Connect with us

Sosial Budaya

Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?

Published

on

Hoax mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin.

Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat.

Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu akan disebarkan oleh generasi boomer. Di sisi lain, generasi milenial akan berusaha membantah dengan memberikan data dan fakta yang sebenarnya. Terjadi sebaliknya pun harusnya ada.

Permasalahannya, mengapa ada orang suka membuat hoax alias berita palsu?

Alasan Membuat Hoax

Penulis mencoba membayangkan menjadi seorang pembuat hoax. Apa kira-kira yang menjadi motivasi terbesar Penulis untuk membuat sebuah hoax?

Hoax untuk Adu Domba (Reddit)

Jika musim Pemilu alasannya jelas, untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik. Taktik kotor seperti ini sangat mudah ditemui. Fitnah dan adu domba saling diperlihatkan dengan kejamnya.

Mereka juga bisa membuat hoax karena memang dibayar untuk membuatnyaEntah berapa tarifnya, tapi rasanya memang ada orang-orang yang hidup dari pekerjaan seperti itu.

Tapi bagaimana dengan kasus lain seperti hoax seputar virus Corona?

Bisa jadi karena ingin menimbulkan kepanikan di masyarakat. Kita mudah merasa panik hanya dengan membaca sekilas sebuah judul berita, sehingga ada orang-orang yang ingin memanfaatkan hal tersebut.

Untuk apa membuat orang lain panik? Ada alasan karena faktor ekonomi. Seperti yang kita ketahui, bagaimana meroketnya harga masker dan alat kebersihan lainnya. Ada pihak yang diuntungkan di sini.

Kenaikan harganya benar-benar kelewat batas dan ada orang-orang tak bermoral yang justru memanfaatkan situasi ini. Barang sembako habis diborong orang-orang kaya hingga berisiko menyusahkan yang lebih membutuhkan.

Membuat orang lain panik juga bisa jadi hanya menjadi sebuah kesenangan bagi seseorang. Sama seperti kata Alfred dalam film The Dark Knight:

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=efHCdKb5UWc[/embedyt]

Some man just want to watch the world burn. Ada orang-orang yang memang hanya ingin terjadi kekacauan di muka bumi ini. Mungkin terlihat terlalu didramatisir, tapi Penulis meyakini hal tersebut benar adanya.

Ada beberapa alasan lain, seperti mencari sensasi dan perhatian, kurang kerjaan, bentuk propaganda, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak alasan untuk membuat hoax.

Alasan Menyebar Hoax

Pembuat hoax mungkin tipe orang yang berada di dalam sunyi dan membiarkan karyanya tersebar dengan sendirinya. Nah, kita yang ikut menyebar juga memiliki andil terhadap suburnya hoax.

Sarang Hoax? (Indoindians.com)

Tingkat literasi kita sangat rendah. Artinya, kita terlalu malas untuk sekadar membaca dan memastikan apa yang kita baca benar atau salah.

Hal ini diperparah jika kita termasuk orang yang mudah percaya sebuah informasi begitu saja. Sekali terlihat ilmiah dan meyakinkan, kita langsung meyakini kalau hal tersebut benar.

Para penyebar hoax ini terkadang merasa bangga karena merasa sebagai orang pertama yang menyebarkan berita penting. Apalagi, kalau berita tersebut tidak tayang di media mainstream dengan alasan sengaja ditutup-tutupi.

Sensasi yang didapatkan ketika menyebarkan berita menghebohkan juga menjadi alasan kuat lainnya. Secara tidak langsung kita akan terlihat sebagai orang penting dan mendapatkan perhatian berlebih.

Belum lagi jika hoax tersebut diawali dengan kalimat-kalimat positif dan merujuk ke sebuah kelompok tertentu. Misalnya seperti seorang muslim wajib tahu atau sebarkan kalau kamu peduli dengan bangsa ini.

Hal ini disebut sebagai Efek Barnum, di mana suatu pesan terasa ditujukan kepada kita padahal bersifat umum. Karena kita merasa sebagai orang yang disebut dalam hoax tersebut, kita pun merasa bertanggung jawab untuk menyebarkannya kepada orang lain.

Tak heran hoax bisa berantai-rantai seperti sekarang.

Penutup

Seandainya setiap mendapatkan berita kita akan melakukan verifikasi terlebih dahulu, hoax akan kesulitan untuk tumbuh. Perlahan, ia akan rontok dengan sendirinya.

Sayangnya, hal tersebut nampaknya masih belum akan terealiasi dalam waktu dekat. Jika kesadaran masyarakat terhadap hoax masih rendah seperti sekarang, hoax masih akan tersebar di grup-grup WhatsApp dan media-media lain dengan masifnya.

Bisakah kita menghentikan aksi para pembuat hoax? Bisa, dengan cara tidak mempercayainya dan selalu melakukan pengecekan fakta. Kita juga harus saling mengingatkan jika ada orang lain yang menyebarkan hoax.

Mungkin memang tidak bisa memberantas habis para pelaku hoax. Setidaknya, kita sudah berbuat sesuatu untuk melawan para pembohong tersebut.

 

 

Kebayoran Lama, 5 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita hoax seputar virus Corona

Sumber Artikel: Brilio, Tirto, Quora, Kompasiana,

Sosial Budaya

Siapa yang Akhirnya Menang?

Published

on

By

Duel “terpanas” tahun ini baru saja tersaji kemarin secara live di kanal YouTube Deddy Corbuzier. Tentu yang Penulis maksud adalah pertandingan catur antara Pak Dadang Subur a.k.a. Dewa Kipas melawan Grandmaster Irene Kharisma (atau Irene Sukandar).

Pertandingan catur ini berawal dari kasus viral yang melibatkan akun Dewa Kipas yang dianggap curang setelah bertanding melawan GothamChess melalui platform Chess.com. Kasus ini berujung dengan diblokirnya akun Dewa Kipas dari platform tersebut.

Gotham Chess (RCTI+)

Hal ini diketahui pertama kali dari postingan Facebook anak Dewa Kipas, yang menganggap suporter GothamChess melakukan report massal sehingga akun ayahnya diblokir. Tanpa disangka, postingan tersebut menjadi viral dan membuat netizen Indonesia bereaksi keras.

Netizen Indonesia memberikan hate comment ke GothamChess dan Chess.com secara membabi buta. Ketika Penulis mengecek Play Store, rating yang dimiliki oleh aplikasi catur tersebut dihujani bintang satu oleh netizen Indonesia.

Beberapa waktu berselang, Chess.com memberikan klarifikasi kalau mereka tidak akan memblokir akun orang hanya karena laporan banyak orang. Mereka mendeteksi adanya kecurangan pada akun tersebut sehingga mereka menindak tegas akun Dewa Kipas.

Pak Dadang dan Anaknya (Galamedia – Pikiran Rakyat)

Nah, Deddy seperti biasa melihat adanya peluang cuan memberikan ruang dan panggung bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi. Maka diundanglah Pak Dadang Subur beserta anaknya ke podcast-nya yang terkenal.

Podcast ini mendapatkan kritikan dari salah satu grandmaster catur Indonesia, Irene Kharisma. Ia membuat surat terbuka yang salah satunya ditujukan kepada Deddy dan direspon dengan baik. Irene (beserta GothamChess) pun diundang ke podcast Deddy untuk memberikan sudut pandang lain.

Ternyata, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut Irene yang menyakiti perasaan Pak Dadang. Ia pun menantang Irene untuk bertanding catur secara langsung. Sempat ditolak, akhirnya Irene menyanggupi permintaan tersebut dan Deddy akan menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.

Cuan lagi.


Pertandingan digelar pada hari Senin jam 3 sore dan dipandu oleh dua pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto dan Chelsie Monica. Untuk nama terakhir, netizen justru salfok dengan kecantikannya. Akun Instagramnya yang semula memiliki empat ribu followers melonjak jadi 70 ribu lebih. Kekuatan netizen.

Pertandingan dilakukan dalam mode 10 menit empat babak. Penulis tidak perlu menjelaskan bagaimana analisa pertandingan tersebut. Yang jelas, hasil akhirnya adalah 3-0 untuk kemenangan Irene dan Pak Dadang menolak untuk melakukan pertandingan keempat.

Di akhir pertandingan, Pak Dadang menjelaskan betapa kokoh pertahanan Irene. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemain di Chess.com yang kerap melakukan blunder. Irene sendiri juga mengajak kita untuk menutup kasus ini dan jangan sampai ada pem-bully-an setelah ini.

Baik Irene maupun Pak Dadang sama-sama mendapatkan hadiah uang. Sebagai pemenang, Irene mendapatkan 200 juta rupiah, sedangkan Pak Dadang mendapatkan 100 juta rupiah. Pertandingan panas ini pun berakhir dengan damai dan menenangkan.

Irene Menang 3-0 (Kompasiana.com)

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menang dalam pertandingan ini? Menurut Penulis, hampir semua menang dan tidak ada yang dirugikan.

Deddy jelas menang banyak, baik melalui adsense (live viewer-nya mencapai satu juta lebih, setelah diupload videonya telah ditonton lebih dari tujuh juta kali) ataupun sponsor (secara kasat mata, setidaknya ada tiga sponsor yang berbeda, di mana yang paling besar Tokopedia).

Kejeliannya melihat peluang membuat ia bisa mendapatkan keuntungan besar dari viralnya kasus Dewa Kipas. Kalau kata teman, ia sudah bisa membuat podcast-nya bekerja untuk dirinya dan mengalirkan uang secara sendirinya.

Pak Dadang dan Irene pun bisa dianggap sama-sama menang. Kekalahan Pak Dadang dapat dimaklumi karena lawannya adalah pecatur profesional yang menyandang gelar grandmaster. Bahkan, permainannya juga dipuji oleh Irene beserta dua caster yang memandu pertandingan tersebut.

Para Caster (VOI.id)

Para caster juga menang, terutama Chelsie. Berkat pertandingan ini, popularitasnya meningkat secara drastis. Bukan tidak mungkin setelah ini ia akan merangkap profesi menjadi selebgram. Untuk GM Susanto, mungkin setelah ini akan makin banyak murid yang mendaftar ke sekolah privatnya.

Dunia catur juga menang. Kasus ini membuat antusiasme masyarakat terhadap catur meningkat pesat. Tokopedia selaku sponsor resmi pasti kebanjiran orderan papan catur. Dari isu yang Penulis dengar, harga papan catur meroket akibat tingginya permintaan masyarakat.

Masyarakat menang karena disuguhkan sebuah drama pertandingan catur yang seru. Ketika memantau kolom komentar, kebanyakan bernada adem meskipun masih menyisakan beberapa hate comment yang memancing emosi. Media juga pastinya mendapatkan banyak views untuk pemberitaan seputar mereka semua.

GothamChess, meskipun tidak mendapatkan uang, setidaknya mendapatkan subsriber baru dari Indonesia walau tidak banyak. Mungkin yang kalah adalah aplikasi Chess.com karena mendapatkan hujan bintang satu di Play Store, sehingga rating mereka lumayan turun. Namun, jumlah unduhan mereka juga jadi naik berkat drama Dewa Kipas ini.


Lantas, apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Entah, Penulis juga bingung. Mungkin, jangan mudah tersulut emosi jika tidak punya data yang lengkap. Mau apapun masalah yang sedang viral, kita harus kritis dan melakukan recheck. Jangan mudah terpancing berita-berita click-bait.

Pada akhirnya, masalah yang membuat masyarakat sempat terpolarisasi telah mereda. Semoga saja ke depannya kita bisa lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi apapun, mulai dari yang remeh hingga topik berat.

Lawang, 23 Maret 2021, terinspirasi setelah menonton pertandingan catur antara Dewa Kipas melawan Irene Kharisma

Foto: Buka Baca ID

Continue Reading

Sosial Budaya

Keganasan Netizen Barbar

Published

on

By

Beberapa waktu yang lalu, Microsoft mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft dengan kata-kata kasar.

Tapi bohong.

Tentu saja netizen kita, yang selama ini kerap dianggap barbar, langsung bereaksi keras dengan hasil survei tersebut. Tidak tahan dengan bully-bully tersebut, Microsoft pun menutup kolom komentar mereka.

Padahal, penilaian tersebut tidak dibuat secara asal-asalan. Ada beberapa variabel yang digunakan, seperti penyebaran hoaks dan penipuan,, ujaran kebencian, hingga masalah diskriminasi. Apa yang netizen lakukan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar, justru membuktikan bahwa netizen Indonesia memang “tidak sopan”.

Ada banyak bukti lain keganasan netizen Indonesia di dunia maya dalam beberapa minggu terakhir ini.

Membela Dewa Kipas

GothamChess vs Dewa Kipas (YouTube)

Akhir-akhir ini, dunia percaturan online sedang heboh karena akun GothamChess secara mengejutkan dikalahkan oleh pecatur Indonesia berusia 60 tahun dengan nama akun Dewa Kipas melalui platform Chess.com.

Pendukung Gotham menuding kalo Dewa Kipas melakukan cheating karena akurasi gerakannya terlalu tinggi. Kabarnya, mereka melakukan report ramai-ramai hingga akun Dewa Kipas di-banned.

Bagaimana reaksi netizen Indonesia? Mereka melakukan analisa terhadap pola permainan Dewa Kipas di Chess.com untuk mencari apakah ada sesuatu yang abnormal dari game-game yang pernah ia mainkan.

Mereka tidak membela Dewa Kipas hanya karena terbawa suasana dan nasionalisme yang membabi buta. Setelah memiliki data, mereka baru berkomentar kalau tuduhan GothamChess tersebut tidak berdasar dan dilakukan atas dasar sakit hati karena dikalahkan pemain amatir.

Tapi bohong lagi.

Bermodalkan postingan Facebook anak Dewa Kipas, banyak netizen yang langsung menyerang GothamChess secara kasar hingga meresahkan yang bersangkutan. Pem-bully-an dalam bentuk verbal terus dilancarkan hingga membuatnya membatasi platform-platform yang ia gunakan.

Kericuhan ini membuat Grand Master Indonesia, Irene Kharisma, ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus ini mencoreng nama baik percaturan Indonesia di mata dunia. Apalagi, memang banyak keanehan yang ditemukan dalam akun profil milik Dewa Kipas, seperti rating yang tiba-tiba melonjak dan tingkat akurasi yang mendekati sempurna.

Chess.com sendiri telah menegaskan kalau pemblokiran yang dilakukan bukan karena banyaknya laporan yang dikirim oleh penggemar GothamChess, melainkan karena tim Fair Play memang menemukan anomali pada akun Dewa Kipas. Mereka memiliki reputasi yang tinggi, sehingga rasanya tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi tersebut hanya demi satu orang.

Mana yang benar? Entahlah, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya saja, Penulis begitu menyayangkan respon netizen kita yang begitu barbar tanpa mengetahui duduk perkaranya secara lengkap.

Dayana Oh Dayana

Dayana (VOI)

Salah satu youtuber yang sedang naik daun adalah Fiki Naki. Alasannya apa lagi kalau bukan kemampuan berbahasa asingnya yang begitu luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Rusia. Karena kemampuannya tersebut, ia kerap “menggoda” bule-bule melalui aplikasi Ome.tv.

Nah, salah satu yang menarik perhatian netizen adalah seorang gadis asal Kazakhstan bernama Dayana. Memiliki paras yang cantik, ia kerap dijodoh-jodohkan dengan Fiki Naki. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang masuk ke kanal YouTube Fiki lebih dari satu episode.

Hal ini membuat popularitas Dayana, setidaknya di Indonesia, melesat dengan cepat. Ia yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba mendapatkan jutaan follower yang kebanyakan berasal dari negara kita, termasuk Penulis sendiri. Bedanya, Penulis sengaja follow karena merasa kalau kisah mereka berdua akan berakhir kurang baik.

Benar saja. Beberapa minggu kemarin, dunia maya langsung heboh karena Dayana menyatakan “tidak butuh follower dari Indonesia.” Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik dan membuat netizen melakukan unfollow massal. Jumlah follower Dayana yang telah menyentuh angka 2 juta menurun drastis dalam waktu singkat.

Fiki Naki sudah berusaha maksimal untuk menenangkan amukan netizen Indonesia. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Dayana yang awalnya menjadi pujaan banyak orang berbalik menjadi public enemy. Ia dianggap “kacang lupa kulit” dan memanfaatkan Fiki untuk pansos. Apalagi, ia mulai merilis lagu yang pada akhirnya mendapatkan banyak sekali dislike.

Terlepas apa makna dari pernyataan Dayana, kejadian ini menjadi bukti lain betapa ganasnya netizen kita. Bisa saja Dayana tidak bermaksud untuk menyepelekan follower Indonesia. Perlu diingat, bahasa Inggris bukan bahasa ibunya, sehingga kemungkinan salah mengutarakan maksud sesungguhnya sangat besar.

Tapi netizen kita mana mengenal kata maklum. Mau berbuat apapun, Dayana sudah dicap sebagai orang buruk, sama seperti ketika mereka melabeli GothamChess tanpa bukti yang kuat.

Penutup

Dua contoh kasus yang baru terjadi akhir-akhir ini patut mendapatkan perhatian dari kita semua. Kenapa netizen Indonesia terlihat begitu barbar di dunia maya? Kenapa seolah-olah semua orang bersumbu pendek sehingga mudah terpicu oleh percikan kecil?

Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Rendahnya literasi, tidak adanya kesadaran untuk santun di media sosial, mudah terpengaruhi, berita yang memprovokasi, lingkungan yang judgemental, dan lain sebagainya. Seharusnya, kemudahan jaringan internet dapat membuat kita menjadi lebih baik, bukan merugikan orang lain.

Mau apapun alasannya, tidak elok untuk bertindak rusuh seperti itu, apalagi jika sampai mengganggu kehidupan orang lain. Jika orang tersebut tidak kuat mental hingga memutuskan bunuh diri seperti artis-artis Korea, orang-orang yang mem-bully akan segera cuci tangan seolah mereka tak pernah melancarkan serangan.

Mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijak di dunia maya. Jangan mudah terprovokasi sesuatu yang belum tentu benar. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk saling membenci dan mencaci-maki. Semoga ketika nanti Microsoft atau pihak lain melakukan survei sejenis, peringkat kita sudah membaik.

Lawang, 18 Maret 2021, terinspirasi setelah melihat berbagai bentuk keganasan netizen di dunia maya

Foto: Meme Generator

Sumber Artikel:
Menilik Penyebab Microsoft Sebut Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara
Sebut Netizen RI Paling Tidak Sopan, Akun Microsoft Diserang
Curhat GothamChess pada Deddy Corbuzier Usai Dibully Netizen Indonesia
Kasus Dewa Kipas Berlanjut, Grandmaster Catur Indonesia Angkat Bicara
Chess.com Tegaskan Dewa Kipas Berbuat Curang
3 Aksi Dayana yang Panen Cibiran Netizen

Continue Reading

Sosial Budaya

Kemunafikan Berbalut “Demi Lingkungan”

Published

on

By

Waktu iPhone 12 rilis pada bulan Oktober tahun 2020 kemarin, produk tersebut langsung menerima banyak kritik dan hujatan dari banyak pihak.

Bukan karena barangnya jelek (jarang ada iPhone yang mengecewakan), melainkan untuk pertama kalinya Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam kotak penjualannya!

Bayangkan, kotak charger yang menjadi benda esensial sebuah smartphone justru ditiadakan. Iya kalau kita sudah punya seri yang lama, kalau baru pertama kali beli iPhone?

Dulu earphone karena lubang audio jack telah dihilangkan (dan demi mendongkrak penjualan AirPods, tentu saja), sekarang ini.

Penulis tidak akan kaget kalau suatu saat kabel lighthing atau kabel USB-C juga tidak dimasukkan ke dalam kotak penjualan.

Alasannya? Apalagi kalau bukan “demi lingkungan”.

Yakin Demi Lingkungan?

iPhone 12 (Apple)

Alasan klise “demi lingkungan” sudah sering terdengar keluar dari merek-merek teknologi. Logikanya memang masuk karena peralatan elektronik beserta aksesorisnya kerap menjadi sampah yang sulit untuk diurai kembali.

Hanya saja, kita ini kan ya enggak bodoh-bodoh amat. Kita semua tahu kalau “demi lingkungan” hanya digunakan sebagai pemanis.

Kita tahu tujuan asli menghilangkan kotak charger adalah “demi duit” atau “demi profit yang lebih besar lagi”. Enggak usah munafik lah.

Kenapa bisa seperti itu? Pertama, mereka bisa mendapatkan uang lebih dari penjualan kepala charger yang terpisah.

Lah, kalau dijual terpisah berarti kardus yang digunakan nambah, dong? 

Selain itu, dengan kotak iPhone yang tipis, distribusi produk pun bisa lebih banyak sekali muat. Yang biasanya cuma bisa mengirim 100 kotak, sekarang bisa 150 kotak atau lebih.

Jadi lebih irit kan buat mereka?

Kalau memang Apple benar-benar niat memberikan sumbangsih terhadap kelestarian lingkungan, ganti dulu lah itu colokannya dengan USB-C yang digunakan merek HP lain.

Dengan keputusan Apple yang tetap mempertahankan kabel lightning, artinya kita ya harus punya kabel khusus itu, enggak bisa pinjam kabel USB-C punya teman atau saudara.

Dan Akhirnya Diikuti Oleh Merek Lain…

Samsung Galaxy S21 (KLGadgetGuy)

Ketika tahu Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam paket penjualannya, Samsung dan Xiaomi menyindir habis-habisan pesaingnya itu.

Melihat hal tersebut, kita tentu bisa bernapas lega karena kedua merek tersebut akan tetap menyertakan kepala charger di HP-HP terbaru mereka nanti.

Dan ternyata salah.

Kedua merek tersebut mengikuti jejak langkah Apple dengan tidak menyertakan kepala charger di HP flagship terbaru mereka!

Alasan yang digunakan? Sama, “demi lingkungan”!

Xiaomi masih lebih baik karena memberikan pembeli pilihan mau memilih yang ada chargernya atau tidak dengan harga yang sama.

Samsung? Sama seperti Apple persis! Galaxy S21 menjadi seri pertama yang tidak akan memiliki kepala charger.

Kalau ujung-ujungnya ngikutin (sama seperti sebelum-sebelumnya), ngapain nyindir Appple? Bisnis oh bisnis!

Penutup

Seandainya merek-merek teknologi tersebut benar-benar peduli terhadap isu lingkungan, ya jangan banyak-banyak lah mengeluarkan smartphone.

Coba rilis smartphone baru setiap lima tahun sekali, jadi orang-orang hanya akan mengganti gawainya setiap lima tahun.

Apakah ini mungkin terjadi? Enggak lah, kalau enggak ada produk baru dan kita disuruh terus beli, mau dapat cuan dari mana mereka?

Berbisnis dengan cara apapun selama legal silakan saja. Mau cuma ngirim smartphone baru tanpa kotak sama sekali juga silakan saja.

Namanya perusahaan pasti ingin dapat untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Itu hukum ekonomi yang rasanya sudah diketahui oleh semua orang.

Cuma alasan “demi lingkungan” itu loh yang bikin Penulis geli. Mbok ya pakai alasan lain yang enggak munafik tapi masih bisa diterima.

 

 

 

Lawang, 28 Januari 2021, terinspirasi setelah melihat banyaknya merek teknologi yang menggunakan alasan “demi lingkungan” untuk menambah profit mereka

Foto: Apple Insider

Sumber Artikel:

Xiaomi will offer Mi 11 without charger, but you can get one for free (androidauthority.com)

Xiaomi’s Mi 11 won’t come with charger after it mocked Apple for not including a charger – The Verge

 

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan