Komik, Wayang, dan Anime Wayang

Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah!

Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin hunting lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki The Movie yang meningkatkan kesadaran saya untuk mengapresiasi komik lokal.

Pagi ini langsung saya tamatkan keempat bukunya, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Ceritanya keluar dari pakem karena ada karakter baru (Kinara dan Garu), namun sama sekali tidak mengurangi unsur budaya Indonesia. Model gambarnya jauh berbeda dengan komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih karena di komik ini menggunakan style yang mirip-mirip dengan komik Jepang. Cerita petualangan dibumbui serunya pertarungan dan humor-humor segar membuat saya sangat menikmati Garudayana.

Kecintaan saya terhadap wayang bermula ketika menemukan buku cerita wayang milik pakde saya. Buku itu bercerita kejadian di Bale Sigala-gala, tempat Kurawa merencanakan ide piciknya untuk membakar bale itu bersama Pandawa yang sengaja diundang untuk pesta. Untunglah Bima mendapatkan wahyu untuk tidak ikut mabuk dan bisa menolong Pandawa yang lain dari kebakaran.

Saya selalu tertarik dengan wayang, walaupun belum pernah melihat wayang secara langsung. Jika ada di TVRI pun menggunakan bahasa jawa alus tanpa subtitle yang membuat saya tidak bisa memahami. Oleh karena itu saya membeli buku Mahabarata karya C. Rajagopalachari untuk lebih memahami ceritanya dalam versi aslinya dulu. Setelah itu saya mencari literatur lain seperti buku-buju Sujiwo Tejo dan Seno Gumira Ajidarma untuk menambah wawasan.

Cerita wayang sebenarnya sangat menarik, tidak kalah dengan Naruto maupun Dragonball. Hanya saja, adik-adik atau bahkan orang-orang dewasa kurang tertarik dengan pertunjukan wayang yang dianggap membosankan. Untuk itu saya memiliki mimpi jika suatu saat akan ada film serial animasi wayang yang dipoles mirip anime-anime Jepang. Saya yakin jika dimodel seperti itu, orang-orang terutama generasi muda akan tertarik mengetahui dunia perwayangan dan hafal dengan tokoh-tokohnya seperti mereka yang hafal dengan karakter-karakter di One Piece. Saya optimis dengan hal ini karena masyarakat Indonesia bisa menikmati film-film India seperti Mahabarata, lalu apa ada alasan untuk tidak menyukai Mahabarata versi kita sendiri?

Seandainya saya pandai menggambar, saya pasti akan melakukan apa yang dilakukan oleh mas Is Yuniarto (saya tahu pertama kali tentang penulis dengan komiknya yang berjudul Wind Rider). Tapi karena tidak, seandainya ada tawaran saya akan bersedia untuk menulis skrip ceritanya dengan senang hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat wayang, salah satu kebudayaan terbesar yang dimiliki Indonesia, dicintai dan dinikmati semua generasi.

 

 

Lawang, 4 Januari 2018, setelah membaca komik Garudayana Saga

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.