Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Interaksi dengan Wartawan)

Published

on

Berada di departemen Media & Public Relations membuat penulis banyak berinteraksi dengan wartawan, baik lokal maupun dari luar negeri. Kesempatan untuk berbincang dengan mereka merupakan pengalaman yang begitu berharga bagi penulis, walaupun penulis tidak bisa berbicara dalam bahasa Jepang maupun Korea seperti yang rekan penulis lakukan.

Berbicara dengan Wartawan Asing

Perbincangan pertama yang cukup berarti adalah ketika penulis berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang sayang namanya penulis lupa. Ketika itu, kami berdua sedang menonton streaming salah satu pertandingan di stadion Patriot (posisi penulis sebagai helpdesk membuat penulis tidak bisa menonton pertandingan secara langsung).

Diawali pembicaraan ringan seputar pertandingan, wartawan tersebut dilanjutkan dengan pertanyaan seputar volunteer, termasuk alasan mengapa penulis mau bergabung menjadi bagian dari Asian Games. Yang mengejutkan adalah ketika secara tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya dan merekam jawaban penulis.

Dengan Wartawan Taiwan

Setelah “wawancara” berakhir, ia meminta nomer Whatsapp penulis. Entah nama penulis tercantum atau tidak di media Taiwan, tapi setidaknya rekan penulis bernama Evelyne berhasil masuk.

Ketika berbicara dengan wartawan Qatar, ia menyayangkan tentang tingkat keamanan di sekitar Senayan yang kurang ketat. Percakapan ini terjadi di kala penulis bertugas mengawasi latihan tim nasional Lao PDR di Lapangan ABC.

Percakapan yang menarik terjadi dengan seorang reporter bernama Billel Guiza. Kelahiran Aljazair, sekarang ia tinggal di Qatar dan telah bekerja di beIN SPORTS selama kurang lebih 10 tahun.

Lantas di mana menariknya? Billel Guiza pernah mewawancarai Christiano Ronaldo, Lionel Messi, Neymar, hingga lord Zlatan Ibrahimovic. Sebagai tambahan, ia juga pernah mewawancarai petinju terkaya di dunia, Floyd Mayweather.

Terkejut? Jika tidak percaya, bisa dicek di Instagram miliknya (@billel_guiza).

Instagram Milik Billel Guiza

Di antara semua pemain yang pernah ia wawancarai tersebut, Guiza mengatakan bahwa pemain yang paling ia favoritkan adalah Christiano Ronaldo karena ia memiliki attitude yang baik.

***

Tentu kami selaku volunteer dari departemen Media & Public Relations tidak boleh terlalu asyik berbicara dengan wartawan sehingga melalaikan kewajiban utama kami untuk membantu para wartawan. Setidaknya ada dua kejadian yang paling berkesan.

Laptop Milik Wartawan Bangladesh

Yang pertama adalah menolong wartawan Bangladesh yang laptopnya tidak bisa tersambung dengan internet. Setelah berdiskusi dengan volunteer dari divisi IT, kami sepakat bahwa permasalahan dari laptop ini adalah tidak terpasangnya driver WiFi.

Terdengar sederhana, padahal membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk menemukan akar permasalahannya. Maka penulis mencari driver yang sesuai setelah melihat seri laptop Dellnya tersebut.

Mencari Driver Laptop Dell

Beberapa kali gagal, akhirnya penulis berhasil pada percobaan ketiga dan berteriak ALHAMDULILLAH, yang penulis lakukan karena mengetahui bahwa Bangladesh merupakan negara dengan mayoritas memeluk agama Islam, termasuk wartawan yang penulis bantu.

Ia pun mengucapkan terima kasih, dan penulis pun kembali ke pos penulis. Tidak lama berselang, wartawan Bangladesh tersebut kembali memanggil penulis.

Ternyata ia membutuhkan file pertandingan sepakbola negaranya dan streaming cabang olahraga kabbadi. Ini tidak bisa penulis berikan karena dari vidio.com selaku pemegang hak streamin pun tidak menyediakan kedua hal tersebut. Maka setelah “tersandera” cukup lama, penulis dengan menyesal tidak bisa membantu permintaan tersebut.

Barang Tertinggal Milik Wartawan Korea

Kejadian yang kedua adalah ketika membantu wartawan Korea Selatan bernama Kim Seong Ryong yang barang berharganya tertinggal di Grab. Yang membuat panik, si driver tidak bisa dihubungi sama sekali. Kejadian ini berlangsung sekitar jam tiga sore

Berhubung yang punya pulsa penulis, maka penulis lah yang memutuskan untuk menghubungi call center Grab, yang sialnya tidak bisa dihubungi dengan alasan sedang banyak menerima panggilan. Nah, ketika percobaan kesekian, penulis baru sadar bahwa penulis harus menekan beberapa angka agar dapat menghubungi call center.

Maka setelah tersambung, penulis segera berlari menuju Media Center (waktu itu penulis sedang ada sesi foto bersama, sehingga penulis kehilangan beberapa momen) dan bertanya kepada Kim tentang datanya untuk keperluan verifikasi, walau sebenarnya ia memesan dengan akun Grab milik temannya.

CS tersebut mengatakan akan segera menghubungi penulis apabila sudah dapat menghubungi driver tersebut. Penulis seharian menunggu adanya telepon masuk, Kim pun berulangkali menghampiri penulis untuk menanyakan kabar, hingga penulis memintanya mengunduh aplikasi Line agar penulis bisa memberi kabar secepatnya apabila penulis sudah mengetahui kabarnya.

Penulis dengan Wartawan Korea

Akhirnya sekitar pukul 20.30, penulis mendapatkan telepon dari Grab yang mengatakan telah berhasil menghubungi driver dan memberikan nomernya. Penulis pun segera menelepon nomer tersebut dan tersambung dengan si driver.

Awalnya, driver tersebut menolak mengantarkan tas yang tertinggal tersebut dengan alasan ia sudah off dari sore, alasan yang sama mengapa ia tak bisa dihubungi. Ia justru menyuruh wartawan Korea tersebut datang ke tempatnya, tentu penulis tolak karena merasa kasihan dengan orang asing yang sedang berada di tempat asing.

Driver tersebut pun akhirnya mengatakan bersedia untuk mengantar barang tersebut asal uang bensinnya diganti. Kim menyetujuinya dan setengah jam kemudian sampailah barang tersebut ke Stadion Patriot.

(Sebagai catatan tambahan, entah mengapa pulsa penulis sama sekali tidak berkurang ketika digunakan untuk menelepon driver tersebut, entah mengapa.

Penulis mengantar Kim dan kawannya hingga ke jalan raya. Mereka sangat berterima kasih kepada penulis dan mengatakan ingin memberikan sesuatu sebagai hadiah. Penulis katakan tidak usah dipikirkan, tapi jika ada semacam pin atau postcard yang berbau Korea bolehlah diberikan.

Kedua wartawan tersebut sibuk mencari barang yang bisa diberikan di dalam tasnya, dan pada akhirnya penulis mendapatkan kartu nama dari Kim. Tidak apa-apa, ini juga masih berbau Korea. Akhirnya pertemuan kami berakhir dengan foto bersama.

Hadiah dari Korea

***

Interaksi dengan Kim dan temannya tersebut merupakan penutup dari penugasan kami di Stadion Patriot. Namun masih ada satu “penutupan” lagi yang layak untuk dibagi. Tunggu tulisan berikutnya!

 

 

Lebak Gede, Bandung, 10 September 2018, terinspirasi setelah menjadi volunteer Asian Games 2018

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pengalaman

Kenapa Saya Berhenti Main TikTok

Published

on

By

Jika ditanya apa aplikasi paling populer saat ini di Indonesia, mungkin jawabannya adalah TikTok. Aplikasi yang pernah dijuluki sebagai “aplikasi goblok” ini rasanya hampir terpasang di semua gawai generasi milenial.

Penulis pun sempat mengunduhnya dan memakainya selama beberapa bulan. Ternyata, TikTok bukan sekadar aplikasi buat joget-joget. Ada banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari sini.

Hanya saja, pada akhirnya Penulis memutuskan untuk berhenti main TikTok dan menghapusnya dari ponsel. Apa alasannya?

Algoritma Candu

Dibuat Sebagai Candu (Prototypr)

Penulis pernah membuat artikel berjudul Dilema (Media) Sosial Kita yang terinspirasi dari film dokumenter berjudul The Social Dilemma. Pada film tersebut, kita akan melihat pengakuan orang-orang yang pernah terlibat dengan pembuatan media sosial.

Salah satu hal yang mengerikan adalah bagaimana semua platform tersebut berlomba-lomba untuk membuat kita betah menggunakannya selama berjam-jam. Istilahnya adalah algoritma candu.

Berbeda dengan timeline Instagram dan Twitter yang hanya menampilkan akun yang kita follow, TikTok akan terus menunjukkan video-video yang sesuai dengan preferensi kita tanpa perlu mem-follow akun yang membuat video tersebut.

Apalagi, fitur unlimited scroll-nya benar-benar membuat kita tidak merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Dengan algoritma candu yang dimiliki, TikTok menjadi aplikasi yang cocok untuk menghabiskan waktu.

Penulis juga salah satunya. Meskipun sudah menggunakan aplikasi yang membatasi waktu penggunaan, tetap saja terkadang Penulis melanggar dan memainkan aplikasi TikTok melebih jatah waktu harian.

Dulu Penulis membela diri dengan berkata kepada diri sendiri kalau ada banyak manfaat dari TikTok. Bahkan, Penulis mencatat beberapa ilmu yang tanpa sengaja Penulis temukan di buku catatannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis sadar kalau itu semua hanya alibi semata untuk bisa bermain TikTok lebih lama. Semakin lama kita menggunakan TikTok, semakin mereka mendapatkan keuntungan dari “menjual” preferensi kita ke klien mereka.

Banyak Manfaatnya sih, tapi…

Banyak Baik atau Buruknya? (The Jakarta Post)

Penulis mengakui ada banyak ilmu yang bisa didapatkan di TikTok. Banyak content creator yang lihai membuat konten edukasi dengan format yang menyenangkan atau konten motivasi yang sangat menginspirasi.

Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan semua informasi tersebut?

Dari pengalaman Penulis sendiri yang mencatat berbagai ilmu di TikTok, mayoritas apa yang sudah dicatat tidak pernah dibutuhkan sampai sekarang. Semua inspirasi dan motivasi yang lewat pun sekarang sudah terlupa begitu saja.

Jika kita membutuhkan bantuan dalam mengerjakan sesuatu, bukankah ada Google? Misal ada orang yang sharing tentang Digital Marketing, bukankah banyak situs yang menjelaskan tentang hal tersebut bahkan secara lebih terperinci?

Misal ada orang yang sharing tentang penggunaan bahasa Inggris yang benar, bukankah Google juga sudah menyediakan banyak jawaban dari berbagai sumber? Seberapa banyak informasi yang kita lihat selintas di TikTok bertahan di pikiran kita?

TikTok memang memiliki banyak manfaat, terutama kalau kita suka menonton video-video yang memiliki value sehingga kita terus diberikan rekomendasi video serupa.

Pertanyaannya, lebih banyak mana video yang seperti itu dibandingkan video yang kurang bermanfaat?

Entah itu video yang pamer kemolekan tubuhnya, pertunjukkan kecantikan/ketampanan paras wajah, pamer kekayaan ala sultan, drama tidak penting, dan lain sebagainya. Ada saja “racun” yang muncul di linimasa dan bisa memengaruhi pola pikir kita.

Belum lagi kemungkinan tersebarnya berita hoax yang bisa menimbulkan ketakutan. Penulis ingat ketika ada informasi kalau Jawa akan terkena tsunami. Padahal, berita aslinya hanya menyebutkan potensinya, bukan akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

TikTok dan Cepatnya Hal Menjadi Viral

Kenapa Harus Viral? (TEKNO DILA)

Penulis paling sering mengkhawatirkan besarnya pengaruh aplikasi ini ke penggunanya, terutama generasi milenial. Coba dihitung sudah berapa kali apa yang viral di TikTok menjadi begitu populer bahkan sampai diundang ke berbagai stasiun televisi.

Masalahnya, seringkali hal yang viral adalah hal yang tidak jelas dan kurang berfaedah. Kita juga seolah ikut arus begitu saja tanpa berpikir kenapa hal remeh seperti itu bisa menjadi sedemikian populer.

Hal ini benar-benar menjadi perhatian bagi Penulis. Kenapa jarang sekali ada orang yang kritis terhadap sesuatu yang viral? Kenapa seolah yang viral itu otomatis dianggap wajar dan seolah yang ketinggalan dianggap ketinggalan zaman?

Dulu, Penulis sempat merasa FOMO (Fear Out Missing Out) jika tidak menggunakan TikTok. Takut tidak paham jika diajak bicara sama seseorang tentang apa yang trending saat ini.

Sekarang, Penulis tidak memusingkan hal tersebut sama sekali. Mau tidak paham sekalipun Penulis bisa bodo amat. Biarlah yang viral menjadi viral tanpa perlu Penulis ikut memviralkannya.

Penutup

Awalnya, Penulis mencoba untuk tidak membuka aplikasi TikTok selama beberapa hari. Ternyata, Penulis bisa berhenti total selama 2 bulan dan tidak merasa kehilangan apa-apa. Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.

Penulis tidak mengajak orang-orang untuk berhenti menggunakan aplikasi TikTok. Mungkin Pembaca bisa lebih bijak dalam menggunakan TikTok dibandingkan Penulis. Apalagi, TikTok bisa menjadi media hiburan yang berkualitas dengan kehadiran content creator yang kreatif.

Hanya saja, Penulis merasa TikTok lebih banyak buruknya dibandingkan manfaatnya bagi dirinya sendiri. Aplikasi ini terasa sebagai aplikasi kontra-produktif yang membuat Penulis membuang-buang waktunya.

Tidak hanya TikTok, Penulis hampir mengurangi semua aktivitasnya di media sosial. Penulis menghapus Twitter di ponselnya dan menggunakan Instagram hanya untuk membaca komik dari author favoritnya.

Harapannya, Penulis menjadi lebih produktif dan bisa memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat seperti menulis artikel blog ataupun baca buku.

Lawang, 19 April 2021, terinspirasi setelah menghapus aplikasi TikTok

Foto: The Jakarta Post

Continue Reading

Pengalaman

Whathefan adalah Investasi Saya

Published

on

By

Rasanya semenjak pandemi Covid-19 menyeruak, seruan untuk berinvestasi semakin banyak. Munculnya perubahan yang mendadak seolah mengingatkan kalau kita butuh dana darurat di saat-saat darurat seperti pandemi sekarang.

Pilihannya pun beragam, mulai saham hingga reksadana. Penulis termasuk salah satu orang yang mempelajari dan mulai “bermain” investasi di berbagai platform. Penulis sadar investasi menjadi hal yang penting, apalagi nilai uang makin lama makin turun.

Hanya saja, bentuk investasi tidak hanya itu. Membuka bisnis sendiri juga bentuk investasi. Menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga bentuk investasi. Beramal dan berbuat baik juga bentuk investasi.

Bagi Penulis, blog Whathefan ini pun merupakan bentuk investasi yang berharga. Selain sebagai portofolio, blog ini juga terbukti telah membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan hingga dua kali.

Awal Mula Whathefan

Niagahoster (Paulipu)

Penulis telah menceritakan sedikit awal mula nama Whathefan. Secara singkat, keinginan untuk membuat blog berawal ketika Penulis sedang mempersiapkan diri untuk tes IELTS di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

Salah seorang teman mengatakan bahwa memiliki blog pribadi akan menjadi salah satu nilai tambah jika ingin mendapatkan beasiswa. Berhubung Penulis juga suka menulis, maka Penulis pun membeli domain dan hosting whathefan.com pada tanggal 2 Januari 2018.

Penulis memilih Niagahoster karena memiliki layanan purnajual yang baik. Ketika memiliki software house bersama teman-teman kuliah, Penulis selalu membeli domain dan hosting di sana dan bisa dibilang tidak pernah mengecewakan.

Waktu itu, Penulis mengambil paket Pelajar yang sedang promo domain gratis. Kalau tidak salah, waktu itu Penulis membelinya dengan harga 600 ribuan. Selain itu, Penulis membeli tema WordPress seharga 700 ribuan yang sudah lama tidak Penulis gunakan.

(Tema yang sedang diterapkan di Whathefan sekarang adalah tema premium dari Envato Market. Penulis mendapatkannya secara gratis berkat bantuan seorang kawan.)

Setelah itu, Penulis harus membayar biaya hosting tahunan sebesar Rp777.600,00 belum termasuk PPN 10%. Biaya tersebut tentu tidak murah, apalagi Penulis tidak bisa mengandalkan AdSense-nya yang hingga artikel ini ditulis baru menyentuh angka 240 ribu setelah berjalan tiga tahun.

Jika tidak menghasilkan, di mana letak investasinya?

Portofolio Daring

Teman-Teman Mainspring Technology

Di tahun pertama Whathefan Penulis berhasil memproduksi 302 tulisan dalam satu tahun. Jumlah tersebut berkurang hampir setengahnya pada tahun 2019 karena Penulis hanya menghasilkan 189 tulisan. Tahun 2020 lebih sedikit lagi, hanya 140 tulisan.

Meskipun dari tahun ke tahun jumlah artikel yang ditulis makin sedikit, setidaknya jumlah sudah cukup untuk menunjukkan kalau Penulis termasuk produktif menulis. Selain itu, dengan banyaknya tulisan yang sudah dibuat artinya keterampilan menulisnya (seharusnya) juga terus meningkat.

Selain karena ridho Tuhan dan doa orang tua, blog ini juga membantu Penulis untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika di Mainspring Indonesia (sekarang Main Games Indonesia), Penulis hampir tidak diloloskan dari tahap wawancara pertama karena dianggap kurang pengalaman oleh orang HRD.

Hanya saja, orang HRD satunya ingin memberikan kesempatan karena blog yang Penulis miliki. Fakta ini Penulis ketahui setelah masuk dan menjadi cukup dekat dengan orang-orang HRD di sana. Tentu hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri.

Di kantor yang baru (UP Station, grup dari UniPin), ternyata salah satu alasan Penulis diterima sebagai Gaming Editor adalah karena Whathefan ini. Ketika sudah bergabung, atasan Penulis bercerita kalau dirinya berusaha meyakinkan Vice President-nya untuk menerima Penulis karena blog ini.

Oleh karena itu, Penulis menganggap kalau Whathefan ini adalah salah satu investasi Penulis yang berhasil. Alhamdulillah.

Penutup

Penulis yang memang passion-nya di dunia penulisan merasa beruntung karena memiliki blog pribadi sebagai wadah untuk berkreasi, mengasah kemampuan, sekaligus portofolio daring. Blog ini telah menjadi investasi yang berhasil, setidaknya bagi Penulis.

Para Pembaca sekalian mungkin juga memiliki bentuk investasi lain yang tidak kalah menarik. Jika ada, bolehlah kita saling sharing agar Penulis mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi.

Lawang, 8 April 2021, terinspirasi setelah mendengar kalau salah satu alasan Penulis diterima di kantor baru adalah karena blog ini

Foto: Photo by XPS on Unsplash

Continue Reading

Pengalaman

Tur Kamar Saya (Sisi Timur)

Published

on

By

Setelah tertunda dua bulan, akhirnya Penulis bisa kembali melanjutkan tulisan tentang tur kamar. Kali ini, Penulis akan menjelaskan tentang sisi timur dari kamarnya.

Sebenarnya penundaan ini ada berkahnya juga karena ada perombakan yang lumayan banyak. Penulis mengganti meja dan menambah beberapa aksesoris.

Sisi timur adalah sisi tempat Penulis paling banyak menghabiskan waktunya, baik untuk bekerja maupun bermain game. Sisi utara menyimpan koleksi buku terbanyak.

Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi bagi Pembaca yang hendak melakukan dekorasi kamar atau ruang kerjanya!

Sisi Timur Kamar

Sisi timur adalah sisi kamar yang menghadap ke halaman belakang. Aliran udara pagi bisa masuk melalui kedua jendela secara langsung.

Pada sisi ini, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Di sebelah kanannya, terdapat rak buku tiga tingkat yang merangkap sebagai tempat laptop.

Karena bagian ini banyak berisikan barang yang menarik untuk dibeli, Penulis akan cantumkan harganya di bawah.

Keyboard Tray

Penulis akan mulai dari meja terlebih dahulu. Aslinya, meja ini merupakan meja makan yang tidak terpakai. Oleh karena itu, kakinya lumayan tinggi sehingga kurang ergonomis untuk bekerja.

Oleh karena itu, Penulis membelikan keyboard tray berukuran 60 x 30 cm di Tokopedia agar posisi keyboard dan mouse bisa lebih rendah sehingga lebih nyaman untuk digunakan bekerja.

Penulis menggunakan keyboard Logitech K380 dan mouse Logitech M331 Silent. Keduanya sama-sama wireless sehingga bisa menimbulkan kesan minimalis dan rapi.

Permukaan keyboard drawer yang Penulis beli ini memiliki permukaan licin sehingga mouse tidak bisa digunakan. Untuk mengatasi masalah ini, Penulis membeli mousepad berukuran 60×30 dengan harga murah.

Monitor dan Berbagai Akesorisnya

Beralih ke bagian atas meja. Sebagai penunjang kerja, Penulis menggunakan layar Samsung Curved 24″ LED LC24F390. Tidak alasan khusus kenapa Penulis menggunakan layar curved, biar beda saja.

Penulis juga memiliki sebuah webcam NYK Nighthawk A80 yang diletakkan di atas monitor. Alasan Penulis membelinya adalah agar ketika mendapatkan undangan interview kerja, Penulis memiliki kamera yang layak.

Di bagian belakang monitor, ada speaker Dell AY410 yang sudah cukup lama Penulis gunakan. Suaranya terdengar mantap dan jernih, cukup untuk memenuhi standar Penulis.

Di sebelah kanan monitor, ada lampu Miniso yang lebih sering Penulis gunakan ketika bekerja di malam hari. Lampu ini memiliki tiga mode pencahayaan, tapi Penulis lebih sering menggunakan mode warna kuning biar lebih estetik.

Di dekat lampu, ada sebuah gelas Mastercard yang Penulis alih-fungsikan sebagai tempat alat tulis. Ada lumayan banyak, mengingat Penulis gemar membuat catatannya terlihat warna-warni.

Penulis paling menyukai Staedtler Triplus Fineliner karena ujungnya yang kecil dan tidak mudah mblobor. Sayangnya di Malang Penulis tidak menemukan yang warna hitam, sehingga memilih Staedtler Pigment Liner berukuran 0.3 sebagai penggantinya.

Ada juga bulpen Faber Castle yang ketika zaman kuliah menjadi andalan. Sebagai pewarna, Penulis juga memiliki highlighter dari Joyko. Selebihnya adalah alat tulis biasa seperti pensil dan correction pen.

Di sebelah kiri monitor, ada sebuah jam digital dan aroma diffuser yang Penulis beli di Ace Hardware ketika diskon. Di dekatnya, ada dua buku catatan yang Penulis gunakan untuk menulis to-do-list harian.

Selebihnya adalah action figure yang baru Penulis beli. Ada Shuichi Akai dari Detective Conan, ada Midoriya dan Ochaco dari My Hero Academia. Ada juga miniatur mobil Mini Cooper dan sebuah mobil klasik yang tidak Penulis ketahui.

Manajemen Kabel

Mengingat ada banyak sekali barang elektronik di sekitar meja, kabelnya pun bisa dipastikan ada banyak sekali. Jika tidak diatur, maka meja kerja Penulis akan terlihat berantakan.

Oleh karena itu, Penulis membeli sebuah box organizer untuk menyembunyikan stop kontak Xiaomi. Selain itu, Penulis menggunakan semacam perekat untuk menyembunyikan kabel-kabel.

Trik yang Penulis gunakan adalah membuat kabel-kabel tersebut mengelilingi kaki-kaki meja. Dengan demikian, bagian tengah-belakang meja akan bersih dari kabel.

Di bagian kanan, ada sebuah rak Tevalen berwarna putih yang Penulis beli di IKEA. Bagian atas Penulis gunakan untuk menyimpan berbagai macam buku catatan, sedangkan bagian bawah untuk subwoofer dari speaker Dell yang Penulis gunakan.

Rak Buku

Di sisi kanan meja, ada sebuah rak tiga tingkat. Bagian atapnya Penulis gunakan untuk meletakkan laptop beserta berbagai akseorisnya seperti kipas dan USB Hub.

Rak pertama berisikan buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan Steve Jobs dan Apple. Maklum, Penulis lumayan mengagumi sosok beliau sehingga memiliki banyak buku biografinya.

Rak kedua dan ketiga berisikan buku-buku sejarah, baik sejarah Indonesia maupun sejarah luar negeri. Yang paling Penulis suka adalah Seri Buku Tempo dan Seri Buku Perang Eropa karya P. K. Ojong.

Selain itu, rak ini Penulis gunakan untuk menyimpan gamepad-nya. Penulis menggunakan Rexus Gladius GX100, yang sayangnya ketika tulisan ini dibuat sedang rusak.

Bagian-Bagian Lainnya

Untuk tempat duduk, Penulis menggunakan kursi gaming Rexus RGC R50 Sporty. Bukan karena Penulis suka main game, tapi lebih karena kursi ini memiliki sandaran untuk tangan dan kepala.

Tembok di sisi ini sebenarnya digunakan untuk memajang foto-foto. Hanya saja, Penulis memutuskan untuk menggantinya dengan Peta yang sebelumnya ada di tembok bagian barat.

Foto-foto tersebut Penulis pindahkan ke sisi barat dengan presisi sesempurna mungkin. Ketika proses pemasangan, Penulis menggunakan berbagai alat bantu untuk memastikan semuanya lurus.

Untuk bagian jendela, Penulis memasang tirai DIY dengan memanfaatkan kain bekas dengan sebuah tiang serbaguna. Hanya saja, tirainya gampang jatuh jika ditarik terlalu keras.

Di dekat jendela ada sebuah pajangan kucing tiga (mungkin melambangkan Penulis dan dua saudaranya) dan action figure dari My Hero Academia.

Daftar Harga

Setelah menjelaskan apa saja barang yang ada di sisi timur, Penulis ingin berbagai informasi mengenai harga-harganya. Bukan untuk pamer, hanya berbagi informasi karena siapa tahu Pembaca tertarik untuk membeli barang yang sama.

  • Keyboard Tray: Rp150.000
  • Keyboard Logitech L380: Rp355.000
  • Mouse Logitech M331 Silent: Rp177.000
  • Mouse Pad Motif Peta: Rp26.800
  • Samsung Curved 24″ LED LC24F390: Rp1.650.000
  • Webcam NYK Nighthawk A80: Rp350.000
  • Speaker Dell AY410: Rp650.000
  • Lampu Miniso: Rp120.000
  • Jam Kayu Digital: Rp109.000
  • Ultrasmith Aroma Diffuser: Rp199.000
  • Action Figure Shuichi Akai: Rp49.000
  • Action Figure My Hero Academia Set (5pcs): Rp150.000
  • Box Organizer: Rp55.000
  • Rak IKEA Tevalen: Rp120.000
  • Cooling Pad Havit HV-F2050: Rp165.000
  • Gamepad Rexus Gladius GX100: Rp245.000
  • Kursi Gaming Rexus RGC R50 Sporty: Rp1.450.000
  • Peta Dunia + Pigura: Rp88.200 + Rp300.000
  • Tiang Gorden: Rp18.700

Penutup

Kurang lebih seperti itu penjelasan mengenai sisi kamar bagian timur. Sisi ini menjadi bagian yang paling produktif jika dibandingkan sisi kamar lainnya.

Selanjutnya Penulis akan membahas mengenai sisi kamar bagian utara, sisi kamar yang menyimpan segudang koleksi buku Penulis dan berbagai macam jenis pajangan dinding!

Lawang, 11 Maret 2021, terinspirasi setelah menyelesaikan dekorasi ulang sisi timur kamar

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan