<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pergaulan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pergaulan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pergaulan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2021 03:46:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pergaulan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pergaulan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2019 00:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[bercanda]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu. Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut. Kelewat Baper Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias <em>baper</em> ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.</p>
<p>Bukan <em>baper </em>karena merasa <em>geer</em> seseorang suka dengan kita ya. <em>Baper </em>yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.</p>
<h3>Kelewat Baper</h3>
<p>Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.</p>
<p>Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?</p>
<div id="attachment_2172" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2172" class="size-large wp-image-2172" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2172" class="wp-caption-text">Kelewat Baper (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.theodysseyonline.com/girls-do-cry" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBmIH3t7fgAhXZZSsKHWVYAfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Odyssey</span></a>)</p></div>
<p>Seringkali kita dijuluki <em>baper</em> seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.</p>
<p>Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.</p>
<p>Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat <em>baper </em>yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li><strong>Selalu berpikir positif</strong>, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.</li>
<li><strong>Jangan semua dimasukkan ke dalam hati</strong>, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.</li>
<li><strong>Jadikan bahan interopeksi diri</strong>, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.</li>
<li><strong>Belajar menjadi lebih dewasa</strong>, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.</li>
<li><strong>Mendekatkan diri ke Tuhan</strong>, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan sang pencipta alam</a> ini. Jika Islam, perbanyaklah <em>istighfar </em>atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.</li>
<li><strong>Cerita ke orang</strong> <strong>lain yang dipercaya</strong>, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.</li>
</ul>
<p>Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat <em>baper</em>. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.</p>
<h3>Bercanda Kelewatan</h3>
<p>Mungkin karena sewaktu kecil sering di-<em>bully </em>oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.</p>
<p>Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.</p>
<div id="attachment_2173" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2173" class="size-large wp-image-2173" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg" alt="" width="800" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2173" class="wp-caption-text">Bercanda Kelewatan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.iamsecond.com/is-living-second-really-just-being-first-loser/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjfm8SwubfgAhVNi3AKHf4dDH0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">I Am Second</span></a>)</p></div>
<p>Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?</p>
<p>Masalahnya, tidak semua orang <em>baper </em>sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.</p>
<p>Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.</p>
<p>Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, <strong>sejak ada kata <em>baper, </em>kata maaf seolah pudar</strong>. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang <em>baper</em>. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.</p>
<p>Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.</p>
<ul>
<li><strong>Tumbuhkan empati</strong>, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.</li>
<li><strong>Berpikir sebelum berbicara</strong>, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?</li>
<li><strong>Belajar menjaga perasaan orang lain</strong>, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.</li>
<li><strong>Jangan pernah merasa lebih baik</strong>, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-<em>bully </em>adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa dirinya lebih baik</a> atau lebih hebat dari orang yang di-<em>bully</em>. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.</li>
<li><strong>Peka terhadap situasi dan memahami orang lain</strong>, karena sikap <em>baper </em>bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.</li>
<li><strong>Jangan merasa paling benar</strong>, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-<em>baper-</em>an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.</li>
</ul>
<p>Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.</p>
<p>Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai orang lain</a>, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang <em>baper </em>menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si <em>baper </em>sudah <em>lebay</em>.</p>
<p>Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah <em>baper</em>, coba dikurangi ke-<em>baper-</em>annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah <em>baper</em>.</p>
<p>Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara <em><strong>kelewat baper vs bercanda kelewatan</strong> </em>ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah&#8230;</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://everything-voluntary.com/forced-association-compounds-bullying" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQqrC8t7fgAhVWaCsKHUKqD3cQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Everything-Voluntary.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beradaptasi dengan Lingkungan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2018 03:23:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=859</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ah, kayaknya aku gak bakal deh diterima sama mereka.&#8221; &#8220;Ah, kalo aku gabung ke situ paling aku cuma diem.&#8221; &#8220;Ah, mereka kayaknya enggak suka sama aku.&#8221; &#8220;Ah, aku enggak butuh mereka, aku lebih suka sendiri.&#8221; Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang menggantung di dalam hati kita ketika kita merasa ragu untuk bergabung dalam pembicaraan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ah, kayaknya aku gak bakal deh diterima sama mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, kalo aku gabung ke situ paling aku cuma diem.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, mereka kayaknya enggak suka sama aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku enggak butuh mereka, aku lebih suka sendiri.&#8221;</p>
<p>Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang menggantung di dalam hati kita ketika kita merasa ragu untuk bergabung dalam pembicaraan yang telah dimulai oleh sekelompok orang. Penulis bisa berkata demikian karena penulis alami sendiri :).</p>
<p>Kita terlalu rumit dengan pikiran kita sendiri hingga menjustifikasi orang lain seenak kita. Padahal, belum tentu praduga-praduga tersebut terbukti. Bukankah membuat kesimpulan tanpa data adalah kesalahan besar?</p>
<p>Bisa berbaur dengan lingkungan baru merupakan salah satu teknik adaptasi yang dibutuhkan dalam kehidupan bersosial. Syarat pertama agar bisa melakukan hal tersebut, ya membuang segala prasangka-prasangka tersebut.</p>
<p>Coba bayangkan situasi sebagai berikut:</p>
<p><em>Budi baru saja pindah ke Sumber Wuni. Di hari pertamanya, ia mencoba untuk bermain ke lapangan untuk mengenal teman-teman sekampungnya. Ketika sampai di lapangan, ia melihat sekumpulan remaja sedang bercengkerama di pinggir lapangan. Apa yang harus dilakukan Budi?</em></p>
<p>Jika yang ada di benak Budi adalah pikiran-pikiran yang ada di awal tulisan, tentu ia akan memutuskan untuk balik badan. Atau minimal, duduk agak jauh dari tempat mereka berkumpul, menunggu diajak bergabung oleh mereka.</p>
<p>Akan tetapi, karena Budi adalah anak yang berpikir positif, maka ia berusaha untuk langsung bergabung dengan mereka dan memperkenalkan diri. Dan ternyata, remaja-remaja tersebut sangat <em>welcome </em>terhadap Budi.</p>
<p>Ketika awal-awal, mungkin kita akan lebih banyak diam mendengarkan pembicaraan mereka, dan ini sangat normal. Sebagai orang baru, tentu kita harus mengetahui dulu bagaimana kebiasaan, sifat, gaya bahasa teman-teman baru kita. Jangan sampai kita sok membaur dengan gaya kita sendiri karena hal tersebut dapat membuat risih orang lain.</p>
<p>Misalkan saja, orang Jakarta pindah ke Malang, tentu ia tidak dapat menggunakan bahasa <em>gue lo </em>dalam tempo cepat terhadap orang Jawa yang menggunakan <em>aku awakmu </em>yang bertempo lambat. Anak baru tersebut kemungkinan besar akan dicap &#8220;mentang-mentang dari Jakarta jadi sombong&#8221;.</p>
<p>Beradaptasi tentu memerlukan waktu untuk penyesuaian. Manfaatkanlah waktu-waktu di awal perkenalan sebagai momen untuk mengobservasi orang-orang di lingkungan baru. Ketika merasa sudah bisa menyesuaikan diri, cobalah untuk bergabung lebih dalam lagi dengan mereka.</p>
<p>Idealnya, kita yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kita, bukan sebaliknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Juni 2018, terinspirasi ketika malam setelah pemilihan ketua Karang Taruna periode 2018-2021</p>
<p>Sumber foto: <a href="http://www.tv3.ie/xpose/article/lifestyle/258356/Signs-your-childs-lonely-and-10-tips-on-how-to-help-them">http://www.tv3.ie/xpose/article/lifestyle/258356/Signs-your-childs-lonely-and-10-tips-on-how-to-help-them</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/">Beradaptasi dengan Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/beradaptasi-dengan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
