Connect with us

Anime & Komik

Komik, Wayang, dan Anime Wayang

Published

on

Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah!

Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin hunting lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki The Movie yang meningkatkan kesadaran saya untuk mengapresiasi komik lokal.

Pagi ini langsung saya tamatkan keempat bukunya, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Ceritanya keluar dari pakem karena ada karakter baru (Kinara dan Garu), namun sama sekali tidak mengurangi unsur budaya Indonesia. Model gambarnya jauh berbeda dengan komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih karena di komik ini menggunakan style yang mirip-mirip dengan komik Jepang. Cerita petualangan dibumbui serunya pertarungan dan humor-humor segar membuat saya sangat menikmati Garudayana.

Kecintaan saya terhadap wayang bermula ketika menemukan buku cerita wayang milik pakde saya. Buku itu bercerita kejadian di Bale Sigala-gala, tempat Kurawa merencanakan ide piciknya untuk membakar bale itu bersama Pandawa yang sengaja diundang untuk pesta. Untunglah Bima mendapatkan wahyu untuk tidak ikut mabuk dan bisa menolong Pandawa yang lain dari kebakaran.

Saya selalu tertarik dengan wayang, walaupun belum pernah melihat wayang secara langsung. Jika ada di TVRI pun menggunakan bahasa jawa alus tanpa subtitle yang membuat saya tidak bisa memahami. Oleh karena itu saya membeli buku Mahabarata karya C. Rajagopalachari untuk lebih memahami ceritanya dalam versi aslinya dulu. Setelah itu saya mencari literatur lain seperti buku-buju Sujiwo Tejo dan Seno Gumira Ajidarma untuk menambah wawasan.

Cerita wayang sebenarnya sangat menarik, tidak kalah dengan Naruto maupun Dragonball. Hanya saja, adik-adik atau bahkan orang-orang dewasa kurang tertarik dengan pertunjukan wayang yang dianggap membosankan. Untuk itu saya memiliki mimpi jika suatu saat akan ada film serial animasi wayang yang dipoles mirip anime-anime Jepang. Saya yakin jika dimodel seperti itu, orang-orang terutama generasi muda akan tertarik mengetahui dunia perwayangan dan hafal dengan tokoh-tokohnya seperti mereka yang hafal dengan karakter-karakter di One Piece. Saya optimis dengan hal ini karena masyarakat Indonesia bisa menikmati film-film India seperti Mahabarata, lalu apa ada alasan untuk tidak menyukai Mahabarata versi kita sendiri?

Seandainya saya pandai menggambar, saya pasti akan melakukan apa yang dilakukan oleh mas Is Yuniarto (saya tahu pertama kali tentang penulis dengan komiknya yang berjudul Wind Rider). Tapi karena tidak, seandainya ada tawaran saya akan bersedia untuk menulis skrip ceritanya dengan senang hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat wayang, salah satu kebudayaan terbesar yang dimiliki Indonesia, dicintai dan dinikmati semua generasi.

 

 

Lawang, 4 Januari 2018, setelah membaca komik Garudayana Saga

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Anime & Komik

Memaknai Kesepian Ala Naruto dan Sasuke

Published

on

By

Jika bicara tentang rivalitas antara karakter anime, nama Naruto Uzumaki dan Sasuke Uchiha jelas perlu disebut. Dua tokoh utama dari serial Naruto ini memiliki sejarah persaingan yang panjang.

Sewaktu masih di akademi, Naruto adalah murid yang nilainya paling buruk, sedangkan Sasuke adalah yang paling tertinggi. Jika Naruto kerap dianggap konyol, maka Sasuke begitu dikagumi oleh para perempuan karena dianggap cool.

Terlepas dari perbedaan yang dimiliki oleh keduanya, ada satu kemiripan yang mungkin membuat mereka memiliki ikatan yang begitu kuat. Ketika masih kecil, mereka sama-sama merasakan kesepian.

Kesepian Ala Naruto

Naruto Suka Berbuat Jahil (Wallpaper Cave)

Naruto Uzumaki lahir dari pasangan Minato Namikaze alias Hokage Keempat dan Kushina Uzumaki. Sayangnya, Naruto tidak pernah bertemu dengan orang tuanya sejak lahir karena harus tewas melindungi desa Konoha dari serangan monster berekor sembilan.

Di manga tidak pernah dijelaskan secara rinci bagaimana Naruto hidup di masa kecil. Kemungkinan, ia diasuh oleh Hokage Ketiga hingga usia tertentu sebelum “dibiarkan” hidup sendirian tanpa tahu siapa orang tuanya.

Anak kecil yang hidup sendirian tentu akan merasakan kesepian tanpa tahu mengapa ia kesepian. Selain itu, penduduk desa juga menjauhinya karena dianggap sebagai reinkarnasi dari rubah ekor 9 yang menghancurkan desa.

(Bisa dibilang, ini salah satu plot hole yang dimiliki oleh Naruto: Bagaimana bisa anak dari seorang pahlawan desa mendapatkan perlakukan sedemikian buruk dan seolah ditelantarkan begitu saja)

Untuk melawan rasa kesepian tersebut, Naruto pun kerap berbuat konyol dan jahil demi mendapatkan perhatian dari penduduk desa. Meskipun konotasinya negatif, setidaknya bagi Naruto itu lebih baik daripada merasa kesepian.

Kesepian Ala Sasuke

Itachi dan Sasuke (Pinterest)

Sasuke Uchiha memiliki kisah yang lebih tragis. Lahir dari klan Uchiha yang terkenal karena mata Sharingan-nya, ia merupakan anak dari Fugaku dan Mikoto Uchiha. Ia juga memiliki seorang kakak jenius yang bernama Itachi Uchiha.

Sasuke sejak kecil selalu dibayang-bayangi oleh kehebatan kakaknya, hingga ia berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Walaupun begitu, Sasuke tidak pernah membenci kakaknya. Sebaliknya, ia sangat menyayanginya.

Semua berubah ketika Itachi harus membantai seluruh klan Uchiha, sebuah misi rahasia yang diberikan kepadanya demi menghindari kudeta yang hendak dilakukan oleh mereka. Itachi menyanggupi misi tersebut dengan syarat Sasuke harus tetap hidup.

Semenjak itu, Sasuke pun menjadi satu-satunya klan Uchiha yang tersisa di desa Konoha dan hidup sendirian. Secara mendadak, ia harus merasakan kesepian yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Ketika Naruto hendak menghentikan Sasuke yang pergi ke tempat Orochimaru, Sasuke berkata bahwa Naruto tidak pernah merasakan kehilangan seperti dirinya karena sejak awal tidak punya siapa-siapa, sehingga ia menganggap Naruto tidak akan pernah paham apa yang ia rasakan.

Cara Naruto dan Sasuke Merespon Kesepian

Sasuke dan Naruto (MyAnimeList)

Selain berusaha mendapatkan perhatian dari tindakan konyolnya, Naruto sejak kecil juga bercita-cita untuk menjadi seorang Hokage agar mendapatkan pengakuan dari penduduk desa. Hal ini terasa mustahil untuk anak yang dikucilkan sejak kecil.

Di sisi lain, Sasuke merespon tragedi yang ia alami dengan cara berusaha keras untuk menjadi ninja yang hebat sehingga bisa membunuh kakaknya dan membalaskan dendam klan Uchiha. Tak heran ia selalu jadi yang nomor satu sewaktu di akademi.

Nasib (dan campur tangan orang dalam) membuat mereka berdua berada dalam satu tim bersama Sakura Haruno di bawah bimbingan Kakashi Hatake. Dua orang yang masa kecilnya sendiri akhirnya menemukan keluarga baru.

Bedanya, Naruto selalu berusaha melindungi “keluarga baru” tersebut dan Sasuke dibutakan oleh balas dendam sehingga sempat meninggalkan keluarganya tersebut. Bahkan, ada di satu titik kalau Sasuke ingin membunuh Naruto, Sakura, hingga Kakashi.

Pada perjalanannya, Naruto perlahan mendapatkan apa yang ia inginkan: Pengakuan dari warga desa. Ia telah dianggap sebagai pahlawan setelah berhasil mengalakan Pain, ketua organigasi Akatsuki.

Di sisi lain, Sasuke tak pernah habis dengan dendamnya. Setelah Itachi mati, ia ingin menghancurkan desa Konoha. Setelah itu berubah lagi ia ingin membuat revolusi dan menjadi seorang Hokage. Kebencian telah mengonsumsi Sasuke secara buruk.

Penutup

“Kita adalah bocah-bocah kesepian yang mendambakan cinta… tapi, malah menuai kebencian.”

Sasuke Uchiha di komik naruto Vol. 71

Meskipun melalui masa kecil yang kesepian, pada akhirnya Naruto dan Sasuke berhasil keluar dari neraka tersebut. Mereka sama-sama memiliki keluarga kecil yang relatif bahagia dan kekuatannya diakui oleh semua orang.

Di sini kita bisa melihat kalau Naruto merespon rasa kesepian tersebut dengan cara berusaha mendapatkan atensi dari pihak luar. Dengan memiliki hubungan dengan orang lain, Naruto bisa menghilangkan rasa kesepian yang ia rasakan.

Sasuke merespon rasa kesepiannya dengan mengembangkan dirinya sendiri agar menjadi kuat. Ia seolah tidak peduli dengan orang lain dan hanya berfokus pada dirinya agar bisa meraih tujuan yang ia inginkan.

Mana cara yang benar? Tidak ada benar dan salah di sini. Semua orang punya caranya masing-masing untuk mengatasi masalah kesepian yang dialami. Kisah Naruto dan Sasuke hanyalah beberapa contoh yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesepian.

Ada banyak cara untuk mengatasi kesepian dan setiap individu pasti memiliki cara yang berbeda-beda. Mana yang paling cocok untuk kita, hanya kita yang tahu.


Lawang, 7 November 2021, terinspirasi setelah membaca komik Naruto vol. 71

Foto: Wallpaper Access

Continue Reading

Anime & Komik

Sekolah Superhero Ala My Hero Academia

Published

on

By

Sebagai anak laki-laki, wajar jika Penulis menyukai manga atau anime shounen yang identik dengan adegan action dan kekuatan-kekuatan super.

Buat yang belum tahu, shounen merupakan istilah untuk menggambarkan genre manga/anime yang ditujukan untuk pasar remaja laki-laki, walau pada kenyataannya orang dewasa pun masih banyak yang mengikutinya.

Dragon Ball menjadi anime shounen pertama yang disukai karena sewaktu kecil suka membaca komiknya dan menonton animenya di Indosiar dan Animax. Setelah itu, Penulis juga menyukai Naruto dan membaca manganya hingga tamat.

Keduanya sudah lama tamat. Lanjutannya (Dragon Ball Super dan Boruto) Penulis anggap tidak terlalu menarik sehingga hanya mengikuti ala kadarnya.

Untungnya, Penulis memiliki pilihan anime shounen yang tidak kalah menarik sekarang: My Hero Academia.

Awal Pertemuan dengan My Hero Academia

Midoriya dan All Might (Pinterest)

Pertemuan pertama Penulis dengan anime My Hero Academia (僕のヒーローアカデミア/Boku no Hero Academia) terjadi setelah saran dari mantan teman kantor di tempat lama.

Pada tahun 2017, Penulis baru memulai untuk menonton serial anime untuk mengisi waktu luang setelah pulang bekerja. Oleh karena itu, Penulis meminta beberapa rekomendasi. Salah satunya ya My Hero Academia (MHA) ini.

Setelah Penulis tonton, ternyata temanya sangat cocok dengan Penulis. Sebagai penggemar film-film superhero, MHA bagi Penulis mampu memberikan angle yang menarik di tengah gempuran Marvel dan DC Comics.

Apalagi sang tokoh utama, Izuku Midoriya, digambarkan sebagai tokoh yang sama sekali tidak memiliki kekuatan (quirk). Padahal, ia selalu memiliki cita-cita menjadi superhero seperti idolanya, All Might.

Untungnya, Midoriya dipilih oleh All Might untuk mewarisi kekuatannya yang bernama One for All. Ia pun berlatih untuk bisa mengendalikan kekuatan tersebut. Tema zero to hero ini Penulis sukai karena bisa memotivasi kita sebagai penonton.

Sekolah Superhero

U.A. High School (My Hero Academia – Fandom)

Goku hanya pernah melakukan latihan bersama guru-gurunya, mulai Master Roshi hingga Whis. Naruto masuk ke akademi ninja, namun tidak diceritakan bagaimana kehidupannya selama menempuh pendidikan di sana.

Baru kali inilah, setidaknya sepengetahuan Penulis, kita akan melihat bagaimana superhero dilatih dan ditempa di sebuah institusi khusus. Konsepnya terlihat mirip dengan X-Men dari Marvel.

Sang tokoh utama kita, Midoriya, bersekolah di U.A. High School. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah superhero terbaik di Jepang. All Might juga menjadi pengajar di sini.

Setiap tingkat, ada 11 kelas yang dibagi berdasarkan departemennya menjadi seperti berikut:

  • Kelas A-B: Department of Heroes
  • Kelas C-E: Department of General Education
  • Kelas F-H: Department of Support
  • Kelas I-K: Department of Management

Midoriya berhasil masuk ke kelas A, yang mungkin bisa dianggap sebagai kelas unggulan untuk para calon superhero. Ia pun bertemu dengan teman-teman kelasnya yang juga memiliki kemampuan unik (gambar banner adalah murid-murid kelas A).

Penulis hanya heran karena 1 hal. Ada beberapa murid kelas B yang lebih kuat dari murid kelas A dengan kekuatan yang lebih berguna di pertarungan. Penulis kurang tahu apa standar yang digunakan oleh U.A. dalam pembagian kelas.

Hitam Putih antara Supervillain dan Superhero

Tomura Shigaraki (CBR)

Dengan latar dunia di mana mayoritas manusianya memiliki quirk, wajar jika ada sekolah superhero untuk melatih anak-anak berbakat mengendalikan kemampuannya demi melawan kejahatan.

Tentu saja ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuatannya untuk berbuat jahat. Ada yang skala kecil, tapi ada juga tingkat kejahatan yang melampaui batas.

Seperti kebanyakan anime shounen, MHA pun terlihat memiliki klise di mana yang baik dan yang jahat digambarkan dengan begitu hitam putih. Sang tokoh utama pun digambarkan sebagai orang yang sangat bermoral, seperti Goku dan Naruto.

Musuh utama dari para pahlawan kita adalah League of Villains yang dipimpin oleh All for One, yang sekarang nampaknya dipimpin oleh Tomura Shigaraki.

Tentu di perjalanannya ada banyak musuh dari kubu lain, yang menurut Penulis menjadi salah satu kekurangan anime MHA yang terlihat sering mengulur waktu agar ceritanya semakin panjang.

Siapa Karakter Favorit Penulis?

Himiko Toga (Screen Rant)

Sebagai anime yang memiliki buanyak karakter karena tema sekolah superheronya, siapa yang menjadi favorit Penulis? Anehnya, Penulis lebih memilih Himiko Toga yang sepintas mengingatkan kita kepada karakter Harley Quinn dari Suicide Squad.

Tidak ada alasan spesifik, suka saja dengan karakternya. Padahal, ia adalah anggota dari League of Villain walau rasanya ia tidak benar-benar jahat.

Kalau dari sisi superhero-nya, mungkin Penulis akan lebih memilih Ochaco Uraraka. Gemas saja melihat karakternya yang imut dan suka salting ketika berhadapan dengan Midoriya.

Mirio Togata yang mirip Tintin juga karakter yang Penulis sukai. Dulu Penulis sempat memilih Fumikage Tokoyami dan Shoto Todoroki sebelum akhirnya memutuskan untuk berpindah haluan.

Penutup

My Hero Academia layak menjadi anime shounen favorit Penulis yang ketiga setelah Dragon Ball dan Naruto. Alur ceritanya, komedinya, adegan aksinya, semua benar-benar sesuai dengan selera Penulis.

Karena pada dasarnya lebih suka membaca manga, Penulis sudah tahu bagaimana cerita dari MHA ke depannya. Maklum, animenya masih season 5 dan cerita manganya sudah berjalan begitu jauh.

Salah satu kekhawatiran Penulis adalah animenya tidak akan tamat mengikuti serial manga. Bisa saja ending-nya diubah seperti The Promised Neverland sehingga menimbulkan kekecewaan.

Jika jumlah episode setiap season-nya sama seperti sekarang (sekitar 20-an), bisa jadi MHA akan tamat pada season yang jumlahnya puluhan. Sudahlah, nikmati saja anime yang bertema sekolah superhero ini!


Lawang, 30 Juli 2021, terinspirasi karena ingin menulis tentang My Hero Academia

Foto: DevianArt

Sumber Artikel: My Hero Academia Wiki | Fandom

Continue Reading

Anime & Komik

Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom

Published

on

By

Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara “lomba presentasi” di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.

Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.

Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.

Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang Assassination Classroom.

Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.

Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka

SMP Kunugigaoka (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di SMP Kunugigaoka. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.

Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah, Gakuho Asano, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari End tersebut.

Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.

Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.

Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.

Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.

Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.

Mengembangkan Bakat dan Minat Murid

Setiap Murid Berbeda (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.

Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil mengeluarkan potensi setiap murid yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.

Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.

Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka.

Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.

Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.

Guru yang Serba Bisa

Guru Idaman (WallpaperAccess)

Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat menyampaikan ilmunya dengan baik ke murid-muridnya.

Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan metode mana yang paling cocok untuk tiap murid sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.

Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.

Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi expert di mata pelajaran tersebut.

Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.

Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif.

Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.

Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.

Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.

Penutup

Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.

Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.


Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga Assassination Classroom

Foto: Netflix

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan