Mengukur Keikhlasan

Saya mendapat pelajaran hidup pada hari Sabtu kemarin. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya di Karang Taruna kampung saya mengadakan program kerja (proker) tadarusan di luar bulan Ramadhan. Tujuannya, agar proker-proker yang dimiliki Karang Taruna tidak hanya bersifat duniawi saja.

Sejak awal tahun saya sudah membuatkan jadwal kegiatan agar para anggota tahu kapan ada proker. Di jadwal tersebut tercantum pula penanggung jawab harian untuk proker-proker tertentu. Untuk tadarusan edisi pertama ini, kebetulan di pegang oleh Daffa, salah satu anggota Katar di divisi Agama dan Lingkungan.

Setelah siangnya rapat dengan teman-teman Kodingdong terkait branding dan perancangan produk baru, saya sholat Maghrib di masjid Al-Ikhlas. Saya sengaja tidak mengingatkan anggota, sekedar ingin tahu sampai mana tanggung jawab mereka.

Dan ternyata, ketika saya sampai di masjid, tidak ada remaja anggota Karang Taruna yang berbaris di shaf sholat. Saya masih berusaha tenang, berusaha untuk berpikir positif, siapa tahu mereka telat datang ke masjid.

Setelah salam, benar saja, ada dua remaja yang ikut sholat berjamaah di masjid. Sayangnya, dari gelagat mereka, sepertinya mereka tidak tahu ada acara tadarusan. Sang kakak nampak terburu-buru pulang, sehingga menyisakan adiknya. Maka saya ajak dia untuk “duet” dan bersyukurlah dia bersedia.

Disini saya sudah sedikit gusar dan kecewa, mengapa para remaja penerus ini melupakan tanggungjawabnya. Namun saya sudah bertekad, berapa pun yang datang, the show must go on.

Alhamdulillah ketika menyimak Hisyam, remaja yang bersedia untuk tadarusan berdua, saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan. Saya mendapatkan gagasan yang sangat baik.

“Jika kamu merasa kecewa, maka keikhlasanmu patut dipertanyakan.”

Kutipan tersebut membuat amarah dan kegusaran saya yang sudah diubun-ubun mereda. Saya bertanya kembali kepada diri saya.

“Sebenarnya apa tujuanmu melakukan semua ini?”

Sebagai ketua, saya harus bisa membantu mereka menjadi generasi penerus yang menopang nama Karang Taruna. Untuk melakukan itu, saya butuh kesabaran dan keikhlasan. Lalu, buat apa saya kecewa?

Hasilnya, ketika pulang dari masjid selepas Isya’, emosi saya sudah lenyap walaupun masih ada sisa-sisa kejengkelan. Ketika bertemu dengan beberapa anggota dan mereka menjelaskan alasan mereka (semua kompak, lupa!), saya pun hanya melontarkan kekecewaan yang sedikit dibumbui guyonan. Setelah itu seperti kebiasaan kami ketika malam minggu, main PES 2013.

Mulai sekarang, ketika saya mulai merasa kecewa, saya akan mengingatkan diri saya sendiri bahwa itu tandanya saya tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu.

 

Lawang, 7 Januari 2018, setelah main PES 2013 dan gagal menjadi juara karena tidak menggunakan Manchester United

Sumber Gambar: https://epicpew.com/how-saints-disappointment/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.