<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bully Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bully/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bully/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Oct 2019 11:19:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bully Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bully/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mereka Bilang Saya Banci</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/mereka-bilang-saya-banci/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 11:02:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[banci]]></category>
		<category><![CDATA[berdamai]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[ejekan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[masa SD]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2941</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara sebuah mimpi, penulis jadi teringat masa-masa SD-nya. Sayang, yang teringat justru hal-hal buruk seperti ejekan yang tersemat pada penulis. Selama ini, penulis menganggapnya sebagai aib dan berusaha menguburnya dalam-dalam. Akan tetapi, penulis sadar bahwa sampai kapan pun kita tidak akan bisa melupakannya. Banci, Bencong, dan Perawan Waktu SD dulu, penulis merupakan tipe murid yang kuper dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mereka-bilang-saya-banci/">Mereka Bilang Saya Banci</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara sebuah mimpi, penulis jadi teringat masa-masa SD-nya. Sayang, yang teringat justru hal-hal buruk seperti ejekan yang tersemat pada penulis.</p>
<p>Selama ini, penulis menganggapnya sebagai aib dan berusaha menguburnya dalam-dalam. Akan tetapi, penulis sadar bahwa sampai kapan pun kita tidak akan bisa melupakannya.</p>
<h3>Banci, Bencong, dan Perawan</h3>
<p>Waktu SD dulu, penulis merupakan tipe murid yang <em>kuper </em>dan susah bergaul. Bisa dibilang, penulis tidak memiliki teman dekat ketika SD. Penulis juga tipe murid yang dengan mudah namanya akan dilupakan oleh guru-guru.</p>
<p>Oleh beberapa teman SD, penulis sering dipanggil dengan sebutan <em><strong>banci</strong>, <strong>bencong</strong>, <strong>perawan</strong></em>, dan lain sebagainya. Penulis benar-benar membenci sebutan tersebut, karena mana ada anak laki-laki yang senang dipanggil demikian?</p>
<p>Selain panggilan tersebut, penulis juga kerap dipanggil <strong><em>becak </em></strong>atau versi bahasa Inggrisnya, <strong><em>pedicap</em></strong>. Untuk yang dua ini, penulis tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati dan menganggapnya sebagai bahan canda.</p>
<p>Penulis sendiri sampai sekarang tidak memahami dari mana ejekan-ejekan tersebut muncul. Mungkin, karena penulis termasuk anak yang lelet dan <em>klemak-klemek</em>. Apakah penulis dulu kemayu? Rasanya tidak, tapi entah jika yang lain melihatnya seperti itu.</p>
<p>Alasan lain yang mungkin adalah karena dulu penulis sangat penakut dan pengecut. Apalagi, penulis juga termasuk lemah dan super payah di bidang olahraga.</p>
<p>Mungkin juga karena penulis termasuk murid yang pelit dalam memberikan contekan. Penulis sangat idealis waktu itu, hingga lulus pun tak pernah melakukannya karena menganggap hal tersebut adalah tindakan yang buruk.</p>
<p>Hingga sekarang, jika penulis tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman SD yang dulu kerap memanggil dengan ejekan-ejekan tersebut, penulis akan langsung menundukkan kepala dan pura-pura tidak melihat.</p>
<p>Entah kenapa, rasa trauma dan takut itu susah dihilangkan, bahkan ketika sudah dewasa. Pengalaman tersebut bisa menjadi alasan mengapa penulis kesusahan membina hubungan dengan orang baru.</p>
<h3>Berdamai dengan Masa Lalu</h3>
<p>Karena sudah berusia 25 tahun, penulis sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada dirinya sendiri. Penulis terus mencari alasan-alasan apa yang membuat penulis berada di titik yang sekarang.</p>
<p>Jika pembaca memperhatikan, tulisan di <em>Whathefan </em>akhir-akhir ini banyak berhubungan dengan diri penulis. Hal itu terjadi karena penulis sering melakukan kontemplasi untuk menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul.</p>
<p>Terkadang, penulis ingin mencaci maki dirinya sendiri di masa lalu yang berbuat bodoh dan sudah membuang waktu-waktunya. Jika dibuat menjadi buku, mungkin ada lebih dari 100 lembar penyesalan yang akan tertulis di sana.</p>
<p>Terkadang, penulis juga menyalahkan keadaan yang sudah ataupun yang sedang dihadapi. Padahal, semua yang terjadi dalam hidup ini sejatinya sudah ditakdirkan dan pasti memiliki alasan mengapa harus terjadi.</p>
<p>Terkadang, penulis juga menyalahkan keterbatasan yang penulis miliki. Padahal, banyak orang dengan keterbatasan yang lebih banyak bisa lebih baik dari penulis. Kita saja yang ingin mencari kambing hitam.</p>
<p>Sekarang penulis sadar bahwa kita selalu memiliki pilihan. <strong>Mau terus terjerat masa lalu atau perlahan melangkahkan kaki ke depan?</strong></p>
<p>Penulis belum bisa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai dirinya sendiri</a>. Akan tetapi, penulis ingin melakukannya. Bertahap. Hal pertama yang bisa penulis lakukan adalah menerima dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah berdamai dengan masa lalu.</p>
<p>Salah satu luka masa lalu yang paling dalam adalah ejekan-ejekan yang sudah penulis sebutkan di atas. Penulis sangat malu dengan ejekan tersebut sehingga menjadi pribadi yang cenderung <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/">penutup dan minder</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis berusaha untuk menerimanya sebagai kenyataan bahwa kejadian-kejadian di atas memang pernah terjadi dan pasti membawa sebuah hikmah untuk penulis.</p>
<p>Dengan demikian, penulis bisa selangkah demi selangkah melangkahkan kaki ke masa depan tanpa terbebani masa lalu.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ada sebuah istilah psikologi <em>hyper sensitive person </em>HSP. Secara sederhana, istilah tersebut menggambarkan kondisi seseorang yang lebih sensitif, baik indra maupun perasaannya.</p>
<p>Ketika mencoba tes di situs resminya, dikatakan bahwa orang yang HSP akan mendapatkan nilai minimal 14. Mau tahu berapa nilai penulis? <strong>24</strong>! Tentu harus dibuktikan dengan pergi ke psikiater, tapi ini bisa menjadi patokan kalau penulis termasuk orang yang sensitif.</p>
<p>Mungkin bagi sebagian anak, bentuk <em>bully </em>secara verbal akan mudah dilupakan dan dijadikan bahan bercanda ketika sudah dewasa. Mental penulis tidak setangguh itu. Penulis sangat terpengaruh dengan kata-kata itu.</p>
<p>Untungnya, apa yang diucapkan teman-teman waktu SD tidak terjadi ketika penulis beranjak dewasa. Penulis tidak menjadi banci ataupun bencong, walaupun memang masih perawan (baca: perjaka).</p>
<p>Biarlah luka tersebut menjadi kenangan dan bagian dari perjalanan kehidupan penulis. Penulis sudah menerimanya sebagai kenyataan, bukan lagi aib yang harus ditutup-tutupi.</p>
<p>Semoga artikel ini bisa menginspirasi pembaca yang memiliki pengalaman serupa 🙂</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi setelah bermimpi teman-teman sekolah semasa SD</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@kj2018">Kat J</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mereka-bilang-saya-banci/">Mereka Bilang Saya Banci</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2019 00:29:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[bercanda]]></category>
		<category><![CDATA[bully]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias baper ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu. Bukan baper karena merasa geer seseorang suka dengan kita ya. Baper yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut. Kelewat Baper Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dianggap mudah terbawa perasaaan alias <em>baper</em> ketika kuliah (atau sampai sekarang?), penulis sangat memahami bagaimana rasanya mendapatkan cap seperti itu.</p>
<p>Bukan <em>baper </em>karena merasa <em>geer</em> seseorang suka dengan kita ya. <em>Baper </em>yang penulis angkat di sini adalah dalam konteks bercanda, di mana kita merasa tersinggung atau direndahkan karena candaan tersebut.</p>
<h3>Kelewat Baper</h3>
<p>Nah, perasaan tersakiti karena candaan teman-teman ini biasanya membuat kita terus kepikiran hingga akhirnya mengganggu produktivitas. Kita akan memikirkannya secara berlarut-larut hingga susah tidur, bahkan tak jarang sampai menangis.</p>
<p>Terkadang kita juga jadi sering berimajinasi terlalu jauh sesuatu yang kemungkinan tidak pernah terjadi. Misal, kamu akan membayangkan dirimu akan dikucilkan karena mendapatkan perlakuan buruk hingga memutuskan untuk pindah rumah. Terlalu berlebihan bukan?</p>
<div id="attachment_2172" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2172" class="size-large wp-image-2172" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/6361346871852278091594746182_o-GIRL-CRYING-facebook.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2172" class="wp-caption-text">Kelewat Baper (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.theodysseyonline.com/girls-do-cry" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBmIH3t7fgAhXZZSsKHWVYAfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Odyssey</span></a>)</p></div>
<p>Seringkali kita dijuluki <em>baper</em> seperti itu karena kita tidak bisa menerima bahan candaan yang dilontarkan oleh teman-teman kita. Entah apapun motif mereka bercanda seperti itu, yang jelas kita disuruh menerima candaan sebagai candaan, bukan sebagai serangan personal.</p>
<p>Permasalahanya, tidak semua orang bisa menerima candaan seperti itu karena sensitivitas orang berbeda-beda. Penulis termasuk yang sensitivitasnya tinggi dan mudah tersinggung, walaupun sekarang merasa sudah mulai berkurang.</p>
<p>Penulis juga punya teman yang sensitivitasnya sangat rendah, sehingga ia tak pernah marah ataupun tersinggung ketika dijadikan bahan olok-olok. Ya, kita tidak tahu bagaimana di dalam hatinya, tapi yang jelas ia tak pernah mengumbar ketersinggungannya di ruang publik.</p>
<p>Lantas, bagaimana cara mengatasi sifat <em>baper </em>yang seperti ini? Penulis memiliki beberapa cara yang sudah berusaha diterapkan ke diri sendiri. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan.</p>
<ul>
<li><strong>Selalu berpikir positif</strong>, contohnya menganggap teman-temanmu yang kerap menggoda kita sebagai upaya untuk lebih dekat dengan kita. Sudah banyak orang yang mengatakan, semakin dekat seseorang, semakin parah bercandanya.</li>
<li><strong>Jangan semua dimasukkan ke dalam hati</strong>, karena kita harus pandai-pandai menyeleksi mana yang harus masuk ke ruang hati kita yang terbatas. Jangan sampai masalah sepele mendapatkan tempat di dalam hati.</li>
<li><strong>Jadikan bahan interopeksi diri</strong>, tanyakan kepada diri sendiri apa yang membuat orang berbuat seperti itu kepada kita. Bisa jadi, penyebab orang berbuat hal yang kurang menyenangkan bermula dari diri kita sendiri.</li>
<li><strong>Belajar menjadi lebih dewasa</strong>, karena kedewasaan itu pilihan yang tak bergantung usia. Orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya seringkali menjadi lebih dewasa, sehingga tidak mudah terganggu oleh masalah kecil.</li>
<li><strong>Mendekatkan diri ke Tuhan</strong>, karena pendengar terbaik di alam semesta adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan sang pencipta alam</a> ini. Jika Islam, perbanyaklah <em>istighfar </em>atau ambil air wudhu agar amarah reda. Begitu pula dengan agama lain, lakukan ritual yang bisa menenangkan diri.</li>
<li><strong>Cerita ke orang</strong> <strong>lain yang dipercaya</strong>, jangan memendam permasalahan sendirian. Berbagilah kepada orang-orang yang kamu anggap bisa menenangkan dirimu dan memberikan solusi terbaik.</li>
</ul>
<p>Nah, akan tetapi, bisa jadi bukan kita yang kelewat <em>baper</em>. Bisa jadi, orang lain yang bercandanya kelewatan hingga siapapun akan merasa sakit hati dengan kata-kata yang diujarkannya.</p>
<h3>Bercanda Kelewatan</h3>
<p>Mungkin karena sewaktu kecil sering di-<em>bully </em>oleh teman-teman sekolah, penulis jadi jarang mengeluarkan candaan yang mungkin bisa menyakitkan hati. Tentu pernah, akan tetapi tidak sering. Apalagi jika yang diajak bercanda mulai terlihat tersinggung, penulis akan segera berhenti.</p>
<p>Akan tetapi, ada banyak orang yang kadang-kadang bercandanya melampaui batas. Biasanya, orang-orang seperti ini bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Sensitivitas yang dimilikinya termasuk rendah, sehingga tidak mudah tersinggung.</p>
<div id="attachment_2173" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2173" class="size-large wp-image-2173" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg" alt="" width="800" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-1024x615.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-300x180.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598-768x461.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/Dollarphotoclub_68788303-800x598.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2173" class="wp-caption-text">Bercanda Kelewatan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.iamsecond.com/is-living-second-really-just-being-first-loser/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjfm8SwubfgAhVNi3AKHf4dDH0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">I Am Second</span></a>)</p></div>
<p>Sayangnya, karena memiliki sensitivitas rendah, mereka menganggap orang lain sama seperti mereka. Logika yang digunakan seperti ini: kalau aku enggak sakit hati, ngapain orang lain sakit hati?</p>
<p>Masalahnya, tidak semua orang <em>baper </em>sejak lahir. Bisa jadi ada faktor-faktor penyebab orang lain menjadi mudah tersinggung, seperti adanya suasana hati yang sudah buruk, mengalami masalah yang berat, atau perasaannya sedang terluka.</p>
<p>Oleh karena itu, bercanda juga harus melihat kondisi, waktu, dan tempat. Jangan sampai ketika melihat orang lain sudah mulai tersinggung dengan ucapan kita, malah diteruskan hingga membuat orang tersebut emosi.</p>
<p>Yang membuat penulis seringkali mengelus dada, <strong>sejak ada kata <em>baper, </em>kata maaf seolah pudar</strong>. Yang sudah mengolok-olok merasa bahan candaannya masih wajar sehingga menuding pihak lain sebagai orang yang <em>baper</em>. Tak ada kata maaf di sana karena merasa benar.</p>
<p>Ada beberapa hal yang penulis lakukan untuk menahan diri ketika dirasa bahan bercandaanya sudah kelewatan.</p>
<ul>
<li><strong>Tumbuhkan empati</strong>, cobalah membayangkan diri menjadi orang yang kamu olok-olok. Jika kamu ada di posisinya, apakah kamu akan merasa tersinggung juga? Ingat, sensitivitas masing-masing orang berbeda.</li>
<li><strong>Berpikir sebelum berbicara</strong>, pertimbangkan manfaat dari kata-kata yang akan keluar dari mulutmu. Apakah kalimat yang akan kamu ucapkan membawa kebaikan atau justru menggoreskan luka pada orang lain?</li>
<li><strong>Belajar menjaga perasaan orang lain</strong>, karena apapun tujuannya, terkadang bercanda yang kelewatan akan melukai perasaan orang lain. Cobalah untuk belajar menjaga perasaan orang lain dengan mengurangi kata-kata yang berpotensi menimbulkan konflik.</li>
<li><strong>Jangan pernah merasa lebih baik</strong>, karena mentalitas yang dimiliki oleh seorang pem-<em>bully </em>adalah <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa dirinya lebih baik</a> atau lebih hebat dari orang yang di-<em>bully</em>. Posisikan diri sejajar dengan orang lain, bukan lebih tinggi maupun lebih rendah.</li>
<li><strong>Peka terhadap situasi dan memahami orang lain</strong>, karena sikap <em>baper </em>bisa muncul tiba-tiba tergantung apa yang sedang dialami oleh orang lain. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, bisa jadi seseorang sedang berada di kondisi buruk sehingga berubah menjadi mudah tersinggung.</li>
<li><strong>Jangan merasa paling benar</strong>, sehingga kita enggan mengeluarkan kata maaf. Berhenti menyalahkan ke-<em>baper-</em>an orang lain dan mulai interopeksi diri bahwa yang sudah kita lakukan adalah salah. Minta maaflah jika ada yang orang tersakiti karena ucapan kita.</li>
</ul>
<p>Kalau kita biasa menahan diri dan menghargai perasaan orang lain, tentu kita tahu kapan kita bisa bercanda dan kapan kita harus berhenti bercanda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Hidup dalam lingkungan sosial membuat kita kerap berinteraksi dengan orang lain. Di antara interaksi-interaksi tersebut, tentu kadang terjadi gesekan-gesekan yang membuat kita memiliki masalah dengan orang lain, termasuk masalah bercanda ini.</p>
<p>Sekali lagi, salah satu kuncinya adalah <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai orang lain</a>, menghargai perasaannya. Jangan sampai yang <em>baper </em>menjadi emosi karena terus-menerus diserang, lantas yang bercandanya kelewatan juga ikutan emosi karena merasa si <em>baper </em>sudah <em>lebay</em>.</p>
<p>Tentu kedua belah pihak harus sama-sama interopeksi diri dan berhenti membenarkan diri sendiri. Yang mudah <em>baper</em>, coba dikurangi ke-<em>baper-</em>annya. Yang sering bercandanya kelewatan, coba belajar memahami perasaan orang-orang yang mudah <em>baper</em>.</p>
<p>Kalau kedua belah pihak bisa melakukan semua yang sudah dijabarkan, tentu penulis bisa berharap bahwa konflik antara <em><strong>kelewat baper vs bercanda kelewatan</strong> </em>ini bisa tereduksi di masa depan, setidaknya di lingkungan sekitar penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 Februari 2019, terinspirasi dari, ya begitulah&#8230;</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://everything-voluntary.com/forced-association-compounds-bullying" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiQqrC8t7fgAhVWaCsKHUKqD3cQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Everything-Voluntary.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">Kelewat Baper vs Bercanda Kelewatan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
