Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset Pada Aroma Karsa

Beberapa waktu lalu, penulis baru saja menyelesaikan novel terbaru karya Dewi Lestari yang berjudul Aroma Karsa. Penulis membelinya sewaktu ada promo yang lumayan di Togamas Dieng pada tanggal 23 April 2018. Novel yang cukup tebal ini cukup dibeli dengan harga Rp. 93.750, di mana harga aslinya mencapai Rp. 125.000.

Sebelumnya ada beberapa buku Dee, panggilan akrabnya, yang sudah penulis habiskan seperti Filosofi Kopi dan Serial Supernova yang mencapai enam jilid tersebut. Dari pengalaman, apa yang penulis suka dari Dee adalah pemilihan diksi yang indah, namun tidak sampai membuat maknanya hilang.

Untunglah pada Aroma Karsa karakteristik Dee tersebut tetap terjaga. Sebelumnya, penulis akan menjelaskan secara singkat tentang isi cerita, baru setelah itu akan penulis kupas tentang pemilihan diksi.

Semua Tentang Penciuman

Pertama kali membaca sinopsis yang tertera di sampul bagian belakang, penulis mengira ini adalah novel sejarah seperti novel-novel karya Langit Krisna Hariadi. Namun jika dibaca lebih seksama lagi, ternyata novel ini merupakan novel yang berpusat pada seseorang bernama Jati Wesi yang memiliki kemampuan penciuman super, hingga ia dijuluki sebagai si Hidung Tikus.

Jati hidup dan besar di TPA Bantar Gebang sebagai anak pungutan. Kemampuannya yang luar biasa membuat ia bekerja di salah satu tempat penjual parfum eceran sebagai peracik, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Raras Prayagung, pemilik perusahaan raksasa bernama Kemara.

Raras Prayagung terobsesi untuk mencari Puspa Karsa, tanaman rahasia yang ia ketahui dari lontar warisan neneknya. Kemampuan hidung Jati diharapkan oleh Raras dapat membantunya mencari Puspa Karsa, walaupun anak angkatnya, Tanya Suma, memiliki kemampuan serupa.

Ceritanya mengalir dengan cantik, membuat saya tidak terasa menghabiskan ratusan lembar dalam beberapa jam. Sampai setengah buku, saya belum bisa menebak ke mana arah cerita ini, yang tentu membuat penulis semakin penasaran.

Tiga perempat buku, penulis sudah bisa memahami ke mana cerita ini berjalan, dan di situ penulis mulai berkurang antusiasmenya. Bukan karena ceritanya yang membosankan, melainkan karena adanya unsur “alam lain” pada novel ini, sesuatu yang tidak penulis sukai.

Untunglah pada akhirnya penulis tetap menamatkan novel ini, dan merekomendasikannya kepada pembaca yang sudah cukup umur.

Pemilihan Diksi dan Totalitas Riset

Badai telah sengaja merembeskan aroma dan membiarkan sekelumit rahasia kedatangannya terungkap.

Di atas merupakan salah satu contoh pemilihan diksi yang penulis sukai. Penulis tidak terlalu paham bahasa sastra, yang jelas Dee merupakan salah satu kiblat penulis dalam merangkai kata menjadi sebuah keutuhan dalam kalimat.

Selain pemilihan diksi, yang patut diapresiasi dari Dee adalah totalitasnya dalam melakukan riset. Coba baca satu paragraf berikut.

Ada kualitas urea, laktosa, amonia (mungkin bisa dicoba pakai ambergris, civet, fennel, kesturi). Hangat, lembab, manis, dan amis.

Penulis hanya mengetahui beberapa istilah tersebut, dan penulis yakin orang yang awam juga merasa asing dengan istilah tersebut. Penulis meyakini bahwa Dee mengetahui itu semua berdasarkan riset yang mendalam, demi bahan novelnya. Sebuah usaha yang patut ditiru oleh seluruh penulis di Indonesia, bahkan dunia.

Dengan membaca Aroma Karsa, penulis sadar bahwa masih (sangat) butuh untuk belajar, belajar, dan belajar menulis lebih baik lagi.

Nilainya 4.1/5

 

 

Lawang, 31 Juli 2018, terinspirasi setelah membaca novel Aroma Karsa

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.