<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bangsa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bangsa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bangsa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2021 15:50:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bangsa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bangsa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yakin Kita Sudah Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 15:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19. Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda. Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Bulan yang biasanya diisi oleh <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan </a>harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: <strong>yakin kita sudah merdeka?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Definisi Kemerdekaan</h2>



<p>Di dalam <em>KBBI</em>, merdeka memiliki tiga arti, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri</li><li>tidak terkena atau lepas dari tuntutan</li><li>tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa</li></ol>



<p>Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Pertama</h3>



<p>Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.</p>



<p>Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.</p>



<p>Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Kedua</h3>



<p>Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.</p>



<p>Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Ketiga</h3>



<p>Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.</p>



<p>Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.</p>



<p>Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah <em>berdikari </em>seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Sudah Merdeka?</h2>



<p>Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.</p>



<p>Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.</p>



<p>Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?</p>



<p>Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.</p>



<p>Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah <em>chatting </em>dengan salah satu teman</p>



<p>Foto: <a href="https://publicholidays.co.id/independence-day/">Public Holidays</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Darah Indonesia dan Nasionalisme</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2019 01:14:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Agnez Mo]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (bahkan mungkin hingga sekarang) netizen sedang meributkan pernyataan Agnes Monica atau Agnez Mo dalam sebuah wawancara. Dari sebuah potongan video, terlihat ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki darah Indonesia. Sontak hal tersebut membuat banyak netizen langsung menghakimi Agnez dengan menyebutnya sudah lupa dengan negaranya sendiri. Benarkah demikian? Klarifikasi Agnez Penulis bukan penggemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/">Darah Indonesia dan Nasionalisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (bahkan mungkin hingga sekarang) netizen sedang meributkan pernyataan <strong>Agnes Monica</strong> atau <strong>Agnez Mo</strong> dalam sebuah wawancara.</p>
<p>Dari sebuah potongan video, terlihat ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki darah Indonesia. Sontak hal tersebut membuat banyak netizen langsung menghakimi Agnez dengan menyebutnya sudah lupa dengan negaranya sendiri.</p>
<p>Benarkah demikian?</p>
<h3>Klarifikasi Agnez</h3>
<p><div id="attachment_3151" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3151" class="size-large wp-image-3151" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3151" class="wp-caption-text">Wawancara Agnez (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.tagar.id/agnez-mo-kenapa-tidak-potong-dan-edit-bagian-ini" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjV38vG4ZXmAhVOaCsKHe61BUkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Tagar</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis bukan penggemar ataupun pembenci Agnez. Biasa saja. Penulis juga tidak pernah mendengarkan lagu-lagunya. Paling dulu sempat nonton Agnez main sinetron <em>Pernikahan Dini</em> bareng Sahrul Gunawan.</p>
<p>Seingat penulis, Agnez sudah sejak dulu mencanangkan impian untuk <em>go international</em>. Dulu banyak sekali yang mencibir dan mengatakan itu hal yang mustahil. <em>But she did it</em> dan orang-orang yang meremehkannya pun pura-pura tak melihat.</p>
<p>Kasus darah Indonesia ini menarik perhatian penulis karena menyangkut masalah nasionalisme. Banyak orang yang meyerang Agnez dan mungkin merasa lebih nasionalis, mulai dari <em>public figure,</em> politisi, hingga sesama kalangan artis.</p>
<p>Diksi <strong>darah Indonesia</strong> sendiri bisa menjadi perdebatan tersendiri. Apa yang dimaksud dengan darah Indonesia? Bisa garis keturunan dan DNA, bisa dianggap sebagai kebangsaan, dan lain sebagainya. Tergantung persepsi masing-masing.</p>
<p>Karena tak ingin gegabah mengambil sikap, penulis pun memutuskan untuk menonton video klarifikasinya di kanal YouTube Deddy Corbuzier dan video lengkap wawancaranya.</p>
<p>Penulis paham bahwa mengapa Agnez mengatakan tidak punya darah Indonesia adalah karena pertanyaan yang diajukan kepadanya: mengapa ia terlihat berbeda dari orang Indonesia kebanyakan secara fisik.</p>
<p>Agnez pun lantas menjelaskan bahwa dirinya memiliki darah Jerman, China, dan Jepang secara genetika. Bagian inilah yang dipotong lantas menjadi viral.</p>
<p>Padahal kalau kita melihat wawancaranya secara utuh, kita bisa mendengar kalau Agnez sudah menjelaskan tentang Indonesia panjang lebar, termasuk tentang keberagamannya. Sang penanya juga sudah mengetahui kalau Agnez berasal dari Indonesia.</p>
<p>Ia juga menyebutkan bahwa dirinya adalah minoritas (perempuan, kristen, keturunan), tapi mampu diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Itulah poin yang ingin ia tekankan.</p>
<h3>Nasionalisme?</h3>
<p><div id="attachment_3150" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3150" class="size-large wp-image-3150" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/darah-indonesia-dan-nasionalisme-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3150" class="wp-caption-text">Nasionalisme? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.donisetyawan.com/teori-nasionalisme/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiAuOud45XmAhVMWX0KHceOBxsQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Donisaurus</span></a>)</p></div></p>
<p>Dalam video klarifikasinya, ia juga mengatakan bahwa dirinya sudah sering ditawari untuk mendapatkan <em>green card </em>di Amerika Serikat. Namun Agnez menolaknya dan lebih memilih untuk menggunakan visa kerja.</p>
<p>Agnez tak pernah malu mengakui kepada dunia bahwa dirinya berasal dari Indonesia. Di video-video klipnya, meskipun penulis jarang melihatnya, ia juga menyisipkan kebudayaan Indonesia.</p>
<p>Penulis tidak mempertanyakan nasionalisme Agnez. Ia sudah membawa nama Indonesia ke kancah internasional, dan menurut penulis itu termasuk bentuk nasionalisme yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang.</p>
<p>Pertanyaannya, <em>seberapa besar rasa nasionalisme yang dimiliki oleh penghujat Agnez kemarin? </em>Atau kita sederhanakan pertanyaannya, <em>apa yang sudah kita lakukan demi membanggakan nama Indonesia?</em></p>
<p>Dalam KBBI, nasionalisme memiliki arti <em>paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan. </em>Nah, apakah cinta merupakan sesuatu yang bisa diukur?</p>
<p>Nasionalisme adalah sesuatu yang tidak ada tolak ukur pastinya. Lantas, mengapa kita dengan mudahnya menuduh orang lain tidak nasionalis hanya karena beberapa patah kalimat?</p>
<p>Kita ini terkadang disibukkan dengan mencibir dan <em>nyinyirin </em>orang lain hingga lupa dengan dirinya sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Bahkan setelah segala bentuk klarifikasi dari Agnez keluar, ada saja yang tetap meragukan nasionalisme Agnez. Ya sudah, itu hak mereka untuk terus <em>nyinyirin </em>orang lain.</p>
<p>Bagaimana kalau ternyata Agnez punya darah Indonesia secara genetika dan menutup-nutupinya? Tentu itu menjadi beda cerita. Tapi karena tidak kenal dengan keluarga Agnez, penulis memilih untuk percaya dengan kata-kata Agnez.</p>
<p>Penulis sendiri merasa dirinya belum melakukan sesuatu yang berarti untuk bangsa ini. Penulis juga tidak pernah merasa dirinya nasionalis.</p>
<p>Akan tetapi, penulis berusaha untuk mencintai bangsa ini dari sisi baik dan buruknya. Penulis lahir dan besar di sini, jadi sudah sepatutnya penulis mencintai Indonesia dan menumbuhkan rasa nasionalisme secara bertahap.</p>
<p>Dari kasus Agnez ini penulis belajar bahwa kita tidak boleh menghakimi orang lain dengan mudahnya, apalagi hanya bermodalkan potongan video ataupun kalimat di media sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 Desember 2019, terinspirasi dari kehebohan Agnez Mo dan darah Indonesia</p>
<p>Foto: <a href="https://www.tagar.id/denny-siregar-sebut-agnes-mo-kacang-lupa-kulit">Tagar</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/darah-indonesia-dan-nasionalisme/">Darah Indonesia dan Nasionalisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2019 01:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2618</guid>

					<description><![CDATA[<p>Negara kita tercinta, Indonesia, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-74 tahun. Demi merasakan euforianya, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh Karang Taruna. Oleh karena itu, penulis merasa terdorong untuk merenungi tentang kemerdekaan itu sendiri. Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Lebih lanjut, untuk apa kita merdeka? Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/">Untuk Apa Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Negara kita tercinta, <strong>Indonesia</strong>, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-74 tahun. Demi merasakan euforianya, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang dan mengikuti berbagai <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh Karang Taruna</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa terdorong untuk merenungi tentang kemerdekaan itu sendiri. Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Lebih lanjut, untuk apa kita merdeka?</p>
<h3>Apa Kita Benar-Benar Sudah Merdeka?</h3>
<p><div id="attachment_2621" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2621" class="size-large wp-image-2621" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2621" class="wp-caption-text">Freeport (<a href="https://walhi.or.id/keperihatinan-kelompok-masyarakat-sipil-terhadap-konflik-pt-freeport-dan-pemerintah-indonesia/">Walhi</a>)</p></div></p>
<p>Mari kita urai pertanyaan yang pertama, apakah kita benar-benar sudah merdeka? Merdeka dari bentuk penjajahan fisik mungkin iya, tapi bagaimana dengan penjajahan bentuk baru?</p>
<p>Mungkin sudah tidak ada negara lain yang menempatkan pasukannya di tanah air kita, tapi bisa jadi mereka datang dalam bentuk lain seperti &#8220;investasi&#8221; yang hanya menguntungkan beberapa pihak, bukan seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Sudah banyak kita baca melalui berbagai media bahwa banyak sumber daya alam kita dikuasai oleh pihak asing. Katanya, karena kita belum mampu mengolahnya sendiri. Mungkin iya, waktu dulu ketika Indonesia baru merdeka. Sekarang?</p>
<p>Itu baru satu sektor yang memang ramai dibincangkan tapi kerap pula untuk dilupakan. Bagaimana dengan sektor lain yang jarang tereskpos oleh media? Penulis yakin ada banyak yang seperti ini.</p>
<p>Tidak hanya dijajah oleh bangsa lain, kita pun berpotensi untuk dijajah oleh negara kita sendiri ketika hak kita dirampas dan pemerintah tutup telinga dari jeritan-jeritan memohon keadilan.</p>
<p>Apakah memang kemerdekaan hanya milik segelintir rakyat Indonesia yang bebas ingin melakukan apa saja karena memiliki harta, <em>privilage</em>, dan kekuasaan?</p>
<p>Meskipun nyatanya masih banyak, penulis tidak ingin masyarakat Indonesia menjadi <em>jongos </em>di negaranya sendiri, walaupun penulis menyadari bahwa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">etos kerja dan belajar yang kita miliki masih kalah</a> dari bangsa lain yang lebih maju.</p>
<h3>Untuk Apa Merdeka?</h3>
<p><div id="attachment_2619" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2619" class="size-large wp-image-2619" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2619" class="wp-caption-text">Pembacaan Proklamasi (<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia">Wikipedia</a>)</p></div></p>
<p>Beralih ke pertanyaan kedua, untuk apa kita merdeka? Untuk apa para pahlawan mengorbankan dirinya agar kemerdekaan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia?</p>
<p>Dari buku sejarah yang kita pelajari sejak SD, kemerdekaan direbut karena kita diperlakukan secara sewenang-wenang oleh penjajah, baik ketika Belanda, Jepang, maupun negara lain.</p>
<p>Intinya, kita menderita akibat perlakuan buruk dari para penjajah. Pertanyaannya, sudahkah kita bebas dari penderitaan tersebut? Sebagian sudah, sebagian belum. Yang jelas, hidup kita jauh lebih baik jika dibandingkan era penjajahan.</p>
<p>Hanya saja, untuk apa kita merdeka jika kita tidak bisa memberikan apapun ke negara? Untuk apa merdeka, jika kita hanya bisa menjadi beban negara tanpa bisa membuatnya bangga sekalipun?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita malah malas-malasan seolah tidak menghargai usaha para pahlawan? Untuk apa merdeka, jika kita meremehkan makna kemerdekaan itu sendiri dan menganggapnya hanya sebagai salah satu peristiwa di masa lalu?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita hanya bisa menyombongkan rasa nasionalisme tanpa ada bukti nyatanya? Untuk apa merdeka, jika kita merasa lebih pancasilais dibandingkan orang lain?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita justru menimbulkan perpecahan yang membuat kita berperang satu sama lain, terutama di media sosial? Untuk apa merdeka, jika kita memusuhi sesama bangsa sendiri?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita membiarkan bangsa lain mengambil sumber daya kita dengan bebas di kala masih banyak rakyat yang menderita? Untuk apa merdeka, jika kita menutup mata ketika melihat ketidakadilan tersebut?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita malah menjadi generasi yang menjunjung tinggi budaya lain dan menghina budaya sendiri? Untuk apa merdeka, jika kita menjadi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/"><em>bucin </em>kebudayaan bangsa lain</a> secara berlebihan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri masih belum bisa menghargai makna kemerdekaan itu sendiri. Penulis masih terus belajar agar mampu menghayati kemerdekaan dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hal tersebut memang tidak mudah untuk dilakukan, tapi bisa jika kita bersungguh-sungguh. Membaca banyak literatur sejarah bisa menjadi salah satu cara ampuh untuk meningkatkan rasa nasionalisme yang dimiliki.</p>
<p>Yang jelas, kemerdekaan telah diraih oleh para pahlawan demi kemakmuran rakyatnya. Peringatan kemerdekaan yang dirayakan secara meriah setiap tahun seharusnya bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak elemen kemerdekaan yang belum kita dapatkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Agustus 2019, terinspirasi setelah pulang ke Malang dan merayakan kemerdekaan bersama Karang Taruna</p>
<p>Foto: <a href="https://www.aida.or.id/2018/09/3051/jiwa-bangsa-merdeka">Aliansi Indonesia Damai (AID)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/">Untuk Apa Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 11:05:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Chelsea Islan]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Hongkong Kasarung]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Sekala Niskala]]></category>
		<category><![CDATA[Sule]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=537</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis. Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis.</p>
<p>Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya bisa dilihat. Setelah menimbang-nimbang dan teringat kampanye Chelsea Islan dengan hashtag #banggafilmindonesia, penulis pun memilih film <strong>Sekala Niskala </strong>yang mengangkat budaya Bali.</p>
<p>Setelah tertunda beberapa kali, penulis akhirnya berangkat menuju Cinema XXI yang berada di Taman Ismail Marzuki karena dekat dengan Masjid Cut Meutia (baca: <a href="http://whathefan.com/2018/03/21/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/">Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</a>).</p>
<p><strong>Sekala Niskala</strong></p>
<p><div id="attachment_538" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-538" class="size-full wp-image-538" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg" alt="" width="690" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg 690w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-300x196.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-356x232.jpg 356w" sizes="(max-width: 690px) 100vw, 690px" /><p id="caption-attachment-538" class="wp-caption-text">Sekala Niskala (http://www.suaramerdeka.com/ekspresi/detail/504/Sekala-Niskala-Hubungan-Magis-Antara-Saudara-Kembar)</p></div></p>
<p>Ketika berada di loket, penulis melihat bahwa film terbaru Sule, <strong>Hongkong Kasarung</strong>, telah tayang di bioskop. Maka dari itu penulis putuskan untuk menonton sekalian film tersebut. #banggafilmindonesia</p>
<p>Penulis sedikit terlambat karena waktunya yang agak mepet dengan waktu berakhirnya Sholat Jum&#8217;at. Pikir penulis, pasti sudah banyak yang datang. Ternyata, baru enam orang yang datang. Fakta ini penulis ketahui ketika memilih kursi di loket, ketika warna hijau mendominasi layar. Penulis sampai bertanya kepada petugas loket, yang kosong yang warna apa, merah atau hijau.</p>
<p>Karena banyak kursi kosong, penulis bisa bebas memilih kursi mana yang ingin diduduki. Bioskop serasa milik sendiri, walaupun di belakang banyak pasangan yang juga ikut menonton.</p>
<p>Lalu, bagaimana filmnya?</p>
<p>Melihat Sekala Niskala itu serasa membaca puisi. Multitafsir dan butuh penghayatan yang dalam. Penulis butuh browsing untuk bisa memahami film tersebut.</p>
<p>Ternyata, Sekala dan Niskala adalah dua dunia yang berbeda, di mana Sekala adalah dunia nyata di mana kita tinggal dan Niscaya adalah alam lain, yang di film ini merupakan dunia imajinasi dari karakter utama.</p>
<p>Budaya Bali dalam film ini sangat kentara, mulai dari bahasa hingga tarian-tarian yang ditampilkan. Benar-benar membawa budaya asli Indonesia, bukan hanya sekedar kata-kata dalam bahasa daerah (termasuk kata kotornya) seperti film sebelah.</p>
<p>Walaupun sempat tertidur karena banyaknya adegan sinden bernyanyi yang membuat penulis terkantuk-kantuk, penulis merasa puas melihat film ini, bagaikan melihat almarhum Rendra membawakan puisinya.</p>
<p><strong>Hongkong Kasarung</strong></p>
<p><div id="attachment_539" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-539" class="size-large wp-image-539" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-539" class="wp-caption-text">Hongkong Kasarung (youtube.com)</p></div></p>
<p>Setelah melihat film serius (sama sekali tidak ada humor dalam film Sekala Niskala), penulis menonton film komedi Hongkong Kasarung. Awalnya penulis agak skeptis melihat film komedi lokal, takutnya garing seperti kerupuk.</p>
<p>Untunglah, semua pesimisme penulis salah besar. Film tersebut kocak habis! Banyak adegan-adegan lucu yang berhasil membuat tawa penulis lepas. Guyonan khas Sule dkk muncul dalam film ini. Penggunaan bahasa Sunda menambah nilai positif film ini.</p>
<p>Intinya, film ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan usia.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Tahun 2018 ini merupakan rekor penulis dalam menonton film, dengan menonton 4 film dalam tiga bulan. Sebagai perbandingan, tahun 2017 kemarin, selama satu tahun penulis hanya menonton satu kali, yakni film Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale (padahal penulis tidak pernah melihat serial Sword art Online, alhasil teman penulis menjadi korban karena penulis tak pernah berhenti bertanya tentang film tersebut).</p>
<p>Dari empat film tersebut, tiga di antaranya adalah film lokal (baca: Setelah Menonton Si Juki), hanya Black Panther yang film buatan luar (karena penulis penggemar Superhero).</p>
<p>Mengapa bisa seperti itu?</p>
<p>Karena penulis menyadari bahwa kita bisa berperan memajukan perfilman Indonesia dengan cara menontonnya. Kalau bisa, bukan film-film terkenal macam cinta-cintaan anak SMA itu, melainkan film-film yang mengangkat budaya lokal. Tapi jika maunya film yang bergenre romantis, ya enggak apa-apa, yang penting masih film lokal.</p>
<p>Semangat #banggafilmindonesia ini terinspirasi dari teman penulis semasa di Pare, bang Edo, yang pernah berkata:</p>
<p>&#8220;Kalau ada film Indonesia, aku akan berusaha untuk menontonnya.&#8221;</p>
<p>Kalau film-film <em>box office </em>dari luar negeri kan sudah tersebar ke mana-mana tuh, pasti banyak penontonnya. Karena itu, sebagai warga negara yang baik, menonton karya anak bangsa adalah salah satu bentuk dukungan kita kepada perfilman Indonesia agar semakin maju.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>#banggafilmindonesia</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menonton film Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komik, Wayang, dan Anime Wayang</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2018 07:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[garudayana]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah! Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin hunting lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah!</p>
<p>Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin <em>hunting</em> lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki The Movie yang meningkatkan kesadaran saya untuk mengapresiasi komik lokal.</p>
<p>Pagi ini langsung saya tamatkan keempat bukunya, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Ceritanya keluar dari pakem karena ada karakter baru (Kinara dan Garu), namun sama sekali tidak mengurangi unsur budaya Indonesia. Model gambarnya jauh berbeda dengan komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih karena di komik ini menggunakan style yang mirip-mirip dengan komik Jepang. Cerita petualangan dibumbui serunya pertarungan dan humor-humor segar membuat saya sangat menikmati Garudayana.</p>
<p>Kecintaan saya terhadap wayang bermula ketika menemukan buku cerita wayang milik pakde saya. Buku itu bercerita kejadian di Bale Sigala-gala, tempat Kurawa merencanakan ide piciknya untuk membakar bale itu bersama Pandawa yang sengaja diundang untuk pesta. Untunglah Bima mendapatkan wahyu untuk tidak ikut mabuk dan bisa menolong Pandawa yang lain dari kebakaran.</p>
<p>Saya selalu tertarik dengan wayang, walaupun belum pernah melihat wayang secara langsung. Jika ada di TVRI pun menggunakan bahasa jawa alus tanpa <em>subtitle </em>yang membuat saya tidak bisa memahami. Oleh karena itu saya membeli buku Mahabarata karya C. Rajagopalachari untuk lebih memahami ceritanya dalam versi aslinya dulu. Setelah itu saya mencari literatur lain seperti buku-buju Sujiwo Tejo dan Seno Gumira Ajidarma untuk menambah wawasan.</p>
<p>Cerita wayang sebenarnya sangat menarik, tidak kalah dengan Naruto maupun Dragonball. Hanya saja, adik-adik atau bahkan orang-orang dewasa kurang tertarik dengan pertunjukan wayang yang dianggap membosankan. Untuk itu saya memiliki mimpi jika suatu saat akan ada film serial animasi wayang yang dipoles mirip anime-anime Jepang. Saya yakin jika dimodel seperti itu, orang-orang terutama generasi muda akan tertarik mengetahui dunia perwayangan dan hafal dengan tokoh-tokohnya seperti mereka yang hafal dengan karakter-karakter di One Piece. Saya optimis dengan hal ini karena masyarakat Indonesia bisa menikmati film-film India seperti Mahabarata, lalu apa ada alasan untuk tidak menyukai Mahabarata versi kita sendiri?</p>
<p>Seandainya saya pandai menggambar, saya pasti akan melakukan apa yang dilakukan oleh mas Is Yuniarto (saya tahu pertama kali tentang penulis dengan komiknya yang berjudul Wind Rider). Tapi karena tidak, seandainya ada tawaran saya akan bersedia untuk menulis skrip ceritanya dengan senang hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat wayang, salah satu kebudayaan terbesar yang dimiliki Indonesia, dicintai dan dinikmati semua generasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Januari 2018, setelah membaca komik Garudayana Saga</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
