<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>diksi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/diksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/diksi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:18:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>diksi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/diksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perang Diksi Tanpa Makna</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2018 13:12:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[diksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[perang diksi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali. Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengamati perkembangan politik akhir-akhir ini membuat penulis merasa kecewa. Kedua kubu pengusung calon presiden saling melempar isu tentang diksi-diksi kurang penting yang tidak memiliki subtansi sama sekali.</p>
<p>Kata-kata apapun, jika bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, akan mereka goreng sedemikian rupa agar terekspos oleh media. Memotong sepenggal kalimat dari sebuah pidato bukan hal yang mengejutkan sekarang ini.</p>
<p>Jarang sekali penulis menemukan sebuah perang konsep yang berusaha untuk menawarkan program-program yang ditawarkan apabila mereka terpilih. Jika pun ada, masyarakat yang terlihat di media sosial juga terlihat enggan menggubris.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang dilihat media sebagai pasar, sehingga yang mereka <em>expose </em>adalah hal-hal berbau bombastis yang digemari mayoritas masyarakat.</p>
<p>Mungkin keengganan tersebut yang membuat kedua kubu memilih untuk berperang diksi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mereka melakukan serangan apabila kubu lawan membuat pernyataan yang mempunyai celah untuk dicela.</p>
<p>Artinya, jika ditarik secara garis besar, kitalah yang berperan untuk menentukan mana yang akan disorot. Kita, sebagai rakyat, yang memiliki kuasa untuk mengubah hal ini.</p>
<div id="attachment_1683" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1683" class="wp-image-1683 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg" alt="" width="1024" height="770" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-1024x770.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-300x226.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-768x578.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash-339x255.jpg 339w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-780496-unsplash.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1683" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div>
<p>Caranya? Ya jangan gubris berita-berita minim konten yang tidak mendidik masyarakat untuk berpolitik secara sehat. Sebaliknya, kita sebarkan berita-berita tentang program-program yang ditawarkan oleh mereka, sehingga fokus mereka pun (mungkin) akan berubah,</p>
<p>Bukankah itu hal yang susah? Benar, bahkan hampir bisa dibilang mustahil. Mental masyarakat kita (atau bahkan masyarakat dunia?) sudah terpatri untuk menikmati <em>bad news</em> dibandingkan <em>good news</em>.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita harus berdiam diri saja menyaksikan ini semua terjadi. Minimal, dimulai dari diri kita sendiri dan pengaruhi lingkungan sekitar kita. Ajak mereka untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita media.</p>
<p>Anggap saja mereka yang masih berbuat hal-hal seperti itu sebagai bayangan di dinding. Ada gerakannya, tapi kita tidak bisa mendengar apa yang diucapkan karena mereka hanyalah sebuah bayangan.</p>
<p>Bayangan tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi suara. Tentu kita tidak ingin membuang waktu untuk berusaha mendengar bayangan bukan? Hal yang sama juga berlaku di dunia nyata, jangan buang waktu kita yang berharga untuk mendengar kalimat kosong.</p>
<p>Jika para elit politik benar-benar peduli terhadap rakyatnya, sudah seharusnya perang diksi tanpa makna ini diakhiri. Sudah saatnya masyarakat mendapatkan edukasi politik yang lebih mendidik daripada serangan kata-kata yang tak bermanfaat.</p>
<p>Sudah seharusnya kedua kubu menjabarkan program kerja mereka lima tahun ke depan apabila nanti terpilih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 November 2018, terinspirasi dari pengamatan politik melalui Twitter akhir-akhir ini</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/E0rsKheWqmk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Jonathan Sharp</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/debate?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/">Perang Diksi Tanpa Makna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/perang-diksi-tanpa-makna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset Pada Aroma Karsa</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2018 12:10:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Aroma Karsa]]></category>
		<category><![CDATA[Dee]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[diksi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penciuman]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1070</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, penulis baru saja menyelesaikan novel terbaru karya Dewi Lestari yang berjudul Aroma Karsa. Penulis membelinya sewaktu ada promo yang lumayan di Togamas Dieng pada tanggal 23 April 2018. Novel yang cukup tebal ini cukup dibeli dengan harga Rp. 93.750, di mana harga aslinya mencapai Rp. 125.000. Sebelumnya ada beberapa buku Dee, panggilan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset Pada Aroma Karsa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, penulis baru saja menyelesaikan novel terbaru karya Dewi Lestari yang berjudul <strong>Aroma Karsa</strong>. Penulis membelinya sewaktu ada promo yang lumayan di Togamas Dieng pada tanggal 23 April 2018. Novel yang cukup tebal ini cukup dibeli dengan harga Rp. 93.750, di mana harga aslinya mencapai Rp. 125.000.</p>
<p>Sebelumnya ada beberapa buku Dee, panggilan akrabnya, yang sudah penulis habiskan seperti Filosofi Kopi dan Serial Supernova yang mencapai enam jilid tersebut. Dari pengalaman, apa yang penulis suka dari Dee adalah pemilihan diksi yang indah, namun tidak sampai membuat maknanya hilang.</p>
<p>Untunglah pada <strong>Aroma Karsa </strong>karakteristik Dee tersebut tetap terjaga. Sebelumnya, penulis akan menjelaskan secara singkat tentang isi cerita, baru setelah itu akan penulis kupas tentang pemilihan diksi.</p>
<p><strong>Semua Tentang Penciuman</strong></p>
<p>Pertama kali membaca sinopsis yang tertera di sampul bagian belakang, penulis mengira ini adalah novel sejarah seperti novel-novel karya Langit Krisna Hariadi. Namun jika dibaca lebih seksama lagi, ternyata novel ini merupakan novel yang berpusat pada seseorang bernama Jati Wesi yang memiliki kemampuan penciuman super, hingga ia dijuluki sebagai si Hidung Tikus.</p>
<p>Jati hidup dan besar di TPA Bantar Gebang sebagai anak pungutan. Kemampuannya yang luar biasa membuat ia bekerja di salah satu tempat penjual parfum eceran sebagai peracik, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Raras Prayagung, pemilik perusahaan raksasa bernama Kemara.</p>
<p>Raras Prayagung terobsesi untuk mencari Puspa Karsa, tanaman rahasia yang ia ketahui dari lontar warisan neneknya. Kemampuan hidung Jati diharapkan oleh Raras dapat membantunya mencari Puspa Karsa, walaupun anak angkatnya, Tanya Suma, memiliki kemampuan serupa.</p>
<p>Ceritanya mengalir dengan cantik, membuat saya tidak terasa menghabiskan ratusan lembar dalam beberapa jam. Sampai setengah buku, saya belum bisa menebak ke mana arah cerita ini, yang tentu membuat penulis semakin penasaran.</p>
<p>Tiga perempat buku, penulis sudah bisa memahami ke mana cerita ini berjalan, dan di situ penulis mulai berkurang antusiasmenya. Bukan karena ceritanya yang membosankan, melainkan karena adanya unsur &#8220;alam lain&#8221; pada novel ini, sesuatu yang tidak penulis sukai.</p>
<p>Untunglah pada akhirnya penulis tetap menamatkan novel ini, dan merekomendasikannya kepada pembaca yang sudah cukup umur.</p>
<p><strong>Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Badai telah sengaja merembeskan aroma dan membiarkan sekelumit rahasia kedatangannya terungkap.</em></p>
<p>Di atas merupakan salah satu contoh pemilihan diksi yang penulis sukai. Penulis tidak terlalu paham bahasa sastra, yang jelas Dee merupakan salah satu kiblat penulis dalam merangkai kata menjadi sebuah keutuhan dalam kalimat.</p>
<p>Selain pemilihan diksi, yang patut diapresiasi dari Dee adalah totalitasnya dalam melakukan riset. Coba baca satu paragraf berikut.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Ada kualitas urea, laktosa, amonia (mungkin bisa dicoba pakai ambergris, </em>civet<em>, </em>fennel<em>, kesturi). Hangat, lembab, manis, dan amis.</em></p>
<p>Penulis hanya mengetahui beberapa istilah tersebut, dan penulis yakin orang yang awam juga merasa asing dengan istilah tersebut. Penulis meyakini bahwa Dee mengetahui itu semua berdasarkan riset yang mendalam, demi bahan novelnya. Sebuah usaha yang patut ditiru oleh seluruh penulis di Indonesia, bahkan dunia.</p>
<p>Dengan membaca <strong>Aroma Karsa</strong>, penulis sadar bahwa masih (sangat) butuh untuk belajar, belajar, dan belajar menulis lebih baik lagi.</p>
<p>Nilainya <strong>4.1/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 31 Juli 2018, terinspirasi setelah membaca novel Aroma Karsa</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset Pada Aroma Karsa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
