<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>racun Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/racun/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/racun/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Jul 2019 13:24:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>racun Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/racun/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Main Game?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 13:21:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[kecanduan]]></category>
		<category><![CDATA[main game]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tenang, jangan emosi dulu ketika membaca judul tulisan ini. Penulis sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun yang senang bermain game karena penulis pun masih melakukannya sesekali. Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini adalah jangan sampai karena terlalu terlena dengan bermain game, kita mengabaikan banyak aspek kehidupan yang sebenarnya jauh lebih penting. *** [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tenang, jangan emosi dulu ketika membaca judul tulisan ini. Penulis sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun yang senang bermain game karena penulis pun masih melakukannya sesekali.</p>
<p>Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini adalah jangan sampai karena terlalu terlena dengan bermain game, kita mengabaikan banyak aspek kehidupan yang sebenarnya jauh lebih penting.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita<strong> menjadi lebih buruk</strong>?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>pikiran kita stress</strong> lantas melampiaskannya dengan cara-cara yang buruk?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>kesehatan kita memburuk</strong> dan menyusahkan banyak orang karenanya?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi sosok yang luar biasa pemalas</strong>, menjadi sosok yang <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">apatis dan </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>luar biasa?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya <strong>mengubah kita menjadi sosok yang pemarah dan agresif</strong> yang bisa membahayakan orang lain?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya akan <strong>menguras isi dompet kita</strong> sehingga kebutuhan lain tak dapat dipenuhi?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi seorang pembohong</strong> demi mendapatkan uang tambahan untuk membeli item game?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya akan <strong>menghabiskan waktu kita seharian tanpa mempedulikan hal lain</strong> seperti sekolah dan masa depan?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>mengabaikan kewajiban yang seharusnya kita selesaikan</strong>, sehingga semuanya menumpuk dan membuat kita malas menyelesaikannya?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>tak fokus dalam menjalankan ibadah</strong>, selalu terburu-buru agar bisa segera bermain kembali?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>mengasingkan diri dari pergaulan</strong>, merasa tak butuh menjali relasi dengan orang lain?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat <strong>nilai kita di sekolah atau kinerja kita di kantor menjadi anjlok</strong>, sehingga banyak orang yang dibuatnya kesusahan?</p>
<p>Untuk apa bermain game,  jika hanya membuat kita<strong> sering berkata kotor dan menghina orang lain</strong> yang akan berujung kepada pertengkaran tak berarti?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>melupakan orang-orang yang hidup di sekitar kita</strong>, hingga kita membantah semua perkataan orangtua?</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita <strong>menjadi generasi yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya</strong>, yang kepekaan sosialnya benar-benar rendah.</p>
<p>Untuk apa bermain game, jika membuat <strong>otak hanya berisi game, game, dan game</strong>, seolah tak bisa hidup tanpanya?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari keprihatinan penulis terhadap banyaknya generasi milenial yang kecanduan main game, sehingga mereka abai kepada orang tua mereka, tak peduli dengan lingkungan, dan susah untuk bersosialisasi.</p>
<p>Tulisan ini juga terinspirasi dari pengalaman pribadi. Penulis adalah tipe pemain game yang jika sudah jatuh cinta dengan suatu game, bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk memainkannya.</p>
<p>Contoh yang terbaru adalah game <em>Auto Chess</em>. Game tersebut merupakan tipe game strategi yang sangat penulis gemari. Pernah dalam satu hari, penulis menghabiskan waktu 6 jam untuk memainkannya.</p>
<p>Bahkan, di kantor pun penulis sempat-sempatkan main di sela-sela bekerja, sehingga jam pulang penulis pun menjadi lebih larut. Dampaknya tentu ke kesehatan penulis.</p>
<p>Oleh karena itu, pada suatu titik penulis memutuskan untuk menghapus game tersebut karena merasa tidak bisa mengontrol diri. Harus ada tindakan ekstrem agar pola hidup penulis menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Setelah menghapus game tersebut, penulis merasa lebih produktif. Penulis memanfaatkan waktunya untuk menulis di blog atau membaca buku yang sudah lama hanya tertumpuk tanpa pernah dibaca.</p>
<p>Boleh saja bermain game, toh aktivitas tersebut juga memiliki sisi positif yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Yang tidak boleh, memainkannya secara berlebihan seperti penulis atau anak-anak muda yang ketagihan game secara berlebihan.</p>
<p>Jika game hanya menjadi racun (seperti yang pernah penulis alami sendiri), untuk apa kita tetap memainkannya? Masih banyak aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti menulis blog, membuat vlog, hingga <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">membaca buku</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Juli 2019, terinspirasi dari keprihatinan tentang kecanduan game dan pengalaman pribadi penulis.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@florian_gagnepain">Florian Gagnepain</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">Untuk Apa Main Game?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Racun Literasi Pada Platform Digital</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2018 00:57:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>
		<category><![CDATA[vulgar]]></category>
		<category><![CDATA[wattpad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain lewat blog ini, penulis juga menerbitkan novel penulis (Leon dan Kenji &#38; Distopia Bagi Kia) di platform digital seperti Wattpad dan Storial. Walaupun belum mendapat pembaca di Storial, novel penulis sudah lumayan banyak dibaca di Wattpad (sekitar 500 kali). Akan tetapi, penulis memiliki keprihatinan mendalam terhadap konten-konten yang ada di Wattpad. Bukannya iri, tapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/">Racun Literasi Pada Platform Digital</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain lewat blog ini, penulis juga menerbitkan novel penulis (<a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> &amp; <a href="http://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>) di platform digital seperti <strong>Wattpad</strong> dan <strong>Storial</strong>. Walaupun belum mendapat pembaca di Storial, novel penulis sudah lumayan banyak dibaca di Wattpad (sekitar 500 kali).</p>
<p>Akan tetapi, penulis memiliki keprihatinan mendalam terhadap konten-konten yang ada di Wattpad. Bukannya iri, tapi penulis merasa miris melihat genre novel yang banyak dibaca dan mendapat banyak like adalah genre yang berbau <strong>seks</strong> dan <strong><em>fan fiction</em></strong>.</p>
<h3>Novel Vulgar untuk Semua</h3>
<p>Menurut teman penulis, sejak dulu memang banyak sekali novel-novel seperti itu. Yang membuat penulis merasa kaget, pembuat novel-novel itu adalah usia anak sekolah, bahkan masih duduk di bangku SMP!</p>
<p>Pantas saja, tanpa bermaksud sombong, sewaktu penulis mencoba membaca salah satu cerita tersebut, penulisannya masih carut-marut. Salah meletakkan tanda baca, <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/perang-diksi-tanpa-makna/">penggunaan diksi</a> yang kurang tepat, serta alur cerita yang terkesan tidak beraturan.</p>
<p>Penulis sangat menyayangkan fenomena ini harus terjadi di ranah dunia literasi. Memang bagus, dengan hadirnya platform digital tingkat literasi kita meningkat. Tapi jika jenis bacaan yang dibaca seperti itu, jelas hal tersebut menjadi racun yang berbahaya.</p>
<p>Apalagi penulis kemarin mendapatkan pesan WhatsApp dari ibu, tentang seorang pemilik penerbit kecil merasa terkejut ketika ada dua anak SMP yang menerbitkan novel dewasa dengan kata-kata tidak seronok! Apalagi, mereka dengan bangga mengakui bahwa mereka adalah seorang <strong>fujoshi</strong>!</p>
<p>Apa itu fujoshi? Fujoshi (<strong>腐女子</strong>) adalah sebutan dari bahasa Jepang untuk perempuan yang menyukai cerita di mana laki-laki menyukai laki-laki atau sering disingkat <strong>BxB</strong>. Mengerikan bukan jika sejak usia sekolah mereka sudah melihat sesuatu yang secara norma dan agama tidak benar?</p>
<h3>Pengaruh Novel Vulgar terhadap Pola Pikir</h3>
<p>Mau mengakui atau tidak, apa yang kita baca dan tonton akan mempengaruhi pola pikir kita. Apabila sejak remaja kita menonton hal-hal yang berbau vulgar, tentu lama kelamaan kita akan terbawa dan terpengaruh dengan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Apalagi mereka menggunakan <em>oppa </em>favorit mereka untuk menyalurkan fantasi liar mereka. Penulis menjadi merasa prihatin terhadap para <em>oppa </em>tersebut karena dijadikan obyek untuk novel vulgar.</p>
<p>Mereka terkadang menggunakan alasan &#8220;<a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">kebebasan berekspresi</a>&#8221; atau dalih &#8220;jangan fokus pada kevulgarannya, tapi pada ceritanya&#8221;. Mereka mungkin tidak sadar bahwa tulisan mereka akan membawa dampak yang buruk kepada para pembacanya.</p>
<p>Sayangnya, Wattpad tidak bisa melakukan penyaringan terhadap konten-konten seperti itu. Mungkin karena mereka mengusung konsep <em>free for all</em>, sehingga siapapun bisa menerbitkan apapun, sama seperti di media sosial (ya walaupun di Facebook dan Instagram lebih ketat proses penyaringannya).</p>
<p>Tentu kita tidak ingin generasi muda terpengaruh hal-hal seperti itu. Yang bisa kita lakukan hanya bisa berusaha mengingatkan orang-orang terdekat kita untuk menjauhi hal-hal seperti itu. Kalaupun mereka tetap membandel dengan alasan &#8220;Hak Asasi&#8221;, setidaknya kita sudah berusaha.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, terinspirasi setelah melihat novel-novel di Wattpad yang begitu vulgar</p>
<p>Foto: <a href="https://picjumbo.com/young-woman-reading-a-book-on-her-ipad/">picjumbo.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/">Racun Literasi Pada Platform Digital</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
