Connect with us

Sosial Budaya

Untuk Apa Belajar Sejarah?

Published

on

Berawal dari tweet milik Budiman Sujatmiko, Penulis mengetahui rencana pemerintah untuk membuat mata pelajaran Sejarah tidak wajib untuk anak sekolah. Wacana ini muncul sebagai bentuk penyederhanaan kurikulum untuk siswa.

Hal ini tentu menimbulkan pro kontra di masyarakat. Apalagi, isu ini muncul menjelang peringatan 30 September sehingga banyak yang mengkaitkannya dengan peristiwa naas tersebut.

Nadiem Makarim selaku Mendikbud sudah memberikan klarifikasi dengan menyatakan rencana ini sebenarnya merupakan materi yang hanya dibahas di dalam internal dan tanpa sengaja bocor ke publik.

Terlepas dari mana yang benar, Penulis secara pribadi tidak setuju jika mata pelajaran ini dihapuskan. Selain karena menyukainya, ada banyak alasan mengapa kita butuh belajar sejarah.

Mengetahui Peristiwa-Peristiwa di Masa Lampau

Apa jadinya jika kita tidak mengetahui kapan Indonesia merdeka? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu siapa founding father kita? Apa jadinya jika kita tidak pernah tahu berapa lama kita dijajah oleh bangsa asing secara kejam?

Pengetahuan Dasar (Proklamator)

Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi jika kita tidak pernah mempelajari sejarah. Ada banyak peristiwa penting yang akan terlupakan begitu saja.

Dengan mempelajari sejarah, kita bisa mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau. Ini alasan yang paling dasar, menambah pengetahuan kita.

Percayalah, akan ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari sejarah.

Sebagai Refleksi

Dari pengalaman Penulis, pelajaran sejarah memang kerap dianggap sebagai pelajaran yang membosankan karena harus menghafalkan banyak sekali materi. Apalagi yang berkaitan dengan angka seperti tanggal, minta ampun rasanya.

Berkaca Pada Masa Lalu (Tirto)

Seharusnya, sejarah tidak dijadikan hanya sebagai hafalan semata. Kita harus bisa menjadikan berbagai peristiwa di masa lampau sebagai refleksi untuk masa sekarang.

Penulis pernah membaca kalau kejadian hari ini hanyalah sejarah yang berulang. Ada pola-pola yang kerap berulang di dalam kehidupan ini.

Dari Zenius, Penulis mengetahui kalau ada tiga pola yang kerap berulang di dalam sejarah:

  1. Penguasa terkuat selalu yang paling toleran
  2. Tidak ada harga yang naik selamanya
  3. Pemerintahan dengan kontrol ekstrim, berujung pada pelanggaran HAM

Kalau kita mengalami salah satu dari tiga kondisi yang terpapar di atas, seharusnya kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan dengan mempelajari sejarah.

Menumbuhkan Empati

Memang pahit, tapi kebanyakan peristiwa sejarah yang kita pelajari merupakan peristiwa yang kelam, bahkan menakutkan. Perang, pembantaian, krisis, dan lain sebagainya.

Menambah Rasa Syukur (EA Worldview)

Namun, mempelajari itu semua dapat menumbuhkan empati dari dalam diri. Tumbuh rasa syukur karena kita tidak perlu mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban di dalam sejarah.

Ada banyak sekali nilai moral yang bisa kita petik dari peristiwa-peristiwa sejarah dan ini tidak bisa kita dapatkan dengan mudah di era yang egosentris seperti sekarang.

Ketika melihat kenyataan bahwa kebanyakan generasi milenial sekarang cenderung apatis dan acuh terhadap sekitarnya, bisa jadi karena rendahnya minat mereka untuk mempelajari sejarah.

Memunculkan Inspirasi Sekaligus Motivasi

Karena Penulis lebih sering membaca daripada menonton, Penulis terbiasa untuk berimajinasi ketika membayangkan peristiwa-peristiwa sejarah yang sedang dibaca. Dari imajinasi tersebut, terkadang berubah menjadi inspirasi.

Sejarah yang Menginspirasi (Newsweek)

Contoh ketika Penulis membaca sejarah berdirinya Apple, Penulis jadi bercita-cita untuk bisa punya perusahaan sendiri karena tahu Steve Jobs memulai perusahaannya dari garasi rumahnya.

Sejarah juga bisa menjadi motivasi yang baik. Jika mengalami kegagalan, biasanya Penulis teringat Thomas Alva Edison yang gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan lampu pijar. Gagal masuk perguruan tinggi? Albert Einstein pernah tidak lulus sekolah.

Mereka yang jenius saja bisa mengalami gagal, apalagi kita yang biasa-biasa ini. Kita memang harus terjatuh agar bisa belajar untuk bangkit.

Meningkatkan Kemampuan Analisa dan Berpikir Kritis

Menurut Budiman Sujatmiko, mempelajari sejarah juga mampu meningkatkan kemampuan analisa dan mengasah logika. Bagaimana caranya? Dengan membayangkan jika sebuah peristiwa terjadi secara berbeda dari kenyataannya.

Mengasah Pikiran (Wikipedia)

Misalkan ketika peristiwa Dunkirk yang terkenal hingga diangkat menjadi sebuah film. Bagaimana seandainya Hitler memutuskan untuk menghabisi Pasukan Inggris dan Prancis yang sudah terjepit?

Apakah Jerman akan menjadi pemenang mutlak dan fasisme akan menguasai tanah Eropa? Apakah Amerika Serikat akan jadi ragu untuk mengirimkan bala bantuan? Apakah umat Yahudi akan benar-benar habis di kamp konsentrasi?

Mempelajari sejarah juga akan mengajak kita untuk berpikir kritis sehingga tidak mudah terbawa arus. Belajar sejarah membuat kita terbiasa untuk mengolah informasi.

Orang yang mempelajari sejarah seharusnya tidak akan mudah terpengaruh hoaks karena pola pikirnya sudah terlatih untuk melihat peristiwa dari berbagai sudut.

Selain itu, kemampuan-kemampuan ini akan sangat bermanfaat jika kita sudah terjun ke dunia kerja dan berada di tengah-tengah masyarakat.

Penutup

Itulah beberapa alasan yang Penulis rasakan sendiri selama mempelajari sejarah. Jika sedang berbincang dengan orang lain (terutama anak-anak Karang Taruna), Penulis berusaha menyisipkan ilmu-ilmu sejarah yang Penulis ketahui kepada mereka.

Dari koleksi buku Penulis, ada berbagai macam topik sejarah yang bisa ditemukan seperti sejarah Perang Eropa, era Napoleon, biografi tokoh-tokoh Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Ada banyak sekali hal yang Penulis pelajari dari sana. Banyak sekali.

Belajar sejarah itu penting. Quote dari George Santayana di bawah ini menjadi penutup yang pas untuk tulisan ini:

Those who do not remember the past are condemned to repeat it.

 

 

Lawang, 22 September 2020, terinspirasi setelah membaca tweet dari Budiman Sujatmiko

Foto: Pinterest

Sumber Artikel: Twitter, Kompas, Zenius, SimulasiKredit

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Sosial Budaya

Safa, Fanatisme Idola, dan Hubungan Parasosial

Published

on

By

Baru-baru ini, ada kejadian yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Mungkin Pembaca juga sudah tahu mengenai kasus Safa yang “disidang” secara daring di Space Twitter akibat ulahnya yang melakukan hate speech kepada member boyband asal Korea, NCT.

Kasus ini sempat membuatnya menjadi trending topic di internet. Bahkan, beberapa public figure sudah membuat semacam video reaction yang menyoroti betapa “uniknya” kasus ini di mata mereka dan menunjukkan betapa gregetan-nya mereka.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin mencoba menjabarkan akar permasalahan ini sekaligus mencoba untuk mencari hikmah apa yang bisa kita dapatkan dari perisitiwa yang bagi sebagian orang dianggap konyol dan norak ini.

Rangkuman Kasus Safa di Twitter

Safa Space (via YouTube)

Safa merupakan solostan, istilah untuk menyebutkan penggemar yang hanya mengidolakan salah satu member dari sebuah kelompok. Nah, ia pun melancarkan hate speech ke member NCT lain yang tidak ia idolakan, bahkan menggunakan istilah-istilah yang sangat buruk.

Nah, para penggemar member yang dihina dan fans NCT secara umum merasa gerah dengan perbuatan Safa ini. Jika mengamati media sosial, Safa sebenarnya sempat ditegur secara personal, tetapi tidak ada perubahan dan ia tetap mengeluarkan hate speech.

Alhasil, akhirnya dibentuklah Space tersebut dengan Safa sebagai “tertuduh” utama. Entah berapa orang yang ikut menyidang Safa pada momen tersebut. Sampai di titik ini, kita masih bisa melihat kewajaran mengapa Safa sampai terseret kasus ini.

Safa dituntut untuk membuat surat pernyataan minta maaf di atas materai dan ditandatangani orang tua, serta membuat semacam video klarifikasi. Hal ini ditolak Safa karena dianggap melanggar privasinya. Penolakan inilah yang menjadi trigger kemarahan orang-orang yang berada di dalam Space tersebut.

Bahkan, ada satu orang yang menggunakan semacam power abuse untuk mengintimidasi Safa dengan menyebutkan berbagai anggota keluarga dan kenalannya yang memiliki pengaruh, mulai kader Golkar sampai anggota tentara dan kepolisian.

Tidak hanya itu, ia juga memberikan ancaman kalau dirinya bisa membuat ayah Safa, yang juga merupakan polisi, untuk dimutasi atau diturunkan pangkatnya. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya akan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan dasar UU ITE.

Iya, Safa diancam akan dibawa ke kepolisian “hanya” karena menghina idol Korea yang bahkan tidak tahu kalau mereka eksis di dunia ini.

Ancaman memidanakan Safa tidak hanya dilakukan oleh mbak-mbak berusia 29 tahun dan aktivis HAM ini, melainkan dilakukan oleh anggota Space yang lain juga. Bahkan, ada yang mengaku sebagai “emaknya” atau perwakilan dari anggota NCT.

Menghadapi serangan dari berbagai arah, Safa terlihat mampu mengendalikan diri dan tidak kalah begitu saja. Ia mengakui perbuatan salahnya, tetapi ia menganggap memperkarakan ini hanya akan ditertawakan oleh pihak yang berwajib.

Penulis kurang tahu pasti bagaimana ending dari Space tersebut. Penulis sempat membaca kalau Space tersebut ditutup ketika Safa bertanya apa kesimpulan dari diskusi tersebut karena ia harus mengerjakan tugasnya.

Fanatisme Idola

Begitu Fanatik kepada Idola (via The Star)

Kebanyakan netizen pun berpendapat bahwa apa yang dilakukan orang-orang di dalam Space tersebut sangat berlebihan. Sebegitu hebatnya mereka membela idol mereka hingga rasanya bagi kita mereka begitu aneh dan norak.

Melihat kasus tersebut, tentu banyak orang (termasuk Penulis) yang menganggapnya sebagai sebuah fanatisme. Apalagi, ini menyangkut tentang penggemar K-Pop yang sudah kadung dicap publik sebagai kalangan penggemar yang paling “keras” dan tidak bisa disenggol.

Sebenarnya, fanatisme terhadap seorang idola tidak hanya terlihat dari penggemar K-Pop. Fanatisme seseorang juga bisa terjadi kepada sosok politik, klub bola, karakter anime, aktor film, dan masih banyak lagi lainnya.

Bahkan, terkadang fanatisme terhadap hal-hal tersebut telah memberikan dampak yang lebih parah daripada menyidang Safa di Twitter. Contoh, suami-istri yang cerai karena beda pilihan calon presiden atau kematian akibat perkelahian antarklub sepak bola.

Penulis merasa penasaran dengan adanya fenomena fantisme yang berlebihan ini, sehingga memutuskan untuk bertanya kepada seorang kawan (sebut saja Naufal) yang Penulis anggap cukup “ahli” dalam memberikan pendapat dalam kasus-kasus seperti ini.

Hyperreality dan Hubungan Parasosial

Istilah Halus untuk Menggambarkan Halu? (via Verywell Mind)

Menurutnya, kita sekarang tengah berada di tengah kondisi hyperreality, sebuah konsep yang diajukan oleh Jean Baudrillard, di mana manusia semakin kesulitan untuk membedakan mana realita mana yang bukan.

Di era postmodern seperti sekarang, kondisi ini semakin menjadi-jadi berkat “dukungan” dari media, teknologi, media sosial, dan lain-lain. Idola yang dulu rasanya jauh, kini terasa dekat seolah mereka benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita secara nyata.

Penggemar yang awalnya hanya mengagumi idola dan karyanya pun berevolusi: Mereka jadi ingin memiliki hubungan yang dekat dengan idola. Ini memunculkan sebuah fenomena lain yang disebut sebagai parasocial relantionship atau hubungan parasosial.

Tambah kawan Penulis, hubungan parasosial ini membuat para penggemar ingin di-notice oleh idolanya. Karena tahu akan sulit, mereka pun menggunakan berbagai cara, bahkan kadang dengan cara yang ekstrem seperti yang dilakukan oleh sasaeng.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space Safa sebenarnya “lumrah” dilakukan di era hyperreality seperti sekarang. Mungkin, karena dilakukan di media sosial-lah yang membuatnya jadi banyak disorot oleh publik.

Penutup

Dari kasus Safa setidaknya kita bisa belajar dua hal: Jangan melakukan hate speech dan jangan menjadi penggemar yang fanatik. Apa yang dilakukan oleh Safa memang tidak bisa dibenarkan, tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Space tersebut juga salah.

Di era di mana batas antara mana yang nyata dan tidak semakin tipis seperti sekarang, kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Jangan sampai kita kerap susah membedakan mana yang sungguh-sungguh terjadi mana yang tidak.

Peristiwa yang sebenarnya tak terlalu penting ini ternyata mampu memberi kita pelajaran yang begitu berarti, sekaligus menjadi sebuah peningkatan bahwa apapun yang berlebihan tak pernah berakhir dengan baik.


Lawang, 29 Mei 2022, terinspirasi setelah membaca “drama” mengenai Safa di Twitter satu minggu yang lalu

Foto Banner: Kpop Wiki – Fandom

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Netflix dan Fenomena Disrupsi yang Tengah Dihadapinya

Published

on

By

Beberapa hari terakhir, muncul berita kalau layanan streaming Netflix kehilangan sekitar 200 ribu subsribers-nya. Efek dominonya, saham Netflix jatuh cukup dalam dan mereka pun harus membatalkan beberapa film dan serialnya.

Jatuhnya Saham Netflix (Google)

Salah satu penyebabnya, menurut Penulis, adalah semakin kuatnya kompetitor sejenis yang mampu memberikan penawaran yang lebih menarik. Contoh, Disney+ dengan berbagai serial Marvel-nya yang langsung terkoneksi dengan Marvel Cinematic Universe.

Para kompetitor rata-rata memang sebuah production house (PH) yang memiliki segudang konten menarik. Selain Disney, ada HBO dan Paramount. Berkebalikan dengan Netflix, PH-PH ini telah lama memproduksi konten, baru membuat layanan streaming-nya sendiri.

Apple dan Amazon pun tak ingin ketinggalan dalam perang streaming ini. Bahkan, Apple seolah mempercundangi Netflix karena film orisinal mereka, CODA, berhasil memenangkan kategori Best Picture dalam ajang Oscar 2022.

CODA dari Apple TV (Techzle)

Selain itu, Netflix akhir-akhir ini juga kerap dikritik karena orisinal kontennya tidak lagi semenarik dulu. Padahal, itu adalah salah satu kekuatan utama mereka karena memiliki hak menanyangkan film/serial dari PH lain cukup memakan biaya.

Dengan makin menjamurnya PH atau studio yang memiliki layanan streaming-nya sendiri, bisa jadi konten yang ada di dalam Netflix akan semakin habis, sehingga jumlah subscriber-nya pun bisa semakin menurun di tahun-tahun berikutnya.

Hal ini bisa dibilang cukup mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan dalam waktu bersamaan. Mengejutkan, karena Netlix termasuk pionir layanan streaming, tidak mengejutkan karena dikalahkan kompetitor yang lebih mumpuni di industri teknologi sudah menjadi hal biasa.

Fenomena ini disebut sebagai disruption atau disrupsi.

Netflix Hanya Contoh Kecil Disrupsi

Kebetulan, Penulis suka membaca atau menonton video sejarah seputar perusahaan-perusahaan industri teknologi. Favoritnya adalah Apple dan Nintendo. Menjatuhkan, lalu dijatuhkan, adalah hal yang biasa di teknologi industri.

Alasan disrupsi secara umum adalah pemain lama yang tidak mau berkembang atau berevolusi mengikuti zaman. Mereka terlalu terlena dengan “zona nyaman” sehingga ogah untuk mencoba hal-hal baru yang berpotensi meningkatkan bisnis.

“Kekalahan” Netflix dari para kompetitornya bisa dibilang cukup tragis, mengingat dulu perusahaan ini adalah penyebab utama bangkrutnya Blockbuster, salah satu perusahaan persewaan video terbesar di tahun 90-an yang tidak melirik bisnis streaming.

Toko Blockbuster Terakhir (Roadtrippers)

Nah, dengan beberapa alasan yang sudah Penulis ungkit di atas, Netflix berpeluang kehilangan sebagian kontennya karena ditarik oleh studio yang bersangkutan. Jika mereka tidak menghasilkan konten yang berkualitas, bisa jadi pengguna pun beralih ke layanan lain.

Menurut rekan Penulis yang merupakan pemerhati layanan streaming, Netflix menerapkan strategi quantity over quality. Ketika Penulis berlangganan Netflix, kontennya memang ada begitu banyak, tetapi Penulis merasa banyak konten yang B saja.

Pendekatan yang berbeda dilakukan oleh, katakanlah, Apple TV yang lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Hasilnya telah terlihat, CODA berhasil menang di ajang Oscar. Padahal, umur mereka jauh lebih muda daripada Netflix.

Menjamurnya Layanan Streaming (AMT Lab)

Menjamurnya layanan streaming (terutama yang dibuat PH) jelas menekan Netflix yang basic-nya merupakan layanan penyewaan DVD. Pengguna tidak mungkin untuk berlangganan semua layanan streaming karena adanya keterbatasan dana.

Akibatnya, pengguna pun harus memilih salah satu atau beberapa layanan yang menyediakan konten-konten favorit mereka. Meskipun mereka memiliki banyak orisinal konten yang menarik seperti Squid Game, ancaman kekalahan yang lebih besar telah terlihat.

Ada quote menarik yang Penulis lansir dari situs Digital Center tentang disrupsi yang sedang dialami oleh Netflix:

Netflix, pengganggu (disruptor) media yang hebat, akan segera diganggu (disrupted). Ketika sebagian besar industri terganggu, alih-alih melihat peluang baru yang telah diidentifikasi oleh pengganggu, mereka mati-matian berpegang teguh pada cara lama melakukan bisnis. Netflix harus melakukan apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya: berjuang untuk pelanggannya dan memahami bahwa ia mungkin tidak akan menguasai sebagian besar pasar di masa depan.

Apa yang Harus Dilakukan Netflix agar Selamat?

Konten-Konten Netflix (Sprout Wired)

Tentu Netflix tidak ingin kalah begitu saja. Walau baru menunjukkan gejala-gejala ringan, mereka bergerak cepat untuk memperbaiki keadaan. Ada beberapa hal yang telah mereka lakukan.

Netflix telah membatalkan beberapa proyek yang akan dikerjakan, seperti film Bright 2 yang dibintangi oleh Will Smith dan beberapa film animasi. Untuk serial populer seperti Stranger Things bisa dikatakan aman dan akan tetap diproduksi.

Mereka juga akan menawarkan paket berlangganan murah yang akan disertai dengan iklan. Selain itu, Netflix juga akan memperketat masalah password sharing yang jelas merugikan mereka.

Untuk jangka panjang, Netflix bisa mengadaptasi cara Apple, yakni memproduksi konten lebih sedikit, tetapi kualitasnya terjamin. Netflix terbukti telah berhasil menghasilkan film atau serial yang berkualitas, sehingga seharusnya mereka bisa lebih selektif lagi.

Penulis bukan pelanggan Netflix, bahkan bukan penggemar film/serial secara umum. Namun, melihat kejatuhan perusahaan pionir sebesar Netflix menimbulkan perasaan kasihan. Entah Netflix akan berhasil selamat atau tidak, Penulis akan menyaksikannya.


Lawang, 23 April 2022, teinspirasi setelah membaca berbagai berita seputar Netflix

Foto Banner: Polygon

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Kehidupan Fana Palsu para Crazy Rich

Published

on

By

Beberapa waktu terakhir ini, berita mengenai penangkapan para crazy rich di Indonesia sangat memenuhi media. Tuduhannya kurang lebih sama, dipidana atas kasus penipuan. Entah sudah berapa orang yang ditangkap.

Dari yang Penulis baca, mereka ini adalah affiliator dari aplikasi atau platform trading dengan konsep binary option. Intinya, user diharuskan menebak apakah nilai suatu saham akan naik atau turun. Kalau naik ya cuan, kalau turun ya sayonara goodbye.

Fenomena yang tengah terjadi ini seolah menjadi pengingat bagi kita semua, kalau kekayaan secara instan itu adalah hal yang hampir mustahil terjadi, terutama kita yang biasa-biasa ini.

Iming-Iming Kaya dengan Instan

Contoh Crazy Rich yang Ditangkap (Liputan 6)

Sebagai seorang affiliator, para crazy rich ini tampaknya diwajibkan untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk menggunakan platform yang berafiliasi dengan mereka. Mungkin mirip dengan sistem rekrutmen MLM.

Bagaimana cara mereka menarik perhatian para calon “korban”? Tentu saja dengan memamerkan kekayaan yang katanya berasal dari keuntungan menggunakan platform tertentu. Kekayaan instan dalam waktu cepat, siapa yang tidak tergiur?

Apalagi, sosok-sosok yang menjadi crazy rich ini digambarkan sosok muda tanpa latar belakang keluarga kaya. Kekayaan mereka seolah mengalahkan harta yang dimiliki oleh crazy rich asli yang namanya sudah terkenal di negara kita.

Oleh karena itu, jumlah kerugian yang diderita oleh para korban juga tidak main-main, bisa mencapai miliaran rupiah. Bahkan, tak sedikit yang rela menjual harta benda mereka agar punya modal untuk “bermain” di platform ini.

Begitu mudahnya kita tergoda untuk menjadi kaya secara cepat membuat para penipu ini memiliki “pasar” untuk membuat diri mereka semakin kaya. Bayangkan, memperkaya diri dengan memiskinkan orang lain. Betapa tercelanya cara tersebut.

Tidak Ada yang Namanya Kaya Instan

Yuk Kerja Keras! (Israel Andrade)

Dengan adanya kasus ini, tentu kita berharap bisa memetik pelajaran berharga: Tidak ada yang namanya kaya instan. Kalau kita bukan anak konglomerat, kita harus menyadari kalau jalan untuk menjadi kaya akan berat dan tidak mudah.

Bahkan, beberapa kasus langka seperti yang dialami Ghozali Everyday pun diawali dengan konsistensinya mengunggah foto selfie-nya selama kurang lebih lima tahun. Pemenang lotre atau kaya dari judi jelas tidak Penulis anggap.

Kalau kita berasal dari masyarakat yang biasa-biasa saja tanpa privilege lebih, jangan mudah tergiur dengan iming-iming kaya instan yang belum tentu benar. Lebih baik, kita investasikan waktu, uang, dan tenaga kita untuk mengembangkan skill, knowledge, serta relasi.

Jika ingin, ada banyak sarana investasi lain yang lebih jelas. Emas, tanah, saham, hingga reksadana. Jika punya dana berlebih, tak ada salahnya mencoba instrumen-instrumen tersebut dengan syarat kita harus mendalaminya terlebih dulu.

Terkadang, ada banyak orang yang ingin belajar investasi hanya karena ikut-ikutan atau karena FOMO (Fear Out Missing Out). Akibatnya, keputusan investasi yang kita ambil jadi kurang tepat dan terkesan terburu-buru.

Penutup

Hidup dengan financial freedom memang seolah menjadi mimpi banyak orang. Namun, kadang kita lupa untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Mungkin ada yang berpendapat kalau kita tidak bisa kaya hanya dengan bermodalkan kerja keras. Banyak faktor di sekeliling kita yang akan menghambat kemajuan kita. Itu Penulis akui ada benarnya.

Hanya saja, jika memang tidak memiliki previlege apa-apa lantas memilih bermalas-malasan dan berusaha kaya dengan cara yang tidak benar, menurut Penulis juga tidak tepat. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, Gusti mboten sare.

Memang hasilnya mungkin tidak akan sama dengan mereka-mereka yang kaya dengan cara tidak halal. Namun, percayalah harta yang didapatkan dengan cara baik akan lebih berkah dan membuat kita tenang.

Semoga saja kita semua bisa mengambil hikmah dari tertangkapnya para crazy rich ini. Semoga kita sadar, hampir tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi kaya dalam waktu singkat tanpa berusaha.


Lawang, 9 April 2022, terinspirasi setelah banyaknya para crazy rich yang ditangkap oleh pihak kepolisian

Foto: BBC

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan