<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>swi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/swi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/swi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:33:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>swi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/swi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SWI Mengajar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 18:42:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Day]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa. SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa.</p>
<p>SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan dimana kami tinggal, yang merupakan akronim dari Sumber Wuni Indah. Maka banyak program kerja di Karang Taruna yang diawali dengan SWI untuk menegaskan bahwa program-program ini dilaksanakan di Sumber Wuni Indah. Jika mau lebih lengkap, harusnya ditulis PSWI (Perumahan Sumber Wuni Indah). Namun mungkin karena menghindari anggapan bahwa lingkungan kami ingin dianggap elit, maka kata Perumahan jarang dicantumkan.</p>
<p>Inti dari SWI Mengajar di sini adalah bagaimana anggota Karang Taruna saling membagi ilmunya kepada satu sama lain. Pada awal mulanya, anggota yang sudah duduk di bangku kuliah mengemban tanggung jawab tertinggi untuk mengajar adik-adiknya yang masih sekolah. Hanya saja, setelah banyak yang lulus dan kerja di luar kota, mau tidak mau anggota yang sudah SMA menjadi tumpuan untuk melanjutkan program ini.</p>
<p>Untuk saat ini, proses belajar masih antara anggota Karang Taruna. Ke depannya, kami berharap bahwa program ini juga dapat diikuti oleh adik-adik yang masih di tingkat sekolah dasar. Ini penting, karena adik-adik tersebut suatu saat juga akan menjadi anggota Karang Taruna, sehingga sejak dini kami perlu mengakrabkan diri dengan mereka agar mereka merasa nyaman ketika berkumpul dengan kami.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Selama satu tahun setengah berjalan, tentu banyak kendala yang terjadi dalam melaksanakan SWI Mengajar. Yang paling kentara adalah keaktifan anggota. Sempat beberapa kali program ini vakum di tengah jalan dengan kendala tersebut. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah &#8220;lebih senang belajar sendiri&#8221;. Kami akui, ketika proses belajar sedang berlangsung, terselip gurauan-gurauan yang bisa memecah konsentrasi. Oleh karena itu, SWI Mengajar lebih sesuai jika digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bukan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Permasalahan lainnya adalah bagaimana jika anggota yang datang tidak mempunyai PR ataupun pertanyaan yang ingin diajukan. Solusinya, untuk saat ini adalah diadakannya SWI English Day, program kerja lainnya yang dulu pernah mati suri. Dulu, program dengan tujuan melancarkan anggota berbicara dalam bahasa Inggris ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Kami harus berbicara bahasa Inggris terhadap sesama anggota, baik ketika bertemu langsung maupun di grup WA. Program ini terhenti karena dirasa memberatkan anggota.</p>
<p>SWI English Day yang diterapkan di SWI Mengajar dibuat lebih sederhana. Kami hanya melatih <em>daily conversation </em>sederhana, sesuatu yang menurut beberapa anggota tidak diajarkan secara rutin di sekolah. Padahal, banyak guru bahasa Inggris saya yang berpendapat bahwa <em>conversation </em>lebih penting daripada <em>grammar</em>. Setelah dua kali uji coba, dapat disimpulkan bahwa anggota hanya kurang percaya diri saja ketika berbicara bahasa Inggris. Untuk masalah <em>vocabulary </em>dan tata letak kalimat, bisa menyusul.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Karena termasuk anggota tua di Karang Taruna, saya sering menempatkan diri sebagai pengajar. Akan tetapi, justru saya yang mendapatkan banyak pelajaran dari program ini.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, program ini menyadarkan salah satu <em>passion </em>saya, yakni membagi ilmu yang saya miliki. Saya menemukan kepuasan apabila penjelasan saya dapat dipahami oleh yang meminta penjelasan.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, saya menjadi terpacu untuk menjadi dosen. Selain mendapatkan amalan yang tak putus, saya bisa mengajak mahasiswa saya untuk berperan aktif di lingkungannya melalui Karang Taruna.</p>
<p>Yang terakhir, saya menyadari kemampuan komunikasi saya dalam menyampaikan informasi masih payah, terutama jika sesuatu yang akan disampaikan tidak dipersiapkan terlebih dahulu alias spontan. Dengan adanya SWI Mengajar, secara perlahan saya bisa melatih dan mengembangkan kemampuan ini agar apa yang saya sampaikan dapat diterima oleh yang mendengar.</p>
<p>Bukankah itu inti dari komunikasi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2018, setelah bermain FIFA 18 bersama Ekky dan Abil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kelahiran GEN X SWI</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kelahiran-gen-x-swi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kelahiran-gen-x-swi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jan 2018 11:07:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[kader]]></category>
		<category><![CDATA[kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[rapat]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=180</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa bulan ke depan, amanah yang telah diberikan kepada saya sebagai ketua Karang Taruna Sumber Wuni Indah akan berakhir, seiring dengan pergantian pengurus RW. Oleh karena itu, tulisan ini saya khususkan kepada kader-kader calon pemimpin Karang Taruna yang akan meneruskan tongkat estafet untuk mengelola organisasi ini. Harapan saya, dengan memahami bagaimana Karang Taruna terbentuk, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kelahiran-gen-x-swi/">Kelahiran GEN X SWI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa bulan ke depan, amanah yang telah diberikan kepada saya sebagai ketua Karang Taruna Sumber Wuni Indah akan berakhir, seiring dengan pergantian pengurus RW. Oleh karena itu, tulisan ini saya khususkan kepada kader-kader calon pemimpin Karang Taruna yang akan meneruskan tongkat estafet untuk mengelola organisasi ini. Harapan saya, dengan memahami bagaimana Karang Taruna terbentuk, rasa memiliki dalam diri mereka akan semakin besar.</p>
<p>Pada Agustus 2016, seperti biasa remaja di Sumber Wuni Indah sedang mempersiapkan rangkaian acara untuk memeringati kemerdekaan Republik kita. Di tengah-tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, saya, Haykal dan Pentol (kami bertiga termasuk <em>remaja senior</em> yang sudah berpengalaman mengelola acara 17an), sedang menyusun suatu konsep yang bisa dibilang beda seperti biasanya. Bisa dibilang, tahun ini kami jadikan ajang &#8220;balas dendam&#8221; karena pada tahun sebelumnya kami bertiga sibuk dengan urusan perkuliahan.</p>
<p>Pada awal bulan, kami mendapatkan undangan rapat dari mas Cong sebagai koordinator remaja. Sebagaimana tradisi sejak tahun 2014, panitia 17an terdiri dari remaja yang berada di bangku kuliah dan SMA. Karena itu kami kaget ketika sampai di lokasi rapat (Balai RW), perserta rapat yang datang adalah remaja-remaja SMP yang belum terlalu dekat dengan kami. Dalam perkiraan kami, tahun ini kami baru ketambahan setidaknya dua remaja yang bisa yang bisa menjadi panitia, yaitu Ekky dan Azka, karena mereka telah memasuki bangku SMA/SMK.</p>
<p>Kekagetan kami berubah menjadi kekecewaan karena usul kami untuk menjadikan Pentol sebagai ketua panitia tidak disetujui oleh mas Cong, dengan alasan tahun ini ketua panitia harus dipegang yang lebih muda. Padahal sudah satu lembar kertas terisi oleh konsep-konsep kami. Akhirnya peserta rapat pun secara aklamasi menyetujui penunjukkan Ekky sebagai ketua panitia oleh mas Cong.</p>
<p>Peristiwa ini sedikit menurunkan semangat kami yang menggebu-gebu di awal. Kami hanya diberi tanggungjawab mengelola acara Malam Tasyakuran yang rutin diadakan setiap tanggal 16 Agustus, yang secara struktural berada di bawah komando Ekky dengan Pentol sebagai penanggungjawabnya. Kami berusaha menghargai keputusan ini, toh pasti adik-adik ini akan meminta bantuan kepada kami yang sudah berpengalaman.</p>
<p>Maka berlangsunglah acara sepanjang Agustus, dan siapa yang menyangka bahwa kekecewaan ini berubah menjadi kebahagiaan. Melihat kinerja dan semangat para ABG ini sebagai panitia, sebuah gagasan pun muncul di benak kami. Sebuah gagasan yang sebelumnya belum pernah sekalipun melintas di pikiran kami, sebelum kami bertemu dengan mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Kenapa enggak dibuat Karang Taruna aja?</em></strong></p>
<p>Seusai pembubaran panitia, kami bertiga menghadap RW untuk menyampaikan ide ini. Pak RW sangat antusias mendengarnya, mengingat Karang Taruna di perumahan sudah lama vakum karena tidak ada penerusnya. Maka pak RW memutuskan untuk diadakan rapat pembentukan Karang Taruna pada 3 September 2016, yang hingga kini diperingati sebagai ulang tahun Karang Taruna.</p>
<p>Rapat dihadiri oleh pengurus RW dan PKK serta semua remaja yang ada di Sumber Wuni Indah. Rapat diawali dengan sambutan dari pak RW bahwa remaja di perumahan Sumber Wuni Indah memiliki inisiatif untuk membentuk Karang Taruna sebagai wadah remaja dalam berorganisasi. Setelah bapak-ibu peserta menyepakati dibentuknya Karang Taruna, dilakukanlah pemungutan suara untuk memilih ketua. Bapak dan Ibu memilih tiga calon ketua, saya, Pentol dan Elvira, putri dari pak RW.</p>
<p>Pemungutan suara dilakukan oleh remaja, dan kebetulan saya mendapatkan suara terbanyak. Maka amanah pun resmi saya pegang hingga akhir periode nanti. Saya masih ingat, visi saya sebagai ketua hanya satu, membentuk pondasi yang kuat sebagai landasan organisasi berdiri. Bangunan, apabila memiliki pondasi yang kuat, tidak akan mudah roboh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Asal Mula Nama GEN X SWI</em></strong></p>
<p>Rapat berikutnya diadakan pada tanggal 10 September 2016 dengan berbagai agenda. Salah satunya adalah nama Karang Taruna. Sebelumnya, setiap anak sudah diberi tugas untuk mengusulkan nama Karang Taruna. Saya sendiri lebih condong setuju dengan usulan nama dari Pentol, yakni PARIKESIT. Selain cucu Arjuna yang mendapatkan titah untuk memimpin kerajaan Astina setelah Pandawa memutuskan untuk memulai perjalanan ke Himalaya, PARIKESIT merupakan akronim dari <strong>P</strong>emuda <strong>A</strong>ktif <strong>R</strong>ajin <strong>I</strong>novatif <strong>K</strong>reatif <strong>E</strong>nergik <strong>S</strong>olider <strong>I</strong>nisiatif <strong>T</strong>anggungjawab. Memang terkesan memaksa, namun itu juga Pentol jadikan sebagai doa.</p>
<p>Rapat itu juga dihadiri dari <em>sesepuh remaja </em>(satu tingkat diatas <em>remaja senior</em>) yang akrab dipanggil dengan mas Gogon. Beliau mengusulkan nama GEN X SWI dengan makna dan esensi dari nama tersebut. Maka setelah dilakukan pemungutan suara, terpilihlah <strong>GEN X SWI </strong>sebagai nama Karang Taruna Perumahan Sumber Wuni Indah. Jujur, saya kurang setuju dengan nama tersebut, tapi inilah demokrasi.</p>
<p>Akhirnya kami merumuskan makna GEN X SWI agar lebih sesuai dengan kepribadian kami. Gen merupakan singkatan dari Generasi. X, dalam variabel penelitian, merupakan variabel yang memberikan pengaruh kepada variabel Y, dimana dalam konteks ini berarti Sumber Wuni Indah. Jika digabungkan, maka GEN X SWI bermakna:</p>
<p><em>Generasi yang ingin memberikan pengaruh (positif) kepada Sumber Wuni Indah.</em></p>
<p>Begitulah kisah-kisah yang mengiringi berdirinya GEN X SWI, Karang Taruna Sumber Wuni Indah. Hikmah yang bisa diambil dari kejadian-kejadian tersebut adalah:</p>
<p><em>Apa yang menurutmu kurang baik, bisa jadi ternyata lebih baik dari prasangkamu karena Tuhan Maha Tahu apa yang baik buat kita</em></p>
<p>Saya ulangi lagi harapan saya yang telah saya ucapkan di awal tulisan, semoga anggota GEN X SWI yang telah membaca tulisan ini semakin memiliki rasa memiliki GEN X SWI, sehingga semua proker yang telah disusun bisa berjalan dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 10 Januari 2018, setelah bertanya kepada teman perihal kehidupan kelas akselerasi di SMA</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kelahiran-gen-x-swi/">Kelahiran GEN X SWI</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kelahiran-gen-x-swi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengukur Keikhlasan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jan 2018 10:45:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[tadarusan]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya mendapat pelajaran hidup pada hari Sabtu kemarin. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya di Karang Taruna kampung saya mengadakan program kerja (proker) tadarusan di luar bulan Ramadhan. Tujuannya, agar proker-proker yang dimiliki Karang Taruna tidak hanya bersifat duniawi saja. Sejak awal tahun saya sudah membuatkan jadwal kegiatan agar para anggota tahu kapan ada proker. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/">Mengukur Keikhlasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mendapat pelajaran hidup pada hari Sabtu kemarin. Pada hari tersebut, untuk pertama kalinya di Karang Taruna kampung saya mengadakan program kerja (proker) tadarusan di luar bulan Ramadhan. Tujuannya, agar proker-proker yang dimiliki Karang Taruna tidak hanya bersifat duniawi saja.</p>
<p>Sejak awal tahun saya sudah membuatkan jadwal kegiatan agar para anggota tahu kapan ada proker. Di jadwal tersebut tercantum pula penanggung jawab harian untuk proker-proker tertentu. Untuk tadarusan edisi pertama ini, kebetulan di pegang oleh Daffa, salah satu anggota Katar di divisi Agama dan Lingkungan.</p>
<p>Setelah siangnya rapat dengan teman-teman Kodingdong terkait <em>branding</em> dan perancangan produk baru, saya sholat Maghrib di masjid Al-Ikhlas. Saya sengaja tidak mengingatkan anggota, sekedar ingin tahu sampai mana tanggung jawab mereka.</p>
<p>Dan ternyata, ketika saya sampai di masjid, tidak ada remaja anggota Karang Taruna yang berbaris di shaf sholat. Saya masih berusaha tenang, berusaha untuk berpikir positif, siapa tahu mereka telat datang ke masjid.</p>
<p>Setelah salam, benar saja, ada dua remaja yang ikut sholat berjamaah di masjid. Sayangnya, dari gelagat mereka, sepertinya mereka tidak tahu ada acara tadarusan. Sang kakak nampak terburu-buru pulang, sehingga menyisakan adiknya. Maka saya ajak dia untuk &#8220;duet&#8221; dan bersyukurlah dia bersedia.</p>
<p>Disini saya sudah sedikit gusar dan kecewa, mengapa para remaja penerus ini melupakan tanggungjawabnya. Namun saya sudah bertekad, berapa pun yang datang, <em>the show must go on</em>.</p>
<p>Alhamdulillah ketika menyimak Hisyam, remaja yang bersedia untuk tadarusan berdua, saya tiba-tiba mendapatkan pencerahan. Saya mendapatkan gagasan yang sangat baik.</p>
<p><em>&#8220;Jika kamu merasa kecewa, maka keikhlasanmu patut dipertanyakan.&#8221;</em></p>
<p>Kutipan tersebut membuat amarah dan kegusaran saya yang sudah diubun-ubun mereda. Saya bertanya kembali kepada diri saya.</p>
<p><em>&#8220;Sebenarnya apa tujuanmu melakukan semua ini?&#8221;</em></p>
<p>Sebagai ketua, saya harus bisa membantu mereka menjadi generasi penerus yang menopang nama Karang Taruna. Untuk melakukan itu, saya butuh kesabaran dan keikhlasan. Lalu, buat apa saya kecewa?</p>
<p>Hasilnya, ketika pulang dari masjid selepas Isya&#8217;, emosi saya sudah lenyap walaupun masih ada sisa-sisa kejengkelan. Ketika bertemu dengan beberapa anggota dan mereka menjelaskan alasan mereka (semua kompak, lupa!), saya pun hanya melontarkan kekecewaan yang sedikit dibumbui guyonan. Setelah itu seperti kebiasaan kami ketika malam minggu, main PES 2013.</p>
<p>Mulai sekarang, ketika saya mulai merasa kecewa, saya akan mengingatkan diri saya sendiri bahwa itu tandanya saya tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Januari 2018, setelah main PES 2013 dan gagal menjadi juara karena tidak menggunakan Manchester United</p>
<p>Sumber Gambar: https://epicpew.com/how-saints-disappointment/</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/">Mengukur Keikhlasan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/mengukur-keikhlasan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
