<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tujuan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/tujuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/tujuan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jul 2019 17:32:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>tujuan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/tujuan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Sekolah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jul 2019 17:25:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2510</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk apa sekolah? Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku Why the Rich are Getting Richer karya Robert T. Kiyosaki. Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal. Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk apa sekolah? </strong>Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki.</p>
<p>Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal.</p>
<p>Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang dimiliki dengan baik sehingga bisa meraih <em>financial freedom</em>.</p>
<p>Karena penuturan tersebut, langsung terngiang satu pertanyaan di benak penulis, yang pada akhirnya menjadi judul tulisan ini.</p>
<h3>Jawaban Karang Taruna</h3>
<p>Ketika melontarkan pertanyaan tersebut ke anak-anak Karang Taruna, untunglah jawabannya tidak sedangkal &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Jawabannya penulis rangkum di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Untuk mencari teman dan relasi</li>
<li>Untuk mendapatkan ilmu</li>
<li>Untuk membantu menggapai impian atau cita-cita</li>
<li>Untuk melatih kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan yang bermanfaat ketika telah terjun di dunia kerja</li>
<li>Untuk mengetahui apa itu persaingan (yang satu ini memang cukup mengejutkan penulis)</li>
<li>Untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki</li>
<li>Untuk menemukan hal-hal baru</li>
<li>Untuk mengetahui betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia (ini akan penulis ulas lebih dalam di tulisan berikutnya)</li>
<li><strong>KEWAJIBAN</strong></li>
</ul>
<p>Penulis tidak bermaksud merendahkan jawaban &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Sekolah sangat penting (bahkan vital) agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kehidupan pun lebih terjamin.</p>
<p>Penulis ingin menekankan bahwa fungsi dari sekolah itu lebih luas dari itu, yang jawabannya telah dikeluarkan oleh teman-teman Karang Taruna yang memang rata-rata berada di usia sekolah.</p>
<p><em>Dan itu sangat melegakan</em>.</p>
<h3>Untuk Apa Sekolah?</h3>
<p>Mungkin tidak terlalu muluk seperti harapan Kiyosaki dalam bukunya tersebut. Cukup mengetahui manfaat bersekolah dalam lingkup yang luas saja sudah membuat penulis tersenyum kecil.</p>
<p>Ketika sekolah, penulis tidak sempat kepikiran untuk apa sekolah. Bagi penulis waktu itu, sekolah merupakan kewajiban kita sebagai seorang anak yang hidup di negara beradab seperti Indonesia.</p>
<p>Kita harus belajar rajin agar nilai kita bagus, mungkin ikut berbagai organisasi untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan menambah pengalaman, lantas lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi seperti kebanyakan orang.</p>
<p>Padahal, sekolah adalah elemen penting dalam pembentukan karakter kita sebagai manusia. Rata-rata siswa berada di sekolah kurang lebih selama 8 jam. Itu sama dengan 1/3 waktu mereka dalam satu hari.</p>
<p>Besarnya porsi tersebut mengharuskan sekolah harus dapat menjadi elemen penting dalam hidup kita, terutama yang berkesempatan untuk menjalaninya.</p>
<p>Selain dari pihak pemerintah maupun swasta yang menyediakan fasilitas belajar, memilih lingkungan pergaulan pun tidak kalah penting dalam sekolah. Justru, dari teman-teman di masa sekolah inilah terkadang karakter kita lebih dibentuk.</p>
<p>Kita harus bisa memanfaatkan 1/3 waktu dalam satu hari tersebut untuk hal yang memberikan dampak baik untuk diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika selama sekolah kita hanya bermalas-malasan, main, hingga pacaran, maka nilai yang sebenarnya bisa didapatkan dari sekolah akan hilang.</p>
<p>Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan di sekolah selain belajar, misal aktif di berbagai organisasi ataupun kegiatan ekstrakulikuler seperti klub seni ataupun olahraga. Bukannya tidak boleh main, hanya saja porsinya jangan terlalu besar.</p>
<p>Sekolah bisa dijadikan sebagai wadah bagi kita untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang telah dijabarkan oleh anak-anak Karang Taruna di atas.</p>
<p>Semua kembali ke diri kita masing-masing, ingin memanfaatkan masa sekolah kita dengan baik atau menyia-nyiakannya dan menyesalinya kemudian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Penulis termasuk ke dalam kategori yang <strong>menyesal kemudian</strong>. Ikut berbagai organisasi tapi lebih sering tidak aktif karena lebih menurut kepada kemalasannya. Tulisan ini penulis susun agar kesalahan tersebut tidak terulang di kalian, terutama yang masih sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@flpschi">Feliphe Schiarolli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2019 17:48:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target. Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan. Terkadang, ada sesuatu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target.</p>
<p>Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan.</p>
<p>Terkadang, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa meneruskan perjalanan, misalnya karena ada bencana alam sehingga daerah tujuan kita terisolasi. Jika seperti itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah tujuan perjalanan kita.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah fungsi target dalam hidup kita, sebagai pemandu kita mau mengemudikan hidup kita ke arah mana dan melalui jalan apa.</p>
<h3>Target-Target Dalam Jangka Waktu Dekat</h3>
<p>Setelah bekerja di Mainspring Technology, penulis berkesempatan meliput acara pengenalan CEO baru salah satu perusahaan agensi iklan terbesar di Indonesia, <strong>Dentsu Aegis Network</strong>.</p>
<p>Nama CEO tersebut adalah <strong>Maya Watono</strong>. Selepas acara, penulis berkesempatan untuk mewawancarainya bersama wartawan-wartawan lain.</p>
<p>Ada satu pertanyaan untuk Maya, tentang resep kesuksesan hingga bisa seperti sekarang. Ia menjawab bahwa salah satu caranya adalah menetapkan tujuan-tujuan dalam jangka pendek, selain ada tujuan untuk jangka panjang yang lebih besar.</p>
<p>Ketika penulis mendengarkan jawaban tersebut, penulis seolah menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan. Penulis terlalu fokus terhadap target yang jauh di sana, hingga mengabaikan target-target kecil yang harus dicapai terlebih dahulu.</p>
<p>Misal, jika ingin kuliah di luar negeri, maka penulis akan memasang target dalam satu hari minimal belajar delapan jam. Penulis tentu saja belajar setiap hari, tapi tidak sebagai target sehingga durasi belajarnya tergantung <em>mood </em>penulis.</p>
<p>Oleh karena itu, sekarang penulis berusaha menetapkan target secara berjangka. Dalam jangka waktu ini, penulis harus melakukan ini ini dan ini. Agar bisa seperti itu, penulis mulai hari ini harus melakukan itu itu dan itu.</p>
<p>Kurang lebih seperti itu.</p>
<h3>Mengalir Bersama Air</h3>
<p>Akan tetapi, tidak semua orang merasa nyaman dengan target. Beberapa orang lebih memilih untuk mengalir bersama air, mengikuti akan ke mana hidup membawanya.</p>
<p>Apakah ini salah? Penulis tidak akan menyatakannya salah. Penulis akan menggunakan kembali filosofi mengemudi untuk mengilustrasikan hal ini.</p>
<p>Terkadang, kita hanya ingin mengemudikan kendaraan kita untuk pergi berkeliling tanpa tujuan pasti. Kita hanya ingin menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ternyata kita menemukan sebuah barang yang sudah lama diinginkan. Maka, perjalanan yang awalnya tidak memiliki tujuan khusus tersebut ternyata menghasilkan sesuatu yang membahagiakan.</p>
<p>Begitu pula di dalam hidup. Kita tidak menentukan target-target dalam beberapa aspek kehidupan karena percaya selama yang dilakukan adalah hal yang benar, Tuhan akan menunjukkan jalan kita.</p>
<h3>Lantas, Apakah Kita Butuh yang Namanya Tujuan?</h3>
<p>Masing-masing orang akan memiliki jawaban yang berbeda. Bagi penulis, <strong>butuh</strong>. Mungkin karena penulis adalah tipe orang yang tidak mau keluar rumah kecuali ada tujuan yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi dalam prosesnya, mungkin kita perlu untuk terbawa arus air kehidupan agar bisa menentukan tujuan. Kita tidak tahu akan datang dari mana yang namanya inspirasi dan rezeki.</p>
<p>Penulis kerap mengalami kegagalan dalam meraih target. Sering sekali. Apakah hal tersebut membuat penulis memutuskan untuk membuat target karena kerap membuat stres? Tentu tidak.</p>
<p>Pepatah lama mengatakan kegagalan hanya keberhasilan yang tertunda. Bagi penulis, kegagalan hanyalah salah satu tahap yang harus dilalui sebelum mencapai keberhasilan. Bisa sesuai dengan target, bisa yang lebih baik lagi.</p>
<p>Ingat, yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan sang pemilik hidup ini. Kita boleh merasa bahwa target A dan B adalah yang terbaik untuk kita, padahal ternyata target XZ yang paling cocok untuk kita.</p>
<p>Penulis tidak akan menjelek-jelekan orang yang menolak untuk memiliki tujuan hidup. Bagaimana bisa seperti itu jika ibu penulis adalah tipe orang yang seperti itu?</p>
<p>Hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk memiliki target atau menjalani saja hidup ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 April 2019, terinspirasi setelah berdiskusi panjang dengan seorang kawan</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@samuele_piccarini">Samuele Errico Piccarini</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
