Apakah Aku Benar-Benar Ada?

Masalah eksistensi manusia sering dibahas sebagai salah satu topik filsafat. Penulis tidak banyak tahu karena memang bukan anak filsafat. Pengetahuan penulis hanya terbatas pada quote terkenal dari Rene Descartes:

cogito ergo sum

Entah bagaimana penafsiran yang benar, tapi penulis menganggapnya seperti ini: Selama kita mampu berpikir menggunakan otak, itu menandakan kehadiran kita di dunia yang fana ini.

Tapi apakah itu cukup?

Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut cukup. Lebih banyak orang tidak memedulikannya dan memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Bagaimana jika kita termasuk yang membutuhkan orang lain untuk menyadari eksistensinya?

Pengakuan dari Orang Lain

Naruto dan Rasa Kesepian (Wallpaper Cave)

Ketika kecil, Naruto dijauhi oleh orang-orang di desanya karena ia dianggap sebagai representasi siluman rubah ekor sembilan yang pernah menyerang.

Karena merasa kesepian dan ingin mendapatkan pengakuan, Naruto pun sering berbuat onar dan jahil. Dengan berbuat seperti itu, Naruto merasa dirinya mendapatkan perhatian dari orang lain, meskipun berkonotasi negatif.

Penulis, terkadang, juga berbuat konyol yang akan memancing tawa dan perhatian orang lain. Terbesit rasa senang ketika melakukan hal tersebut. Satu, karena membuat orang lain tertawa. Kedua, merasa keberadaannya dianggap oleh orang lain.

Apakah itu hal yang buruk? Bisa jadi iya, karena itu menandakan penulis memiliki ketergantungan dengan orang lain untuk merasakan dirinya ada.

Tak jarang penulis merasa hampa ketika dirinya sedang sendirian, terutama jika sedang ada pikiran. Kalaupun tidak sedang ada yang dipikirkan, ada saja celah yang dimanfaatkan oleh otak penulis untuk menemukan topik untuk dipikirkan.

Tentu saja ini adalah salah satu contoh sifat penulis yang kerap berpikir berlebihan. Padahal, kita ini ya jelas-jelas ada di dunia ini. Enggak perlu mikir yang terlalu rumit dan hanya membuat mumet kepala.

Berpikir Berlebihan

Berpikir Berlebihan (Juan Rumimpunu)

Memiliki otak yang senang berkeliaran kerap membuat lelah diri sendiri. Ujung-ujungnya, kecemasan pun timbul dan membuat penulis hampir insomnia setiap malam.

Sejak kecil, penulis adalah orang yang pemikir. Penulis sudah memikirkan bagaimana kehidupan di surga dan neraka ketika masih duduk di bangku SD, dan biasanya menjadi ketakutan sendiri apabila ternyata dosa penulis lebih banyak.

Penulis juga terbiasa membaca buku-buku berbau ilmu pengetahuan. Bukan ensiklopedia yang tebal-tebal, namun buku-buku ringan yang menambah cakrawala pengetahuan penulis. Ini menjadi bahan bakar sifat pemikir yang dimiliki.

Akibatnya, wajah penulis pun terbilang boros waktu sekolah jika dibandingkan teman-teman lain yang hidupnya lebih santuy. Hal ini ditambah dengan kebiasaan buruk memasang wajah murung.

Meskipun sudah mengurangi kebiasaan buruk tersebut, tetap saja penulis sering overthinking. Tak jarang, satu peristiwa kecil bisa penulis pikirkan hingga 15 langkah ke depan. Lebay? Banget.

Padahal, 85% kekhawatiran yang kita pikirkan tidak akan pernah terjadi. Masalah pun lebih sering hanya bergumul di otak tanpa pernah benar-benar terjadi. Kalaupun ternyata benar-benar terjadi, biasanya kita akan bisa menyelesaikannya dengan baik.

Kenapa Kita Ada?

Kita jelas-jelas ada dan hadir di dunia ini. Kita lahir ke dunia melalui rahim ibu sesuai dengan takdir yang telah tertuliskan.

Poin lain yang tak kalah penting adalah tujuan dari eksistensi kita. Sebagai manusia, kenapa kita harus ada di dunia ini? Apa tujuan Tuhan menciptakan kita? Kenapa kita tidak menjadi seekor kucing yang kerjaannya hanya makan dan tidur?

Penulis yakin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang menjawab untuk menakhlukan dunia, menjadi seseorang yang menginspirasi, bermanfaat untuk orang lain, berbuat baik sebanyak mungkin, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan penulis? Jujur, penulis sendiri pun masih mencari jawabannya. Akan tetapi, lebih baik penulis mencarinya sembari menjalani hidup hari ini dengan sebaik mungkin.

Dengan lebih menikmati hidup, mungkin penulis bisa mengurangi sedikit sifatnya yang kerap berpikir secara terlalu berlebihan.

 

 

Kebayoran Lama, 30 Oktober 2019, terinspirasi oleh film Joker mungkin?

Photo by prottoy hassan on Unsplash