<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>eksistensi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/eksistensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/eksistensi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Nov 2019 16:11:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>eksistensi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/eksistensi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apakah Aku Benar-Benar Ada?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2019 15:36:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[eksistensi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pengakuan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2956</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masalah eksistensi manusia sering dibahas sebagai salah satu topik filsafat. Penulis tidak banyak tahu karena memang bukan anak filsafat. Pengetahuan penulis hanya terbatas pada quote terkenal dari Rene Descartes: cogito ergo sum Entah bagaimana penafsiran yang benar, tapi penulis menganggapnya seperti ini: Selama kita mampu berpikir menggunakan otak, itu menandakan kehadiran kita di dunia yang fana ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/">Apakah Aku Benar-Benar Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah eksistensi manusia sering dibahas sebagai salah satu topik filsafat. Penulis tidak banyak tahu karena memang bukan anak filsafat. Pengetahuan penulis hanya terbatas pada <em>quote </em>terkenal dari Rene Descartes:</p>
<blockquote><p>cogito ergo sum</p></blockquote>
<p>Entah bagaimana penafsiran yang benar, tapi penulis menganggapnya seperti ini: Selama kita mampu berpikir menggunakan otak, itu menandakan kehadiran kita di dunia yang fana ini.</p>
<p><em>Tapi apakah itu cukup?</em></p>
<p>Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut cukup. Lebih banyak orang tidak memedulikannya dan memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Bagaimana jika kita termasuk yang membutuhkan orang lain untuk menyadari eksistensinya?</p>
<h3>Pengakuan dari Orang Lain</h3>
<div id="attachment_2960" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2960" class="size-large wp-image-2960" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2960" class="wp-caption-text">Naruto dan Rasa Kesepian (<a href="https://wallpapercave.com/w/wp2612085">Wallpaper Cave</a>)</p></div>
<p>Ketika kecil, <strong>Naruto</strong> dijauhi oleh orang-orang di desanya karena ia dianggap sebagai representasi siluman rubah ekor sembilan yang pernah menyerang.</p>
<p>Karena merasa kesepian dan ingin mendapatkan pengakuan, Naruto pun sering berbuat onar dan jahil. Dengan berbuat seperti itu, Naruto merasa dirinya mendapatkan perhatian dari orang lain, meskipun berkonotasi negatif.</p>
<p>Penulis, terkadang, juga berbuat konyol yang akan memancing tawa dan perhatian orang lain. Terbesit rasa senang ketika melakukan hal tersebut. Satu, karena membuat orang lain tertawa. Kedua, merasa keberadaannya dianggap oleh orang lain.</p>
<p>Apakah itu hal yang buruk? Bisa jadi iya, karena itu menandakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">penulis memiliki ketergantungan dengan orang lain</a> untuk merasakan dirinya ada.</p>
<p>Tak jarang penulis merasa hampa ketika dirinya sedang sendirian, terutama jika sedang ada pikiran. Kalaupun tidak sedang ada yang dipikirkan, ada saja celah yang dimanfaatkan oleh otak penulis untuk menemukan topik untuk dipikirkan.</p>
<p>Tentu saja ini adalah salah satu contoh sifat <strong>penulis yang kerap berpikir berlebihan</strong>. Padahal, kita ini ya jelas-jelas ada di dunia ini. Enggak perlu mikir yang terlalu rumit dan hanya membuat <em>mumet </em>kepala.</p>
<h3>Berpikir Berlebihan</h3>
<div id="attachment_2961" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2961" class="size-large wp-image-2961" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/apakah-aku-benar-benar-ada-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2961" class="wp-caption-text">Berpikir Berlebihan (<a href="https://unsplash.com/@earbiscuits">Juan Rumimpunu</a>)</p></div>
<p>Memiliki otak yang senang berkeliaran kerap membuat lelah diri sendiri. Ujung-ujungnya, kecemasan pun timbul dan membuat penulis hampir insomnia setiap malam.</p>
<p>Sejak kecil, penulis adalah orang yang pemikir. Penulis sudah memikirkan bagaimana kehidupan di surga dan neraka ketika masih duduk di bangku SD, dan biasanya menjadi ketakutan sendiri apabila ternyata dosa penulis lebih banyak.</p>
<p>Penulis juga terbiasa membaca buku-buku berbau ilmu pengetahuan. Bukan ensiklopedia yang tebal-tebal, namun buku-buku ringan yang menambah cakrawala pengetahuan penulis. Ini menjadi bahan bakar sifat pemikir yang dimiliki.</p>
<p>Akibatnya, wajah penulis pun terbilang boros waktu sekolah jika dibandingkan teman-teman lain yang hidupnya lebih <em>santuy</em>. Hal ini ditambah dengan kebiasaan buruk memasang wajah murung.</p>
<p>Meskipun sudah mengurangi kebiasaan buruk tersebut, tetap saja penulis sering <em>overthinking</em>. Tak jarang, satu peristiwa kecil bisa penulis pikirkan hingga 15 langkah ke depan. <em>Lebay</em>? Banget.</p>
<p>Padahal, <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">85% kekhawatiran yang kita pikirkan tidak akan pernah terjadi</a>. Masalah pun lebih sering hanya bergumul di otak tanpa pernah benar-benar terjadi. Kalaupun ternyata benar-benar terjadi, biasanya kita akan bisa menyelesaikannya dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Ada?</h3>
<p>Kita jelas-jelas ada dan hadir di dunia ini. Kita lahir ke dunia melalui rahim ibu sesuai dengan takdir yang telah tertuliskan.</p>
<p>Poin lain yang tak kalah penting adalah tujuan dari eksistensi kita. Sebagai manusia, kenapa kita harus ada di dunia ini? Apa tujuan Tuhan menciptakan kita? Kenapa kita tidak menjadi seekor kucing yang kerjaannya hanya makan dan tidur?</p>
<p>Penulis yakin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang menjawab untuk menakhlukan dunia, menjadi seseorang yang menginspirasi, bermanfaat untuk orang lain, berbuat baik sebanyak mungkin, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bagaimana dengan penulis? Jujur, penulis sendiri pun masih mencari jawabannya. Akan tetapi, lebih baik penulis mencarinya sembari menjalani hidup hari ini dengan sebaik mungkin.</p>
<p>Dengan lebih menikmati hidup, mungkin penulis bisa mengurangi sedikit sifatnya yang kerap berpikir secara terlalu berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 30 Oktober 2019, terinspirasi oleh film Joker mungkin?</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@pro321?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">prottoy hassan</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/apakah-aku-benar-benar-ada/">Apakah Aku Benar-Benar Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Kita Ada?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2018 08:00:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[eksistensi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1427</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sering insomnia membuat penulis kerap kali overthinking tentang kehidupan yang penulis jalani. Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis yang muncul, salah satunya adalah mengapa penulis ada di dunia ini? Cogito ergo sum Rene Descartes Filsuf asal Perancis, Rene Descartes, menyatakan bahwa dengan kita berpikir, maka itu menunjukkan eksistensi kita di dunia ini. Ya itu memang penerjemahan paling dangkal, tapi setidaknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/">Untuk Apa Kita Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sering insomnia membuat penulis kerap kali <em>overthinking </em>tentang kehidupan yang penulis jalani. Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis yang muncul, salah satunya adalah mengapa penulis ada di dunia ini?</p>
<blockquote><p>Cogito ergo sum</p>
<p>Rene Descartes</p></blockquote>
<p>Filsuf asal Perancis, Rene Descartes, menyatakan bahwa dengan kita berpikir, maka itu menunjukkan eksistensi kita di dunia ini. Ya itu memang penerjemahan paling dangkal, tapi setidaknya itu membuktikan tidak ada yang salah dengan berpikir.</p>
<p>Penulis termasuk orang yang doyan berpikir. Mulai hal yang penting sampai yang sepele penulis pikirkan. Makanya, penulis membeli buku <a href="http://whathefan.com/2018/09/28/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> untuk mengetahui bagaimana cara menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak penting dan berfokus pada hal-hal penting.</p>
<p>Mempertanyaan keberadaan di dunia termasuk golongan yang mana? Menurut penulis masih termasuk penting, tapi juga jangan terlalu lama dipikir. Apalagi jika sudah menemukan jawabannya.</p>
<p>Apakah penulis sudah menemukannya? Penulis pernah menemukannya pada buku tulisan ustad Felix Siauw yang berjudul <strong>Beyond the Inspiration</strong>. Pada buku tersebut, beliau mengutip Al-Quran bahwa kita diciptakan di dunia tidak lain dan tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Tuhan.</p>
<p>Penulis membaca buku tersebut ketika kuliah. Ketika itu penulis masih belum merasa mantap dengan jawaban tersebut. Penulis belum merasa puas dengan jawaban tersebut karena dalam bayangan penulis ibadah adalah kegiatan-kegiatan ritual seperti sholat dan puasa.</p>
<p>Sekarang, penulis sadar bahwa makna dari ibadah itu sangat luas. Berbuat baik adalah ibadah. Memberi senyum adalah ibadah. Tidak menyakiti binatang adalah ibadah. Membuang sampah pada tempatnya adalah ibadah.</p>
<p>Artinya, kita ini ada untuk berlomba berbuat kebaikan. Kita ada bukan semata-mata hanya untuk beribadah dengan menyembah-Nya, tapi juga berbuat baik terhadap sesama manusia dan makhluk hidup.</p>
<p>Terlebih lagi, kita telah diamanahkan untuk menjadi pemimpin di Bumi karena kita adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain. Sudah sepantasnya jika kita melaksanakan tugas tersebut dengan baik, sehingga pengerusakan terhadap alam harus dihindari semaksimal mungkin.</p>
<p>Dengan memaknai alasan keberadaan kita di dunia ini, semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 3 September 2018, terinspirasi ketika insomnia melanda</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/0LU4vO5iFpM?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Greg Rakozy</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/">Untuk Apa Kita Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
