Belajar Mencintai Bahasa Indonesia Pada Xe.no.glo.so.fi.lia

Kalau pembaca sekalian bermain Twitter, tentu tidak asing dengan yang namanya Ivan Lanin. Beliau sering kali muncul dengan memberikan pengetahuan terkait bahasa Indonesia.

Selain itu, beliau juga rajin memberikan padanan kata bahasa-bahasa asing (terutama bahasa Inggris) agar kita menggunakan bahasa Indonesia 100% tanpa perlu nginggris.

Penulis tidak ingat kapan mulai mengikuti beliau, yang jelas penulis tertarik dengan cuitan-cuitannya karena banyak membantu penulis, baik untuk pekerjaan maupun menulis blog ini.

Satu waktu, penulis tahu bahwa Ivan Lanin menulis sebuah buku berjudul Xe.no.glo.so.fi.lia yang membahas berbagai macam hal tentang bahasa Indonesia.

Karena tidak menemukannya di toko buku, penulis memutuskan untuk memberinya secara online daring. Buku ini menjadi teman perjalanan penulis sewaktu kembali ke Jakarta seusai lebaran kemarin.

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai dengan ekspetasi, buku ini banyak berisi mengenai tata bahasa Indonesia terutama yang sering mengalami salah kaprah di masyarakat. Ada yang sudah penulis ketahui, tapi tidak sedikit pengetahuan baru yang penulis dapatkan.

Yang sedikit mengejutkan, ternyata buku ini merupakan semacam rangkuman dari blog milik Ivan Lanin. Tidak masalah, toh penulis tidak pernah suka membaca melalui laptop ataupun ponsel.

Buku ini terdiri dari tiga bab utama, yakni:

  • Xenoglosofilia, menjabarkan tentang penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa asing, banyak berisikan padanan kata yang bisa digunakan untuk mengganti kata asing tersebut
  • Tanja, akronim dari Tanya Jawab yang berisi seputar permasalahan bahasa Indonesia yang sering dibingungkan oleh masyarakat
  • Mana Bentuk yang Tepat, menjelaskan tentang dua kata (atau bentuk kata) yang sering membuat orang bingung mana yang benar

Setiap bab terdiri dari banyak subbab yang berjumlah puluhan. Tenang, setiap subbab hanya berisi sekitar 2 halaman saja, sehingga buku ini tidak akan terasa berat.

Di buku ini, banyak sekali istilah-istilah yang sangat jarang digunakan oleh kita, bahkan akan dianggap aneh jika kita menggunakannya dalam keseharian.

Contohnya yang paling mudah adalah gawai. Kata ini merupakan padanan kata dari gadget. Tentu kita jarang sekali mendengar orang menggunakan kata gawai, sehingga kata ini dianggap tidak lazim untuk digunakan.

Contoh lain adalah tetikus untuk menggantikan kata mouse yang digunakan untuk komputer. Bayangkan jika ada toko daring yang menjual wireless mouse menjadi tetikus tanpa kabel, rasanya tidak banyak calon pembeli yang tertarik.

Hal ini membuat kita mau tidak mau merenungi permasalahan tentang bahasa ini.

Kenapa Harus Nginggris?

Penulis bukannya orang yang sudah bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik. Terkadang, penulis juga masih menyisipkan kata-kata dalam bahasa Inggris (bahkan terkadang bahasa Jepang).

Akan tetapi, penulis menyadari bahwa apa yang sering digalakkan oleh Ivan Lanin mengenai penggunaan bahasa Indonesia secara lebih baik ada benarnya. Kita sering keminggris dengan mencampuradukkan bahasa.

Contoh yang paling sering penulis dengar (dan kadang dilakukan) adalah which is, literally, dan lain sebagainya. Ada yang beranggapan bahwa dengan mengombinasikan bahasa, kalimat kita terlihat lebih modern dan canggih.

Padahal sebenarnya tidak.

Kita sering kali berkiblat kepada negara maju, maka mari kita lihat bagaimana mereka berbahasa sehari-hari. Apakah orang Inggris, Jepang, Korea Selatan, Prancis, menggunakan bahasa yang campur-campur?

Entah bagaimana dengan negara Barat, tapi ketika menonton berbagai acara Jepang dan Korea, mereka sangat jarang menggunakan bahasa asing dalam berbicara. Lantas, apakah mereka terlihat norak dan kampungan? Penulis rasa tidak.

Salah satu permasalahan bangsa ini adalah kepercayaan diri. Kita mungkin kurang percaya diri dengan bahasa kita sendiri, sehingga meminjam bahasa milik bangsa lain.

Tidak ada yang salah dengan mempelajari bahasa lain dan menggunakannya. Akan tetapi, jangan mencampur aduk bahasa. Jika ingin berbicara dalam bahasa Inggris, ya sudah gunakan secara utuh sesuai dengan tata bahasa yang benar.

Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?

Meskipun terdengar teknis, nyatanya buku ini ditulis dengan bahasa yang cukup ringan seperti blog-blog pada umumnya. Pembaca buku ini tidak akan dibuat berpikir keras untuk mencerna apa makna kalimat demi kalimatnya.

Gaya bahasanya yang santai membuat buku ini bisa dinikmati oleh pembaca muda, meskipun ada beberapa bagian yang cukup teknis sehingga butuh dibaca beberapa kali.

Banyak kata-kata yang sangat awam dan jarang digunakan oleh masyarakat. Bahkan penulis, yang sering berkutat dengan buku, banyak menemukan istilah-istilah baru, yang terkadang diusulkan oleh Ivan Lanin sendiri.

Hanya saja, karena memang disadur dari blog, kita akan serasa membaca blog. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ivan Lanin pada akhir subbab. Kita hanya bisa menjawabnya dalam hati, bukan?

Terlepas dari itu, penulis sangat menyarankan buku ini untuk dibaca oleh siapapun, terutama pelajar dan orang-orang yang berkutat dengan dunia tulis-menulis.

Ivan Lanin mungkin berharap dengan bukunya ini, ia mampu mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih baik lagi. Kita bisa harus mencintai bahasa kita sendiri dengan lebih layak.

Penulis mendukung 100% kampanye tersebut, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar penulis.

Nilainya: 4.2/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 22 Juni 2019, terinspirasi setelah membaca buku Xe.no.glo.so.fi.lia karya Ivan Lanin