Connect with us

Sosial Budaya

Gue, Lu, dan Jakarta Sentris

Published

on

Sejak zaman masih bocah, Penulis sudah mengetahui kalau kosa kata gue lo itu identik dengan Jakarta. Maka di dalam mindset Penulis, kata tersebut hanya digunakan oleh orang-orang Jakarta.

Kenyataannya tidak seperti itu lagi. Banyak orang daerah yang notabene bukan orang Jakarta atau tidak tinggal/sedang di Jakarta menggunakan kata tersebut.

Fenomena ini menggelitik Penulis untuk mencari tahu apa penyebab dan latar belakangnya. Apalagi, banyak orang-orang terdekat di sekitar Penulis yang menunjukkan hal tersebut.

Jakarta Sentris dalam Bahasa

Mengapa anak yang berada di Sulawesi bisa mengetahui seperti apa orang Jakarta berbicara? Kalau zaman dulu jawabannya mudah, melalui saluran televisi ataupun radio.

Sejak dulu, tayangan-tayangan yang ada di televisi terlihat sangat Jakarta Sentris. Istilah ini pertama kali Penulis ketahui dari Pakde Penulis melalui sebuah diskusi.

Terpengaruh dari Tayangan TV (IDN Times)

Mau sinetron, kuis, bahkan tayangan berita pun berpusat di Jakarta. Lihat saja kantor pusat stasiun televisi, semuanya berlokasi di Jakarta. Mereka hanya punya kantor cabang di daerah.

Akhirnya, logat-logat Jakarta yang mendominasi di televisi pun menjadi konsumsi seluruh orang di Indonesia. Tidak sedikit yang merasa ingin menirunya, entah apa motivasinya.

Bagaimana dengan sekarang? Lebih parah dengan kehadiran media sosial. Mau orang Jakarta ataupun Malang, kebanyakan akan mengirim tweet atau status dengan menggunakan kata gue atau w, bukan aku atau saya.

Ada banyak alasannya, mulai dari ingin terlihat gaul, tidak ingin merasa ketinggalan, meningkatkan kepercayaan diri, meniru idola, hingga agar tidak dinilai kampungan oleh netizen lainnya.

Proses ini terjadi secara alamiah. Kalau tidak salah slangnya adalah Monkey See Monkey Do. Manusia meniru tindakan manusia lain tanpa benar-benar memahami esensinya.

Apakah ini salah? Tentu tidak. Orang bebas mengekspresikan dirinya dengan bahasa yang ia nyaman gunakan. Hanya saja, ada sisi negatif yang membuat Penulis cukup merasa prihatin.

Superioritas Bahasa

Orang yang menggunakan logat Jakarta biasanya akan merasa lebih keren dan prestise. Akibatnya, bahasa daerah bahkan Bahasa Indonesia yang baku akan terlihat inferior.

Mayoritas manusia tidak ingin terlihat inferior, sehingga mereka memutuskan untuk ikut menggunakan bahasa yang dianggap superior agar tidak merasa kecil dan lebih percaya diri.

Mengancam Bahasa Indonesia? (Dream)

Apalagi, orang yang menggunakan bahasa daerah kerap mendapatkan label buruk seperti kampungan dan norak. Akibatnya jelas, orang akan merasa malu untuk menggunakannya.

Tidak heran kalau hegemoni logat-logat Jakarta (tidak hanya gue lu) tumbuh subur di tengah-tengah kita, terutama generasi milenial yang sangat dekat dengan media sosial.

Bahkan ada yang menganggap kalau bahasa gaul Jakarta ini berpotensi merusak Bahasa Indonesia sekaligus menggerus bahasa-bahasa daerah yang makin ditinggalkan.

Apa artinya orang daerah tidak boleh menggunakan logat Jakarta? Tentu saja boleh, apalagi yang sedang merantau atau sedang di Jakarta sebagai proses adaptasi. Kata teman Penulis, menyesuaikan diri dengan di mana kita berada.

Penulis terkadang merasa inferior ketika mengobrol dengan teman-temannya yang memang orang Jakarta. Demi adaptasi, Penulis mencoba meniru gaya mereka berbicara. Tapi, hasilnya lucu.

Gue dan Lu untuk Lidah Penulis

Pada penerbangan Surabaya-Jakarta pada awal tahun 2020, Penulis tanpa sengaja bertemu dengan teman SMA yang sudah tidak bertemu semenjak kelulusan. Ia kuliah di Bandung dan merintis karir di Jakarta.

Iseng Penulis bercerita, kalau Penulis masih kesulitan untuk menggunakan kata gue lo. Ternyata, teman Penulis yang sudah 3 tahun di Jakarta ini juga masih menggunakan aku kamu.

Saling Menghargai Saja (Vecteezy)

Penulis sudah hampir 2 tahun di Jakarta. Selama itu pula, Penulis terus mengalami kesusahan untuk mengucapkan kata gue. Selain karena tidak terbiasa, lidah Jawa Penulis membuatnya terdengar aneh. G-terlalu tebal dan ue-nya terlalu mantul.

Daripada ditertawakan karena terlalu memaksa, Penulis pun lebih sering menggunakan kata aku kamu. Kalau menggunakan lu, Penulis masih bisa karena tingkat kemudahannya.

Tapi jadinya lucu, karena Penulis sering mengombinasikan aku dan lu. Agak enggak nyambung, sehingga seringkali Penulis mengganti lu dengan kata dirimu yang lebih netral. Untungnya, teman-teman di sini yang asli Jakarta mau memahami ini.

Tidak hanya itu, Penulis juga mengalami kesulitan menghafal istilah uang seperti ceban, goceng, gocap, dan lain sebagainya. Sangat sering Penulis tertukar-tukar, sehingga sering bertanya terlebih dahulu sebelum mengatakannya.

Karena merasa lidahnya tidak cocok dengan logat Jakarta, Penulis mencoba untuk lebih percaya diri menggunakan bahasa yang dikuasai. Bahkan, tak jarang Penulis menggunakan Bahasa Jawa ketika mengobrol dengan teman yang juga bisa berbahasa Jawa.

Mungkin tidak semua seperti Penulis. Pasti ada banyak orang daerah yang bisa langsung lancar berlogat Jakarta dan terdengar natural. Rasanya Penulis butuh latihan yang insentif agar lidahnya bisa lebih luwes.

Dengan demikian, Penulis bisa mengucapkan gue lu tanpa terdengar ganjil.

Penutup

Menggunakan bahasa apapun pada dasarnya adalah hak manusia. Hanya saja jika alasannya karena merasa inferior, rasanya kurang baik, seolah kita memaksa diri untuk menjadi orang lain.

Kita mungkin bisa mencontoh bagaimana orang Osaka bangga akan aksennya dan tidak malu jika sedang berbicara dengan orang Tokyo yang notabene ibukota Jepang.

Hal ini Penulis ketahui dari komik Detective Conan, sehingga mohon maaf jika kenyataannya seperti itu. Tapi mengingat orang Jepang bangga dengan bahasa mereka, Penulis yakin memang seperti itu.

Bisakah kita lebih percaya diri dengan bahasa kita sendiri dan tidak terpengaruh fenomena Jakarta Sentris dalam bahasa? Penulis serahkan jawabannya ke pembaca sekalian.

 

Sumber Artikel: Kumparan, Tirto, Wikipedia

 

 

Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi dari orang-orang di sekitar Penulis yang menggunakan gue/lu yang padahal bukan orang Jakarta dan tidak pernah tidak tinggal di Jakarta

Foto: YouTube

Sosial Budaya

Siapa yang Akhirnya Menang?

Published

on

By

Duel “terpanas” tahun ini baru saja tersaji kemarin secara live di kanal YouTube Deddy Corbuzier. Tentu yang Penulis maksud adalah pertandingan catur antara Pak Dadang Subur a.k.a. Dewa Kipas melawan Grandmaster Irene Kharisma (atau Irene Sukandar).

Pertandingan catur ini berawal dari kasus viral yang melibatkan akun Dewa Kipas yang dianggap curang setelah bertanding melawan GothamChess melalui platform Chess.com. Kasus ini berujung dengan diblokirnya akun Dewa Kipas dari platform tersebut.

Gotham Chess (RCTI+)

Hal ini diketahui pertama kali dari postingan Facebook anak Dewa Kipas, yang menganggap suporter GothamChess melakukan report massal sehingga akun ayahnya diblokir. Tanpa disangka, postingan tersebut menjadi viral dan membuat netizen Indonesia bereaksi keras.

Netizen Indonesia memberikan hate comment ke GothamChess dan Chess.com secara membabi buta. Ketika Penulis mengecek Play Store, rating yang dimiliki oleh aplikasi catur tersebut dihujani bintang satu oleh netizen Indonesia.

Beberapa waktu berselang, Chess.com memberikan klarifikasi kalau mereka tidak akan memblokir akun orang hanya karena laporan banyak orang. Mereka mendeteksi adanya kecurangan pada akun tersebut sehingga mereka menindak tegas akun Dewa Kipas.

Pak Dadang dan Anaknya (Galamedia – Pikiran Rakyat)

Nah, Deddy seperti biasa melihat adanya peluang cuan memberikan ruang dan panggung bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi. Maka diundanglah Pak Dadang Subur beserta anaknya ke podcast-nya yang terkenal.

Podcast ini mendapatkan kritikan dari salah satu grandmaster catur Indonesia, Irene Kharisma. Ia membuat surat terbuka yang salah satunya ditujukan kepada Deddy dan direspon dengan baik. Irene (beserta GothamChess) pun diundang ke podcast Deddy untuk memberikan sudut pandang lain.

Ternyata, ada beberapa kalimat yang keluar dari mulut Irene yang menyakiti perasaan Pak Dadang. Ia pun menantang Irene untuk bertanding catur secara langsung. Sempat ditolak, akhirnya Irene menyanggupi permintaan tersebut dan Deddy akan menjadi tuan rumah pertandingan tersebut.

Cuan lagi.


Pertandingan digelar pada hari Senin jam 3 sore dan dipandu oleh dua pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto dan Chelsie Monica. Untuk nama terakhir, netizen justru salfok dengan kecantikannya. Akun Instagramnya yang semula memiliki empat ribu followers melonjak jadi 70 ribu lebih. Kekuatan netizen.

Pertandingan dilakukan dalam mode 10 menit empat babak. Penulis tidak perlu menjelaskan bagaimana analisa pertandingan tersebut. Yang jelas, hasil akhirnya adalah 3-0 untuk kemenangan Irene dan Pak Dadang menolak untuk melakukan pertandingan keempat.

Di akhir pertandingan, Pak Dadang menjelaskan betapa kokoh pertahanan Irene. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemain di Chess.com yang kerap melakukan blunder. Irene sendiri juga mengajak kita untuk menutup kasus ini dan jangan sampai ada pem-bully-an setelah ini.

Baik Irene maupun Pak Dadang sama-sama mendapatkan hadiah uang. Sebagai pemenang, Irene mendapatkan 200 juta rupiah, sedangkan Pak Dadang mendapatkan 100 juta rupiah. Pertandingan panas ini pun berakhir dengan damai dan menenangkan.

Irene Menang 3-0 (Kompasiana.com)

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menang dalam pertandingan ini? Menurut Penulis, hampir semua menang dan tidak ada yang dirugikan.

Deddy jelas menang banyak, baik melalui adsense (live viewer-nya mencapai satu juta lebih, setelah diupload videonya telah ditonton lebih dari tujuh juta kali) ataupun sponsor (secara kasat mata, setidaknya ada tiga sponsor yang berbeda, di mana yang paling besar Tokopedia).

Kejeliannya melihat peluang membuat ia bisa mendapatkan keuntungan besar dari viralnya kasus Dewa Kipas. Kalau kata teman, ia sudah bisa membuat podcast-nya bekerja untuk dirinya dan mengalirkan uang secara sendirinya.

Pak Dadang dan Irene pun bisa dianggap sama-sama menang. Kekalahan Pak Dadang dapat dimaklumi karena lawannya adalah pecatur profesional yang menyandang gelar grandmaster. Bahkan, permainannya juga dipuji oleh Irene beserta dua caster yang memandu pertandingan tersebut.

Para Caster (VOI.id)

Para caster juga menang, terutama Chelsie. Berkat pertandingan ini, popularitasnya meningkat secara drastis. Bukan tidak mungkin setelah ini ia akan merangkap profesi menjadi selebgram. Untuk GM Susanto, mungkin setelah ini akan makin banyak murid yang mendaftar ke sekolah privatnya.

Dunia catur juga menang. Kasus ini membuat antusiasme masyarakat terhadap catur meningkat pesat. Tokopedia selaku sponsor resmi pasti kebanjiran orderan papan catur. Dari isu yang Penulis dengar, harga papan catur meroket akibat tingginya permintaan masyarakat.

Masyarakat menang karena disuguhkan sebuah drama pertandingan catur yang seru. Ketika memantau kolom komentar, kebanyakan bernada adem meskipun masih menyisakan beberapa hate comment yang memancing emosi. Media juga pastinya mendapatkan banyak views untuk pemberitaan seputar mereka semua.

GothamChess, meskipun tidak mendapatkan uang, setidaknya mendapatkan subsriber baru dari Indonesia walau tidak banyak. Mungkin yang kalah adalah aplikasi Chess.com karena mendapatkan hujan bintang satu di Play Store, sehingga rating mereka lumayan turun. Namun, jumlah unduhan mereka juga jadi naik berkat drama Dewa Kipas ini.


Lantas, apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Entah, Penulis juga bingung. Mungkin, jangan mudah tersulut emosi jika tidak punya data yang lengkap. Mau apapun masalah yang sedang viral, kita harus kritis dan melakukan recheck. Jangan mudah terpancing berita-berita click-bait.

Pada akhirnya, masalah yang membuat masyarakat sempat terpolarisasi telah mereda. Semoga saja ke depannya kita bisa lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi apapun, mulai dari yang remeh hingga topik berat.

Lawang, 23 Maret 2021, terinspirasi setelah menonton pertandingan catur antara Dewa Kipas melawan Irene Kharisma

Foto: Buka Baca ID

Continue Reading

Sosial Budaya

Keganasan Netizen Barbar

Published

on

By

Beberapa waktu yang lalu, Microsoft mengeluarkan hasil survei terkait tingkat kesopanan netizen di dunia maya. Siapa yang menyangka (atau sudah tertebak?) kalau netizen paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

Bagaimana respon netizen Indonesia? Mereka dengan santun tidak menyetujui hasil survei tersebut dengan cara yang baik. Mereka tidak membanjiri kolom komentar Microsoft dengan kata-kata kasar.

Tapi bohong.

Tentu saja netizen kita, yang selama ini kerap dianggap barbar, langsung bereaksi keras dengan hasil survei tersebut. Tidak tahan dengan bully-bully tersebut, Microsoft pun menutup kolom komentar mereka.

Padahal, penilaian tersebut tidak dibuat secara asal-asalan. Ada beberapa variabel yang digunakan, seperti penyebaran hoaks dan penipuan,, ujaran kebencian, hingga masalah diskriminasi. Apa yang netizen lakukan tersebut, secara sadar maupun tidak sadar, justru membuktikan bahwa netizen Indonesia memang “tidak sopan”.

Ada banyak bukti lain keganasan netizen Indonesia di dunia maya dalam beberapa minggu terakhir ini.

Membela Dewa Kipas

GothamChess vs Dewa Kipas (YouTube)

Akhir-akhir ini, dunia percaturan online sedang heboh karena akun GothamChess secara mengejutkan dikalahkan oleh pecatur Indonesia berusia 60 tahun dengan nama akun Dewa Kipas melalui platform Chess.com.

Pendukung Gotham menuding kalo Dewa Kipas melakukan cheating karena akurasi gerakannya terlalu tinggi. Kabarnya, mereka melakukan report ramai-ramai hingga akun Dewa Kipas di-banned.

Bagaimana reaksi netizen Indonesia? Mereka melakukan analisa terhadap pola permainan Dewa Kipas di Chess.com untuk mencari apakah ada sesuatu yang abnormal dari game-game yang pernah ia mainkan.

Mereka tidak membela Dewa Kipas hanya karena terbawa suasana dan nasionalisme yang membabi buta. Setelah memiliki data, mereka baru berkomentar kalau tuduhan GothamChess tersebut tidak berdasar dan dilakukan atas dasar sakit hati karena dikalahkan pemain amatir.

Tapi bohong lagi.

Bermodalkan postingan Facebook anak Dewa Kipas, banyak netizen yang langsung menyerang GothamChess secara kasar hingga meresahkan yang bersangkutan. Pem-bully-an dalam bentuk verbal terus dilancarkan hingga membuatnya membatasi platform-platform yang ia gunakan.

Kericuhan ini membuat Grand Master Indonesia, Irene Kharisma, ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus ini mencoreng nama baik percaturan Indonesia di mata dunia. Apalagi, memang banyak keanehan yang ditemukan dalam akun profil milik Dewa Kipas, seperti rating yang tiba-tiba melonjak dan tingkat akurasi yang mendekati sempurna.

Chess.com sendiri telah menegaskan kalau pemblokiran yang dilakukan bukan karena banyaknya laporan yang dikirim oleh penggemar GothamChess, melainkan karena tim Fair Play memang menemukan anomali pada akun Dewa Kipas. Mereka memiliki reputasi yang tinggi, sehingga rasanya tidak mungkin mereka mempertaruhkan reputasi tersebut hanya demi satu orang.

Mana yang benar? Entahlah, tidak ada yang benar-benar tahu. Hanya saja, Penulis begitu menyayangkan respon netizen kita yang begitu barbar tanpa mengetahui duduk perkaranya secara lengkap.

Dayana Oh Dayana

Dayana (VOI)

Salah satu youtuber yang sedang naik daun adalah Fiki Naki. Alasannya apa lagi kalau bukan kemampuan berbahasa asingnya yang begitu luar biasa. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Rusia. Karena kemampuannya tersebut, ia kerap “menggoda” bule-bule melalui aplikasi Ome.tv.

Nah, salah satu yang menarik perhatian netizen adalah seorang gadis asal Kazakhstan bernama Dayana. Memiliki paras yang cantik, ia kerap dijodoh-jodohkan dengan Fiki Naki. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang masuk ke kanal YouTube Fiki lebih dari satu episode.

Hal ini membuat popularitas Dayana, setidaknya di Indonesia, melesat dengan cepat. Ia yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba mendapatkan jutaan follower yang kebanyakan berasal dari negara kita, termasuk Penulis sendiri. Bedanya, Penulis sengaja follow karena merasa kalau kisah mereka berdua akan berakhir kurang baik.

Benar saja. Beberapa minggu kemarin, dunia maya langsung heboh karena Dayana menyatakan “tidak butuh follower dari Indonesia.” Sontak saja hal ini memicu kemarahan publik dan membuat netizen melakukan unfollow massal. Jumlah follower Dayana yang telah menyentuh angka 2 juta menurun drastis dalam waktu singkat.

Fiki Naki sudah berusaha maksimal untuk menenangkan amukan netizen Indonesia. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Dayana yang awalnya menjadi pujaan banyak orang berbalik menjadi public enemy. Ia dianggap “kacang lupa kulit” dan memanfaatkan Fiki untuk pansos. Apalagi, ia mulai merilis lagu yang pada akhirnya mendapatkan banyak sekali dislike.

Terlepas apa makna dari pernyataan Dayana, kejadian ini menjadi bukti lain betapa ganasnya netizen kita. Bisa saja Dayana tidak bermaksud untuk menyepelekan follower Indonesia. Perlu diingat, bahasa Inggris bukan bahasa ibunya, sehingga kemungkinan salah mengutarakan maksud sesungguhnya sangat besar.

Tapi netizen kita mana mengenal kata maklum. Mau berbuat apapun, Dayana sudah dicap sebagai orang buruk, sama seperti ketika mereka melabeli GothamChess tanpa bukti yang kuat.

Penutup

Dua contoh kasus yang baru terjadi akhir-akhir ini patut mendapatkan perhatian dari kita semua. Kenapa netizen Indonesia terlihat begitu barbar di dunia maya? Kenapa seolah-olah semua orang bersumbu pendek sehingga mudah terpicu oleh percikan kecil?

Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi hal ini. Rendahnya literasi, tidak adanya kesadaran untuk santun di media sosial, mudah terpengaruhi, berita yang memprovokasi, lingkungan yang judgemental, dan lain sebagainya. Seharusnya, kemudahan jaringan internet dapat membuat kita menjadi lebih baik, bukan merugikan orang lain.

Mau apapun alasannya, tidak elok untuk bertindak rusuh seperti itu, apalagi jika sampai mengganggu kehidupan orang lain. Jika orang tersebut tidak kuat mental hingga memutuskan bunuh diri seperti artis-artis Korea, orang-orang yang mem-bully akan segera cuci tangan seolah mereka tak pernah melancarkan serangan.

Mari kita sama-sama belajar untuk lebih bijak di dunia maya. Jangan mudah terprovokasi sesuatu yang belum tentu benar. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk saling membenci dan mencaci-maki. Semoga ketika nanti Microsoft atau pihak lain melakukan survei sejenis, peringkat kita sudah membaik.

Lawang, 18 Maret 2021, terinspirasi setelah melihat berbagai bentuk keganasan netizen di dunia maya

Foto: Meme Generator

Sumber Artikel:
Menilik Penyebab Microsoft Sebut Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara
Sebut Netizen RI Paling Tidak Sopan, Akun Microsoft Diserang
Curhat GothamChess pada Deddy Corbuzier Usai Dibully Netizen Indonesia
Kasus Dewa Kipas Berlanjut, Grandmaster Catur Indonesia Angkat Bicara
Chess.com Tegaskan Dewa Kipas Berbuat Curang
3 Aksi Dayana yang Panen Cibiran Netizen

Continue Reading

Sosial Budaya

Kemunafikan Berbalut “Demi Lingkungan”

Published

on

By

Waktu iPhone 12 rilis pada bulan Oktober tahun 2020 kemarin, produk tersebut langsung menerima banyak kritik dan hujatan dari banyak pihak.

Bukan karena barangnya jelek (jarang ada iPhone yang mengecewakan), melainkan untuk pertama kalinya Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam kotak penjualannya!

Bayangkan, kotak charger yang menjadi benda esensial sebuah smartphone justru ditiadakan. Iya kalau kita sudah punya seri yang lama, kalau baru pertama kali beli iPhone?

Dulu earphone karena lubang audio jack telah dihilangkan (dan demi mendongkrak penjualan AirPods, tentu saja), sekarang ini.

Penulis tidak akan kaget kalau suatu saat kabel lighthing atau kabel USB-C juga tidak dimasukkan ke dalam kotak penjualan.

Alasannya? Apalagi kalau bukan “demi lingkungan”.

Yakin Demi Lingkungan?

iPhone 12 (Apple)

Alasan klise “demi lingkungan” sudah sering terdengar keluar dari merek-merek teknologi. Logikanya memang masuk karena peralatan elektronik beserta aksesorisnya kerap menjadi sampah yang sulit untuk diurai kembali.

Hanya saja, kita ini kan ya enggak bodoh-bodoh amat. Kita semua tahu kalau “demi lingkungan” hanya digunakan sebagai pemanis.

Kita tahu tujuan asli menghilangkan kotak charger adalah “demi duit” atau “demi profit yang lebih besar lagi”. Enggak usah munafik lah.

Kenapa bisa seperti itu? Pertama, mereka bisa mendapatkan uang lebih dari penjualan kepala charger yang terpisah.

Lah, kalau dijual terpisah berarti kardus yang digunakan nambah, dong? 

Selain itu, dengan kotak iPhone yang tipis, distribusi produk pun bisa lebih banyak sekali muat. Yang biasanya cuma bisa mengirim 100 kotak, sekarang bisa 150 kotak atau lebih.

Jadi lebih irit kan buat mereka?

Kalau memang Apple benar-benar niat memberikan sumbangsih terhadap kelestarian lingkungan, ganti dulu lah itu colokannya dengan USB-C yang digunakan merek HP lain.

Dengan keputusan Apple yang tetap mempertahankan kabel lightning, artinya kita ya harus punya kabel khusus itu, enggak bisa pinjam kabel USB-C punya teman atau saudara.

Dan Akhirnya Diikuti Oleh Merek Lain…

Samsung Galaxy S21 (KLGadgetGuy)

Ketika tahu Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam paket penjualannya, Samsung dan Xiaomi menyindir habis-habisan pesaingnya itu.

Melihat hal tersebut, kita tentu bisa bernapas lega karena kedua merek tersebut akan tetap menyertakan kepala charger di HP-HP terbaru mereka nanti.

Dan ternyata salah.

Kedua merek tersebut mengikuti jejak langkah Apple dengan tidak menyertakan kepala charger di HP flagship terbaru mereka!

Alasan yang digunakan? Sama, “demi lingkungan”!

Xiaomi masih lebih baik karena memberikan pembeli pilihan mau memilih yang ada chargernya atau tidak dengan harga yang sama.

Samsung? Sama seperti Apple persis! Galaxy S21 menjadi seri pertama yang tidak akan memiliki kepala charger.

Kalau ujung-ujungnya ngikutin (sama seperti sebelum-sebelumnya), ngapain nyindir Appple? Bisnis oh bisnis!

Penutup

Seandainya merek-merek teknologi tersebut benar-benar peduli terhadap isu lingkungan, ya jangan banyak-banyak lah mengeluarkan smartphone.

Coba rilis smartphone baru setiap lima tahun sekali, jadi orang-orang hanya akan mengganti gawainya setiap lima tahun.

Apakah ini mungkin terjadi? Enggak lah, kalau enggak ada produk baru dan kita disuruh terus beli, mau dapat cuan dari mana mereka?

Berbisnis dengan cara apapun selama legal silakan saja. Mau cuma ngirim smartphone baru tanpa kotak sama sekali juga silakan saja.

Namanya perusahaan pasti ingin dapat untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Itu hukum ekonomi yang rasanya sudah diketahui oleh semua orang.

Cuma alasan “demi lingkungan” itu loh yang bikin Penulis geli. Mbok ya pakai alasan lain yang enggak munafik tapi masih bisa diterima.

 

 

 

Lawang, 28 Januari 2021, terinspirasi setelah melihat banyaknya merek teknologi yang menggunakan alasan “demi lingkungan” untuk menambah profit mereka

Foto: Apple Insider

Sumber Artikel:

Xiaomi will offer Mi 11 without charger, but you can get one for free (androidauthority.com)

Xiaomi’s Mi 11 won’t come with charger after it mocked Apple for not including a charger – The Verge

 

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan