<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>alasan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/alasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/alasan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>alasan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/alasan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Apa Belajar Sejarah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2020 11:23:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tweet milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran Sejarah tidak wajib untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa. Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut. Nadiem Makarim selaku Mendikbud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari <em>tweet </em>milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat <strong>mata pelajaran Sejarah tidak wajib</strong> untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa.</p>
<p>Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut.</p>
<p>Nadiem Makarim selaku Mendikbud sudah memberikan klarifikasi dengan menyatakan rencana ini sebenarnya merupakan materi yang hanya dibahas di dalam internal dan tanpa sengaja bocor ke publik.</p>
<p>Terlepas dari mana yang benar, Penulis secara pribadi tidak setuju jika mata pelajaran ini dihapuskan. Selain karena menyukainya, ada banyak alasan mengapa kita butuh belajar sejarah.</p>
<h3>Mengetahui Peristiwa-Peristiwa di Masa Lampau</h3>
<p>Apa jadinya jika kita tidak mengetahui kapan Indonesia merdeka? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu siapa <em>founding father </em>kita? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu berapa lama kita dijajah oleh bangsa asing secara kejam?</p>
<div id="attachment_4061" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4061" class="size-large wp-image-4061" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4061" class="wp-caption-text">Pengetahuan Dasar (<a href="https://proklamator.id/dua-bung-dwitunggal-abadi-sukarno-hatta/"><span class="pM4Snf">Proklamator</span></a>)</p></div>
<p>Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika kita tidak pernah mempelajari sejarah. Ada banyak peristiwa penting yang akan terlupakan begitu saja.</p>
<p>Dengan mempelajari sejarah, kita bisa <strong>mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau</strong>. Ini alasan yang paling dasar, menambah pengetahuan kita.</p>
<p>Percayalah, akan ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sejarah.</p>
<h3>Sebagai Refleksi</h3>
<p>Dari pengalaman Penulis, pelajaran sejarah memang kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan karena harus menghafalkan banyak sekali materi. Apalagi yang berkaitan dengan angka seperti tanggal, minta ampun rasanya.</p>
<div id="attachment_4062" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4062" class="size-large wp-image-4062" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4062" class="wp-caption-text">Berkaca Pada Masa Lalu (<a href="https://tirto.id/dosa-dan-jasa-soeharto-untuk-indonesia-chKe">Tirto</a>)</p></div>
<p>Seharusnya, sejarah tidak dijadikan hanya sebagai hafalan semata. Kita harus bisa menjadikan berbagai peristiwa di masa lampau <strong>sebagai refleksi untuk masa sekarang</strong>.</p>
<p>Penulis pernah membaca kalau kejadian hari ini hanyalah sejarah yang berulang. Ada pola-pola yang kerap berulang di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dari <em>Zenius</em>, Penulis mengetahui kalau ada tiga pola yang kerap berulang di dalam sejarah:</p>
<ol>
<li>Penguasa terkuat selalu yang paling toleran</li>
<li>Tidak ada harga yang naik selamanya</li>
<li>Pemerintahan dengan kontrol ekstrim, berujung pada pelanggaran HAM</li>
</ol>
<p>Kalau kita mengalami salah satu dari tiga kondisi yang terpapar di atas, seharusnya kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan mempelajari sejarah.</p>
<h3>Menumbuhkan Empati</h3>
<p>Memang pahit, tapi kebanyakan peristiwa sejarah yang kita pelajari merupakan peristiwa yang kelam, bahkan menakutkan. Perang, pembantaian, krisis, dan lain sebagainya.</p>
<div id="attachment_4063" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4063" class="size-large wp-image-4063" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4063" class="wp-caption-text">Menambah Rasa Syukur (<a href="https://eaworldview.com/2019/03/yemen-forgotten-war-will-britain-ever-care/">EA Worldview</a>)</p></div>
<p>Namun, mempelajari itu semua dapat <strong>menumbuhkan empati </strong>dari dalam diri. Tumbuh rasa syukur karena kita tidak perlu mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban di dalam sejarah.</p>
<p>Ada banyak sekali nilai moral yang bisa kita petik dari peristiwa-peristiwa sejarah dan ini tidak bisa kita dapatkan dengan mudah di era yang egosentris seperti sekarang.</p>
<p>Ketika melihat kenyataan bahwa kebanyakan generasi milenial sekarang cenderung apatis dan acuh terhadap sekitarnya, bisa jadi karena rendahnya minat mereka untuk mempelajari sejarah.</p>
<h3>Memunculkan Inspirasi Sekaligus Motivasi</h3>
<p>Karena Penulis lebih sering membaca daripada menonton, Penulis terbiasa untuk berimajinasi ketika membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah yang sedang dibaca. Dari imajinasi tersebut, terkadang <strong>berubah menjadi inspirasi</strong>.</p>
<div id="attachment_4064" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4064" class="size-large wp-image-4064" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4064" class="wp-caption-text">Sejarah yang Menginspirasi (<a href="https://www.newsweek.com/garage-band-68117">Newsweek</a>)</p></div>
<p>Contoh ketika Penulis membaca sejarah berdirinya Apple, Penulis jadi bercita-cita untuk bisa punya perusahaan sendiri karena tahu Steve Jobs memulai perusahaannya dari garasi rumahnya.</p>
<p>Sejarah juga <strong>bisa menjadi motivasi</strong> yang baik. Jika mengalami kegagalan, biasanya Penulis teringat Thomas Alva Edison yang gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Gagal masuk perguruan tinggi? Albert Einstein pernah tidak lulus sekolah.</p>
<p>Mereka yang jenius saja bisa mengalami gagal, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Kita memang harus terjatuh agar bisa belajar untuk bangkit.</p>
<h3>Meningkatkan Kemampuan Analisa dan Berpikir Kritis</h3>
<p>Menurut Budiman Sujatmiko, mempelajari sejarah juga mampu <strong>meningkatkan kemampuan analisa dan mengasah logika</strong>. Bagaimana caranya? Dengan membayangkan jika sebuah peristiwa terjadi secara berbeda dari kenyataannya.</p>
<div id="attachment_4065" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4065" class="size-large wp-image-4065" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/untuk-apa-belajar-sejarah-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4065" class="wp-caption-text">Mengasah Pikiran (<a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Dunkirk">Wikipedia</a>)</p></div>
<p>Misalkan ketika peristiwa <em>Dunkirk</em> yang terkenal hingga diangkat menjadi sebuah film. Bagaimana seandainya Hitler memutuskan untuk menghabisi Pasukan Inggris dan Prancis yang sudah terjepit?</p>
<p>Apakah Jerman akan menjadi pemenang mutlak dan fasisme akan menguasai tanah Eropa? Apakah Amerika Serikat akan jadi ragu untuk mengirimkan bala bantuan? Apakah umat Yahudi akan benar-benar habis di kamp konsentrasi?</p>
<p>Mempelajari sejarah juga akan mengajak kita untuk <strong>berpikir kritis</strong> sehingga tidak mudah terbawa arus. Belajar sejarah membuat kita terbiasa untuk mengolah informasi.</p>
<p>Orang yang mempelajari sejarah seharusnya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">tidak akan mudah terpengaruh hoaks</a> karena pola pikirnya sudah terlatih untuk melihat peristiwa dari berbagai sudut.</p>
<p>Selain itu, kemampuan-kemampuan ini akan sangat bermanfaat jika kita sudah terjun ke dunia kerja dan berada di tengah-tengah masyarakat.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Itulah beberapa alasan yang Penulis rasakan sendiri selama mempelajari sejarah. Jika sedang berbincang dengan orang lain (terutama anak-anak <a href="https://whathefan.com/category/karang-taruna/">Karang Taruna</a>), Penulis berusaha menyisipkan ilmu-ilmu sejarah yang Penulis ketahui kepada mereka.</p>
<p>Dari koleksi buku Penulis, ada berbagai macam topik sejarah yang bisa ditemukan seperti sejarah Perang Eropa, era Napoleon, biografi tokoh-tokoh Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali hal yang Penulis pelajari dari sana. Banyak sekali.</p>
<p>Belajar sejarah itu penting. <em>Quote</em> dari George Santayana di bawah ini menjadi penutup yang pas untuk tulisan ini:</p>
<blockquote><p>Those who do not remember the past are condemned to repeat it.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 September 2020, terinspirasi setelah membaca <em>tweet </em>dari Budiman Sujatmiko</p>
<p>Foto: <a href="https://id.pinterest.com/pin/316377942555858957/">Pinterest</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://twitter.com/budimandjatmiko/status/1306961192355639297">Twitter</a>, <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/20/173036965/klarifikasi-mendikbud-nadiem-soal-isu-penghapusan-pelajaran-sejarah?page=all">Kompas</a>, <a href="https://www.zenius.net/blog/14435/untuk-apa-belajar-sejarah">Zenius</a>, <a href="https://www.simulasikredit.com/alasan-mengapa-penting-belajar-sejarah/#:~:text=Terlepas%20suka%20atau%20tidak%2C%20belajar,sebab%20segala%20sesuatu%20memiliki%20sejarah.">SimulasiKredit</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2020 15:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hoax mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin. Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat. Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hoax</strong> mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin.</p>
<p>Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat.</p>
<p>Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu akan disebarkan oleh generasi <em>boomer</em>. Di sisi lain, generasi milenial akan berusaha membantah dengan memberikan data dan fakta yang sebenarnya. Terjadi sebaliknya pun harusnya ada.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa ada orang suka membuat hoax alias berita palsu?</p>
<h3>Alasan Membuat Hoax</h3>
<p>Penulis mencoba membayangkan menjadi seorang pembuat hoax. Apa kira-kira yang menjadi motivasi terbesar Penulis untuk membuat sebuah hoax?</p>
<div id="attachment_3604" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3604" class="size-large wp-image-3604" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3604" class="wp-caption-text">Hoax untuk Adu Domba (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.reddit.com/r/NatureIsFuckingLit/comments/a1k7zf/two_badass_sheep_about_to_break_into_a_brawl_on_a/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIDTrdDSg-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Reddit"><span class="pM4Snf">Reddit</span></a>)</p></div>
<p>Jika musim Pemilu alasannya jelas, <strong>untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik</strong>. Taktik kotor seperti ini sangat mudah ditemui. Fitnah dan adu domba saling diperlihatkan dengan kejamnya.</p>
<p>Mereka juga bisa membuat hoax karena <strong>memang dibayar untuk membuatnya</strong><em>. </em>Entah berapa tarifnya, tapi rasanya memang ada orang-orang yang hidup dari pekerjaan seperti itu.</p>
<p><em>Tapi bagaimana dengan kasus lain seperti hoax seputar virus Corona?</em></p>
<p>Bisa jadi karena ingin <strong>menimbulkan kepanikan di masyarakat</strong>. Kita mudah merasa panik hanya dengan membaca sekilas sebuah judul berita, sehingga ada orang-orang yang ingin memanfaatkan hal tersebut.</p>
<p>Untuk apa membuat orang lain panik? Ada alasan karena <strong>faktor ekonomi</strong>. Seperti yang kita ketahui, bagaimana meroketnya harga masker dan alat kebersihan lainnya. Ada pihak yang diuntungkan di sini.</p>
<p>Kenaikan harganya benar-benar kelewat batas dan ada orang-orang tak bermoral yang justru memanfaatkan situasi ini. Barang sembako habis diborong orang-orang kaya hingga berisiko menyusahkan yang lebih membutuhkan.</p>
<p>Membuat orang lain panik juga bisa jadi hanya <strong>menjadi sebuah kesenangan</strong> bagi seseorang. Sama seperti kata Alfred dalam film <em>The Dark Knight:</em></p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=efHCdKb5UWc[/embedyt]</p>
<p><em>Some man just want to watch the world burn</em>. Ada orang-orang yang memang hanya ingin terjadi kekacauan di muka bumi ini. Mungkin terlihat terlalu didramatisir, tapi Penulis meyakini hal tersebut benar adanya.</p>
<p>Ada beberapa alasan lain, seperti <strong>mencari sensasi dan perhatian</strong>,<strong> kurang kerjaan</strong>, <strong>bentuk propaganda</strong>, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak alasan untuk membuat hoax.</p>
<h3>Alasan Menyebar Hoax</h3>
<p>Pembuat hoax mungkin tipe orang yang berada di dalam sunyi dan membiarkan karyanya tersebar dengan sendirinya. Nah, kita yang ikut menyebar juga memiliki andil terhadap suburnya hoax.</p>
<div id="attachment_3603" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3603" class="size-large wp-image-3603" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3603" class="wp-caption-text">Sarang Hoax? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.indoindians.com/join-the-indoindians-whatsapp-group/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiJ642R0oPoAhXTxjgGHVRLBAAQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indoindians.com</span></a>)</p></div>
<p>Tingkat literasi kita sangat rendah. Artinya, kita terlalu malas untuk sekadar membaca dan <strong>memastikan apa yang kita baca benar atau salah</strong>.</p>
<p>Hal ini diperparah jika kita termasuk orang yang mudah percaya sebuah informasi begitu saja. Sekali terlihat ilmiah dan meyakinkan, kita langsung meyakini kalau hal tersebut benar.</p>
<p>Para penyebar hoax ini terkadang <strong>merasa bangga</strong> karena merasa sebagai orang pertama yang menyebarkan berita penting. Apalagi, kalau berita tersebut tidak tayang di media <em>mainstream </em>dengan alasan sengaja ditutup-tutupi.</p>
<p><strong>Sensasi yang didapatkan ketika menyebarkan berita menghebohkan</strong> juga menjadi alasan kuat lainnya. Secara tidak langsung kita akan terlihat sebagai orang penting dan mendapatkan perhatian berlebih.</p>
<p>Belum lagi jika hoax tersebut diawali dengan kalimat-kalimat positif dan merujuk ke sebuah kelompok tertentu. Misalnya seperti <em>seorang muslim wajib tahu </em>atau <em>sebarkan kalau kamu peduli dengan bangsa ini.</em></p>
<p>Hal ini disebut sebagai <em><strong>Efek Barnum</strong></em>, di mana suatu pesan terasa ditujukan kepada kita padahal bersifat umum. Karena kita merasa sebagai orang yang disebut dalam hoax tersebut, kita pun merasa bertanggung jawab untuk menyebarkannya kepada orang lain.</p>
<p>Tak heran hoax bisa berantai-rantai seperti sekarang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Seandainya setiap mendapatkan berita kita akan melakukan verifikasi terlebih dahulu, hoax akan kesulitan untuk tumbuh. Perlahan, ia akan rontok dengan sendirinya.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut nampaknya masih belum akan terealiasi dalam waktu dekat. Jika kesadaran masyarakat terhadap hoax masih rendah seperti sekarang, hoax masih akan tersebar di grup-grup WhatsApp dan media-media lain dengan masifnya.</p>
<p>Bisakah kita menghentikan aksi para pembuat hoax? Bisa, dengan cara tidak mempercayainya dan selalu melakukan pengecekan fakta. Kita juga harus saling mengingatkan jika ada orang lain yang menyebarkan hoax.</p>
<p>Mungkin memang tidak bisa memberantas habis para pelaku hoax. Setidaknya, kita sudah berbuat sesuatu untuk melawan para pembohong tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita hoax seputar virus Corona</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://famous.brilio.net/video/discover/inilah-alasan-orang-gemar-menyebar-hoax-170706u.html">Brilio</a>, <a href="https://tirto.id/mengapa-kita-suka-hoax-bFhl">Tirto</a>, <a href="https://id.quora.com/Mengapa-orang-membuat-berita-hoax">Quora</a>, <a href="https://www.kompasiana.com/atsalis/5b1e3150bde5754a3e7da6a2/inilah-mengapa-masyarakat-indonesia-masih-sering-menyebarkan-hoax">Kompasiana</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2019 17:39:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[katar]]></category>
		<category><![CDATA[ketua]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[organigasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel Dulu Kerja di Mana?, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa? Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel <a href="http://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a>, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa?</p>
<p>Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia</a> berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di tempat penulis tinggal (untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di artikel <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Kelahiran Gen X SWI</a>).</p>
<p>Semenjak kelahirannya, Karang Taruna memiliki begitu banyak program kerja seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-english-day/">SWI English Day</a>, hingga <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>. Ada juga acara spesial seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> dan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/gen-x-swi-awards/">Gen X SWI Awards</a>.</p>
<p>Semua proker tersebut tentu bukan tanpa kendala. Mengatur anggota yang rata-rata masih berada di usia sekolah bukan perkara mudah. Salah satu yang sering memicu emosi penulis adalah kurang aktifnya anggota ketika sedang rapat.</p>
<p>Beberapa anggota cenderung pasif ketika rapat dan menerima apapun keputusan yang diambil. Padahal, diadakannya rapat internal bertujuan untuk meningkatkan sikap kritis anggota. Jika di forum kecil saja tak bersuara, bagaimana di tempat yang lebih besar?</p>
<p>Selain itu, banyaknya anggota yang enggan untuk ikut serta ketika ada kegiatan Karang Taruna juga cukup membuat penulis stres. Memang itu hak mereka untuk tidak berpartisipasi, tapi bukankah salah satu tujuan dibentuknya Karang Taruna adalah sebagai tempat berkumpulnya para remaja?</p>
<p>Contoh dua masalah tersebut tidak membuat penulis patah semangat. Sebaliknya, penulis jadi semakin ingin membantu mereka untuk berkembang menjadi generasi yang lebih aktif (walaupun yang bersangkutan belum tentu ingin dibantu).</p>
<p>Jadi, mungkin jawaban pertanyaan &#8220;kenapa menghabiskan waktu untuk Karang Taruna?&#8221; adalah penulis ingin menyalurkan kepedulian penulis terhadap perkembangan generasi muda Indonesia mulai dari lingkup terkecil, yakni lingkungan penulis sendiri.</p>
<p>Untuk pribadi penulis sendiri, dengan aktif di Karang Taruna (apalagi sebagai ketua), penulis bisa berkontribusi untuk lingkungan penulis. Penulis tidak ingin hanya hidup sekadar &#8220;menumpang tidur&#8221;. Penulis ingin meninggalkan jejak, jejak yang kini sedang dilanjutkan oleh <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">ketua baru</a>.</p>
<p>Jawaban terakhir dari pertanyaan tersebut adalah penulis memiliki misi pribadi sebagai seorang ketua untuk <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a> yang kuat. Demi kuatnya fondasi tersebut, penulis harus mengalokasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.</p>
<p>Karang Taruna dengan kepengurusan yang baru sudah berjalan sekitar enam bulan. Tentu mereka akan mengalami kendala, apalagi penulis cukup dominan ketika memimpin, dan itu merupakan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">satu kesalahan penulis sebagai ketua</a>.</p>
<p>Penulis sekarang hanya bisa <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/memantau-dari-jauh/">memantau mereka dari jauh</a>, mengamati bagaimana mereka mengelola organisasi yang telah kami bangun bersama-sama. Tentu penulis mengharapkan mereka bisa lebih sukses, karena dengan demikian, penulis tidak perlu menyesal telah mengorbankan waktu demi mereka.</p>
<p>Ah, seharusnya penulis tak perlu merasa menyesal apapun yang terjadi. Bukankah yang namanya cinta <a href="http://whathefan.com/renungan/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">sejatinya tidak perlu merasa berkorban</a>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi setelah mengamati perkembangan Karang Taruna setelah 6 bulan penulis tinggal</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan dan Prioritas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2018 08:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Penulis dan Organisasi Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.</p>
<p><strong>Penulis dan Organisasi</strong></p>
<p>Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua organisasi tersebut, penulis tidak bisa menonjol di semua organisasi yang penulis ikuti. Hanya menjadi anggota rata-rata yang ketidakhadirannya tidak terlalu berpengaruh. Pernah sih di organisasi kampus menjadi wakil ketua, namun karena ada masalah membuat penulis harus mundur dari organisasi tersebut.</p>
<p>Apa penyebabnya? Dulu, penulis sering menyalahkan faktor eksternal. Contohnya, merasa lingkungan organisasi yang kurang membuat nyaman dan terlalu memprioritaskan studi. Apalagi yang penulis salahkan? Merasa dirinya introvert sehingga susah untuk berbaur dengan lingkungan.</p>
<p>Namun setelah penulis renungi, sebenarnya hanya satu permasalahannya. Penulis kurang aktif dalam berorganisasi. Penulis tidak menempatkan tanggungjawab organisasi sebagai prioritas.</p>
<div id="attachment_1432" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1432" class="size-large wp-image-1432" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1432" class="wp-caption-text">Prioritas (fearlessmotivation.com)</p></div>
<blockquote><p>Ada istilah yang menyebutkan bahwa tidak ada yang namanya <strong>tidak sempat</strong>. Yang ada <strong>tidak diprioritaskan</strong>.</p></blockquote>
<p>Agar bisa menghindari tugas organisasi, munculah beribu alasan. Alasan  selalu mudah dicari, tidak perlu berbohong. Misal, ada kegiatan OSIS, kita berasalan bahwa kita tidak ingin ketinggalan pelajaran di kelas.</p>
<p>Paragraf ketiga merupakan contoh-contoh alasan lain yang kita kemukakan untuk mengelak dari tanggungjawab. Kita melakukan itu semua, salah satu dasarnya adalah tidak menempatkan apa yang seharusnya menjadi tanggungjawab pada daftar prioritas diri kita.</p>
<p><strong>Menebus Dosa Melalui Karang Taruna</strong></p>
<p>Setelah menyadari kesalahan tersebut, penulis berusaha menebus kesalahannya ketika menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Penulis mencurahkan perhatian sepenuh hati dan berkomitmen mengembangkan organisasi ini.</p>
<p>Atau malah sebaliknya, gara-gara penulis menjabat sebagai ketua Karang Taruna, penulis menyadari betapa bernilainya sebuah komitmen. Sesuatu yang tidak penulis lihat karena dari dulu penulis hanya menjadi anggota dalam sebuah organisasi, tidak pernah menjadi pemimpin.</p>
<p>Namanya organisasi, apalagi diisi oleh remaja yang emosinya belum stabil, tentu sering terjadi kasus anggota tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Atau yang lebih parah, tidak hadir dengan alasan yang dibuat-buat.</p>
<p>Ketika menghadapi hal tersebut, penulis merasa ditampar oleh masa lalu. Penulis disadarkan, bahwa inilah yang dirasakan oleh teman-teman organisasi ketika penulis berbuat hal yang sama. Betapa menyakitkan ketika orang-orang yang kita harapkan tidak bisa membantu karena kurangnya komitmen mereka.</p>
<div id="attachment_1433" style="width: 560px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1433" class="size-full wp-image-1433" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png" alt="" width="550" height="295" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png 550w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 550px) 100vw, 550px" /><p id="caption-attachment-1433" class="wp-caption-text">Karma (https://www.facebook.com/karmacambodia/</p></div>
<p>Penulis percaya hukum karma, apa yang kita beri apa yang kita terima, apa yang kita tanam itu yang kita petik. Penulis merasa <em>dihukum</em> atas kesalahan-kesalahan masa lalu dengan terulangnya apa yang penulis lakukan dulu pada organisasi yang pernah penulis ikuti.</p>
<p>Jika ada teman-teman organisasi yang membaca tulisan ini, penulis minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah penulis buat. Penulis telah menyadari kesalahannya, dan semoga tidak akan terjadi lagi di masa depan.</p>
<p>Dan untuk pembaca, semoga bisa memetik hikmah dari sepercik kisah penulis ini, terutama generasi-generasi yang lebih muda dari penulis. Jangan sampai kesalahan penulis terulang pada kalian.</p>
<p>Ketika kalian masuk ke dalam organisasi tanpa paksaan, itu menandakan kalian harus mengikat komitmen dengannya dan masukkan kepentingan organisasi pada daftar prioritas kalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Oktober 2018, terinspirasi setelah menerungi kesalahan di masa lalu</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/9VPtNW84vGI?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Patryk Sobczak</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/contemplation?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
