<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penyakit Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/penyakit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/penyakit/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2021 14:32:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>penyakit Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/penyakit/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2021 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu-dua minggu terakhir, kesehatan Penulis tengah memburuk karena berbagai jenis penyakit. Bukan Covid-19, hanya komplikasi dari flu, meriang, sakit kepala, sedikit batuk, serta asam lambung. Dari dulu, Penulis memang rentan terkena penyakit-penyakit ringan. Untungnya, sembuhnya pun termasuk cepat dan mudah. Penulis jarang terkena penyakit yang mengharuskan dirinya pergi ke dokter dan memakan banyak obat. Oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/">Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Satu-dua minggu terakhir, kesehatan Penulis tengah memburuk karena berbagai jenis penyakit. Bukan Covid-19, hanya komplikasi dari flu, meriang, sakit kepala, sedikit batuk, serta asam lambung.</p>



<p>Dari dulu, Penulis memang rentan terkena penyakit-penyakit ringan. Untungnya, sembuhnya pun termasuk cepat dan mudah. Penulis jarang terkena penyakit yang mengharuskan dirinya pergi ke dokter dan memakan banyak obat.</p>



<p>Oleh karena itu, ketika Penulis memutuskan untuk pergi ke dokter seperti yang terakhir ini, artinya sakitnya juga cukup parah. Bahkan, mungkin ini rekor sakit terlama Penulis selama dewasa.</p>



<p>Hanya bisa terbaring lemah di atas kasur membuat Penulis banyak berpikir seminggu terakhir ini. Salah satunya adalah tentang bagaimana pikiran bisa membuat kita sakit, sekaligus menjadi obatnya.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semua orang yang kenal Penulis, walaupun tidak dekat, tahu kalau Penulis adalah tipe orang yang pemikir. Dari hal penting hingga yang remeh, semua dipikirkan.</p>



<p>Orang yang pemikir cenderung mudah terserang penyakit seperti sakit kepala dan asam lambung. Kemungkinan, Penulis pun bisa sakit lama seperti ini karena sedang ada pikiran yang mengganggu.</p>



<p>Pikiran yang stres juga bisa menurunkan imun tubuh kita. Maka dari itu, kita semua dianjurkan tetap berpikir positif selama pandemi ini agar tubuh kita bisa tetap sehat walau terkena virus tersebut.</p>



<p>Sakit itu datangnya bisa datang karena pikiran. Untungnya, obatnya juga bisa datang dari pikiran.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika kita sakit, kita memiliki kecenderungan untuk meminum obat. Bisa beli sendiri di apotek, bisa melalui resep dokter. Bisa obat kimiawi, bisa juga obat herbal.</p>



<p>Hanya saja, obat-obat tersebut akan menjadi percuma jika tidak diiringi oleh <em>mindset </em>yang kuat. Kita harus bisa berpikir optimis kalau penyakit ini akan segera diangkat.</p>



<p>Kita harus bisa melawan penyakit yang datang dengan kekuatan pikiran kita. Iya, obat-obatan akan membantu, tapi semua yang kita telan akan menjadi percuma jika kita menolak untuk sembuh.</p>



<p>Jika pikiran bisa menimbulkan penyakit, maka pikiran pun juga bisa menjadi obatnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, sakit kepala hingga asam lambung sudah seperti makanan sehari-hari bagi Penulis. Maka dari itu, Penulis selalu sedia <em>Fresh Care </em>sebagai obatnya.</p>



<p>Hanya saja, <em>Fresh Care </em>semata tidak akan bisa mengobati sakit Penulis jika tidak diiringi <em>mindset </em>kalau Penulis akan sembuh. Terkadang sulit, tapi Penulis berusaha untuk bisa melakukannya.</p>



<p>Oleh karena itu, jika Pembaca juga tipe orang yang mudah sakit karena pikirannya, coba pelan-pelan dilawan dengan kekuatan pikiran. Tidak mudah, tapi bisa.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Juli 2021, terinspirasi dari lamanya sakit yang baru saja terjadi pada dirinya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt">engin akyurt</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/">Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 05:46:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[isolasi]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[normal]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3811</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi. Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu. Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua tentu berharap kalau pandemi Corona ini akan segera berakhir secepatnya. Kita sudah merindukan kehidupan normal seperti dulu lagi.</p>
<p>Yang memiliki usaha ingin bisnisnya berputar lagi. Yang terpisah dari keluarga bisa berkumpul kembali. Yang telah lama libur sekolah ingin beraktivitas normal seperti dulu.</p>
<p>Tak ada yang tahu kapan Corona ini akan benar-benar lenyap dari muka bumi. Hanya Tuhan yang tahu. Para ahli hanya bisa membuat perkiraan-perkiraan berdasarkan bukti empiris.</p>
<p>Pertanyaannya, <strong><em>bagaimana seandainya semua ini tak akan berakhir?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apa yang mengerikan dari Corona ini adalah <strong>penyebarannya yang begitu mudah</strong>. Jika kita memiliki imunitas tubuh yang kuat, kemungkinan besar kita bisa sembuh sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai pemerintah dunia adalah <em><strong>lockdown</strong> </em>atau kalau di Indonesia disebut sebagai <strong>PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)</strong>.</p>
<p>Intinya, interaksi fiksi manusia harus benar-benar dibatasi. <strong><em>Social distancing</em></strong>. Kita harus jaga jarak satu sama lain untuk meminimalisir potensi menularkan dan ketularan virus.</p>
<p>Ketika angka Corona tiap hari makin bertambah secara signifikan, kesadaran untuk tinggal di rumah menjadi begitu tinggi. Setidaknya, itu yang terlihat di negara kita.</p>
<p>Hanya saja dari yang Penulis amati,<strong> makin ke sini angka-angka yang tiap sore diumumkan oleh pemerintah hanya tinggal statistik semata</strong>. Masyarakat sudah mulai berani beraktivitas seperti biasa, meskipun masih menggunakan masker dan lain sebagainya.</p>
<p>Fakta inilah yang membuat Penulis khawatir kalau Corona tidak akan berakhir, setidaknya dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dari beberapa berita yang Penulis baca, <strong>kurva penderita mulai melandai</strong>. Jumlah yang terinfeksi tiap harinya, setidaknya di Jakarta, mulai berkurang secara bertahap.</p>
<p>Di satu sisi, ini merupakan berita baik. Strategi yang dikeluarkan oleh pemerintah provinsi terbukti efektif. Kita bisa menekan penularan dengam pembatasan ketat.</p>
<p>Di sisi lain, ini juga bisa menjadi berita buruk. Kita bisa saja jadi meremehkan penyebaran Corona dan mulai pergi ke tempat yang ramai.</p>
<p>Penulis khawatir,<strong> kurva yang sudah landai ini akan kembali memuncak</strong> jika kita tidak bisa sabar dan menahan diri. Usaha yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi sia-sia.</p>
<p>Masalah ini semakin diperparah dengan<strong> berbagai kebijakan blunder dari pemerintah</strong> yang meresahkan masyarakat. Sudah tidak mendapatkan kepastian, dibuat bingung pula.</p>
<p>&#8220;Kekompakan&#8221; antara pemerintah dan masyarakatnya ini sangat berpotensi memperpanjang masa edar pandemi Corona di Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain, Penulis <strong>merasa bersyukur dengan keadaan yang sekarang</strong> meskipun tidak bisa pulang dan tidak tahu kapan bisa pulang.</p>
<p>Setidaknya, Penulis masih memiliki pekerjaan dengan gaji tetap tanpa pemotongan. Penulis masih ditemani adik sehingga stres bisa tereduksi. Penulis masih memiliki berbagai sarana hiburan untuk membunuh waktu.</p>
<p>Merasa lelah dan tertekan itu pasti. Manusiawi. Penulis biasa mengusirnya dengan <strong>mengingat orang lain yang keadaannya lebih susah</strong>, entah ini etis atau tidak.</p>
<p>Contohnya adalah teman Penulis yang sama-sama tidak bisa pulang, namun hanya sendirian di kos. Penulis juga mengingat banyaknya perusahaan yang harus merumahkan karyawannya sehingga banyak yang kehilangan sumber pendapatan.</p>
<p>Banyak orang yang ujiannya jauh lebih berat dari yang Penulis terima. jauh jauh lebih berat. Penulis tidak boleh terlalu banyak mengeluh.</p>
<p><strong>Memperbanyak rasa syukur</strong> dan berusaha <strong>sebisa mungkin untuk tidak stres</strong> wajib Penulis lakukan di masa-masa seperti ini. Terus menjalani kontak dengan orang melalui smartphone menjadi cara lainnya.</p>
<p>Hanya saja, <strong><em>mau sampai kapan seperti ini?</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis sudah melakukan <em>refund </em>tiket pesawat mudik karena yakin tidak akan bisa pulang ketika lebaran nanti. Untuk pertama kali, Penulis merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga secara lengkap.</p>
<p>Penulis sejak beberapa minggu yang lalu sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal tersebut. Tidak apa-apa, pasti ada kesempatan lain untuk berkumpul kembali.</p>
<p><strong><em>Tapi kapan?</em></strong></p>
<p>Berdasarkan prediksi dan <em>feeling </em>Penulis, paling cepat bulan Agustus. Itupun kalau pemerintah dan masyarakat kita kompak mendisiplinkan diri agar Corona tidak semakin menyebar.</p>
<p>Jika tidak, bisa saja sampai akhir tahun Penulis harus bertahan di kos bersama adik. Belum dua bulan saja sudah begini rasanya, entah bagaimana jika harus hidup seperti ini hingga akhir tahun.</p>
<p>Kalau akhirnya Penulis bisa pulang, apakah Penulis bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman seperti biasa? Ataukah Penulis harus melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu?</p>
<p><strong>Banyak ketidakpastian yang akan dihadapi selama beberapa bulan mendatang</strong>, menjadikannya tantangan tersendiri untuk kita semua.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>Bagaimana seandainya Corona tidak akan benar-benar lenyap untuk selamanya?</strong> Jelas tidak ada yang menginginkan hal tersebut. Kekacauan bisa terjadi di mana-mana.</p>
<p>Kehidupan tidak normal kita selama pandemi akan menjadi hal normal yang baru. Perputaran roda ekonomi akan mengalami pergeseran yang drastis dan masih banyak hal lain yang akan berubah.</p>
<p>Bisakah kita hidup berdampingan dengan Corona seperti kita hidup berdampingan dengan flu? Entahlah, Penulis bukan orang medis, tidak bisa berpendapat.</p>
<p>Penulis tidak bisa membayangkan lebih banyak lagi. Pertanyaan yang menjadi judul terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan.</p>
<p>Semoga saja, kita semua bisa melewati badai ujian yang teramat besar ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 Mei 2020, terinspirasi dari pemikiran Penulis seperti biasanya, <em>overthinking</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.theglobeandmail.com/life/article-how-to-survive-the-cocoon-of-self-isolation/">The Globe and Mail</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Bagaimana Kalau Semua Ini Tak Akan Berakhir?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2020 11:34:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[pandemik]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3665</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini jika sedang berselancar di media sosial, kita akan disuguhkan banyak sekali berita seputar pandemik Corona yang mulai mengganas di dalam negeri. Bagaimana tidak, hingga hari Jumat (20/3) rasio kematian akibat virus ini mencapai angka 8%, salah satu yang tertinggi di dunia. Banyak yang meyakini hal ini terjadi karena pemerintah termasuk lambat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini jika sedang berselancar di media sosial, kita akan disuguhkan banyak sekali berita seputar pandemik Corona yang mulai mengganas di dalam negeri.</p>
<p>Bagaimana tidak, hingga hari Jumat (20/3) rasio kematian akibat virus ini mencapai angka <strong>8%</strong>, salah satu yang tertinggi di dunia. Banyak yang meyakini hal ini terjadi karena pemerintah termasuk lambat dalam mendeteksi pasien, sehingga angka penderita seharusnya lebih tinggi dari sekarang.</p>
<p>Kepanikan pun menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan (<em>inevitable</em>). Orang-orang dengan uang berlebih mulai membeli stok makanan untuk jaga-jaga jika <em>lockdown </em>benar-benar diberlakukan.</p>
<p>Penulis yang tinggal dan bekerja di Kebayoran Lama (yang notabene telah memiliki <em>suspect</em>) tentu juga merasa was-was. Seandainya bisa, Penulis akan memilih untuk pulang ke Malang.</p>
<p>Setelah berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta hingga wabah ini mengalami penurunan, atau bahkan hingga benar-benar habis kasusnya.</p>
<p>Kita semua sedang merasa takut karena penyebaran Corona yang amat sangat cepat dan mudah. Ketakutan tersebut memengaruhi banyak sekali aspek kehidupan kita sehari-hari.</p>
<h3>Dampak Ekonomi ke Masyarakat Bawah</h3>
<p>Menjelang tidur, Penulis mendapatkan notifikasi WhatsApp dari Ayu. Ia bertanya, apakah Penulis masih ingat dengan penjual es krim yang biasanya keliling di daerah perumahan.</p>
<p>Penulis menjawab masih mengingat sosoknya yang telah <em>sepuh</em>. Ayu pun melanjutkan ceritanya dengan berkata bahwa es yang ia jual masih penuh pada hari itu. Padahal, biasanya ketika sore dagangannya sudah akan habis.</p>
<p><div id="attachment_3668" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3668" class="size-large wp-image-3668" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3668" class="wp-caption-text">Harus Keluar Rumah (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pedagang_kaki_lima" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjzr6W5u6voAhVYeH0KHZMXD7wQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div></p>
<p>Bisa jadi, orang-orang merasa takut untuk membeli makanan dari luar, terutama yang tingkat higienisnya patut diragukan. Ayu pun jadi kepikiran, bagaimana kalau sang penjual tidak berhasil mendapatkan beberapa lembar rupiah.</p>
<p>Penulis juga teringat perjalanannya ke kantor menggunakan layanan ojek online. Di dalam perjalanan, Penulis bertanya mengenai dampak Corona terhadap jumlah penumpang.</p>
<p>Sang <em>driver </em>mengatakan jumlah penumpang berkurang sangat drastis. Bahkan layanan antar makanan yang Penulis kira akan meningkat juga mengalami stagnasi.</p>
<p>Ini menjadi salah satu contoh bagaimana Corona sebenarnya sangat memukul ke kalangan menengah ke bawah, yang kalau tidak keluar rumah tidak bisa makan. Mereka lebih takut mati kelaparan daripada mati kena virus.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung sebelumnya, orang-orang berduit tidak akan merasakan penderitaan semacam ini. Mereka memiliki tabungan sehingga bisa membeli persediaan makanan. Ketimpangan sosial yang terjadi ini sangat meresahkan.</p>
<h3><em>Lockdown </em>dan Sumbangan dari Si Kaya</h3>
<p>Dari berita yang Penulis baca, tiket pesawat ke Singapura (yang kasus kematian Coronanya 0%) ludes terjual. Bisa jadi, para orang kaya ini kabur ke sana sebelum pemerintah memutuskan <em>lockdown</em>.</p>
<p><em>Lockdown </em>sendiri merupakan salah satu cara paling ekstrem untuk meredam penyebaran virus Corona (selain tembak mati ala Korea Utara). Masalahnya, siapkah masyarakat kita terisolasi dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan?</p>
<p><div id="attachment_3669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3669" class="size-large wp-image-3669" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3669" class="wp-caption-text">Lockdown (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/19/covid-19-does-indonesia-need-a-lockdown-it-depends-on-how-you-define-it.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj38OPEu6voAhUKeisKHbtvDBIQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The Jakarta Post</span></a>)</p></div></p>
<p>Masyarakat menengah ke bawah jelas menolak ide ini. Jangankan untuk membeli stok makanan, untuk makan hari ini saja belum tentu punya. Yang kaya <em>mah </em>enak bisa makan sambil nonton <em>Netflix</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, muncul suara-suara di media sosial yang menuntut orang-orang kaya mengeluarkan sumbangan demi mengatasi Corona ini, terutama mereka yang gemar pamer barang-barang <em>branded </em>mereka.</p>
<p>Mereka meminta korporat dan <em>public figure </em>meniru Korea Selatan yang <em>jor-joran </em>dalam memberikan sumbangan. Beberapa sudah melakukannya, beberapa mungkin diam-diam melakukannya. Berprasangka baik saja.</p>
<h3>#dirumahaja</h3>
<p>Sebelum <em>lockdown </em>diberlakukan secara resmi, pemerintah pusat maupun daerah sama-sama menghimbau untuk #dirumahaja sebagai bentuk antisipasi. Masyarakat diminta membatasi  interaksinya dengan orang lain semaksimal mungkin.</p>
<p>Tapi ya sekali lagi, tidak semua bisa merasakan <em>privilege </em>ini. Ada orang-orang yang tidak bisa bekerja dari rumah. Kemarin ketika naik lift barang, Penulis bertemu dengan beberapa <em>security. </em>Mereka jelas tidak bisa bekerja dari rumah.</p>
<p><div id="attachment_3670" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3670" class="size-large wp-image-3670" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3670" class="wp-caption-text">#dirumahsaja (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.dailymail.co.uk/news/article-8129619/NHS-frontline-staff-battling-coronavirus-tell-Britons-responsible-stay-home.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjm7fHsu6voAhUA7HMBHR9DBM8QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Daily Mail</span></a>)</p></div></p>
<p>Tidak hanya di dunia kerja, himbauan ini juga berlaku untuk mahasiswa dan pelajar. Sekolah dan kampus tidak diliburkan, mereka belajar di rumah secara online.</p>
<p>Masalahnya, banyak yang mengeluh kalau mereka mulai bosan di rumah terus. Padahal, sebelumnya mereka selalu mendambakan rebahan sepuasnya. Kontradiksi ini membuktikan ketidakkonsistenan manusia.</p>
<p>Seharusnya, kita merasa bersyukur masih bisa di rumah saja. Merasa bosan itu manusiawi, tapi setidaknya jangan mengeluarkan keluhan tersebut di ruang publik seperti media sosial. Kasihan mereka yang tidak bisa bekerja dari rumah, lebih-lebih tim medis yang menangani pasien Corona.</p>
<p>Bahkan, para ulama dan petinggi agama lainnya telah menyepakati agar aktivitas ibadah dilakukan di rumah untuk sementara waktu. Ini menunjukkan bahwa virus ini bukan sesuatu yang main-main.</p>
<p>Banyak penduduk negara lain yang meremehkan virus ini dan tetap beraktivitas di luar seperti biasa. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri jumlah penderita dan korban jiwa dari negara tersebut.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Isolasi di rumah mungkin berat untuk kaum ekstrovert, namun ringan bagi kaum introvert yang sudah terbiasa. Penulis menemukan kalimat ini di media sosial, sebuah <em>joke </em>di tengah duka yang tengah melanda.</p>
<p>Virus Corona memang tidak hanya menyerang kesehatan, namun juga berdampak pada kondisi sosial ekonomi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, walaupun itu hanya berdiam diri di rumah.</p>
<p>Beberapa negara yang mulai mencari obat dan vaksinnya. Negara yang telah bangkit dari terjangan Corona juga mulai membantu negara-negara lain yang baru terkena dampaknya.</p>
<p>Semoga tulisan ringan ini bisa menjadi pengingat. Semoga kita semua diberikan perlindungan agar bisa melewati badai ujian ini bersama-sama. <em>Every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita seputar virus Corona</p>
<p>Foto: <a href="https://www.who.int/images/default-source/health-topics/coronavirus/corona-virus-getty.tmb-1200v.jpg?Culture=en&amp;sfvrsn=217a6a68_6">WHO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">Corona dan Dampak Sosial Ekonominya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
