Pengembangan Diri

The Hardest Part of Ending is Starting Again

Published

on

Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul “Waiting for the End” dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter.

Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul The Hardest Part of Ending is Starting Again. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.

Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya “menari di atas keyboard” untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.

Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat

Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu quote menarik dari buku Slow Steps karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:

Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.

Kata “meninggalkan” identik dengan suatu akhir atau ending. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.

Dalam tulisan Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih, Penulis telah membahas sedikit tentang sunk cost bias. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya “investasi” yang telah dikeluarkan.

Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.

Begitu juga tentang karier. Saat kita telah stay cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.

Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal.

Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat

Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.

Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama.

Ketika kita terpikir untuk resign, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari apply lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan jobdesk baru.

Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.

Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, just do it. Mulai aja dulu. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.

Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat

Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.

Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau task, Penulis akan melakukan breakdown dan membaginya menjadi task-task kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.

Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan draft, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.

Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu task yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:

  • Breakdown isi portofolio
  • Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio
  • Mencari referensi desain portofolio di Canva
  • Membuat draft kosongan 5 halaman
  • Dan seterusnya

Penulis yang perfeksionis ini kerap menunggu “waktu ideal” untuk memulai sesuatu. Padahal, hal tersebut tidak ada, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi task-task yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.

Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.

Penutup

Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu “Waiting for the End”. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.

Dalam perjalanannya, Penulis menemukan quote buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.

Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat karena kita belum memulainya. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.

Oleh karena itu, mulai dari yang kecil-kecil bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. Just keep moving, just keep pushing. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.


Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton Linkin Park: Unshatter

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Fanandi's Choice

Exit mobile version