Connect with us

Pengembangan Diri

Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan

Published

on

Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.

Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.

Kelewat Baper

Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.

Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?

Kelewat Baper (Odyssey)

Seringkali kita dijuluki baper seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.

Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.

Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.

Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat baper yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.

  • Selalu berpikir positif, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.
  • Jangan semua dimasukkan ke dalam hati, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.
  • Jadikan bahan interopeksi diri, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.
  • Belajar menjadi lebih dewasa, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.
  • Mendekatkan diri ke Tuhan, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah Tuhan sang pencipta alam ini. Jika Islam, perbanyaklah istighfar atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.
  • Cerita ke orang lain yang dipercaya, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.

Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat baper. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.

Bercanda Kelewatan

Mungkin karena sewaktu kecil sering di-bully oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.

Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.

Bercanda Kelewatan (I Am Second)

Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?

Masalahnya, tidak semua orang baper sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.

Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.

Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, sejak ada kata baper, kata maaf seolah pudar. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang baper. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.

Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.

  • Tumbuhkan empati, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.
  • Berpikir sebelum berbicara, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?
  • Belajar menjaga perasaan orang lain, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.
  • Jangan pernah merasa lebih baik, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-bully adalah merasa dirinya lebih baik atau lebih hebat dari orang yang di-bully. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.
  • Peka terhadap situasi dan memahami orang lain, karena sikap baper bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.
  • Jangan merasa paling benar, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-baper-an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.

Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.

Penutup

Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.

Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah menghargai orang lain, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang baper menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si baper sudah lebay.

Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah baper, coba dikurangi ke-baper-annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah baper.

Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara kelewat baper vs bercanda kelewatan ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.

 

 

Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah…

Foto: Everything-Voluntary.com

Pengembangan Diri

People “Come”, People “Go”

Published

on

By

Pembaca pasti merasa familiar dengan frase bahasa Inggris people come and go. Secara sederhana, frase ini bermakna kalau orang-orang dalam kehidupan kita akan datang dan pergi secara bergiliran. Tidak ada yang akan benar-benar stay.

Maka dari itu, menahan orang-orang yang ingin pergi dari kehidupan kita akan terasa percuma, karena pada dasarnya mereka berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah respons kita terhadap kepergian mereka.

Namun, pada suatu saat, Penulis menangkap ada makna lain dari frase people come and go. Untuk membedakan, Penulis akan menuliskannya dengan people come, people go. Datang ketika butuh kita, tetapi pergi ketika kita yang butuh.

Datang Ketika Butuh Kita

Di media sosial akhir-akhir ini sedang viral tentang “pinjam dulu seratus” yang biasanya dibalut dalam bentuk pantun. Ini adalah sebuah kalimat horor ketika ada orang datang ke kita untuk meminjam uang, yang biasanya sulit untuk kembali.

Seringkali, orang-orang yang seperti ini adalah orang yang hanya datang ke kita ketika mereka merasa butuh. Tidak melulu tentang pinjan uang, tapi bisa juga butuh bantuan untuk hal lain. Ketika sedang tidak butuh, mereka seolah-olah tidak kenal dengan kita.

Dalam hidup, rasanya hampir semua manusia pernah bertemu dengan tipe orang yang seperti ini. Lantas, bagaimana menghadapi mereka? Kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah mau dimanfaatkan orang lain begitu saja atau memberi batasan yang jelas.

Jika niat hati ingin menolong dan bermanfaat tanpa peduli pikiran orang lain, bagus. Tidak semua orang punya ketulusan hati seperti ini. Toh seperti kata Tanjiro Kamado dari anime Demon Slayer, kebaikan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali ke diri sendiri.

Namun, jika belum bisa mencapai level tersebut, menolak untuk dimanfaatkan juga tidak salah. Apalagi, jika tenaga, waktu, bahkan uang kita benar-benar terkuras untuk mereka. Mengetahui batasan diri juga dibutuhkan untuk kebaikan diri kita.

Pergi Ketika Kita yang Butuh

Datang ketika butuh saja sudah cukup problematik, apalagi jika mereka justru pergi ketika kita yang membutuhkan bantuan. Dengan beribu alasan, mereka akan menolak untuk mengulurkan tangan mereka.

Manusia sebagai makhluk sosial jelas harus saling membantu. Mau semandiri apapun, kita pasti tetap membutuhkan bantuan orang lain. Oleh karena itu, sejak kecil kita diajari untuk saling tolong-menolong karena memang seterikat itu kita dengan manusia lain.

Masalahnya, tidak semua orang memiliki kesadaran untuk membantu orang lain. Ada oknum-oknum yang berpikir kalau dirinya adalah pusat semesta, sehingga merasa acuh ketika melihat ada orang yang sedang membutuhkan bantuan dirinya.

Ketika menghadapi tipe orang yang seperti ini, rasanya lebih bijak jika kita menjaga jarak dengan mereka. Berbuat baik sih berbuat baik, tapi kalau hanya kita yang dimanfaatkan ya buat apa? Toh, masih banyak orang lain yang bisa kita tolong daripada parasit seperti mereka.

Datang ketika kita butuh, tetapi pergi ketika kita yang butuh. Semoga saja kita selalu dihindarkan untuk bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Semoga kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yang mau saling tolong-menolong.


Lawang, 25 Oktober 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau frase people come and go bisa dimaknai lain

Foto Featured Image: Mike Chai

Continue Reading

Pengembangan Diri

Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95

Published

on

By

Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya.

Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.

Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.

SPOILER AHEAD!!!

Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah

Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (Twitter)

Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk keluarga Jaya. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari keluarga Sundari yang merupakan saingan keluarga Jaya.

Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada perasaan bersalah setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.

Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.

Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani.

Sayangnya, yang ada perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.

Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.

Hal tersebut membuat Budi semakin merasa bersalah. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.

Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya

Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (Instagram)

Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.

Budi pun mendapatkan nasehat dari Pak Agus, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi penengah antara Faisal dan Fani layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.

Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu dan jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir. Daripada seperti itu, lebih baik fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju.

Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah membuat Faisal dan Fani berdamai seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.

Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.

Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Faisal. Berbagai hal ia berusaha lakukan dan berikan untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.

Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95

Ini Budi (Instagram)

Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter Kosan 95.

Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.

Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, mengubah diri menjadi lebih baik, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.

Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri atas kesalahan yang sudah diperbuat.

Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. Terbelenggu dengan perasaan bersalah yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.

Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.


Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon Kosan 95

Continue Reading

Pengembangan Diri

Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita

Published

on

By

Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu negative self-talk.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Hasil dari sesuatu yang kita kejar adalah salah satunya.

Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan

Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama stoisme atau stoik. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah overthinking seperti Penulis.

Diawali dari membaca buku Filsafat Teras, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai dikotomi kendali.

Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis Dunia Sophie, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:

“Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”

Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita).

Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita.

Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan

Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.

Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.

Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya privilege yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.

Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan.

Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.

Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.

Penutup

Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.

Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?

Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.


Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita

Foto Featured Image: Andrew Neel

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan