Untuk Apa Sekolah?

Untuk apa sekolah? Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku Why the Rich are Getting Richer karya Robert T. Kiyosaki.

Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal.

Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang dimiliki dengan baik sehingga bisa meraih financial freedom.

Karena penuturan tersebut, langsung terngiang satu pertanyaan di benak penulis, yang pada akhirnya menjadi judul tulisan ini.

Jawaban Karang Taruna

Ketika melontarkan pertanyaan tersebut ke anak-anak Karang Taruna, untunglah jawabannya tidak sedangkal “biar gampang dapat pekerjaan”. Jawabannya penulis rangkum di bawah ini:

  • Untuk mencari teman dan relasi
  • Untuk mendapatkan ilmu
  • Untuk membantu menggapai impian atau cita-cita
  • Untuk melatih kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan yang bermanfaat ketika telah terjun di dunia kerja
  • Untuk mengetahui apa itu persaingan (yang satu ini memang cukup mengejutkan penulis)
  • Untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki
  • Untuk menemukan hal-hal baru
  • Untuk mengetahui betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia (ini akan penulis ulas lebih dalam di tulisan berikutnya)
  • KEWAJIBAN

Penulis tidak bermaksud merendahkan jawaban “biar gampang dapat pekerjaan”. Sekolah sangat penting (bahkan vital) agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kehidupan pun lebih terjamin.

Penulis ingin menekankan bahwa fungsi dari sekolah itu lebih luas dari itu, yang jawabannya telah dikeluarkan oleh teman-teman Karang Taruna yang memang rata-rata berada di usia sekolah.

Dan itu sangat melegakan.

Untuk Apa Sekolah?

Mungkin tidak terlalu muluk seperti harapan Kiyosaki dalam bukunya tersebut. Cukup mengetahui manfaat bersekolah dalam lingkup yang luas saja sudah membuat penulis tersenyum kecil.

Ketika sekolah, penulis tidak sempat kepikiran untuk apa sekolah. Bagi penulis waktu itu, sekolah merupakan kewajiban kita sebagai seorang anak yang hidup di negara beradab seperti Indonesia.

Kita harus belajar rajin agar nilai kita bagus, mungkin ikut berbagai organisasi untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan menambah pengalaman, lantas lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi seperti kebanyakan orang.

Padahal, sekolah adalah elemen penting dalam pembentukan karakter kita sebagai manusia. Rata-rata siswa berada di sekolah kurang lebih selama 8 jam. Itu sama dengan 1/3 waktu mereka dalam satu hari.

Besarnya porsi tersebut mengharuskan sekolah harus dapat menjadi elemen penting dalam hidup kita, terutama yang berkesempatan untuk menjalaninya.

Selain dari pihak pemerintah maupun swasta yang menyediakan fasilitas belajar, memilih lingkungan pergaulan pun tidak kalah penting dalam sekolah. Justru, dari teman-teman di masa sekolah inilah terkadang karakter kita lebih dibentuk.

Kita harus bisa memanfaatkan 1/3 waktu dalam satu hari tersebut untuk hal yang memberikan dampak baik untuk diri sendiri.

Penutup

Jika selama sekolah kita hanya bermalas-malasan, main, hingga pacaran, maka nilai yang sebenarnya bisa didapatkan dari sekolah akan hilang.

Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan di sekolah selain belajar, misal aktif di berbagai organisasi ataupun kegiatan ekstrakulikuler seperti klub seni ataupun olahraga. Bukannya tidak boleh main, hanya saja porsinya jangan terlalu besar.

Sekolah bisa dijadikan sebagai wadah bagi kita untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang telah dijabarkan oleh anak-anak Karang Taruna di atas.

Semua kembali ke diri kita masing-masing, ingin memanfaatkan masa sekolah kita dengan baik atau menyia-nyiakannya dan menyesalinya kemudian.

 

NB: Penulis termasuk ke dalam kategori yang menyesal kemudian. Ikut berbagai organisasi tapi lebih sering tidak aktif karena lebih menurut kepada kemalasannya. Tulisan ini penulis susun agar kesalahan tersebut tidak terulang di kalian, terutama yang masih sekolah.

 

 

Kebayoran Lama, 16 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca buku Why the Rich are Getting Richer karya Robert T. Kiyosaki

Foto: Feliphe Schiarolli