<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>proses Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/proses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/proses/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:48:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>proses Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/proses/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Filosofi Merakit Gundam</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2018 03:32:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Gundam]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[model kit]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[rakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1916</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah Gundam tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe Build Strike Gundam Full Package 001. Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di display toko Multitoys Pondok Indah Mall 1. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah <strong>Gundam </strong>tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe <strong>Build Strike Gundam Full Package 001</strong>.</p>
<p>Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di <em>display </em>toko <strong>Multitoys Pondok Indah Mall 1</strong>. Sebenarnya ada yang lebih murah, tapi tak bersayap.</p>
<p>Begitu membeli, malamnya penulis langsung merakit Gundam tersebut non-stop. Maklum, penulis memang sedikit memiliki sifat kekanakan jika memiliki barang baru.</p>
<p>Proses merakit Gundam ini memakan waktu kurang lebih <strong>5 jam</strong>, mulai jam 9 malam hingga jam 2 pagi. Penulis tak bosan memandang Gundam yang penulis rakit dengan susah payah ini.</p>
<p>Namanya juga baru pertama kali, jelas tekniknya masih amatir, tidak seperti teman kerja penulis. Selain itu, penulis mencoba untuk menemukan filosofi apa yang bisa ditemukan ketika merakit sebuah model kit.</p>
<h3>Proses Itu Lebih Nikmat Dari Hasil</h3>
<p>Daripada memandangi hasilnya, penulis lebih menikmati proses merakitnya. Bagaimana kita memotong secara bertahap bagian-bagian dari Gundam yang kecil-kecil, bagaimana kita menyusunnya sesuai dengan panduan yang ada, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis sejak lama lebih menikmati sebuah proses. Bisa jadi karena pengaruh buku-buku yang penulis baca, seperti buku-buku <strong>John C. Maxwell</strong>. Bukan berarti penulis tidak menikmati hasil. Jelas hasil juga memberikan rasa kepuasan tersendiri.</p>
<div id="attachment_1918" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1918" class="size-large wp-image-1918" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1918" class="wp-caption-text">Proses Lebih Nikmat dari Hasil</p></div>
<p>Akan tetapi, penulis meyakini hasil hanya mengikuti kerja keras kita selama proses. Jika proses dijalani dengan baik dan benar, maka hasil pun akan mengikuti. Lantas bagaimana jika ada yang telah berupaya keras namun tidak membuahkan hasil yang setimpal?</p>
<p>Itukan dari perspektif manusia. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Selama mempercayai Tuhan itu Maha Adil, maka yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan proses yang telah kita lakukan.</p>
<h3>Proses Itu Bertahap</h3>
<p>Jika sudah profesional, mungkin perakit Gundam tidak membutuhkan buku panduan untuk menyusun bagian-bagiannya. Akan tetapi, untuk seorang pemula, buku panduan mutlak dibutuhkan dan diikuti dengan teratur.</p>
<p>Ketika merakit Gundam, penulis mengikuti tahap demi tahap tanpa tergoda untuk melompat ke bagian lain. Dimulai dari menyusun kepala, kedua lengan, tubuh, bagian kaki, hingga terakhir bagian sayap.</p>
<div id="attachment_1920" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1920" class="size-large wp-image-1920" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1920" class="wp-caption-text">Proses Itu Bertahap</p></div>
<p>Penulis sempat lupa menempelkan stiker mata di bagian kepala karena tidak memahami arti buku panduan. Alhasil, bagian mata dari Gundam penulis sedikit cacat meskipun tak terlihat dari kejauhan.</p>
<p>Yang namanya proses ya seperti itu, ada tahapannya. Memang, kita bisa membeli sebuah Gundam yang langsung jadi. Akan tetapi, di mana kenikmatannya? Hal instan seperti itu tidak akan berkesan karena mudah didapatkan.</p>
<h3>Merakit Gundam Saja Ada Panduannya, Apalagi Hidup</h3>
<p>Bayangkan bagaimana jika seorang pemula merakit Gundam tanpa adanya buku panduan. Yang jelas, ia akan merasa kebingungan memahami bagian-bagian Gundam yang tersebar menjadi beberapa jenis.</p>
<p>Itu baru merakit Gundam. Lantas bagaimana dengan manusia? Oleh karena itulah turun kitab suci sebagai panduan hidup manusia. Jika manusia tidak mengikuti panduan hidup tersebut, bisa jadi hidupnya tidak karuan.</p>
<div id="attachment_1919" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1919" class="size-large wp-image-1919" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1919" class="wp-caption-text">Manusia Butuh Panduan</p></div>
<p>Tapi kan banyak orang-orang yang tidak menjadikan kitab suci sebagai panduan hidupnya bisa menjadi orang baik? Sekali lagi, itu merupakan sudut pandang dari seorang manusia, dan manusia bisa berbuat salah.</p>
<p>Kitab suci bukan hanya panduan untuk bagaimana ketika hidup. Kitab suci juga memberikan panduan untuk menyiapkan bekal-bekal yang harus dibawa setelah mati.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setidaknya tiga hal itulah yang penulis dapatkan ketika merakit Gundam. Mungkin ada lagi yang lain, seperti bagaimana kita harus bekerja secara hati-hati dan sabar demi mendapatkan hasil yang maksimal.</p>
<p>Namun penulis rasa, tiga hal itulah yang menjadi inti filosofi merakit Gundam. Karena telah merasakan keasyikan merakit Gundam, bukan tidak mungkin penulis akan membeli Gundam lagi beberapa bulan ke depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Desember 2018, terinspirasi setelah merakit Gundam untuk pertama kali</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar: Proses Tiada Akhir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2018 02:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas. Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang lebar pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a>.</p>
<h3>Definisi Belajar</h3>
<p>Sebenarnya, definisi belajar tidak sesempit itu. Ia memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengerjakan tugas. Bahkan di dalam KBBI, kata belajar setidaknya memiliki 3 definisi yang berbeda.</p>
<blockquote><p><b>1</b> berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu</p>
<p><b>2 </b>berlatih</p>
<p><b>3</b> berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman</p></blockquote>
<p>Proses belajar tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah maupun tempat les. <strong>Proses belajar bisa terjadi di mana saja</strong>. Penulis ambil contoh kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna</a> (Katar) di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Program kerja yang dijalani Katar memberikan pelajaran hidup kepada anggota-anggotanya. Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">barang bekas</a> melatih anggota untuk memanfaatkan barang bekas yang telah tak terpakai.</p>
<p>Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> melatih anggota untuk bekerja dalam tim dalam memenangkan suatu kompetisi secara sehat. Bahkan kegiatan bermain <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf</a> pun melatih kemampuan analisa anggota.</p>
<h3>Proses Tiada Akhir</h3>
<p>Bagaimana ketika kita berada di dunia kerja? Lebih banyak lagi pelajarannya, mungkin lebih banyak ketika kita berada di bangku kuliah. Yang jelas terlihat adalah kita belajar untuk mengerjakan tugas kita dengan baik.</p>
<p>Selanjutnya kita belajar beradaptasi di lingkungan yang baru, apalagi jika merantau ke kota orang seperti penulis. Dengan bekerja bersama orang-orang, kita juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus aktif dalam mencari ilmu guna <strong>meningkatkan kemampuan yang dimiliki</strong>. Kita bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli atau mencari materi di internet.</p>
<p>Jangan pernah bilang bahwa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari. Jika muncul pemikiran seperti itu, kemungkinan kita merasa sudah cukup belajar sehingga tidak perlu menambah ilmu baru. Dan itu, menurut penulis, salah.</p>
<div id="attachment_1875" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1875" class="wp-image-1875 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644.jpg 1050w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1875" class="wp-caption-text">Proses Tiada Akhir (Foto oleh Priscilla Du Preez)</p></div>
<p>Belajar adalah <strong>proses tiada akhir</strong>. Setiap aktivitas dan interaksi yang kita lakukan adalah proses belajar, terlepas sadar maupun tidak. Manusia tidak boleh berhenti belajar dan merasa sudah paling pandai.</p>
<p>Tanya saja pak Habibie, yang penulis yakin masih belajar di usianya yang sudah <em>sepuh</em>. Tanya siapa saja orang-orang sukses yang kalian kenal, setidaknya mereka akan mengisi waktu mereka dengan membaca buku yang bermanfaat atau mengikuti seminar.</p>
<p>Memiliki rasa haus ilmu seperti <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Edison</a> bisa menjadi modal yang bagus. Ilmu apapun (selama bermanfaat) tidak ada ruginya untuk dipelajari, entah ilmu negosiasi, komunikasi, marketing, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dengan terus menerus tidak puas</strong> dengan pengetahuan yang dimiliki, kita tidak akan merasa bosan untuk belajar. Kita akan selalu merasa kurang dan hal tersebut menjadi motivasi agar kita tidak malas belajar.</p>
<p>Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kita harus memiliki nilai tambah agar bisa bersaing dengan orang lain. Nilai tambah itu bisa kita dapatkan dengan belajar, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Desember 2018, terinspirasi setelah sering mendapatkan &#8220;kelas tambahan&#8221; di kantor</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@craftedbygc">Green Chameleon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengetahui Proses Pembuatan Anime Melalui Anime</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 13:27:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[animasi]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[behind the scene]]></category>
		<category><![CDATA[favorit]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Shirobako]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengetahui suatu proses dari sebuah karya adalah salah satu hobi penulis, hampir di bidang apapun. Penulis gemar melihat behind the scene dari pembuatan film maupun rekaman lagu. Selain itu, proses pembuatan anime juga menarik minat penulis. Oleh karena itu, sewaktu mengetahui ada anime yang menceritakan tentang pembuatan anime, penulis langsung download. Judulnya adalah Shirobako (白箱) atau bila diterjemahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/">Mengetahui Proses Pembuatan Anime Melalui Anime</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengetahui suatu proses dari sebuah karya adalah salah satu hobi penulis, hampir di bidang apapun. Penulis gemar melihat <em>behind the scene </em>dari pembuatan film maupun rekaman lagu.</p>
<p>Selain itu, proses pembuatan anime juga menarik minat penulis. Oleh karena itu, sewaktu mengetahui ada anime yang menceritakan tentang pembuatan anime, penulis langsung download.</p>
<p>Judulnya adalah <em>Shirobako </em>(白箱)<em> </em>atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi &#8220;Kotak Putih&#8221;. Penulis kurang mengetahui apa alasan pemberian judul tersebut.</p>
<p><strong>Anime Favorit Penulis</strong></p>
<p>Ketika penulis menanyakan kepada beberapa teman yang lebih fasih dalam bidang anime, semua mengatakan tidak mengetahui anime yang satu ini. Wah, padahal dari beberapa review yang penulis baca, semua memberikan komentar yang positif.</p>
<p>Setelah menamatkan anime ini, penulis tanpa ragu menyematkan &#8220;anime favorit&#8221; kepada Shirobako (meskipun baru sedikit anime yang penulis tonton, itupun hampir semua hanya anime yang memiliki unsur komedi) dengan beberapa alasan.</p>
<div id="attachment_595" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-595" class="size-large wp-image-595" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7-1024x575.png" alt="" width="1024" height="575" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7-1024x575.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7-768x431.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Shirobako7.png 1052w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-595" class="wp-caption-text">Salah Satu Proses (https://www.animefeminist.com/tag/shirobako/)</p></div>
<p>Pertama, anime ini berhasil menjelaskan proses pembuatan anime secara detail namun tidak membosankan. Dimulai dari pembuatan <em>storyboard</em>, penggambaran karakter, pembuatan animasi gerak, <em>colouring, </em>hingga memberi efek suara diceritakan dengan menarik.</p>
<p>Kedua, alur ceritanya yang menarik yang berpusat pada Miyamori Aoi, asisten produksi dari sebuah studio anime. Dengan jabatannya, ia bertanggungjawab kepada keseluruhan proses pembuatan anime mulai awal hingga akhir. Ditambah bumbu <em>slice of life </em>antara Aoi dan teman-teman semasa SMAnya yang bercita-cita memiliki studio animasi sendiri, menambah pesona alur cerita pada anime ini. Dan, tentu, ada bumbu-bumbu komedi di Shirobako.</p>
<div id="attachment_593" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-593" class="size-large wp-image-593" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/bdac890f.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-593" class="wp-caption-text">Miyamori Aoi (http://gaming.moe/?p=861)</p></div>
<p>Lalu yang terakhir, anime ini hampir tidak memiliki unsur <em>ecchi</em>, unsur yang sebisa mungkin penulis hindari ketika menonton anime, walaupun pada anime ini sangat banyak tokoh wanitanya. Dengan tidak ada unsur tersebut, penulis bisa santai menonton Shirobako tanpa perasaan was-was akan ketahuan oleh orang lain.</p>
<p><strong>Underestimate</strong></p>
<p>Karena itu, penulis heran, mengapa anime ini tidak terlalu populer di Indonesia. Ketika membaca review-review di blog orang, semua juga mengatakan anime ini dipandang sebelah mata. Orang-orang sudah <em>underestimate </em>terlebih dahulu.</p>
<p>Mungkin karena banyak yang menganggap anime yang datar seperti ini sangat membosankan. Tidak ada desing suara pedang beradu, tidak ada sihir yang muncul dari tongkat, dan tidak ada kisah percintaan untuk menjadi pelengkap. Mungkin, juga karena tidak ada &#8220;pemandangan&#8221; yang tersisip.</p>
<div id="attachment_594" style="width: 778px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-594" class="wp-image-594 size-full" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/shirobako-116501.jpg" alt="" width="768" height="432" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/shirobako-116501.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/shirobako-116501-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/shirobako-116501-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><p id="caption-attachment-594" class="wp-caption-text">Suasana Kantor (https://schoolgirlmilkycrisis.com/tag/shirobako/)</p></div>
<p>Padahal, menurut penulis, banyak <em>value </em>yang diperoleh dari Shirobako. Sebut saja menghargai proses daripada hasil itu sendiri.</p>
<p>Di dalam proses pembuatan anime tersebut, seringkali muncul permasalahan-permasalahan seperti sakitnya animator, karyawan yang teledor, sutradara yang sedang buntu menulis jalan cerita, dan lain sebagainya. Dibutuhkan <em>solution maker </em>ketika masalah tersebut muncul, membuat penulis terinspirasi menjadi <em>solution maker </em>di lingkungan penulis sendiri.</p>
<p>Shirobako adalah anime yang akan selalu penulis rekomendasikan untuk ditonton bagi yang sedang mencari anime.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 April 2018, ditulis setelah sekian lama hanya menjadi sebuah konsep</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://codepen.io/T1/details/rOzVmO">https://codepen.io/T1/details/rOzVmO</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/">Mengetahui Proses Pembuatan Anime Melalui Anime</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/mengetahui-proses-pembuatan-anime-melalui-anime/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
