<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bahasa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bahasa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:07:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bahasa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bahasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2020 00:12:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[gue]]></category>
		<category><![CDATA[inferior]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Sentris]]></category>
		<category><![CDATA[lu]]></category>
		<category><![CDATA[superior]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak zaman masih bocah, Penulis sudah mengetahui kalau kosa kata gue lo itu identik dengan Jakarta. Maka di dalam mindset Penulis, kata tersebut hanya digunakan oleh orang-orang Jakarta. Kenyataannya tidak seperti itu lagi. Banyak orang daerah yang notabene bukan orang Jakarta atau tidak tinggal/sedang di Jakarta menggunakan kata tersebut. Fenomena ini menggelitik Penulis untuk mencari tahu apa penyebab dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/">Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak zaman masih bocah, Penulis sudah mengetahui kalau kosa kata <em>gue lo </em>itu identik dengan Jakarta. Maka di dalam <em>mindset </em>Penulis, kata tersebut hanya digunakan oleh orang-orang Jakarta.</p>
<p>Kenyataannya tidak seperti itu lagi. <strong>Banyak orang daerah yang notabene bukan orang Jakarta atau tidak tinggal/sedang di Jakarta menggunakan kata tersebut.</strong></p>
<p>Fenomena ini menggelitik Penulis untuk mencari tahu apa penyebab dan latar belakangnya. Apalagi, banyak orang-orang terdekat di sekitar Penulis yang menunjukkan hal tersebut.</p>
<h3>Jakarta Sentris dalam Bahasa</h3>
<p>Mengapa anak yang berada di Sulawesi bisa mengetahui seperti apa orang Jakarta berbicara? Kalau zaman dulu jawabannya mudah, melalui saluran televisi ataupun radio.</p>
<p>Sejak dulu, tayangan-tayangan yang ada di televisi terlihat sangat <strong>Jakarta Sentris</strong>. Istilah ini pertama kali Penulis ketahui dari Pakde Penulis melalui sebuah diskusi.</p>
<div id="attachment_3766" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3766" class="size-large wp-image-3766" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3766" class="wp-caption-text">Terpengaruh dari Tayangan TV (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.idntimes.com/hype/throwback/danti/7-momen-paling-dikenang-dari-sinetron-90-an-si-doel-anak-sekolahan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKjI2M2X8-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit IDN Times"><span class="pM4Snf">IDN Times</span></a>)</p></div>
<p>Mau sinetron, kuis, bahkan tayangan berita pun berpusat di Jakarta. Lihat saja kantor pusat stasiun televisi, semuanya berlokasi di Jakarta. Mereka hanya punya kantor cabang di daerah.</p>
<p>Akhirnya, logat-logat Jakarta yang mendominasi di televisi pun menjadi konsumsi seluruh orang di Indonesia. Tidak sedikit yang merasa ingin menirunya, entah apa motivasinya.</p>
<p>Bagaimana dengan sekarang? Lebih parah dengan kehadiran media sosial. Mau orang Jakarta ataupun Malang, kebanyakan akan mengirim <em>tweet </em>atau status dengan menggunakan kata <em>gue </em>atau<em> w</em>, bukan aku atau saya.</p>
<p>Ada banyak alasannya, mulai dari ingin terlihat gaul, tidak ingin merasa ketinggalan, meningkatkan kepercayaan diri, meniru idola, hingga agar tidak dinilai kampungan oleh netizen lainnya.</p>
<p>Proses ini terjadi secara alamiah. Kalau tidak salah slangnya adalah <em>Monkey See Monkey Do</em>. Manusia meniru tindakan manusia lain tanpa benar-benar memahami esensinya.</p>
<p>Apakah ini salah? Tentu tidak. Orang bebas mengekspresikan dirinya dengan bahasa yang ia nyaman gunakan. Hanya saja, ada sisi negatif yang membuat Penulis cukup merasa prihatin.</p>
<h3>Superioritas Bahasa</h3>
<p>Orang yang menggunakan logat Jakarta biasanya akan <strong>merasa lebih keren dan prestise</strong>. Akibatnya, bahasa daerah bahkan Bahasa Indonesia yang baku akan terlihat inferior.</p>
<p>Mayoritas manusia tidak ingin terlihat inferior, sehingga mereka memutuskan untuk ikut menggunakan bahasa yang dianggap superior agar tidak merasa kecil dan lebih percaya diri.</p>
<div id="attachment_3768" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3768" class="size-large wp-image-3768" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3768" class="wp-caption-text">Mengancam Bahasa Indonesia? (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.dream.co.id/news/kbbi-lakukan-pemutakhiran-kata-ada-julid-pansos-hingga-ukhti-191206v.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCNCz9tuX8-gCFQAAAAAdAAAAABAJ" aria-label="Visit Dream"><span class="pM4Snf">Dream</span></a>)</p></div>
<p>Apalagi, orang yang menggunakan bahasa daerah kerap mendapatkan label buruk seperti kampungan dan norak. Akibatnya jelas, orang akan merasa malu untuk menggunakannya.</p>
<p>Tidak heran kalau hegemoni logat-logat Jakarta (tidak hanya <em>gue lu</em>) tumbuh subur di tengah-tengah kita, terutama generasi milenial yang sangat dekat dengan media sosial.</p>
<p>Bahkan ada yang menganggap kalau bahasa gaul Jakarta ini <strong>berpotensi merusak Bahasa Indonesia</strong> sekaligus menggerus bahasa-bahasa daerah yang makin ditinggalkan.</p>
<p>Apa artinya orang daerah tidak boleh menggunakan logat Jakarta? Tentu saja boleh, apalagi yang sedang merantau atau sedang di Jakarta sebagai proses adaptasi. Kata teman Penulis, menyesuaikan diri dengan di mana kita berada.</p>
<p>Penulis terkadang merasa inferior ketika mengobrol dengan teman-temannya yang memang orang Jakarta. Demi adaptasi, Penulis mencoba meniru gaya mereka berbicara. Tapi, hasilnya lucu.</p>
<h3><em>Gue </em>dan<em> Lu </em>untuk Lidah Penulis</h3>
<p>Pada penerbangan Surabaya-Jakarta pada awal tahun 2020, Penulis tanpa sengaja bertemu dengan teman SMA yang sudah tidak bertemu semenjak kelulusan. Ia kuliah di Bandung dan merintis karir di Jakarta.</p>
<p>Iseng Penulis bercerita, kalau Penulis masih kesulitan untuk menggunakan kata <em>gue lo. </em>Ternyata, teman Penulis yang sudah 3 tahun di Jakarta ini juga masih menggunakan aku kamu.</p>
<div id="attachment_3769" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3769" class="size-large wp-image-3769" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/gue-lu-dan-jakarta-sentris-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3769" class="wp-caption-text">Saling Menghargai Saja (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.vecteezy.com/vector-art/223236-people-talking-illustration" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCKDJ1uWX8-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Vecteezy"><span class="pM4Snf">Vecteezy</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sudah hampir 2 tahun di Jakarta. Selama itu pula, Penulis terus mengalami kesusahan untuk mengucapkan kata <em>gue</em>. Selain karena tidak terbiasa, lidah Jawa Penulis membuatnya terdengar aneh. <em>G-</em>terlalu tebal dan <em>ue</em>-nya terlalu mantul.</p>
<p>Daripada ditertawakan karena terlalu memaksa, Penulis pun lebih sering menggunakan kata aku kamu. Kalau menggunakan <em>lu</em>, Penulis masih bisa karena tingkat kemudahannya.</p>
<p>Tapi jadinya lucu, karena Penulis sering mengombinasikan aku dan <em>lu</em>. Agak enggak nyambung, sehingga seringkali Penulis mengganti <em>lu </em>dengan kata dirimu yang lebih netral. Untungnya, teman-teman di sini yang asli Jakarta mau memahami ini.</p>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga mengalami kesulitan menghafal istilah uang seperti <em>ceban, goceng, gocap</em>, dan lain sebagainya. Sangat sering Penulis tertukar-tukar, sehingga sering bertanya terlebih dahulu sebelum mengatakannya.</p>
<p>Karena merasa lidahnya tidak cocok dengan logat Jakarta, Penulis mencoba untuk lebih percaya diri menggunakan bahasa yang dikuasai. Bahkan, tak jarang Penulis menggunakan Bahasa Jawa ketika mengobrol dengan teman yang juga bisa berbahasa Jawa.</p>
<p>Mungkin tidak semua seperti Penulis. Pasti ada banyak orang daerah yang bisa langsung lancar berlogat Jakarta dan terdengar natural. Rasanya Penulis butuh latihan yang insentif agar lidahnya bisa lebih <em>luwes</em>.</p>
<p>Dengan demikian, Penulis bisa mengucapkan <em>gue lu </em>tanpa terdengar ganjil.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menggunakan bahasa apapun pada dasarnya adalah hak manusia. Hanya saja jika alasannya karena merasa inferior, rasanya kurang baik, seolah kita memaksa diri untuk menjadi orang lain.</p>
<p>Kita mungkin bisa mencontoh bagaimana orang Osaka bangga akan aksennya dan tidak malu jika sedang berbicara dengan orang Tokyo yang notabene ibukota Jepang.</p>
<p>Hal ini Penulis ketahui dari komik <a href="https://whathefan.com/animekomik/conan-dan-kutukan-yang-menimpanya/"><em>Detective Conan</em></a>, sehingga mohon maaf jika kenyataannya seperti itu. Tapi mengingat orang Jepang bangga dengan bahasa mereka, Penulis yakin memang seperti itu.</p>
<p>Bisakah kita lebih percaya diri dengan bahasa kita sendiri dan tidak terpengaruh fenomena Jakarta Sentris dalam bahasa? Penulis serahkan jawabannya ke pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://kumparan.com/kumparannews/lu-gue-dan-fenomena-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia-1qpTVPOEIvR">Kumparan</a>, <a href="https://tirto.id/media-nasional-tapi-rasa-jakarta-cEBS">Tirto</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jakartasentrisme">Wikipedia</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi dari orang-orang di sekitar Penulis yang menggunakan <em>gue/lu </em>yang padahal bukan orang Jakarta dan tidak pernah tidak tinggal di Jakarta</p>
<p>Foto: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=p7-ETxxcSEM">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gue-lu-dan-jakarta-sentris/">Gue, Lu, dan Jakarta Sentris</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Mencintai Bahasa Indonesia Pada Xe.no.glo.so.fi.lia</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/belajar-mencintai-bahasa-indonesia-pada-xe-no-glo-so-fi-lia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2019 16:17:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ivan Lanin]]></category>
		<category><![CDATA[xenoglosofilia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau pembaca sekalian bermain Twitter, tentu tidak asing dengan yang namanya Ivan Lanin. Beliau sering kali muncul dengan memberikan pengetahuan terkait bahasa Indonesia. Selain itu, beliau juga rajin memberikan padanan kata bahasa-bahasa asing (terutama bahasa Inggris) agar kita menggunakan bahasa Indonesia 100% tanpa perlu nginggris. Penulis tidak ingat kapan mulai mengikuti beliau, yang jelas penulis tertarik dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/belajar-mencintai-bahasa-indonesia-pada-xe-no-glo-so-fi-lia/">Belajar Mencintai Bahasa Indonesia Pada Xe.no.glo.so.fi.lia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau pembaca sekalian bermain Twitter, tentu tidak asing dengan yang namanya <strong>Ivan Lanin</strong>. Beliau sering kali muncul dengan memberikan pengetahuan terkait bahasa Indonesia.</p>
<p>Selain itu, beliau juga rajin memberikan padanan kata bahasa-bahasa asing (terutama bahasa Inggris) agar kita menggunakan bahasa Indonesia 100% tanpa perlu <em>nginggris</em>.</p>
<p>Penulis tidak ingat kapan mulai mengikuti beliau, yang jelas penulis tertarik dengan cuitan-cuitannya karena banyak membantu penulis, baik untuk pekerjaan maupun menulis blog ini.</p>
<p>Satu waktu, penulis tahu bahwa Ivan Lanin menulis sebuah buku berjudul <strong>Xe.no.glo.so.fi.lia </strong>yang membahas berbagai macam hal tentang bahasa Indonesia.</p>
<p>Karena tidak menemukannya di toko buku, penulis memutuskan untuk memberinya secara <em><del>online</del> </em>daring. Buku ini menjadi teman perjalanan penulis sewaktu kembali ke Jakarta seusai lebaran kemarin.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sesuai dengan ekspetasi, buku ini banyak berisi mengenai tata bahasa Indonesia terutama yang sering mengalami salah kaprah di masyarakat. Ada yang sudah penulis ketahui, tapi tidak sedikit pengetahuan baru yang penulis dapatkan.</p>
<p>Yang sedikit mengejutkan, ternyata buku ini merupakan semacam rangkuman dari blog milik Ivan Lanin. Tidak masalah, toh penulis tidak pernah suka membaca melalui laptop ataupun ponsel.</p>
<p>Buku ini terdiri dari tiga bab utama, yakni:</p>
<ul>
<li><strong>Xenoglosofilia</strong>, menjabarkan tentang penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa asing, banyak berisikan padanan kata yang bisa digunakan untuk mengganti kata asing tersebut</li>
<li><strong>Tanja</strong>, akronim dari <em>Tanya Jawab</em> yang berisi seputar permasalahan bahasa Indonesia yang sering dibingungkan oleh masyarakat</li>
<li><strong>Mana Bentuk yang Tepat</strong>, menjelaskan tentang dua kata (atau bentuk kata) yang sering membuat orang bingung mana yang benar</li>
</ul>
<p>Setiap bab terdiri dari banyak subbab yang berjumlah puluhan. Tenang, setiap subbab hanya berisi sekitar 2 halaman saja, sehingga buku ini tidak akan terasa berat.</p>
<p>Di buku ini, banyak sekali istilah-istilah yang sangat jarang digunakan oleh kita, bahkan akan dianggap aneh jika kita menggunakannya dalam keseharian.</p>
<p>Contohnya yang paling mudah adalah <strong>gawai</strong>. Kata ini merupakan padanan kata dari <em>gadget. </em>Tentu kita jarang sekali mendengar orang menggunakan kata gawai, sehingga kata ini dianggap tidak lazim untuk digunakan.</p>
<p>Contoh lain adalah <strong>tetikus </strong>untuk menggantikan kata <em>mouse </em>yang digunakan untuk komputer. Bayangkan jika ada toko daring yang menjual <em>wireless mouse </em>menjadi <em>tetikus tanpa kabel</em>, rasanya tidak banyak calon pembeli yang tertarik.</p>
<p>Hal ini membuat kita mau tidak mau merenungi permasalahan tentang bahasa ini.</p>
<h3>Kenapa Harus <em>Nginggris</em>?</h3>
<p>Penulis bukannya orang yang sudah bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik. Terkadang, penulis juga masih menyisipkan kata-kata dalam bahasa Inggris (bahkan terkadang bahasa Jepang).</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa apa yang sering digalakkan oleh Ivan Lanin mengenai penggunaan bahasa Indonesia secara lebih baik ada benarnya. Kita sering <em>keminggris</em> dengan mencampuradukkan bahasa.</p>
<p>Contoh yang paling sering penulis dengar (dan kadang dilakukan) adalah <em>which is</em>, <em>literally</em>, dan lain sebagainya. Ada yang beranggapan bahwa dengan mengombinasikan bahasa, kalimat kita terlihat lebih modern dan canggih.</p>
<p><strong>Padahal sebenarnya tidak.</strong></p>
<p>Kita sering kali berkiblat kepada negara maju, maka mari kita lihat bagaimana mereka berbahasa sehari-hari. Apakah orang Inggris, Jepang, Korea Selatan, Prancis, menggunakan bahasa yang campur-campur?</p>
<p>Entah bagaimana dengan negara Barat, tapi ketika menonton berbagai acara Jepang dan Korea, mereka sangat jarang menggunakan bahasa asing dalam berbicara. Lantas, apakah mereka terlihat norak dan kampungan? Penulis rasa tidak.</p>
<p>Salah satu permasalahan bangsa ini adalah kepercayaan diri. Kita mungkin kurang percaya diri dengan bahasa kita sendiri, sehingga meminjam bahasa milik bangsa lain.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan mempelajari bahasa lain dan menggunakannya. Akan tetapi, jangan mencampur aduk bahasa. Jika ingin berbicara dalam bahasa Inggris, ya sudah gunakan secara utuh sesuai dengan tata bahasa yang benar.</p>
<h3><span id="Apa_Pendapat_Penulis_Tentang_Buku_Ini" class="ez-toc-section">Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?</span></h3>
<p>Meskipun terdengar teknis, nyatanya buku ini ditulis dengan bahasa yang cukup ringan seperti blog-blog pada umumnya. Pembaca buku ini tidak akan dibuat berpikir keras untuk mencerna apa makna kalimat demi kalimatnya.</p>
<p>Gaya bahasanya yang santai membuat buku ini bisa dinikmati oleh pembaca muda, meskipun ada beberapa bagian yang cukup teknis sehingga butuh dibaca beberapa kali.</p>
<p>Banyak kata-kata yang sangat awam dan jarang digunakan oleh masyarakat. Bahkan penulis, yang sering berkutat dengan buku, banyak menemukan istilah-istilah baru, yang terkadang diusulkan oleh Ivan Lanin sendiri.</p>
<p>Hanya saja, karena memang disadur dari blog, kita akan serasa membaca blog. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ivan Lanin pada akhir subbab. Kita hanya bisa menjawabnya dalam hati, bukan?</p>
<p>Terlepas dari itu, penulis sangat menyarankan buku ini untuk dibaca oleh siapapun, terutama pelajar dan orang-orang yang berkutat dengan dunia tulis-menulis.</p>
<p>Ivan Lanin mungkin berharap dengan bukunya ini, ia mampu mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih baik lagi. Kita bisa harus mencintai bahasa kita sendiri dengan lebih layak.</p>
<p>Penulis mendukung 100% kampanye tersebut, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.2/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 Juni 2019, terinspirasi setelah membaca buku <strong>Xe.no.glo.so.fi.lia </strong>karya <strong>Ivan Lanin</strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/belajar-mencintai-bahasa-indonesia-pada-xe-no-glo-so-fi-lia/">Belajar Mencintai Bahasa Indonesia Pada Xe.no.glo.so.fi.lia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
