<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wartawan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/wartawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/wartawan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:41:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>wartawan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/wartawan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Interaksi dengan Wartawan)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-interaksi-dengan-wartawan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-interaksi-dengan-wartawan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2018 08:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[asing]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[reporter]]></category>
		<category><![CDATA[volunteer]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1282</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berada di departemen Media &#38; Public Relations membuat penulis banyak berinteraksi dengan wartawan, baik lokal maupun dari luar negeri. Kesempatan untuk berbincang dengan mereka merupakan pengalaman yang begitu berharga bagi penulis, walaupun penulis tidak bisa berbicara dalam bahasa Jepang maupun Korea seperti yang rekan penulis lakukan. Berbicara dengan Wartawan Asing Perbincangan pertama yang cukup berarti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-interaksi-dengan-wartawan/">Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Interaksi dengan Wartawan)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berada di departemen Media &amp; Public Relations membuat penulis banyak berinteraksi dengan wartawan, baik lokal maupun dari luar negeri. Kesempatan untuk berbincang dengan mereka merupakan pengalaman yang begitu berharga bagi penulis, walaupun penulis tidak bisa berbicara dalam bahasa Jepang maupun Korea seperti yang rekan penulis lakukan.</p>
<p><strong>Berbicara dengan Wartawan Asing</strong></p>
<p>Perbincangan pertama yang cukup berarti adalah ketika penulis berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang sayang namanya penulis lupa. Ketika itu, kami berdua sedang menonton <em>streaming </em>salah satu pertandingan di stadion Patriot (posisi penulis sebagai <em>helpdesk </em>membuat penulis tidak bisa menonton pertandingan secara langsung).</p>
<p>Diawali pembicaraan ringan seputar pertandingan, wartawan tersebut dilanjutkan dengan pertanyaan seputar <em>volunteer</em>, termasuk alasan mengapa penulis mau bergabung menjadi bagian dari Asian Games. Yang mengejutkan adalah ketika secara tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya dan merekam jawaban penulis.</p>
<div id="attachment_1165" style="width: 631px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1165" class="size-full wp-image-1165" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg" alt="" width="621" height="723" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg 621w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-258x300.jpg 258w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-219x255.jpg 219w" sizes="(max-width: 621px) 100vw, 621px" /><p id="caption-attachment-1165" class="wp-caption-text">Dengan Wartawan Taiwan</p></div>
<p>Setelah &#8220;wawancara&#8221; berakhir, ia meminta nomer Whatsapp penulis. Entah nama penulis tercantum atau tidak di media Taiwan, tapi setidaknya rekan penulis bernama Evelyne berhasil masuk.</p>
<p>Ketika berbicara dengan wartawan Qatar, ia menyayangkan tentang tingkat keamanan di sekitar Senayan yang kurang ketat. Percakapan ini terjadi di kala penulis bertugas mengawasi latihan tim nasional Lao PDR di Lapangan ABC.</p>
<p>Percakapan yang menarik terjadi dengan seorang reporter bernama Billel Guiza. Kelahiran Aljazair, sekarang ia tinggal di Qatar dan telah bekerja di beIN SPORTS selama kurang lebih 10 tahun.</p>
<p>Lantas di mana menariknya? Billel Guiza pernah mewawancarai Christiano Ronaldo, Lionel Messi, Neymar, hingga <em>lord</em> Zlatan Ibrahimovic. Sebagai tambahan, ia juga pernah mewawancarai petinju terkaya di dunia, Floyd Mayweather.</p>
<p>Terkejut? Jika tidak percaya, bisa dicek di Instagram miliknya (<a href="https://www.instagram.com/billel_guiza/">@billel_guiza</a>).</p>
<div id="attachment_1284" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1284" class="size-large wp-image-1284" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza-1024x688.jpg" alt="" width="1024" height="688" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza-1024x688.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza-300x201.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza-768x516.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza-356x239.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/Billel-Guiza.jpg 1190w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1284" class="wp-caption-text">Instagram Milik Billel Guiza</p></div>
<p>Di antara semua pemain yang pernah ia wawancarai tersebut, Guiza mengatakan bahwa pemain yang paling ia favoritkan adalah Christiano Ronaldo karena ia memiliki <em>attitude </em>yang baik.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tentu kami selaku <em>volunteer </em>dari departemen Media &amp; Public Relations tidak boleh terlalu asyik berbicara dengan wartawan sehingga melalaikan kewajiban utama kami untuk membantu para wartawan. Setidaknya ada dua kejadian yang paling berkesan.</p>
<p><strong>Laptop Milik Wartawan Bangladesh</strong></p>
<p>Yang pertama adalah menolong wartawan Bangladesh yang laptopnya tidak bisa tersambung dengan internet. Setelah berdiskusi dengan <em>volunteer </em>dari divisi IT, kami sepakat bahwa permasalahan dari laptop ini adalah tidak terpasangnya <em>driver </em>WiFi.</p>
<p>Terdengar sederhana, padahal membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk menemukan akar permasalahannya. Maka penulis mencari <em>driver </em>yang sesuai setelah melihat seri laptop Dellnya tersebut.</p>
<div id="attachment_1291" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1291" class="size-large wp-image-1291" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver-1024x508.jpg" alt="" width="1024" height="508" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver-1024x508.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver-300x149.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver-768x381.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver-356x177.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/mencari-Driver.jpg 1480w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1291" class="wp-caption-text">Mencari Driver Laptop Dell</p></div>
<p>Beberapa kali gagal, akhirnya penulis berhasil pada percobaan ketiga dan berteriak ALHAMDULILLAH, yang penulis lakukan karena mengetahui bahwa Bangladesh merupakan negara dengan mayoritas memeluk agama Islam, termasuk wartawan yang penulis bantu.</p>
<p>Ia pun mengucapkan terima kasih, dan penulis pun kembali ke pos penulis. Tidak lama berselang, wartawan Bangladesh tersebut kembali memanggil penulis.</p>
<p>Ternyata ia membutuhkan file pertandingan sepakbola negaranya dan <em>streaming </em>cabang olahraga <em>kabbadi</em>. Ini tidak bisa penulis berikan karena dari vidio.com selaku pemegang hak <em>streamin </em>pun tidak menyediakan kedua hal tersebut. Maka setelah &#8220;tersandera&#8221; cukup lama, penulis dengan menyesal tidak bisa membantu permintaan tersebut.</p>
<p><strong>Barang Tertinggal Milik Wartawan Korea</strong></p>
<p>Kejadian yang kedua adalah ketika membantu wartawan Korea Selatan bernama Kim Seong Ryong yang barang berharganya tertinggal di Grab. Yang membuat panik, si <em>driver </em>tidak bisa dihubungi sama sekali. Kejadian ini berlangsung sekitar jam tiga sore</p>
<p>Berhubung yang punya pulsa penulis, maka penulis lah yang memutuskan untuk menghubungi <em>call center </em>Grab, yang sialnya tidak bisa dihubungi dengan alasan sedang banyak menerima panggilan. Nah, ketika percobaan kesekian, penulis baru sadar bahwa penulis harus menekan beberapa angka agar dapat menghubungi <em>call center</em>.</p>
<p>Maka setelah tersambung, penulis segera berlari menuju Media Center (waktu itu penulis sedang ada sesi foto bersama, sehingga penulis kehilangan beberapa momen) dan bertanya kepada Kim tentang datanya untuk keperluan verifikasi, walau sebenarnya ia memesan dengan akun Grab milik temannya.</p>
<p>CS tersebut mengatakan akan segera menghubungi penulis apabila sudah dapat menghubungi <em>driver </em>tersebut. Penulis seharian menunggu adanya telepon masuk, Kim pun berulangkali menghampiri penulis untuk menanyakan kabar, hingga penulis memintanya mengunduh aplikasi Line agar penulis bisa memberi kabar secepatnya apabila penulis sudah mengetahui kabarnya.</p>
<div id="attachment_1289" style="width: 508px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1289" class="size-large wp-image-1289" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_11-37-05-498x1024.jpg" alt="" width="498" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_11-37-05-498x1024.jpg 498w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_11-37-05-146x300.jpg 146w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_11-37-05-124x255.jpg 124w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_11-37-05.jpg 622w" sizes="(max-width: 498px) 100vw, 498px" /><p id="caption-attachment-1289" class="wp-caption-text">Penulis dengan Wartawan Korea</p></div>
<p>Akhirnya sekitar pukul 20.30, penulis mendapatkan telepon dari Grab yang mengatakan telah berhasil menghubungi <em>driver</em> dan memberikan nomernya. Penulis pun segera menelepon nomer tersebut dan tersambung dengan si <em>driver</em>.</p>
<p>Awalnya, <em>driver </em>tersebut menolak mengantarkan tas yang tertinggal tersebut dengan alasan ia sudah <em>off </em>dari sore, alasan yang sama mengapa ia tak bisa dihubungi. Ia justru menyuruh wartawan Korea tersebut datang ke tempatnya, tentu penulis tolak karena merasa kasihan dengan orang asing yang sedang berada di tempat asing.</p>
<p><i>Driver </i>tersebut pun akhirnya mengatakan bersedia untuk mengantar barang tersebut asal uang bensinnya diganti. Kim menyetujuinya dan setengah jam kemudian sampailah barang tersebut ke Stadion Patriot.</p>
<p>(Sebagai catatan tambahan, entah mengapa pulsa penulis sama sekali tidak berkurang ketika digunakan untuk menelepon <em>driver </em>tersebut, entah mengapa.</p>
<p>Penulis mengantar Kim dan kawannya hingga ke jalan raya. Mereka sangat berterima kasih kepada penulis dan mengatakan ingin memberikan sesuatu sebagai hadiah. Penulis katakan tidak usah dipikirkan, tapi jika ada semacam pin atau <em>postcard </em>yang berbau Korea bolehlah diberikan.</p>
<p>Kedua wartawan tersebut sibuk mencari barang yang bisa diberikan di dalam tasnya, dan pada akhirnya penulis mendapatkan kartu nama dari Kim. Tidak apa-apa, ini juga masih berbau Korea. Akhirnya pertemuan kami berakhir dengan foto bersama.</p>
<div id="attachment_1292" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1292" class="size-large wp-image-1292" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04-1024x662.jpg" alt="" width="1024" height="662" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04-1024x662.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04-300x194.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04-768x497.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04-356x230.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo_2018-09-10_12-15-04.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1292" class="wp-caption-text">Hadiah dari Korea</p></div>
<p>***</p>
<p>Interaksi dengan Kim dan temannya tersebut merupakan penutup dari penugasan kami di Stadion Patriot. Namun masih ada satu &#8220;penutupan&#8221; lagi yang layak untuk dibagi. Tunggu tulisan berikutnya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebak Gede, Bandung, 10 September 2018, terinspirasi setelah menjadi <em>volunteer </em>Asian Games 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-interaksi-dengan-wartawan/">Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Interaksi dengan Wartawan)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-interaksi-dengan-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budaya Menghargai di Indonesia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 08:15:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia. Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia.</p>
<p>Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka apa anggota tersebut menemani sang tamu asing dan bagaimana dia bisa menjadi semacam <em>tour guide</em>.</p>
<p>Kericuhan terjadi ketika anggota tersebut berkata <em>hold on </em>dengan aksen yang Indonesia banget. Teman-teman lain yang sedang mendengarkan langsung <em>nyolot </em>dengan tujuan mengoreksi pengucapan yang benar, tentu konteksnya bercanda.</p>
<p>Nah, di sinilah anggota tersebut merasa heran, kenapa orang Indonesia itu tidak bisa menghargai orangnya sendiri. Bulenya saja memaklumi pengucapan kita, kok ini sama-sama orang Indonesia malah protes.</p>
<p>Hehehe, ketika itu penulis hanya mengamati dalam diam sembari mencatatnya di salah satu sudut otak penulis karena merasa adegan ini akan terjadi pada diri penulis sendiri. Hal itu sudah terbukti sekarang ketika penulis menjadi sukarelawan di Asian Games 2018.</p>
<p><strong>Berbincang dengan Wartawan Asing</strong></p>
<p>Penulis mendapatkan pengalaman berbincang dengan beberapa wartawan dari luar negeri, sebut saja dari Taiwan, Qatar, hingga Bangladesh, meskipun dengan bahasa yang tertatih-tatih. Lama tidak berbicara dalam bahasa Inggris selepas dari Pare, Kediri, ternyata lumayan membuat lidak penulis kaku.</p>
<p>Yang paling berkesan adalah ketika berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang memuji kemampuan <em>speaking </em>penulis. Bukan karena jago, melainkan karena di negaranya, tidak semua anak bisa berbahasa Inggris. Penulis berasumsi, alasan di balik hal tersebut sama dengan anak-anak di Jepang maupun Prancis: Mereka bangga dengan bahasa mereka sendiri.</p>
<div id="attachment_1165" style="width: 631px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1165" class="size-full wp-image-1165" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg" alt="" width="621" height="723" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg 621w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-258x300.jpg 258w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-219x255.jpg 219w" sizes="(max-width: 621px) 100vw, 621px" /><p id="caption-attachment-1165" class="wp-caption-text">Dengan Wartawan Taiwan</p></div>
<p>Dengan wartawan lain pun, penulis merasa sangat dihargai. Mereka seolah memaklumi keterbatasan kata penulis, karena memang bahasa Inggris bukan bahasa utama kami. Mereka tidak marah jika kita tidak mengerti maksud mereka.</p>
<p>Hal yang sebaliknya terjadi pada wartawan dari negara kita sendiri.</p>
<p><b>Protes dari Bangsa Sendiri</b></p>
<p>Berawal dari keengganan dua rekan penulis untuk menjadi <em>tranlator, </em>penulis memutuskan untuk bersedia menerima tanggungjawab besar tersebut. Dua rekan tersebut merasa tertekan dengan perlakuan wartawan yang gencar melakukan protes ketika terjadi kesalahan penerjemahan.</p>
<p><em>Translator </em>sendiri merupakan salah satu <em>jobdesk</em> untuk para sukarelawan Asian Games yang bertugas melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (ataupun sebaliknya) ketika <em>press conference </em>berlangsung.</p>
<p>Ketika mencoba menjadi <em>translator</em>, penulis menyadari betapa sulitnya mendengarkan apa kata pelatih maupun pemain yang sedang berbicara. Selain terdapat aksen yang sangat susah untuk dicerna, penempatan <em>translator </em>yang berdiri di belakang <em>speaker</em> juga mempersulit.</p>
<div id="attachment_1166" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1166" class="size-large wp-image-1166" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1166" class="wp-caption-text">Suasana Konferensi Pers</p></div>
<p>Penulis mengalami sendiri bagaimana wartawan melakukan protes ketika terjemahan yang diucapkan oleh rekan penulis dianggap salah. Pun ketika rekan penulis salah menerjemahkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Memang, menjadi penerjemah adalah salah satu tugas kami, sehingga wajar jika wartawan mengharapkan kami tampil dengan sempurna. Tapi kami bukan penerjemah profesional. Bagi kami, ini adalah pengalaman pertama kali menjadi penerjemah, sehingga wajar jika kami melakukan kesalahan-kesalahan.</p>
<p>Alangkah baiknya jika wartawan-wartawan lokal justru membantu kami jika ada kesalahan-kesalahan, misal memberitahu kepada rekan wartawan yang lain bahwa maksud dari pernyataan pelatih adalah bla bla bla tanpa perlu menghardik para <em>translator</em>.</p>
<p>Tentu hanya beberapa wartawan yang berlaku seperti itu. Ada juga beberapa wartawan yang justru memberi kami tips-tips bagaimana menerjemahkan dengan baik. Seandainya semua seperti itu dan bisa memaklumi kekurangan kami, tentu akan lebih membantu kami daripada sekedar protes.</p>
<p><strong>Budaya Menghargai Kurang Mengakar</strong></p>
<p>Dari kacamata penulis (penulis memang memakai kacamata), penulis melihat perbedaan ini terjadi karena budaya menghargai yang kurang mengakar. Contoh beda perlakukan dari wartawan tadi hanya satu contoh kecil yang terjadi di negara ini.</p>
<p>Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter di Indonesia, sehingga masyarakatnya tidak terbiasa memberikan apresiasi kepada bangsanya sendiri.</p>
<p>Menghargai adalah salah satu karakter yang seharusnya wajib dimiliki oleh setiap individu. Bayangkan seandainya semua orang bisa menghargai masing-masing pasangan capres-cawapres, tentu media sosial tidak akan ricuh seperti sekarang.</p>
<p>Lantas, bagaimana caranya menghargai orang lain? Ya gampangnya, ketika orang tersebut melakukan sesuatu yang baik, pujilah sewajarnya. Ketika orang lain berbuat kesalahan, kita maklumi dan kita koreksi dengan sehalus mungkin.</p>
<p>Semoga saja di masa depan, pendidikan karakter akan masuk ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Tentu peran dari orang tua dan lingkungan juga dibutuhkan untuk mengasah kemampuan kita agar dapat menghargai orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari cerita rekan penulis yang bertugas menjadi <em>translator </em>dan dari pengalaman pribadi</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/saJkxOZXPsk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Tiago Felipe Ferreira</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/respect?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
