Untuk Apa Main Game?

Tenang, jangan emosi dulu ketika membaca judul tulisan ini. Penulis sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun yang senang bermain game karena penulis pun masih melakukannya sesekali.

Yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini adalah jangan sampai karena terlalu terlena dengan bermain game, kita mengabaikan banyak aspek kehidupan yang sebenarnya jauh lebih penting.

***

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita menjadi lebih buruk?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat pikiran kita stress lantas melampiaskannya dengan cara-cara yang buruk?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kesehatan kita memburuk dan menyusahkan banyak orang karenanya?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita menjadi sosok yang luar biasa pemalas, menjadi sosok yang apatis dan mager luar biasa?

Untuk apa bermain game, jika hanya mengubah kita menjadi sosok yang pemarah dan agresif yang bisa membahayakan orang lain?

Untuk apa bermain game, jika hanya akan menguras isi dompet kita sehingga kebutuhan lain tak dapat dipenuhi?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita menjadi seorang pembohong demi mendapatkan uang tambahan untuk membeli item game?

Untuk apa bermain game, jika hanya akan menghabiskan waktu kita seharian tanpa mempedulikan hal lain seperti sekolah dan masa depan?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita mengabaikan kewajiban yang seharusnya kita selesaikan, sehingga semuanya menumpuk dan membuat kita malas menyelesaikannya?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita tak fokus dalam menjalankan ibadah, selalu terburu-buru agar bisa segera bermain kembali?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita mengasingkan diri dari pergaulan, merasa tak butuh menjali relasi dengan orang lain?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat nilai kita di sekolah atau kinerja kita di kantor menjadi anjlok, sehingga banyak orang yang dibuatnya kesusahan?

Untuk apa bermain game,  jika hanya membuat kita sering berkata kotor dan menghina orang lain yang akan berujung kepada pertengkaran tak berarti?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita melupakan orang-orang yang hidup di sekitar kita, hingga kita membantah semua perkataan orangtua?

Untuk apa bermain game, jika hanya membuat kita menjadi generasi yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, yang kepekaan sosialnya benar-benar rendah.

Untuk apa bermain game, jika membuat otak hanya berisi game, game, dan game, seolah tak bisa hidup tanpanya?

***

Tulisan ini terinspirasi dari keprihatinan penulis terhadap banyaknya generasi milenial yang kecanduan main game, sehingga mereka abai kepada orang tua mereka, tak peduli dengan lingkungan, dan susah untuk bersosialisasi.

Tulisan ini juga terinspirasi dari pengalaman pribadi. Penulis adalah tipe pemain game yang jika sudah jatuh cinta dengan suatu game, bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk memainkannya.

Contoh yang terbaru adalah game Auto Chess. Game tersebut merupakan tipe game strategi yang sangat penulis gemari. Pernah dalam satu hari, penulis menghabiskan waktu 6 jam untuk memainkannya.

Bahkan, di kantor pun penulis sempat-sempatkan main di sela-sela bekerja, sehingga jam pulang penulis pun menjadi lebih larut. Dampaknya tentu ke kesehatan penulis.

Oleh karena itu, pada suatu titik penulis memutuskan untuk menghapus game tersebut karena merasa tidak bisa mengontrol diri. Harus ada tindakan ekstrem agar pola hidup penulis menjadi lebih baik lagi.

Setelah menghapus game tersebut, penulis merasa lebih produktif. Penulis memanfaatkan waktunya untuk menulis di blog atau membaca buku yang sudah lama hanya tertumpuk tanpa pernah dibaca.

Boleh saja bermain game, toh aktivitas tersebut juga memiliki sisi positif yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Yang tidak boleh, memainkannya secara berlebihan seperti penulis atau anak-anak muda yang ketagihan game secara berlebihan.

Jika game hanya menjadi racun (seperti yang pernah penulis alami sendiri), untuk apa kita tetap memainkannya? Masih banyak aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti menulis blog, membuat vlog, hingga membaca buku.

 

 

Kebayoran Lama, 27 Juli 2019, terinspirasi dari keprihatinan tentang kecanduan game dan pengalaman pribadi penulis.

Foto: Florian Gagnepain