapi menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang berlebihan</em>)</p>
<p>Motivasi itu perlu dan dibutuhkan manusia untuk melanjutkan hidup. Orang yang tidak memiliki motivasi hidup biasanya hidupnya terombang-ambing tanpa arah yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi, motivasi yang berlebihan (mungkin dari motivator ataupun buku) juga tidak baik untuk kita. Terlalu banyak motivasi bisa memicu efek <em>toxic positivity </em>kepada diri kita.</p>
<p>Penulis pun masih berusaha menemukan formula bagaimana kita harus menyeimbangkan antara pikiran positif dan negatif dalam diri. Butuh banyak referensi dan diskusi untuk bisa menemukan jawabannya.</p>
<p>Yang jelas, hidup dengan pikiran yang selalu positif juga kurang baik untuk kita. Kita akan menjadi makhluk yang naif dan mudah dikecoh oleh orang-orang yang berniat jahat ke kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merupakan orang yang suka membaca buku-buku motivasi, mulai John C. Maxwell hingga Anthony Robbins. Ada beberapa yang berusaha penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, walau ada juga yang sulit untuk dipraktekkan.</p>
<p>Sekarang, penulis mulai mengurangi membaca buku-buku motivasi. Alasannya, penulis merasa cukup dan memutuskan untuk lebih banyak bertindak daripada memakan teori-teori melulu.</p>
<p>Namun, jika ada buku motivasi yang menarik, mengapa tidak? Penulis masih ingin membaca buku karya Stephen R. Corey yang berjudul <em>The 7 Habits of Highly Effective People. </em>Akan tetapi untuk sekarang, penulis merasa cukup.</p>
<p>Penulis tidak pernah menganggap motivasi itu omong kosong. Sama seperti baterai, kehidupan ini terkadang juga butuh diisi ulang dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan motivasi dari mana pun asalnya.</p>
<p>Akan tetapi, jika diisi berlebihan hingga melebihi kapasitas, yang ada adalah ledakan, <em>BOOM!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Oktober 2019, terinspirasi dari banyak macam hal seputar motivasi</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxv9eY2KvlAhWrgUsFHdKNALAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbforum.com%2Fnbreport%2Fjohn-c-maxwell-great-leaders-never-walk-alone%2F&amp;psig=AOvVaw0F_kZ7b-Z9Spns6LgEA4Gy&amp;ust=1571690143589376">Nordic Business Forum</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2018 08:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[mainstream]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Manson]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[review. motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku self-improvement yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar. Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu melihat judul buku ini dan membaca beberapa judul bab di daftar isinya, penulis merasa ragu untuk membelinya. Alasannya, isi buku ini nampaknya bertentangan dengan buku-buku <em>self-improvement</em> yang sudah penulis baca. Dan ternyata, memang benar.</p>
<p>Ya, memang bukan bertentangan sepenuhnya sih, hanya beberapa poin saja. Yang jelas, buku ini akan memotivasi kita dengan cara yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kata-kata motivator pada umumnya. Kalo kata teman penulis, mengajak kita berpikir positif dengan cara yang berbeda.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini terdiri dari 9 bab yang berbeda. Perlu diketahui, buku ini merupakan kumpulan tulisan Mark Manson di blognya, sehingga bahasa penulisannya seperti penulisan blog pada umumnya yang terkesan santai. Dan tentu, banyak kalimat-kalimat yang kurang senonoh sebagai bahan candaan atau sarkastik.</p>
<p>Jika dilihat dari judulnya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (atau <em>The Subtle Art of Not Giving F*ck </em>pada versi aslinya), buku ini pada intinya akan mengajak kita untuk memilih mana yang patut diprioritaskan, mana hal-hal tidak penting yang harus disingkirkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">I don&#8217;t like my mind right now<br />
Stacking up problems that are so unnecessary</p>
<p style="text-align: center;">Linkin Park- Heavy</p>
</blockquote>
<p>Pada salah satu bagian awal di buku ini tertulis hukum keterbalikan, yang kurang lebih menyatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.</p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Yang penulis tangkap, terkadang hal-hal positif harus diraih dengan pengorbanan mengalami pengalaman negatif. Jika ingin meraih badan yang bagus, maka kita harus berkorban dengan makan-makanan sehat dan rutin berolahraga. Kegiatan-kegiatan tersebut jelas membutuhkan <em>effort </em>lebih, inilah yang dimaksud pengalaman negatif di sini.</p>
<p>Bagian yang cukup membuat penulis berpikir keras terdapat pada bab 3 yang berjudul Anda Tidak Istimewa. Bukankah motivator selalu meyakinkan kita bahwa kita harus menjadi orang yang luar biasa dan jangan pernah menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Masalahnya, jika semua orang luar biasa, maka <em>tidak </em>ada orang yang luar biasa bukan? Jika semua orang menjadi <em>luar biasa</em>, maka tidak ada lagi orang yang <em>luar biasa </em>karena telah menjadi <em>biasa. </em>Kalimat ini benar-benar membuat penulis butuh beberapa menit untuk menenangkan diri karena penulis selalu tidak ingin menjadi orang rata-rata.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk menyederhanakan pola pikir kita. Nikmati hal-hal sederhana seperti kebersamaan keluarga, waktu yang dihabiskan dengan teman-teman, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sayangnya, bab-bab menimbulkan pergolakan batin hanya ada di bagian awal buku ini. Bab-bab selanjutnya kurang lebih sama dengan buku-buku motivasi lainnya, tentu dengan gaya penulisan Manson sebagai seorang blogger.</p>
<p>Mungkin karena lima bab terakhir mengajak kita untuk mengubah penderitaan, kegagalan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk hidup kita. Terutama pada bab terakhir, buku ini mengajak untuk merenungi kematian dan mengonversinya menjadi sesuatu yang positif.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk penggemar buku <em>self-improvement </em>yang sudah dewasa. Buku ini memotivasi dengan cara yang berbeda dari motivator <em>mainstream</em>. Ketebalan buku ini juga tipis, tidak setebal buku-buku Anthony Robbins maupun Stephen R. Corey, membuatnya nyaman untuk dijadikan teman perjalanan.</p>
<p>Buku ini penting untuk menyeimbangkan pola pikir kita. Menjadi terlalu positif, seperti yang tertulis di buku ini, tidak baik untuk kita. Terkadang, kita memaksakan diri berpikir positif untuk menutup-nutupi kenyataan yang terjadi. Mengapa tidak kita hadapi saja kenyataan tersebut?</p>
<p>Nilainya <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat tulisan Mark Manson</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Motivasi Anti-Mainstream Pada Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Hari untuk Pikiran Negatif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2018 08:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[keluhan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi. Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku self-improvement yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selalu usahakan untuk berpikir positif, apapun yang terjadi karena semua peristiwa memilih hikmah di baliknya. Tak peduli badai setinggi apa, tak peduli masalah seberat apa, kita harus tetap maju dengan optimisme tinggi.</p>
<p>Ya, kurang lebih seperti itulah yang sering dikatakan para motivator, pun yang tertulis di buku-buku <em>self-improvement </em>yang sering penulis baca. Apakah salah memiliki pola pikir selalu positif seperti itu? Entahlah, penulis sendiri belum bisa berada di posisi seperti itu.</p>
<p>Penulis tentu berusaha untuk mengaplikasikan pola hidup selalu berpikir positif. Malu dong jika buku bacaannya macam Awaken the Giant Within-nya Anthony Robbins tapi suka berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Hanya saja, penulis membutuhkan satu hari untuk membuang pikiran-pikiran yang menumpuk di sudut kepala penulis.</p>
<p>Realistis saja, penulis tentu masih sering berpikir negatif, seperti &#8220;duh kok gak dapet-dapet kerja ya&#8221; atau &#8220;kok hidup gini banget ya&#8221;. Nah, dengan menerapkan hidup positif, ketika pikiran tersebut muncul, otak kita akan segera meminggirkannya ke pinggir-pinggir. Persis ketika kita sedang menyapu rumah.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan jika kotoran sudah menumpuk? Tentu membuangnya ke tempat sampah. Lantas, di mana kita bisa membuang pikiran-pikiran negatif yang sudah menumpuk tersebut?</p>
<p>Jika levelnya sudah level ahli ibadah, ia akan &#8220;menumpahkan&#8221; semuanya ke Tuhan. Lewat alunan doa ia curhat kepada Sang Pemilik Hidup. Setelah mencurahkan segala macam yang membebaninya, ia akan merasa lebih segar dan siap untuk menjalani hidup lebih baik.</p>
<p><div id="attachment_1372" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1372" class="size-full wp-image-1372" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="669" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-300x201.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-768x514.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/aliko-sunawang-784391-unsplash-356x238.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1372" class="wp-caption-text">Curhat ke Tuhan (Photo by Aliko Sunawang on Unsplash)</p></div></p>
<p>Bagaimana jika belum? Kalau penulis, belum bisa seratus persen seperti contoh di atas. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang penulis percayai untuk mendengarkan segala keluh kesah yang penulis rasakan. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkan dengan penuh empati dan berusaha untuk membangkitkan kembali semangat penulis. Penulis masih membutuhkan orang-orang yang peduli dan berusaha memberi motivasi untuk penulis.</p>
<p>Penulis akan merasa <em>plong </em>setelah membuang segala pikiran negatif yang telah tertumpuk tersebut. Penulis akan merasa lebih baik dan kembali semangat menjalani hidup. Penulis juga merasa, penulis tidak boleh mengecewakan orang-orang yang telah mendukung kita dengan sepenuh hati.</p>
<p>Kapankah satu hari tersebut? Tergantung. Penulis melakukannya kapan saja selama pikirannya sudah terasa penuh hingga penulis bingung mau melakukan apa. Asal jangan terlalu sering juga, misal dua hari sekali. Semakin lama jangka waktunya, penulis rasa semakin bagus.</p>
<p>Jika pembaca termasuk orang yang sudah bisa menerapkan konsep berpikir positif secara menyeluruh, kalian luar biasa. Untuk yang belum, mungkin saja cara penulis bisa ditiru, walaupun cara tersebut belum teruji secara klinis dan tidak pernah melewati serangkaian uji labotarium.</p>
<p>Mengalokasikan satu hari untuk membuang segala pikiran negatif murni berdasarkan pengalaman penulis pribadi, hasil perenungan bukan penelitian. Semoga saja dengan menuliskan hal ini bisa membawa kebaikan untuk pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 22 September 2018, terinspirasi setelah awal bulan ini menggunakan satu hari untuk mengeluarkan segala keluh kesah kepada seorang kawan</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/akT1bnnuMMk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Eric Ward</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sad?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Satu Hari untuk Pikiran Negatif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
