<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pola pikir Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pola-pikir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pola-pikir/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Jul 2022 01:55:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pola pikir Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pola-pikir/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Mindset</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2022 01:54:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fixed mindset]]></category>
		<category><![CDATA[growth mindset]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5607</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya mindset atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut. Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk mindset yang baik dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/">Setelah Membaca Mindset</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak motivator yang kerap berkata mengenai pentingnya <em>mindset </em>atau pola pikir kita dalam menjalani hidup. Apa yang terjadi dalam hidup kita kerap dipengaruhi oleh bagaimana otak kita memikirkan hal tersebut.</p>



<p>Terlepas dari beberapa faktor eksternal yang jelas ikut memengaruhi, Penulis menyetujui hal ini karena terkadang dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam membentuk <em>mindset </em>yang baik dan positif.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli sebuah buku <em>self-improvement </em>berjudul <em><strong>Mindset </strong></em>yang ditulis oleh Carol S. Dweck. Lantas, apakah Penulis terbantu membentuk <em>mindset</em>-nya setelah membaca buku ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Mindset &#8211; Mengubah Pola Berbikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda</li><li>Penulis: Carol S. Dweck</li><li>Penerbit: BACA</li><li>Cetakan: Cetakan VII Edisi Revisi</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 400 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p><em>Mindset </em>memiliki 8 bab, di mana tiga bab awal berusaha menjelaskan tentang apa itu <em>mindset</em>, tiga bab selanjutnya memberikan beberapa contoh penerapan <em>growth mindset</em> dalam berbagai bidang, satu bab yang menelusuri darimana datangnya <em>mindset</em>, dan satu bab ekstra yang sejujurnya tidak terlalu Penulis pahami.</p>



<p>Bab 1 membahas mengenai jenis-jenis <em>mindset</em>, di mana di sinilah kita pertama kali akan diperkenalkan mengenai perbedaan mendasar antara <em>fixed mindset </em>dan <em>growth mindset</em>. Penulis akan memberikan &#8220;bocorannya&#8221; di bawah.</p>



<p>Kita akan lebih mendalami tentang pemahaman <em>mindset </em>pada bab 2 dan 3. Kita juga akan diajak untuk mengubah definisi kegagalan dan usaha dengan menggunakan <em>mindset </em>ini. Kita juga akan mendefinisikan ulang mengenai kemampuan dan pencapaian dalam hidup.</p>



<p>Untuk bab 4 &#8211; 6 yang memberikan contoh penerapan <em>growth mindset</em> dalam berbagai bidang, di buku ini ada dari bidang olahraga, bisnis, dan cinta. Pada bab 7, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana <em>mindset </em>kita terbentuk.</p>



<p>Di bawah ini adalah rangkuman judul bab yang terdapat pada buku ini:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Jenis-Jenis Mindset</li><li>Memahami Mindset</li><li>Kebenaran tentang Kemampuan dan Pencapaian</li><li>Olahraga: Mindset Seorang Juara</li><li>Bisnis: Mindset dan Kepemimpinan</li><li>Hubungan: Mindset dalam Cinta (Atau Bukan)</li><li>Orangtua, Guru, dan Pelatih: Dari Mana Datangnya Mindset</li><li>Mengubah Mindset: Sebuah Lokakarya</li></ol>



<p>Banyak contoh di kehidupan yang dimasukkan ke dalam buku ini untuk membuktikan bahwa orang-orang dengan <em>growth mindset </em>lebih sukses dibandingkan orang-orang dengan <em>fixed mindset</em>. </p>



<p>Di bagian belakang buku, kita bisa membaca sedikit contoh penerapan <em>growth mindset</em>. Alih-alih mengatakan &#8220;aku payah dalam hal ini&#8221;, lebih baik mengatakan &#8220;apa yang aku lewatkan?&#8221;. Contoh-contoh seperti ini akan lebih banyak ditemukan di dalam buku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Mindset</em></h2>



<p>Fokus dari buku <em>Mindset </em>adalah menjelaskan tentang adanya dua jenis <em>mindset</em>, yakni <em><strong>fixed</strong> <strong>mindset</strong></em> dan <em><strong>growth mindset</strong></em>. Seperti namanya, <em>fixed mindset </em>adalah pola pikir tetap yang tidak mau berubah, sedangkan <em>growth mindset </em>adalah pola pikir yang terus berkembang.</p>



<p>Penulis akan ambil contoh dari horoskop. Misal Penulis yang berzodiak Taurus digambarkan sebagai orang yang sensitif. Jika ada orang yang mengingatkan kalau Penulis terlalu sensitif, Penulis akan membela diri dengan mengatakan &#8220;emang orang Taurus, mau gimana lagi&#8221;.</p>



<p>Ini adalah contoh kecil dari <em>fixed mindset</em>, di mana kita percaya begitu saja dengan pikiran (buruk) kita tanpa ada upaya untuk mengubahnya. Padahal, sebenarnya sifat-sifat buruk yang kita miliki bisa saja kita ubah jika kita berusaha untuk mengubahnya.</p>



<p>Penyajian tentang <em>mindset </em>yang dilaukan oleh Carol sebenarnya cukup mendalam dan dijelaskan dengan mudah. Hanya saja, Penulis merasa beberapa bagian dari buku ini cukup bertele-tele dan cukup membosankan.</p>



<p>Salah satu alasannya adalah inti dari buku ini sebenarnya hanya menjelaskan tentang <em>fixed mindset </em>dan <em>growth mindset</em>. Dengan tebal yang mencapai , rasanya buku ini terlampau tebal untuk sebuah topik.</p>



<p>Walaupun begitu, buku ini sangat cocok dengan Penulis yang berusaha untuk menerapkan filosofi <em>stoic </em>yang menekankan kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">satu-satunya hal yang bisa kendalikan</a> adalah diri sendiri. <em>Mindset </em>jelas termasuk di dalamnya.</p>



<p>Contoh paling nyata bagaimana vitalnya mengendalikan <em>mindset </em>untuk kehidupan yang lebih baik telah Penulis saksikan sendiri pada ayah Penulis. Meskipun sedang dalam kondisi apapun, ayah Penulis hampir selalu mampu mengendalikan<em> growth mindset-</em>nya.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis merasa bahwa selama ini sering <em>stuck </em>dengan <em>fixed mindset</em>-nya. Tidak bisa ini, tidak bisa itu, karena memang begitu. Padahal kalau jujur ke diri sendiri, upaya Penulis saja yang memang belum maksimal.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa dirinya sering terjebak dengan <em>fixed mindset </em>dan ingin belajar tentang <em>growth mindset</em>. Buku ini cukup mencerahkan, kok!</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 15 Juni 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Mindset </em>karya Carol S. Dweck</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/">Setelah Membaca Mindset</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2018 01:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Francine Jay]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hidup minimalis]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Hidup Minimalis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1676</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang pernah penulis ceritakan pada tulisan Merapikan Kamar Merapikan Diri, salah satu aktivitas favorit bagi penulis adalah menata dan mendekorasi kamar. Apalagi setelah membaca buku karya Marie Kondo yang terkenal. Ketika menemukan buku berjudul Seni Hidup Minimalis, penulis sempat ragu untuk membelinya. Penulis khawatir isinya kurang lebih sama dengan buku The Life Changing Magic of Tidying [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/">Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang pernah penulis ceritakan pada tulisan <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/merapikan-kamar-merapikan-diri/">Merapikan Kamar Merapikan Diri</a>, salah satu aktivitas favorit bagi penulis adalah menata dan mendekorasi kamar. Apalagi setelah membaca buku karya Marie Kondo yang terkenal.</p>
<p>Ketika menemukan buku berjudul <strong>Seni Hidup Minimalis</strong>, penulis sempat ragu untuk membelinya. Penulis khawatir isinya kurang lebih sama dengan buku <em>The Life Changing Magic of Tidying Up. </em></p>
<p>Akan tetapi, pada akhirnya penulis tetap membeli buku tersebut sewaktu pergi ke Bandung, dan penulis sama sekali tidak menyesalinya.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini bukan hanya bercerita tentang merapikan sebuah rumah, akan tetapi mengajak pembacanya untuk menerapkan pola hidup minimalis. Bagian pertama dari buku ini menjelaskan tentang itu, karena inti dari hidup minimalis adalah tentang <em>mindset</em>.</p>
<p>Sebenarnya banyak kesamaan teori yang diajukan<strong> Francine Jay</strong> dan <strong>Marie Kondo</strong>. Salah satunya adalah memiliki banyak barang itu membuat kita stres. Mereka mengajak kita untuk mengurangi barang-barang yang kita miliki.</p>
<p>Kata kuncinya ada di kata &#8220;cukup&#8221;. Jika kita merasa cukup dengan barang yang kita miliki, ya jangan ditambah. Kalau ingin membeli barang baru, keluarkan barang lama yang sekiranya sudah tidak layak untuk disimpan. <strong>Satu masuk, satu keluar</strong>.</p>
<p>Jay memiliki slogan <strong>STREAMLINE</strong>, yang dijelaskan secara rinci pada bagian kedua dan merupakan akronim dari:</p>
<ul>
<li><em><strong>S</strong>tart over, </em>segera mulai aktivitas menata kamar tanpa menunda-nudanya</li>
<li><em><strong>T</strong>rash, treasure, or transfer, </em>pilih barang untuk dibuang, disimpan, atau diberikan kepada yang lebih membutuhkan</li>
<li><em><strong>R</strong>eason for each item,</em> setiap barang harus memiliki alasan kuat mengapa ia disimpan</li>
<li><em><strong>E</strong>verything in its place,</em> letakkan barang pada tempatnya, segera setelah selesai menggunakannya</li>
<li><em><strong>A</strong>ll surface clear</em>, semua permukaan datar seperti lantai dan meja harus dibiarkan kosong dan rapi</li>
<li><em><strong>M</strong>odules,<strong> </strong></em>siapkan ruang-ruang untuk menyimpan barang dengan membagi-baginya sesuai kebutuhan</li>
<li><em><strong>L</strong>imits, </em>membatasi barang-barang yang dimiliki</li>
<li><em><strong>I</strong>f one comes in, one goes out</em>, jika ada satu barang baru, keluarkan satu barang lama</li>
<li><em><strong>N</strong>arrow down</em>, kurang benda-benda yang lama tidak terpakai atau sudah tidak digunakan</li>
<li><em><strong>E</strong>veryday maintenance</em>, merawat kerapian rumah setiap hari</li>
</ul>
<p>Pada bab selanjutnya, Jay akan menjelaskan tentang metode STREAMLINE tersebut untuk tiap-tiap ruang, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, kamar, hingga gudang penyimpanan. Setiap sub-babnya akan diulang-ulang mengenai <strong>RAPIKAN &gt; SIMPAN &gt; RAWAT</strong>.</p>
<p>Bab terakhir akan menjelaskan dampak hidup minimalis untuk keluarga dan lingkungan. Jay menerangkan bagaimana penerapan kehidupan minimalis akan membantu mengurangi kerusakan pada Bumi kita tercinta.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan kepada orang-orang yang memiliki minat terhadap pola hidup minimalis atau sekedar ingin mencari cara bagaimana cara membersihkan rumahnya yang sangat sulit untuk terlihat rapi.</p>
<p>Penulis sendiri secara perlahan mulai menerapkan pola hidup ini. Contoh kecilnya, sebelum membeli barang, penulis akan bertanya apakah barang tersebut akan berguna atau tidak nantinya.</p>
<p>Dari pengalaman penulis sendiri, hal tersulit yang harus dilakukan dari nasihat-nasihat Kondo maupun Jay adalah membuang barang-barang. Penulis adalah tipe orang yang gemar menyimpan barang karena alasan sentimentil.</p>
<p>Jika pembaca seperti penulis, maka lakukanlah hal tersebut secara bertahap. Singkirkan barang yang sudah tidak diinginkan. Jika ada barang yang membuat kita ragu-ragu, simpan untuk sementara waktu hingga kita bisa memutuskan untuk membuang atau menyimpan barang tersebut.</p>
<p>Buku ini dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, walaupun mungkin terlalu banyak teori yang dipaparkan. Isinya terasa kurang padat karena inti yang ingin disampaikan dijelaskan terlalu lebar.</p>
<p>Adanya banyak pengulangan juga bisa membuat pembaca merasa bosan, walaupun Jay berusaha untuk menghadirkan contoh yang berbeda-beda untuk pembahasan yang sama pada bab ketiga.</p>
<p>Meskipun demikian, buku ini membawa banyak pengaruh positif, setidaknya untuk penulis yang telah selesai membacanya, terutama tentang bagaimana penerapan hidup minimalis bisa memberikan dampak yang signifikan kepada lingkungan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 November 2018 terinspirasi setelah menamatkan buku Seni Hidup Minimalis tulisan Francine Jay</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/">Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
