<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sakit hati Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sakit-hati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sakit-hati/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Sep 2021 14:25:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sakit hati Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sakit-hati/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2021 14:16:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>
		<category><![CDATA[terluka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5284</guid>

					<description><![CDATA[<p>So they say that timeTakes away the pain&#8230;but I&#8217;m still the same Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain. Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote has-text-align-right is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>So they say that time<br>Takes away the pain<br>&#8230;but I&#8217;m still the same</p><cite>Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock</cite></blockquote>



<p></p>



<p>Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain.</p>



<p>Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak berbalas, dikhianati dengan kejam, hubungan yang berakhir begitu saja, ditikung, ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil sebagai contoh.</p>



<p>Orang-orang sering bilang kalau sakit hati juga akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. <em><strong>Time will heals</strong></em>. Benarkah begitu?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara Obati Sakit Hati</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5286" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Apa Obat Sakit Hati? (<a href="https://unsplash.com/@diana_pole">Diana Polekhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti penyakit lain, sakit hati pun tentu ada obatnya. Setiap orang memiliki obatnya masing-masing sesuai dengan kepribadian, lingkungan, pengalaman, tingkat sakit hati, dan lain sebagainya. Penulis akan coba jabarkan beberapa di antaranya. </p>



<p>Secara logika, manusia akan<strong> berusaha membenci orang yang membuatnya merasa saki</strong>t hati. Bahkan, tak jarang orang yang memiliki sifat pendendam akan berusaha untuk membuat orang tersebut merasakan sakit yang lebih parah lagi.</p>



<p>Selain itu, kadang kita membutuhkan orang lain untuk bisa melupakan si penyebab sakit hati. <strong>Mencurahkan perhatian dan kasih sayang ke orang lain</strong> bisa menjadi obat yang cukup ampuh. Dengan kata lain, mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221;.</p>



<p>Kadang tempat di mana kita berada bisa menjadi penyebab sakit hati. Oleh karena itu, &#8220;kabur&#8221; dan <strong>pindah ke tempat baru</strong> bisa membantu kita untuk melupakan sakit hati tersebut. Hanya saja, kondisi pandemi seperti sekarang membuat aktivitas ini cukup sulit dilakukan.</p>



<p>Ada juga yang memutuskan untuk <strong>fokus memperbaiki diri sendiri</strong>, menemukan versi dirinya yang lebih baik lagi. Kejadian kelam yang telah terjadi dijadikan titik balik dalam hidupnya. Ia berusaha melakukan interopeksi demi menemukan apa yang bisa diperbaiki dari dirinya.</p>



<p><strong>Menyibukkan diri</strong> dengan banyak hal juga menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan sakit hati kita. Ada yang sibuk dengan berbagai aktivitas produktif, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kegiatan kurang bermanfaat dengan dalih &#8220;pelarian&#8221;.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mana Pilihan Penulis?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5288" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Fokus Memperbaiki Diri Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau Penulis harus sampai mengalami sakit hati yang menyakitkan, pilihan membenci orang dan mencari orang baru sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; sepertinya akan dikesampingkan. </p>



<p>Mau sesakit apapun luka yang diberi oleh orang lain, Penulis akan <strong>berusaha untuk tidak membalas sakit tersebut</strong>. Memang susah, tapi bisa dilakukan jika kita bisa berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas dan mau memaafkannya.</p>



<p>Mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; juga bukan <em>style </em>Penulis. Jika harus membuka hati untuk orang baru, Penulis harus bisa mengobati sakit hatinya terlebih dahulu. <strong>Jangan sampai orang lain terkena getah dari sakit yang kita alami</strong>.</p>



<p>Penulis pernah &#8220;kabur&#8221; untuk jangka waktu yang cukup panjang dan cukup efektif. Hanya saja, sekali lagi kondisi pandemi seperti ini membuat mobilitas kita sangat terhambat.</p>



<p>Obat yang Penulis pilih secara pribadi adalah fokus memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, ini obat yang susahnya bukan main karena perasaan kita sendiri masih kacau.</p>



<p>Dibutuhkan<strong> tekad dan keinginan yang kuat </strong>demi mengalahkan rasa sakit yang ada di dalam hati. Terkadang kita harus memaksa diri untuk terus melangkah maju, walau perih kadang masih terasa begitu mengiris.</p>



<p>Hanya saja, meskipun terkadang sudah melakukan banyak hal, sakit hati masih saja terus terasa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berdampingan dengan Luka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5290" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sabar, Kadang Sakit Hati Memang Susah Hilangnya (<a href="https://unsplash.com/@bernard_">Bernard</a>)</figcaption></figure>



<p>Kembali ke paragraf awal, di mana Penulis sempat menyebut <em>time will heals</em>. Selain mencoba berbagai obat yang tersedia, kita juga berpikir kalau waktu pada akhirnya akan pelan-pelan mengobati luka tersebut.</p>



<p>Sayangnya, bahkan <strong>waktu pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani sakit hati kita</strong>.</p>



<p>Ada yang masih merasakan sakit hati walau waktu telah berlalu selama satu bulan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, bahkan seumur hidupnya. Kita seolah tidak bisa berdamai dengan sakit hati ini.</p>



<p>Berbagai obat sudah dicoba dan tidak ada yang berhasil. Kegagalan ini yang kadang menyebabkan orang terjerumus ke jalan yang salah ketika sedang sakit hati. Mabuk, narkoba, seks bebas, dan lain-lain.</p>



<p>Jika memang kita kesulitan untuk mengobati sakit hati tersebut, cobalah untuk <strong>hidup berdampingan rasa sakit</strong> tersebut. </p>



<p>Ketika sakit tersebut teringat atau terasa secara tiba-tiba, coba disenyumi saja, yang sabar, sembari menyugesti diri untuk ikhlas. Memang masih akan terasa sakit, tapi setidaknya kita bisa mengendalikan respon kita terhadap rasa sakit tersebut.</p>



<p>Kalaupun waktu tidak bisa mengobati sakit kita, setidaknya kita <strong>bisa hidup dengan rasa sakit</strong> tersebut tanpa mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Memang terdengar utopis dan belum teruji, tapi tidak ada ruginya untuk dicoba.</p>



<p>Jadikan rasa sakit yang seolah tak ada habisnya tersebut untuk menyusun kehidupan menjadi lebih baik lagi. Jadikan pelajaran agar kesalahan yang membuat kita merasa sakit tidak terulang lagi di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada akhirnya, kita semua hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Kita memiliki tingkat daya tahan dalam menerima sakit yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih dengan cepat, ada yang kesulitan untuk bisa menerima rasa sakit tersebut.</p>



<p>Apa yang bisa kita lakukan adalah respon terhadap rasa sakit tersebut. Apakah rasa sakit itu akan menjadi <em>turning table </em>kita atau justru malah menjerumuskan kita, semua pilihan ada di tangan kita.</p>



<p>Jika Pembaca ingin mencari inspirasi yang terkait dengan masalah perasaan, silakan mampir ke rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, rubrik terbaru dari <strong>Whathefan</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 September 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@bernard_"><a href="https://unsplash.com/@aronvisuals">Aron Visuals on <em>Unsplash</em></a></a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jul 2019 02:39:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[cuek]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2556</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, penulis merupakan orang yang egois dan cenderung acuh dengan lingkungan sekitar. Penulis hanya memikirkan diri sendiri tanpa berusaha memahami perasaan orang lain. Untunglah, setelah usia semakin tua ditambah dengan kegemaran membaca buku-buku self-improvement, sifat tersebut berangsur-angsur hilang. Penulis merasa diri yang sekarang menjadi orang yang lumayan peduli. Entah bagaimana persepsi orang lain. Hanya saja ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, penulis merupakan orang yang egois dan cenderung acuh dengan lingkungan sekitar. Penulis hanya memikirkan diri sendiri tanpa berusaha memahami perasaan orang lain.</p>
<p>Untunglah, setelah usia semakin tua ditambah dengan kegemaran membaca buku-buku <em>self-improvement</em>, sifat tersebut berangsur-angsur hilang. Penulis merasa diri yang sekarang menjadi orang yang lumayan peduli. Entah bagaimana persepsi orang lain.</p>
<p>Hanya saja ketika mencoba untuk menjadi orang yang peduli, tantangannya cukup berat. Keikhlasan kita untuk benar-benar peduli terkadang diuji dengan respon yang diberikan kepada yang dipedulikan.</p>
<h3>Peduli dan Ikhlas</h3>
<p>Yang namanya ikhlas, tentu tidak mengharapkan timbal balik dalam berupa apapun, bukan? Masalahnya, penulis belum bisa seperti itu sepenuhnya.</p>
<p>Nah, ketika orang yang penulis pedulikan tidak memberikan respon sebagaimana yang diharapkan, penulis akan merasa kecewa karena merasa tidak dihargai. Penulis akan merasa <em>down </em>karena niat baiknya tidak dihiraukan.</p>
<p>Tentu hal tersebut menyakitkan, dan hal ini sudah terjadi beberapa kali. Jika sudah seperti itu, penulis biasanya akan menjadi murung dan mencari tahu kira-kira hal salah apa yang telah penulis lakukan.</p>
<p>Belum lagi jika yang berusaha dipedulikan menunjukkan sikap &#8220;aku enggak butuh dipeduliin sama kamu&#8221;. Wah, bisa berlipat ganda perasaan tersakitinya.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa yang namanya peduli harusnya diiringi dengan keikhlasan. Ditanggapi ya syukur <em>alhamdulillah</em>, kalau enggak ya sudah <em>legowo </em>saja.</p>
<p>Bahkan, salah seorang teman menyuruh penulis untuk sedikit cuek. Hal tersebut ada benarnya, mengingat tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan, bahkan jika hal tersebut adalah tingkat kepedulian.</p>
<h3>Bijak Di Kala Kritis</h3>
<p>Memang berkata-kata lebih mudah dari praktiknya. Kalau kata Dee Lestari, tidak mudah menjadi bijak di kala kritis. Semua konsep <em>positive thinking </em>yang sudah penulis pelajari mendadak lenyap begitu saja ketika sedang mendapat tanggapan yang kurang baik.</p>
<p>Penulis menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Penulis hanyalah manusia biasa yang sedang belajar untuk selalu berusaha lebih baik dari hari kemarin. Dalam proses belajar, wajar jika kita menemukan kesulitan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis selalu percaya dengan idiom <em>every cloud has a silver lining</em>. Semua peristiwa pasti memiliki hikmah kejadiannya masing-masing.</p>
<p>Dengan pernah menjadi orang cuek, penulis jadi terdorong untuk belajar peduli kepada orang lain. Dengan berusaha peduli dengan orang lain, penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">belajar tentang keikhlasan</a>.</p>
<p>Ketika sedang <em>down </em>karena masalah-masalah di atas, penulis berusaha mencari orang yang mau mendengar keluh kesah tersebut sehingga beban yang ada di kepala penulis bisa sedikit terangkat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga berusaha menuliskan apapun yang mengganggu di pikiran. Salah satunya melalui blog kesayangan yang satu ini. Efeknya bisa terasa secara instan, mungkin bisa dicoba oleh para pembaca sekalian.</p>
<p>Bijak di kala kritis memang tidak mudah. Akan tetapi, penulis akan berusaha untuk sebisa mungkin tetap tenang ketika ada masalah dan tidak terlalu memikirkan apabila usahanya untuk peduli tidak diterima dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Juli 2019, terinspirasi dari&#8230; ya begitulah, pengalaman pribadi</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@matheusferrero">Matheus Ferrero</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
