<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>target Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/target/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/target/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2023 15:37:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>target Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/target/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>1/365</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/1-365/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/1-365/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2023 15:23:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[2023]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6263</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2023 telah tiba. Setelah melalui 365 hari, kita berjumpa kembali dengan tanggal 1 Januari. Hari pertama dari tahun yang baru, bagi kebanyakan orang, akan memberikan semangat baru dalam mengarungi kerasnya kehidupan.</p>



<p>Yang berbeda dari pergantian tahun ini bagi Penulis adalah, selama bulan Desember 2022 kemarin, Penulis (yang sejujurnya sedang banyak pikiran) kerap beberapa kali melakukan refleksi diri atas apa yang telah terjadi di sepanjang tahun 2022.</p>



<p>Pada tulisan pertama di tahun ini, Penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa saja yang telah dipelajari dalam hidupnya selama tahun 2022 kemarin. Selain itu, Penulis juga ingin menyampaikan harapannya di tahun 2023 ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Dipelajari di Tahun 2022</h2>



<p>Penulis merasa di tahun 2022, ada banyak sekali pelajaran kehidupan yang didapatkan. Penulis merasa itu semua menjadi &#8220;modal&#8221; bagi dirinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya, diawali di tahun 2023 ini.</p>



<p>Salah satu yang baru berusaha Penulis pahami adalah tentang bagaimana tentang <strong><a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">berbuat baik dengan ikhlas</a></strong> tanpa berharap timbal balik apapun. Ternyata, tanpa disadari, Penulis beberapa kali masih berharap adanya <em>feedback </em>dari orang yang telah dibantunya.</p>



<p>Sebagai contoh, ketika Penulis ada ketika seseorang membutuhkannya, Penulis juga berharap kalau orang tersebut ada <em>ketika Penulis yang membutuhkannya</em>. Walaupun terdengar manusiawi, Penulis ingin ke depannya tidak mengharapkan hal tersebut lagi.</p>



<p>Penulis juga belajar banyak mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/renungan/menjadi-dewasa-itu/">menjadi dewasa</a></strong>. Ternyata ada beberapa hal kekanakan di diri Penulis yang belum hilang, seperti kontrol emosi yang (terkadang) masih buruk dan egonya yang (terkadang) masih tinggi. </p>



<p>Apalagi, menjelang usianya yang akan segera mencapai kepala tiga, Penulis masih harus terus belajar mengenai bagaimana menjadi orang yang dewasa yang <em>proper</em>. Tidak perlu muluk-muluk menjadi panutan orang lain, cukup menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, Penulis mulai belajar mengenai <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">berusaha menerima keadaan</a> </strong>dalam hidupnya tanpa perlu memikirkannya secara berlebihan. Menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kontrol benar-benar membantu Penulis.</p>



<p>Sebelumnya, Penulis kerap berusaha mengendalikan banyak hal, termasuk bagaimana sikap dan respons orang lain ke kita, bahkan meminta untuk diprioritaskan. Selain hanya menimbulkan pertengkaran, hal tersebut juga membebani orang lain dengan ekspekstasi kita.</p>



<p>Selain poin-poin di atas, tentu masih ada banyak pelajaran kehidupan lain yang Penulsi dapatkan di tahun 2022. Namun, Penulis merasa bahwa ketiga hal tersebut adalah yang paling esensial dan banyak membantu Penulis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Diharapkan di Tahun 2023</h2>



<p>Dengan semangat pergantian tahun, tentu ada beberapa hal yang diharapkan akan bisa dilakukan di tahun 2023 ini. Anggap saja ada <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">beberapa resolusi yang ingin dicapai tahun ini</a>, terlepas dari adanya beberapa resolusi yang gagal dicapai di tahun lalu.</p>



<p>Penulis merasa agak &#8220;berantakan&#8221; di tahun 2022 kemarin karena rutinitas mencatat jurnal harian dan keuangannya tidak teratur dan banyak bolongnya. Penulis berharap di tahun 2023 ini, Penulis bisa lebih <strong>konsisten melakukan rutinitas</strong> yang telah dilakukan sejak kuliah itu.</p>



<p>Berbicara tentang rutinitas, Penulis juga ingin bisa kembali <strong><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutin olahraga pagi</a></strong> yang sudah lama ditinggalkannya. Ini jelas butuh niat dan motivasi yang sangat kuat, apalagi jika tidak ada orang lain yang mendorong kita untuk melakukannya.</p>



<p>Penulis juga ingin lebih <strong>rutin menulis blog</strong>, karena tahun 2022 kemarin menjadi rekor penulisan paling sedikit, yaitu <strong>91 artikel</strong>. Ini adalah pertama kalinya sejak blog ini tayang, jumlah artikel yang diproduksi dalam setahun kurang dari 100 artikel.</p>



<p>Besok, tanggal 2 Januari 2023, adalah ulang tahun yang ke-5 dari blog ini. Penulis harapkan ke depannya bisa lebih rutin dalam menulis di <a href="https://whathefan.com/pengalaman/whathefan-adalah-investasi-saya/">blog yang sudah berperan besar dalam kehidupan Penulis</a> ini.</p>



<p>Untuk bisa mencapai hal tersebut, tentu Penulis harus bisa <strong>lebih baik lagi dalam mengatur manajemen waktunya</strong>. Selama 2022 kemarin, Penulis merasa sering membuang-buang waktunya untuk hal yang kurang berfaedah. Semoga saja itu bisa berubah di tahun 2023.</p>



<p>Tentunya di atas itu semua, Penulis berharap bisa menjadi <strong>manusia yang lebih baik lagi</strong>, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Penulis akan terus berusaha menebar kebaikan dan menjadi manfaat bagi sekitarnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semoga saja di tahun 2023 ini, Penulis bisa benar-benar memperbaiki kekurangannya berdasarkan apa yang dirinya pelajari di 2022, serta bisa melakukan hal-hal apa yang telah ditargetkan, dimulai dari hari pertama dari 365 hari yang akan dilalui di tahun 2023.</p>



<p></p>



<p>NB: Gambar Jihyo di <em>banner </em>hanya sebagai ilustrasi optimisme dalam menyambut tahun 2023</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 1 Januari 2023, terinspirasi setelah belakangan ini kerap melakukan refleksi diri menjelang pergantian tahun</p>



<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/51158145758127469/">Pinterest</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/1-365/">1/365</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/1-365/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Motivasi Itu Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2019 16:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[toxic positivity]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat hidup tak semudah cocote Mario Teguh? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali. Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya. Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah mendengar atau membaca kalimat <em>hidup tak semudah cocote Mario Teguh</em>? Penulis yakin mayoritas dari pembaca pernah mengetahuinya, setidaknya satu kali.</p>
<p>Mario Teguh terkenal sebagai seorang motivator ulung yang pandai berkata-kata. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya seolah menggambarkan betapa idealnya kehidupan dengan menerapkan nasehatnya.</p>
<p>Lantas, ia tertimpa masalah keluarga dan hancurlah reputasi tersebut. Semua kalimat manisnya seolah tak bisa ia terapkan untuk dirinya dan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Penulis bukan penggemarnya, sehingga tidak merasakan apa-apa. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang sangat percaya dengan kata-katanya?</p>
<p><em>Apakah mereka menjadi kecewa dan mengatakan motivasi itu omong kosong?</em></p>
<h3><em>Toxic Positivity</em></h3>
<p><div id="attachment_2909" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2909" class="size-large wp-image-2909" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/toxic-positivity-motivasi-itu-omong-kosong-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2909" class="wp-caption-text">Toxic Positivity (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@blancotejedor">Aarón Blanco Tejedor</a>)</p></div></p>
<p>Rekan kantor memperkenalkan istilah <em>toxic positivity,</em> yang secara sederhana kurang lebih berarti motivasi positif bisa menjadi racun untuk kita.</p>
<p>Menurut penulis, istilah tersebut ada benarnya. Alasannya, tidak ada yang baik dengan berlebihan, termasuk memelihara pikiran untuk selalu positif dalam keadaan apapun.</p>
<p>Masalahnya, kita hanya manusia biasa lengkap dengan segala kekurangannya. Di saat lapang mungkin mudah untuk berpikir positif, namun di saat sempit? Susahnya bukan main, dan Mario Teguh telah membuktikan hal tersebut.</p>
<p>Penulis mengambil contoh <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">kepunahan burung Dodo</a> yang legendaris untuk menggambarkan betapa bahayanya memiliki pola pikir yang terlalu positif.</p>
<p>Ketika manusia datang ke pulau tempat mereka tinggal, burung Dodo tidak menaruh curiga apapun. Mereka berpikir positif bahwa manusia adalah makhluk yang baik. Akibatnya? Mereka punah karena habis diburu oleh manusia.</p>
<p>Pikiran-pikiran negatif pasti datang menghampiri kita pada saat-saat tertentu. Terkadang, mengusirnya dengan pikiran positif justru makin memperparah keadaan tersebut.</p>
<p>Ini juga berlaku terhadap orang lain. Jika ada yang mengeluhkan permasalahannya ke kita, jangan asal menyemburkan kalimat penyemangat.</p>
<p>Lihat dulu situasi, kondisi, dan karakteristik orang yang bercerita. Tidak semua orang mampu menangkap energi positif ketika sedang terpuruk. Yang ada, mereka akan menjadi semakin <em>down </em>(<em>dan penulis sering melakukan kesalahan tersebut</em>).</p>
<h3><em>Lantas, apakah motivasi itu omong kosong?</em></h3>
<p>Kembali ke permasalahan utama, apakah motivasi itu omong kosong? Jawabannya adalah iya, jika hanya sekadar berbentuk teori tanpa ada praktek.</p>
<p>Semua kata-kata Mario Teguh terasa sebagai omong kosong karena yang mengucapkannya sendiri tidak mampu mempraktekkannya hingga menghancurkan kehidupannya sendiri.</p>
<p>Semua tulisan penulis yang berbau motivasi di <em>Whathefan</em> ini juga akan menjadi omong kosong jika tidak penulis terapkan untuk kehidupannya sendiri.</p>
<p>(<em>Salah satu alasan mengapa penulis sering menulis tulisan berbau motivasi adalah agar dirinya terpacu untuk melakukan apa yang ditulis. Itu juga sebagai terapi menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang berlebihan</em>)</p>
<p>Motivasi itu perlu dan dibutuhkan manusia untuk melanjutkan hidup. Orang yang tidak memiliki motivasi hidup biasanya hidupnya terombang-ambing tanpa arah yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi, motivasi yang berlebihan (mungkin dari motivator ataupun buku) juga tidak baik untuk kita. Terlalu banyak motivasi bisa memicu efek <em>toxic positivity </em>kepada diri kita.</p>
<p>Penulis pun masih berusaha menemukan formula bagaimana kita harus menyeimbangkan antara pikiran positif dan negatif dalam diri. Butuh banyak referensi dan diskusi untuk bisa menemukan jawabannya.</p>
<p>Yang jelas, hidup dengan pikiran yang selalu positif juga kurang baik untuk kita. Kita akan menjadi makhluk yang naif dan mudah dikecoh oleh orang-orang yang berniat jahat ke kita.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis merupakan orang yang suka membaca buku-buku motivasi, mulai John C. Maxwell hingga Anthony Robbins. Ada beberapa yang berusaha penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, walau ada juga yang sulit untuk dipraktekkan.</p>
<p>Sekarang, penulis mulai mengurangi membaca buku-buku motivasi. Alasannya, penulis merasa cukup dan memutuskan untuk lebih banyak bertindak daripada memakan teori-teori melulu.</p>
<p>Namun, jika ada buku motivasi yang menarik, mengapa tidak? Penulis masih ingin membaca buku karya Stephen R. Corey yang berjudul <em>The 7 Habits of Highly Effective People. </em>Akan tetapi untuk sekarang, penulis merasa cukup.</p>
<p>Penulis tidak pernah menganggap motivasi itu omong kosong. Sama seperti baterai, kehidupan ini terkadang juga butuh diisi ulang dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan motivasi dari mana pun asalnya.</p>
<p>Akan tetapi, jika diisi berlebihan hingga melebihi kapasitas, yang ada adalah ledakan, <em>BOOM!</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 21 Oktober 2019, terinspirasi dari banyak macam hal seputar motivasi</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjxv9eY2KvlAhWrgUsFHdKNALAQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbforum.com%2Fnbreport%2Fjohn-c-maxwell-great-leaders-never-walk-alone%2F&amp;psig=AOvVaw0F_kZ7b-Z9Spns6LgEA4Gy&amp;ust=1571690143589376">Nordic Business Forum</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/motivasi-itu-omong-kosong/">Motivasi Itu Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2019 17:48:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target. Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan. Terkadang, ada sesuatu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target.</p>
<p>Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan.</p>
<p>Terkadang, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa meneruskan perjalanan, misalnya karena ada bencana alam sehingga daerah tujuan kita terisolasi. Jika seperti itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah tujuan perjalanan kita.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah fungsi target dalam hidup kita, sebagai pemandu kita mau mengemudikan hidup kita ke arah mana dan melalui jalan apa.</p>
<h3>Target-Target Dalam Jangka Waktu Dekat</h3>
<p>Setelah bekerja di Mainspring Technology, penulis berkesempatan meliput acara pengenalan CEO baru salah satu perusahaan agensi iklan terbesar di Indonesia, <strong>Dentsu Aegis Network</strong>.</p>
<p>Nama CEO tersebut adalah <strong>Maya Watono</strong>. Selepas acara, penulis berkesempatan untuk mewawancarainya bersama wartawan-wartawan lain.</p>
<p>Ada satu pertanyaan untuk Maya, tentang resep kesuksesan hingga bisa seperti sekarang. Ia menjawab bahwa salah satu caranya adalah menetapkan tujuan-tujuan dalam jangka pendek, selain ada tujuan untuk jangka panjang yang lebih besar.</p>
<p>Ketika penulis mendengarkan jawaban tersebut, penulis seolah menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan. Penulis terlalu fokus terhadap target yang jauh di sana, hingga mengabaikan target-target kecil yang harus dicapai terlebih dahulu.</p>
<p>Misal, jika ingin kuliah di luar negeri, maka penulis akan memasang target dalam satu hari minimal belajar delapan jam. Penulis tentu saja belajar setiap hari, tapi tidak sebagai target sehingga durasi belajarnya tergantung <em>mood </em>penulis.</p>
<p>Oleh karena itu, sekarang penulis berusaha menetapkan target secara berjangka. Dalam jangka waktu ini, penulis harus melakukan ini ini dan ini. Agar bisa seperti itu, penulis mulai hari ini harus melakukan itu itu dan itu.</p>
<p>Kurang lebih seperti itu.</p>
<h3>Mengalir Bersama Air</h3>
<p>Akan tetapi, tidak semua orang merasa nyaman dengan target. Beberapa orang lebih memilih untuk mengalir bersama air, mengikuti akan ke mana hidup membawanya.</p>
<p>Apakah ini salah? Penulis tidak akan menyatakannya salah. Penulis akan menggunakan kembali filosofi mengemudi untuk mengilustrasikan hal ini.</p>
<p>Terkadang, kita hanya ingin mengemudikan kendaraan kita untuk pergi berkeliling tanpa tujuan pasti. Kita hanya ingin menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ternyata kita menemukan sebuah barang yang sudah lama diinginkan. Maka, perjalanan yang awalnya tidak memiliki tujuan khusus tersebut ternyata menghasilkan sesuatu yang membahagiakan.</p>
<p>Begitu pula di dalam hidup. Kita tidak menentukan target-target dalam beberapa aspek kehidupan karena percaya selama yang dilakukan adalah hal yang benar, Tuhan akan menunjukkan jalan kita.</p>
<h3>Lantas, Apakah Kita Butuh yang Namanya Tujuan?</h3>
<p>Masing-masing orang akan memiliki jawaban yang berbeda. Bagi penulis, <strong>butuh</strong>. Mungkin karena penulis adalah tipe orang yang tidak mau keluar rumah kecuali ada tujuan yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi dalam prosesnya, mungkin kita perlu untuk terbawa arus air kehidupan agar bisa menentukan tujuan. Kita tidak tahu akan datang dari mana yang namanya inspirasi dan rezeki.</p>
<p>Penulis kerap mengalami kegagalan dalam meraih target. Sering sekali. Apakah hal tersebut membuat penulis memutuskan untuk membuat target karena kerap membuat stres? Tentu tidak.</p>
<p>Pepatah lama mengatakan kegagalan hanya keberhasilan yang tertunda. Bagi penulis, kegagalan hanyalah salah satu tahap yang harus dilalui sebelum mencapai keberhasilan. Bisa sesuai dengan target, bisa yang lebih baik lagi.</p>
<p>Ingat, yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan sang pemilik hidup ini. Kita boleh merasa bahwa target A dan B adalah yang terbaik untuk kita, padahal ternyata target XZ yang paling cocok untuk kita.</p>
<p>Penulis tidak akan menjelek-jelekan orang yang menolak untuk memiliki tujuan hidup. Bagaimana bisa seperti itu jika ibu penulis adalah tipe orang yang seperti itu?</p>
<p>Hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk memiliki target atau menjalani saja hidup ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 April 2019, terinspirasi setelah berdiskusi panjang dengan seorang kawan</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@samuele_piccarini">Samuele Errico Piccarini</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2019 16:11:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2019 yang telah tiba menyambut kita dengan segudang optimisme baru. Banyak di antara kita memanfaatkan momen awal tahun untuk membuat resolusi tentang apa yang hendak dicapai sepanjang tahun. Di dalam KBBI sendiri, resolusi memiliki makna: putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2019 yang telah tiba menyambut kita dengan segudang optimisme baru. Banyak di antara kita memanfaatkan momen awal tahun untuk membuat resolusi tentang apa yang hendak dicapai sepanjang tahun.</p>
<p>Di dalam <strong>KBBI</strong> sendiri, resolusi memiliki makna:</p>
<blockquote><p>putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal</p></blockquote>
<p>Sedikit berbeda dengan pengertian yang selama ini kita ketahui bukan? Hal ini bisa terjadi karena kata <strong>resolusi</strong> telah mengalami perluasan makna menjadi semacam <strong>harapan yang benar-benar ingin dicapai oleh seseorang</strong>.</p>
<p>Penulis sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang suka membuat resolusi setiap tahun. Akan tetapi, penulis akan mencoba untuk membuat resolusi kali ini karena merasa tahun ini (dan tahun kemarin) akan (dan telah) menjadi tahun yang spesial untuk penulis.</p>
<p>Setidaknya, penulis ingin melakukan beberapa hal:</p>
<ul>
<li>Tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu</li>
<li>Tidak berutang tulisan Whathefan lagi</li>
<li>Setiap malam tidak boleh menunda mencatat agenda harian dan transaksi keuangan</li>
<li>Bisa membaca buku minimal setengah jam satu hari</li>
<li>Mengurangi aktivitas kurang bermanfaat seperti <em>scrolling </em>media sosial terlalu lama</li>
<li>Dan lain sebagainya</li>
</ul>
<p>Nah, sewaktu mencoba untuk membuat resolusi tahunan ini, penulis jadi berpikir: <strong>mengapa tidak setiap hari saja membuat resolusi?</strong></p>
<p>Jadi setiap hari, penulis akan berusaha untuk memperbaiki diri dengan resolusi harian tersebut. Selain itu, resolusi setiap hari sesuai dengan sabda Nabi yang menyuruh kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>Di dalam bayangan penulis, resolusi harian seperti ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, kita bisa langsung mengganti target apabila dirasa sudah tercapai dan kita membutuhkan target baru untuk dikejar.</p>
<p>Selanjutnya adalah mengukur kemampuan diri sendiri setiap hari. Kita akan tahu resolusi mana yang paling berat untuk dijalankan, sehingga kita bisa mencoba untuk melakukan eksplorasi agar resolusi tersebut bisa kita capai. Selain itu, resolusi setiap hari akan membuat kita sering melakukan interopeksi diri.</p>
<p>Apakah akan berhasil? Entahlah, penulis juga tidak tahu akan bertahan lama penulis bisa mempertahankan semangat ini. Yang jelas, penulis akan berusaha agar resolusi tahun baru ini bisa membuat penulis bersemangat dalam menyongsong hari sepanjang 2019 ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Januari 2019, terinspirasi setelah mencoba untuk menulis resolusi tahun baru</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/PAykYb-8Er8?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Ian Schneider</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/new-year?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/">Resolusi Tahun Baru Setiap Hari</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/resolusi-tahun-baru-setiap-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Revolusi Diri karena Steve Jobs</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2018 12:13:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Walter Isaacson]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=439</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain tanggal lahir pembalap legendaris Formula 1 Alain Prost, 24 Februari juga merupakan tanggal lahir mendiang Steve Jobs, salah satu pendiri Apple. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini penulis ingin menulis sedikit tentang orang yang sering menyebutkan kata revolusioner pada presentasinya tersebut. Steve Jobs by Walter Isaacson Buku pertama tentang Steve Jobs yang penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Revolusi Diri karena Steve Jobs</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain tanggal lahir pembalap legendaris Formula 1 Alain Prost, 24 Februari juga merupakan tanggal lahir mendiang Steve Jobs, salah satu pendiri Apple. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini penulis ingin menulis sedikit tentang orang yang sering menyebutkan kata revolusioner pada presentasinya tersebut.</p>
<p><strong>Steve Jobs by Walter Isaacson</strong></p>
<p>Buku pertama tentang Steve Jobs yang penulis beli adalah biografi resminya yang ditulis oleh Walter Isaacson. Sebelum itu, penulis tidak mengetahui apa-apa tentang Jobs, kecuali ia adalah pendiri Apple yang terkenal karena produk-produk premiumnya. Alasan penulis ingin membeli buku tersebut adalah diharapkan bisa menambah motivasi penulis yang sedang studi di jurusan Informatika.</p>
<p>Memang benar, banyak sekali motivasi-motivasi yang penulis dapatkan dari buku tersebut. Meskipun sangat tebal, penulis telah menghabiskannya dua kali karena Isaacson selaku penulis bisa menceritakan kehidupan Jobs dengan apik.</p>
<p>Buku ini adalah buku favorit nomer satu penulis, dan bisa dibilang buku ini turut &#8220;merevolusi&#8221; pola pikir penulis yang sebelumnya hanya terbawa arus begitu saja.</p>
<p><strong>Membiasakan Diri Melampaui Batas</strong></p>
<p>Ketika membaca biografi tersebut, penulis menangkap bahwa Jobs adalah seorang yang visioner. Ia melihat beberapa langkah ke depan dan selalu menargetkan sesuatu yang bagi orang lain melampaui batas. Sifat ini, ditambah dengan perfeksionisnya, membuat banyak orang yang stres ketika bekerja dengan Steve Jobs. Lagipula, Jobs dikenal kejam terhadap bawahannya yang tidak bisa memenuhi ekspetasinya.</p>
<p><div id="attachment_442" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-442" class="size-large wp-image-442" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-1024x698.jpg" alt="" width="1024" height="698" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-1024x698.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-768x524.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP-356x243.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/Steve-Jobs-at-Next-Computer-in-1993-AP.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-442" class="wp-caption-text">Berpikir Melampaui Batas</p></div></p>
<p>Karakter ini penulis hayati ketika merefleksi diri untuk mengubah sifat penulis yang jarang menargetkan diri. Penulis sadar, bahwa hidup tanpa target sama dengan menyetir tanpa tujuan. Kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan membawa kendaraan &#8220;hidup&#8221; kita dan hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas.</p>
<p><strong>Berpikir Di Luar Kotak (atau Tanpa Kotak Sama Sekali)</strong></p>
<p>Sifat menginspirasi lain yang dimiliki oleh Jobs adalah pola pikirnya yang sering kali tidak terpikirkan oleh orang lain. Ia bukan penemu yang original (contoh: GUI pada Macintosh dicuri dari XEROX PARC), namun ialah yang membuat penemuan tersebut menjadi terkenal dan digunakan oleh khalayak umum.</p>
<p><div id="attachment_443" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-443" class="size-large wp-image-443" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/steve-jobs-macintosh.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-443" class="wp-caption-text">Jobs dan Macintosh</p></div></p>
<p>Pemutar musik bukanlah barang baru ketika iPod diluncurkan. Namun iPodlah yang memulai perpindahan dari musik analog menjadi musik digital. iPhone bukanlah handphone dengan teknologi <em>touchscreen</em> pertama, namun iPhonelah yang memulai revolusi industri ponsel genggam (hingga membuat Nokia yang mengusai pasar ketika itu terjun bebas).</p>
<p>Mengapa Jobs bisa melakukan hal tersebut? Bagi penulis, jawabannya adalah karena ia berpikir di luar kotak ketika pesaing masih berpikir di dalam kotak. Bahkan, terkadang ia tidak menganggap ada kotak sama sekali (Jobs terkenal suka melanggar aturan, dan ini tidak baik untuk ditiru). Berani berbeda bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih di masa kini.</p>
<p><strong>Buku Steve Jobs Lainnya</strong></p>
<p>Tulisan ini akan sangat panjang jika penulis menuliskan semua inspirasi yang didapatkan dari buku tersebut. Pada tulisan kali ini, penulis menyukupkannya hanya dengan dua poin di atas. Penulis ingin membahas buku-buku tentang Steve Jobs lainnya.</p>
<p>Setelah buku tersebut, penulis semakin penasaran dengan Steve Jobs dan Apple. Beberapa buku yang penulis beli setelah itu adalah:</p>
<ul>
<li>Inside Steve&#8217;s Brain dan Jony Ive (kepala designer Apple, salah satu anak emas Jobs) karya Leander Kahney</li>
<li>Apple vs Google karya Fred Vogelstein</li>
<li>Life by Design karya George Beahm</li>
<li>Inside Apple karya Adam Lashinsky</li>
</ul>
<p>Selain itu, ketika ada even <strong>Big Bad Wolf </strong>yang mengobral buku impor, penulis memborong banyak sekali buku terkait Steve Jobs, termasuk versi asli biografi karya Isaacson. Buku-buku impor tentang Steve Jobs yang penulis miliki antara lain:</p>
<ul>
<li>Kompilasi Majalah Time</li>
<li>The Apple Revolution karya Luke Dormehl</li>
<li>Steve Jobs: The Man Who Thought Different karya Karen Blumenthal</li>
<li>iWoz karya Steve Wozniak (pendiri Apple selain Jobs) bersama Gina Smith</li>
<li>Becoming Steve Jobs karya Brent Schlender dan Rick Tetzeli</li>
</ul>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Jobs adalah manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan. Masa muda Jobs adalah salah satu sisinya yang sama sekali tidak ingin penulis tiru. Namun penulis harus memberikan kredit spesial kepada Steve Jobs dan Walter Isaacson sebagai penulis biografinya, karena telah merevolusi pola pikir penulis seperti yang sering dilakukan Jobs dan Apple kepada industri digital.</p>
<p>Andai penulis tidak pernah membaca buku tersebut, penulis tidak tahu apakah pola pikir mengikuti arus yang dimiliki akan dapat berganti dengan pola pikir selalu menaruh target di depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Februari 2018, setelah (lumayan) sembuh dari flu yang melanda sejak pagi.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/">Revolusi Diri karena Steve Jobs</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/revolusi-diri-karena-steve-jobs/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
