Connect with us

Produktivitas

Kenapa Saya Berhenti Main TikTok

Published

on

Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah TikTok. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai “aplikasi goblok” ini rasanya hampir terpasang di semua gawai generasi milenial.

Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini.

Hanya saja, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk berhenti main TikTok dan menghapusnya dari ponsel. Apa alasannya?

Algoritma Candu

Dibuat Sebagai Candu (Prototypr)

Penulis pernah membuat artikel berjudul Dilema (Media) Sosial Kita yang terinspirasi dari film dokumenter berjudul The Social Dilemma. Pada film tersebut, kita akan melihat pengakuan orang-orang yang pernah terlibat dengan pembuatan media sosial.

Salah satu hal yang mengerikan adalah bagaimana semua platform tersebut berlomba-lomba untuk membuat kita betah menggunakannya selama berjam-jam. Istilahnya adalah algoritma candu.

Berbeda dengan timeline Instagram dan Twitter yang hanya menampilkan akun yang kita follow, TikTok akan terus menunjukkan video-video yang sesuai dengan preferensi kita tanpa perlu mem-follow akun yang membuat video tersebut.

Apalagi, fitur unlimited scroll-nya benar-benar membuat kita tidak merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Dengan algoritma candu yang dimiliki, TikTok menjadi aplikasi yang cocok untuk menghabiskan waktu.

Penulis juga salah satunya. Meskipun sudah menggunakan aplikasi yang membatasi waktu penggunaan, tetap saja terkadang Penulis melanggar dan memainkan aplikasi TikTok melebih jatah waktu harian.

Dulu Penulis membela diri dengan berkata kepada diri sendiri kalau ada banyak manfaat dari TikTok. Bahkan, Penulis mencatat beberapa ilmu yang tanpa sengaja Penulis temukan di buku catatannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis sadar kalau itu semua hanya alibi semata untuk bisa bermain TikTok lebih lama. Semakin lama kita menggunakan TikTok, semakin mereka mendapatkan keuntungan dari “menjual” preferensi kita ke klien mereka.

Banyak Manfaatnya sih, tapi…

Banyak Baik atau Buruknya? (The Jakarta Post)

Penulis mengakui ada banyak ilmu yang bisa didapatkan di TikTok. Banyak content creator yang lihai membuat konten edukasi dengan format yang menyenangkan atau konten motivasi yang sangat menginspirasi.

Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan semua informasi tersebut?

Dari pengalaman Penulis sendiri yang mencatat berbagai ilmu di TikTok, mayoritas apa yang sudah dicatat tidak pernah dibutuhkan sampai sekarang. Semua inspirasi dan motivasi yang lewat pun sekarang sudah terlupa begitu saja.

Jika kita membutuhkan bantuan dalam mengerjakan sesuatu, bukankah ada Google? Misal ada orang yang sharing tentang Digital Marketing, bukankah banyak situs yang menjelaskan tentang hal tersebut bahkan secara lebih terperinci?

Misal ada orang yang sharing tentang penggunaan bahasa Inggris yang benar, bukankah Google juga sudah menyediakan banyak jawaban dari berbagai sumber? Seberapa banyak informasi yang kita lihat selintas di TikTok bertahan di pikiran kita?

TikTok memang memiliki banyak manfaat, terutama kalau kita suka menonton video-video yang memiliki value sehingga kita terus diberikan rekomendasi video serupa.

Pertanyaannya, lebih banyak mana video yang seperti itu dibandingkan video yang kurang bermanfaat?

Entah itu video yang pamer kemolekan tubuhnya, pertunjukkan kecantikan/ketampanan paras wajah, pamer kekayaan ala sultan, drama tidak penting, dan lain sebagainya. Ada saja “racun” yang muncul di linimasa dan bisa memengaruhi pola pikir kita.

Belum lagi kemungkinan tersebarnya berita hoax yang bisa menimbulkan ketakutan. Penulis ingat ketika ada informasi kalau Jawa akan terkena tsunami. Padahal, berita aslinya hanya menyebutkan potensinya, bukan akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

TikTok dan Cepatnya Hal Menjadi Viral

Kenapa Harus Viral? (TEKNO DILA)

Penulis paling sering mengkhawatirkan besarnya pengaruh aplikasi ini ke penggunanya, terutama generasi milenial. Coba dihitung sudah berapa kali apa yang viral di TikTok menjadi begitu populer bahkan sampai diundang ke berbagai stasiun televisi.

Masalahnya, seringkali hal yang viral adalah hal yang tidak jelas dan kurang berfaedah. Kita juga seolah ikut arus begitu saja tanpa berpikir kenapa hal remeh seperti itu bisa menjadi sedemikian populer.

Hal ini benar-benar menjadi perhatian bagi Penulis. Kenapa jarang sekali ada orang yang kritis terhadap sesuatu yang viral? Kenapa seolah yang viral itu otomatis dianggap wajar dan seolah yang ketinggalan dianggap ketinggalan zaman?

Dulu, Penulis sempat merasa FOMO (Fear Out Missing Out) jika tidak menggunakan TikTok. Takut tidak paham jika diajak bicara sama seseorang tentang apa yang trending saat ini.

Sekarang, Penulis tidak memusingkan hal tersebut sama sekali. Mau tidak paham sekalipun Penulis bisa bodo amat. Biarlah yang viral menjadi viral tanpa perlu Penulis ikut memviralkannya.

Penutup

Awalnya, Penulis mencoba untuk tidak membuka aplikasi TikTok selama beberapa hari. Ternyata, Penulis bisa berhenti total selama 2 bulan dan tidak merasa kehilangan apa-apa. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.

Penulis tidak mengajak orang-orang untuk berhenti menggunakan aplikasi TikTok. Mungkin Pembaca bisa lebih bijak dalam menggunakan TikTok dibandingkan Penulis. Apalagi, TikTok bisa menjadi media hiburan yang berkualitas dengan kehadiran content creator yang kreatif.

Hanya saja, Penulis merasa TikTok lebih banyak buruknya dibandingkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Aplikasi ini terasa sebagai aplikasi kontra-produktif yang membuat Penulis membuang-buang waktunya.

Tidak hanya TikTok, Penulis hampir mengurangi semua aktivitasnya di media sosial. Penulis menghapus Twitter di ponselnya dan menggunakan Instagram hanya untuk membaca komik dari author favoritnya.

Harapannya, Penulis menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat seperti menulis artikel blog ataupun baca buku.

Lawang, 19 April 2021, terinspirasi setelah menghapus aplikasi TikTok

Foto: The Jakarta Post

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Produktivitas

Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang

Published

on

By

Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).

Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.

Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.

Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by cottonbro studio)

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:

  • Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
  • Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
  • Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
  • Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)

Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.

“Tidak ada nanti”

Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.

Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.

Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.

Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.

Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.

Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Kuncinya FOCUS (via YouTube)

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.

Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.

Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.

Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).

Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.

Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.

Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.


Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda

Featured Image Photo by Moose Photos

Continue Reading

Produktivitas

Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar

Published

on

By

Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi?

Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.

Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan blue light.

Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar

Hari-Hari Lihat Layar (St. Luke’s)

Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh “rutinitas yang ideal,” melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.

Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan kembali rebahan dan mengecek ponsel. Terkadang Penulis membaca buku dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.

Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang morning concall dan brainstorm yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop.

Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.

Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC. Karena memasang larangan untuk mengecek media sosial atau bermain game di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.

Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan cek media sosial ataupun menonton YouTube di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.

Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan mulai menulis artikel blog di depan laptop. Setelah selesai, Penulis bisa kembali cek media sosial atau bermain game di tablet. Tak jarang juga Penulis menonton YouTube di televisi kamar sebelum akhirnya tidur.

Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar

Buku Menjadi “Pelarian” yang Baik (Rahul Shah)

Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.

Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika sholat, membaca buku, bermain kucing, mandi, dan tidur. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.

Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.

Membaca buku jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, “daya” baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.

Selain itu, olahraga outdoor seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.

Mencari hobi offline yang tidak membutuhkan layar juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain board game seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama circle-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.

Hobi offline lain yang bisa menyita waktu kita adalah merakit model kit seperti Gundam, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi offline lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya.

Penulis juga ingin mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube. Walau kesannya multitasking, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.

Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif.

***

Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih work from home sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak related kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.

Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.


Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk

Sumber Featured Image: Ron Lach

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018