Connect with us

Pengembangan Diri

Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan

Published

on

Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.

Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.

Kelewat Baper

Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.

Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?

Kelewat Baper (Odyssey)

Seringkali kita dijuluki baper seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.

Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.

Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.

Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat baper yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.

  • Selalu berpikir positif, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.
  • Jangan semua dimasukkan ke dalam hati, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.
  • Jadikan bahan interopeksi diri, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.
  • Belajar menjadi lebih dewasa, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.
  • Mendekatkan diri ke Tuhan, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah Tuhan sang pencipta alam ini. Jika Islam, perbanyaklah istighfar atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.
  • Cerita ke orang lain yang dipercaya, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.

Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat baper. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.

Bercanda Kelewatan

Mungkin karena sewaktu kecil sering di-bully oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.

Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.

Bercanda Kelewatan (I Am Second)

Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?

Masalahnya, tidak semua orang baper sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.

Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.

Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, sejak ada kata baper, kata maaf seolah pudar. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang baper. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.

Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.

  • Tumbuhkan empati, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.
  • Berpikir sebelum berbicara, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?
  • Belajar menjaga perasaan orang lain, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.
  • Jangan pernah merasa lebih baik, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-bully adalah merasa dirinya lebih baik atau lebih hebat dari orang yang di-bully. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.
  • Peka terhadap situasi dan memahami orang lain, karena sikap baper bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.
  • Jangan merasa paling benar, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-baper-an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.

Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.

Penutup

Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.

Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah menghargai orang lain, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang baper menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si baper sudah lebay.

Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah baper, coba dikurangi ke-baper-annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah baper.

Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara kelewat baper vs bercanda kelewatan ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.

 

 

Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah…

Foto: Everything-Voluntary.com

Pengembangan Diri

The Hardest Part of Ending is Starting Again

Published

on

By

Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul “Waiting for the End” dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter.

Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul The Hardest Part of Ending is Starting Again. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.

Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya “menari di atas keyboard” untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.

Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat

Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu quote menarik dari buku Slow Steps karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:

Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.

Kata “meninggalkan” identik dengan suatu akhir atau ending. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.

Dalam tulisan Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih, Penulis telah membahas sedikit tentang sunk cost bias. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya “investasi” yang telah dikeluarkan.

Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.

Begitu juga tentang karier. Saat kita telah stay cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.

Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal.

Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat

Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.

Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama.

Ketika kita terpikir untuk resign, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari apply lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan jobdesk baru.

Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.

Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, just do it. Mulai aja dulu. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.

Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat

Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.

Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau task, Penulis akan melakukan breakdown dan membaginya menjadi task-task kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.

Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan draft, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.

Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu task yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:

  • Breakdown isi portofolio
  • Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio
  • Mencari referensi desain portofolio di Canva
  • Membuat draft kosongan 5 halaman
  • Dan seterusnya

Penulis yang perfeksionis ini kerap menunggu “waktu ideal” untuk memulai sesuatu. Padahal, hal tersebut tidak ada, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi task-task yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.

Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.

Penutup

Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu “Waiting for the End”. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.

Dalam perjalanannya, Penulis menemukan quote buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.

Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat karena kita belum memulainya. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.

Oleh karena itu, mulai dari yang kecil-kecil bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. Just keep moving, just keep pushing. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.


Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton Linkin Park: Unshatter

Continue Reading

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Pengembangan Diri

Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung

Published

on

By

Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.

Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.

Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.

Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.

Postur Duduk Jang Wonyoung

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.

Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (YouTube)

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.

Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.

Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

IVE di Channel YouTube Epic High (YouTube)

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.

Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.

Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.

Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.

Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.

Mindset ala Lucky Vicky

Lucky Vicky (Crast FM)

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.

Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.

Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.

Penutup

Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.

Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).

Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018