Connect with us

Pengalaman

Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)

Published

on

Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.

Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis tetap kesulitan tidur.

Lantas, berawal dari sebuah balasan chat di WhatsApp yang menimbulkan kecemasan, penulis menemukan yang namanya Emotional Dependency Disorder (EDD) atau lebih mudah disebut sebagai autophobia. Rasa takut akan sendirian.

Memang butuh dikonfirmasi ke psikiater, akan tetapi penulis merasa inilah yang menyebabkan penulis susah tidur, sering gelisah, hingga kadang terkena serangan panik ringan.

Apa Itu Autophobia?

Seperti yang sudah penulis singgung di atas, autophobia adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa ketakutan ketika sendirian. Akibatnya, akan timbul rasa cemas yang berlebihan, seringkali irasional.

Selain itu, akan muncul juga perasaan insecure yang berlebihan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya mungkin terlalu dilebih-lebihkan.

Ketika membaca beberapa sumber, penulis merasa ciri-ciri yang dipaparkan benar-benar sesuai sehingga mengejutkan penulis. Penulis tak menyangka bahwa ada kondisi mental yang benar-benar menggambarkan apa yang penulis rasakan selama ini.

Ciri-Ciri Autophobia

Autophobia (Medical News Today)

Umumnya, orang yang menderita (jika ini memang termasuk gangguan kondisi mental) autophobia akan merasa nyaman jika sedang berada bersama orang lain.

Mungkin ini yang menjelaskan mengapa ketika di rumah, penulis bisa tidur dengan nyaman. Itu pula mengapa ketika adik datang berkunjung ke Jakarta, penulis merasa lebih tenang.

Penderita autophobia cenderung memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Mereka memiliki obsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Penulis merasa memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain. Kenyataan pahitnya, itu jugalah yang penulis harapkan dari orang lain.

Ciri lainnya adalah tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemassusah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.

Bahkan, penderita sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakan tidak sebading dengan bahaya yang menyertai kesendirian.

Astaga, penulis benar-benar merasa shock sewaktu membaca ciri-ciri ini. Entah bagaimana ini bisa sangat akurat.

Akibat yang ditimbulkan dari autophobia adalah ketergantungan dengan orang lain. Penderita akan sering merasa tidak yakin untuk membuat keputusan atau melakukan sebuah aktivitas. Penulis sering mengalami hal tersebut.

Contoh yang paling terbaru adalah ketika penulis hendak membeli kacamata baru. Sebelum membeli, penulis menelepon orang rumah untuk membantu penulis mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang amat sepele.

Penyebab Autophobia

Faktor Orangtua (Hand in Hand Parenting)

Ketika membaca penyebab munculnya ketakutan ini, penulis merasa berat untuk menuliskannya di sini.

Menurut sumber, penyebab autophobia adalah orangtua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anaknya ketika kecil dan cenderung mendikte apapun yang harus dilakukan.

Selain itu, ketika sang anak berusaha mengambil keputusan, sering kali orangtua tidak menyetujuinya dan memberikan keputusan yang mereka anggap lebih baik untuk sang anak.

Orangtua penulis, yang amat sangat penulis sayangi, memang mendidik seperti itu. Penulis tentu tidak akan menyalahkan mereka karena yakin maksud mereka baik. Apalagi, penulis adalah anak pertama, sehingga wajar jika mendapatkan didikan yang paling ketat.

Penulis sama sekali tidak menyimpan dendam untuk masalah ini. Bahkan, penulis sudah pernah secara terbuka menyampaikan bagaimana perasaan penulis sewaktu kecil yang cenderung dikekang, dan mereka pun memahaminya.

Hanya saja, akibatnya penulis susah mendapatkan teman ketika masa-masa sekolah. Ketika menemukannya, penulis justru seperti bergantung kepada mereka agar tidak merasa kesepian.

Mengapa Baru Sekarang?

Karang Taruna

Lantas, mengapa baru akhir-akhir ini saja penulis mengalami ketakutan akan sendirian? Penulis merasa tahu akan jawabannya.

Akibat kekangan orang tua, bisa dibilang penulis tidak memiliki teman yang benar-benar dekat sewaktu sekolah. Ada yang dekat karena satu kompleks perumahan, dua orang, dan kami masih menjalin hubungan dengan baik hingga sekarang bagai saudara.

Jadi, bisa dibilang semasa sekolah penulis terbiasa sendirian. Ada teman, ada gebetan, tapi lebih sering sendiri dan merasa ingin sendirian. Ego penulis waktu itu benar-benar tinggi, sehingga penulis merasa gemas dengan dirinya sendiri.

Lantas, sewaktu kuliah, penulis mulai berusaha untuk menjalin hubungan dengan lebih baik lagi agar bisa memiliki teman-teman dekat lebih banyak.

Selain karena tinggal bersama nenek sehingga lebih bebas, penulis merasa bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik. Penulis pun memiliki teman-teman dekat, yang penulis juluki 11 Pria Tampan.

Akan tetapi, penulis baru merasakan “pertemanan” yang lebih intens adalah ketika membentuk Karang Taruna bersama dua orang yang sudah penulis sebutkan sebelumnya. Di sana, penulis bertemu dan berkenalan dengan semua remaja yang ada di tempat tinggal penulis.

Banyak yang nyiyir dengan menganggap penulis main bersama anak-anak kecil. Tak apa, mereka memang tidak memahami latar belakang dan masa lalu penulis.

Yang jelas, berkumpul dengan mereka, entah ketika sedang ada program kerja atau sekadar bermain, membuat penulis merasa bahagia dan merasa dibutuhkan.

Penulis seolah menemukan kepingan yang hilang dari masa kecil penulis. Hal itu membuat penulis amat menyayangi mereka dan seolah rela berbuat apa saja demi mereka (termasuk menunda skripsi dan bekerja).

Akan tetapi, justru karena inilah autophobia penulis dimulai. Ini baru sekadar asumsi, belum terbukti secara medis. Semoga saja salah.

Karena kedekatan yang terjalin akibat pertemuan yang hampir setiap hari, penulis menjadi takut dilupakan oleh mereka ketika merantau ke Jakarta. Penulis merasa tergantung dengan mereka agar tidak merasa sendirian.

Mungkin ada pembaca yang ingin tertawa atau menganggapnya lebay, tapi itulah yang penulis rasakan.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, penulis berusaha memberikan perhatian ke mereka meskipun dari jauh. Menanyakan tentang rencana masa depan, komentar di story, dan lain-lain. Mungkin saja, ada yang merasa risih dengan yang penulis lakukan.

Sayang, ketakutan untuk dilupakan (yang pada akhirnya akan membuat penulis merasa sendiri) tidak bisa terobati dengan hal tersebut. Yang ada, ketakutan tersebut semakin membesar hingga mengganggu kesehatan penulis, fisik maupun mental.

Penanganan Autophobia

Butuh Pendengar (RS Lira Medika)

Jika terus berlanjut, autophobia bisa berubah menjadi depresi. Apalagi jika penulis makin sering  ketakutan, panik, hingga merasa sedih.

Penulis tidak ingin itu terjadi, sehingga berusaha mencari solusi. Mencari pendengar yang bisa memahami diri penulis adalah salah satunya. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas juga bisa menjadi obat.

Selain itu, penulis harus membiasakan diri untuk nyaman ketika sendirian. Penulis juga harus belajar membuat keputusan dengan cepat tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, terutama untuk masalah-masalah sepele.

Yang berat adalah bersikap realistis terhadap kebutuhan orang lain. Penulis harus memahami bahwa mereka, yang penulis beri perhatian, bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka baik-baik saja sebelum bertemu dengan penulis dan punya orang lain yang memberikan dukungan.

Penulis juga harus memahami bahwa setiap orang tidak bisa diberi perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Mereka juga butuh waktu sendiri untuk mengembangkan diri. Yang penulis lakukan selama ini ternyata justru bisa menghambat mereka.

Berat, ini sungguh berat…

Penulis juga harus meningkatkan waktu menyendiri. Penulis tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel untuk sekadar mengecek grup. Kasarnya, harus berusaha move on. Mungkin, meningkatkan sikap cuek juga bisa membantu.

Tentu bukan berarti penulis harus menghancurkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik. Tidak. Yang penulis lakukan adalah mengurangi intensitasnya, sehingga tidak berlebihan.

Selain itu, penulis juga harus berusaha lebih jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis akan berusaha menyampaikan apa yang penulis inginkan dan butuhkan dari orang lain secara terbuka dan apa adanya.

Penutup

Di dalam hati kecil penulis, ada harapan bahwa semua yang penulis tuliskan di atas salah, penulis tidak mengidap autophobia atau Emotional Dependency Disorder. Sayang, ciri-ciri yang penulis temukan di berbagai sumber benar-benar penulis alami semua.

Setidaknya, penulis bisa bernapas lega karena menemukan salah satu permasalahan yang menyebabkan penulis kerap susah tidur dan gelisah tanpa sebab. Yang harus penulis lakukan adalah berusaha menghilangkan fobia tersebut secara bertahap.

 

 

Kebayoran Lama, 28 Juli 2019, terinspirasi setelah tiba-tiba terkena serangan panik ringan akibat merasa takut akan dilupakan orang lain.

Sumber Artikel: Beauty Journal, Dokter Sehat, Merdeka, Wikihow, Medcom

Foto: mwangi gatheca

Pengalaman

Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani

Published

on

By

Ketika sedang menulis artikel ini, Penulis sedang dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani. Ini adalah kali pertama Penulis menaiki kereta eksekutif, bukan Ekonomi seperti biasanya. Hitung-hitung buat tambah pengalaman.

Penulis berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, dan akan berhenti di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Berbeda dengan kelas Ekonomi yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam, perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam saja.

Perjalanan ke Jakarta kali ini dalam rangka mengikuti acara staycation dari kantor yang akan berlangsung besok (5/1) sampai Minggu (7/1). Berhubung semua anggota tim bisa mengikuti acara ini, tentu sayang jika Penulis sampai tidak ikut.

Nah, daripada bengong atau main HP, Penulis memutuskan untuk menulis sebuah artikel. Jujur saja, waktu membuka WordPress ini, Penulis belum terpikirkan akan menulis apa. Biar saja mengalir begitu saja, sehingga Penulis minta maaf jika pembahasannya ngalor-ngidul.

Mengapa Naik Kereta Api?

Dalam perjalanan ke Jakarta pada awal tahun 2023 silam, Penulis memutuskan untuk naik pesawat terbaik, baik perjalanan pergi maupun pulangnya. Alasannya sederhana, karena Penulis hanya sebentar di Jakarta, jadi biar lebih efisien waktunya.

Nah, kalau yang edisi kali ini, bisa dibilang Penulis lebih longgar waktunya karena akan menginap di kos adik (yang dulu merupakan kos Penulis juga sewaktu masih berdomisili di Jakarta). Jadi, waktu menumpangnya bisa dibilang tidak terbatas.

Harga tiket pesawat juga masih sangat mahal karena tembus satu juta rupiah lebih. Hal ini dimaklumi, mengingat sekarang masih momen pergantian tahun. Mau naik bus, Penulis malah ada sedikit trauma karena kisah yang dulu pernah Penulis bagikan.

Selain itu, pada dasarnya Penulis memang cenderung memilih kereta jika memiliki waktu yang cukup longgar. Entah mengapa Penulis sangat menikmati perjalanan di atas kereta api meskipun memakan waktu berjam-jam.

Jika dibandingkan dengan bus, “suguhan” pemandangan yang diberikan kereta api memang terkesan monoton karena didominasi oleh area persawahan dan sesekali perkampungan. Hanya beberapa kali ada view yang menarik, seperti pantai dan PLTU Batang.

Hal agak minus lainnya dari naik kereta api adalah tidak adanya makan gratis seperti ketika kita naik bus. Jika lapar, kita harus membeli makanan yang dijual oleh pihak kereta. Sejujurnya, makanan kereta api cukup mahal dan kurang enak!

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Naik Kereta Api?

Berhubung perjalanan menggunakan kereta api cukup memakan waktu, tentu kita harus pandai mencari aktivitas agar tidak merasa bosan. Penulis ingin berbagi sedikit tentang aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan ketika naik kereta.

Pertama, menikmati pemandangan sembari melamun. Entah mengapa rasanya melamun di pinggir jendela kereta api itu feel-nya beda. Rasanya lebih khidmat begitu. Bagi Penulis, aktivitas ini bisa memberikan efek tenang yang lumayan.

Sesekali Penulis juga mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen menarik yang ditemukan di perjalanan. Hanya saja, karena laju kereta cukup kencang, maka terkadang akan terasa sulit untuk bisa menangkap momen tersebut, apalagi jika kamera ponselnya kentang.

Kedua, baca buku. Sudah menjadi kebiasaan Penulis untuk membawa buku ke mana-mana jika sedang menggunakan transportasi umum, termasuk kereta api. Apalagi, di atas kereta api guncangannya relatif kecil sehingga tidak akan membuat pusing kepala.

Pada perjalanan kali ini, Penulis membawa dua buku, yaitu Meditations dari Marcus Aurelius dan Namaku Alam dari Leila S. Chudori. Penulis memutuskan untuk membaca Meditations dulu, tetapi hanya sanggup beberapa halaman karena sedang sulit fokus untuk membaca.

Ketiga, menulis artikel atau mencatan isi pikiran. Ini adalah aktivitas yang sedang Penulis lakukan sekarang. Menulis dengan suasana yang benar-benar baru dari rutinitas memicu otak untuk bisa mengeluarkan ide-ide segar untuk dituangkan.

Tidak hanya itu, Penulis juga pernah memanfaatkan waktu perjalanannya di atas kereta api untuk mencatat apapun yang sedang ada di pikirannya. Jika sedang overthinking atau banyak hal yang sedang dipikirkan, Penulis menuliskannya semua untuk meredakannya.

Keempat, dan yang paling tidak direkomendasikan, adalah main HP. Aktivitas ini sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, sehingga rasanya tidak perlu dilakukan untuk momen-momen yang jarang seperti ketika kita naik transportasi umum.

Penutup

Yup, ternyata artikel ini jadi semacam artikel behind the story mengapa Penulis suka naik kereta api dan rekomendasi aktivitas yang bisa dilakukan. Itu semua benar-benar tidak direncanakan, mengalir begitu saja ketika jari Penulis menari-nari di atas keyboard tabletnya.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa terkadang yang penting mulai aja dulu, tidak perlu menunggu semuanya matang dan sempurna. Terkadang inspirasi dan ide akan datang begitu kita sudah mengambil langkah pertama.

Yang jelas, Penulis merasa senang karena bisa berbagai tentang kereta api, salah satu transportasi umum yang digemari. Semoga saja tulisan ini bisa mendorong Pembaca yang belum pernah naik kereta api untuk mau mencoba menaikinya.


Di Atas Kereta Api Sembrani, 4 Januari 2024, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu dalam perjalanannya menuju Jakarta

Continue Reading

Pengalaman

Ini adalah Tulisan Pertama Whathefan di Tahun 2024

Published

on

By

Setelah “menghilang” selama satu bulan, akhirnya Penulis bisa menyempatkan (dan membulatkan tekad) untuk kembali menulis di blog ini. Mumpung momennya pergantian tahun, biar menjadi awal yang baru juga.

Selama beberapa waktu terakhir, Penulis cukup disibukkan dengan pekerjaan dan bootcamp Digital Marketing yang diikuti selama dua bulan. Berhubung bootcamp tersebut sudah selesai pada tanggal 30 Desember kemarin, waktu Penulis pun menjadi lebih kosong sekarang.

Selain itu, tulisan ini akan menjadi tulisan pertama di tahun 2024, dan semoga bisa menjadi awal yang baik untuk bisa menulis secara lebih konsisten lagi. Melalui tulisan ini, Penulis akan sedikit melakukan refleksi apa saja yang sudah terjadi pada tahun 2023 kemarin.

Apa yang Sudah Terjadi di Tahun 2023?

Tahun 2023 Telah Berlalu (Hard Rock FM)

Sejujurnya tidak banyak hal menarik dalam hidup Penulis yang terjadi selama 2023 kemarin. Penulis hanya menjalani rutinitas harian seperti biasanya yang berkutat pada pekerjaan dan melakukan aktivitas-aktivitas yang disukainya.

Penulis juga tidak banyak berpergian, kecuali pada bulan Februari di mana Penulis ke Jakarta untuk bertemu dengan teman-teman lama setelah lebih dari dua tahun tidak bersua. Penulis juga mengunjungi beberapa tempat yang dulu sering dikunjungi.

Saat lebaran, Penulis juga pergi ke Yogyakarta untuk pertemuan keluarga tahunan. Namun karena sempitnya waktu, tidak banyak tempat yang Penulis eksplor. Padahal, masih banyak tempat di Yogyakarta yang belum sempat Penulis kunjungi.

Ketika bulan Agustus, seperti biasa Karang Taruna di tempat Penulis menggelar acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Pada edisi kali ini, rangkaian acara berlangsung begitu meriah dan warga yang datang di acara puncak begitu banyak.

Yang spesial tidak hanya itu, karena pembubarannya pun begitu spesial. Jika biasanya “hanya” berlibur ke pantai, maka kali ini pembubarannya adalah camping! Bisa jadi, ini akan menjadi agenda rutin untuk Karang Taruna ke depannya.

Mungkin, apa yang sedikit berbeda di 2023 adalah Penulis mengikuti bootcamp Digital Marketing yang diselenggarakan oleh BelajarLagi. Untuk detailnya, mungkin akan Penulis ceritakan di tulisan terpisah.

Berlangsung selama dua bulan dengan beragam kelas, Penulis merasa sedikit kewalahan dalam mengatur jadwal. Bukan karena kelasnya yang banyak, melainkan karena tugas-tugasnya yang cukup bikin kewalahan!

Bagi Penulis yang tidak pernah belajar marketing secara khusus, tugas-tugas yang diberikan cukup banyak dan cukup menguras otak dan tenaga. Walaupun sambil mengeluh, Penulis berhasil mengejarkan semua tugas yang diberikan, termasuk Final Project.

Apa yang Diharapkan di Tahun 2024?

Tahun 2024 Telah Tiba (The Cable)

Salah satu yang cukup Penulis merasa bersalah di tahun 2023 kemarin adalah sulitnya untuk menjaga konsistensi dari rutinitas-rutinitas yang ingin dibangun. Bahkan, rutinitas yang dulu jarang bolong seperti menulis agenda harian dan mencatat keuangan sering luput.

Menulis artikel blog pun jumlahnya berbeda jauh dibandingkan dengan tahun 2022. Jika di tahun 2022 Penulis menulis 91 artikel, maka di tahun 2023 kemarin Penulis menulis 98 artikel. Jauh dari target yang ingin mencapai setidaknya 200 artikel dalam satu tahun.

Nah, dua hal inilah yang menjadi target utama Penulis agar bisa diperbaiki di tahun 2024 ini. Meskipun rasanya hampir setiap tahun gagal , Penulis tidak akan berhenti berusaha untuk menjadi selalu lebih baik lagi.

Penulis juga ingin memiliki time management yang lebih baik di tahun ini, sehingga target di atas juga bisa lebih mudah untuk dicapai. Berhubung Penulis masih work from home sampai sekarang, tentu Penulis harus bisa bekerja seefisien mungkin secara bertanggung jawab.

Sejujurnya ada sedikit perasaan takut dalam menyongsong tahun 2024 ini karena Penulis akan menginjak kepala tiga. Ada perasaan inferior karena dirinya belum bisa mencapai achivement dalam hidupnya yang bisa membanggakan diri.

Namun, hanya menuruti perasaan takut pun tidak akan membawa apa-apa. Justru, dengan kesadaran bahwa dirinya akan menginjak kepala tiga, Penulis harus bisa terdorong untuk menjadi jauh lebih baik lagi dari hari kemarin.

Jadi, jika diminta untuk membuat resolusi tahun ini, Penulis tidak ingin hal yang muluk-muluk. Penulis hanya ingin bisa menjadi lebih baik lagi dari segala sisi. Perjalanan hidup selama tiga dekade seharusnya bisa menjadi modal yang baik untuk itu.


Lawang, 1 Januari 2024, terinspirasi setelah (akhirnya) bisa menulis blog lagi setelah vakum selama satu bulan

Continue Reading

Pengalaman

Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 2)

Published

on

By

Sudah tiga bulan berlalu sejak Penulis menulis bagian pertama dari tulisan ini, jeda yang sangat panjang. Padahal, Penulis berlibur ke Jakartanya saja sudah mulai Februari. Entah mengapa seolah tidak ada niatan untuk menyelesaikan tulisan ini.

Namun, hari ini Penulis membulatkan tekad untuk menyelesaikan artikel ini, untuk mengurangi tanggungan tulisan yang belum selesai. Apalagi, ada kekhawatiran Penulis keburu lupa jika tidak segera menuliskannya.

Oleh karena itu, berikut adalah lanjutan dari cerita Penulis ketika berlibur ke Jakarta pada hari ketiga, keempat, dan kelima. Jika dibandingkan dengan hari pertama dan kedua, jadwal yang Penulis miliki tidaklah terlalu padat.

BACA JUGA: Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Merantau ke Jakarta

Hari Ketiga, Jumat, 17 Februari 2023

Suasana Bekerja di Kantor

Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya dalam dua tahun bekerja, akhirnya Penulis berkesempatan untuk ngantor. Penulis berangkat dari rumah Dika setelah Jumatan menggunakan GoJek, dan itu perjalanan yang lumayan panjang.

Tentu menyenangkan karena akhirnya Penulis bisa menjejakkan kakinya di kantor setelah dua tahun full WFH. Selain itu, Penulis juga bertemu dengan rekan-rekan kerja yang belum sempat bertemu di Central Park.

Selepas jam kantor, sebenarnya Penulis diajak untuk makan malam. Hanya saja, Penulis sudah janjian dengan mantan teman kantornya yang sudah lama tidak berjumpa, Daniel. Kebetulan, kantornya dekat dengan kantor Penulis.

Awalnya kami hanya janjian makan malam bersama, tapi pada akhirnya Penulis mengajaknya untuk ikut ke rumah Dika. Cukup lama kami ngobrol dan bermain PS bersama, sebelum akhirnya Daniel undur diri karena sudah terlalu malam.

Hari Keempat, Sabtu, 18 Februari 2023

Beberapa Barang yang Penulis Beli Selama di Jakarta

Pada hari Sabtu, sebenarnya Penulis tidak berniat untuk ke mana-mana dan ingin main PS sepuasnya bersama Dika. Namun, pada akhirnya Penulis justru pergi ke Kuningan City bersama Pandu.

Alasan utama mengapa kami berdua pergi ke sana adalah karena ada sebuah tempat yang menarik untuk penggemar board game, yakni Arkanum. Sebelumnya Penulis pernah ke sana karena pernah tes kerja untuk salah satu statiun TV, tapi waktu itu tidak membeli apa-apa.

Beda cerita dengan edisi kali ini. Niat hati hanya membeli board game King of the Dice, Penulis khilaf dan membeli cukup banyak mainan seperti action figure dan die-cast. Butuh waktu berjam-jam untuk menyeleksi mana yang akhirnya dibeli.

Sebelum balik ke tempat Dika, Penulis mampir ke kos adik yang terletak dekat dengan kos Penulis dulu. Setelah itu, Penulis juga mengunjungi apartemen Pandu untuk melihat-lihat. Barulah setelah itu kami pulang ke rumah Dika, di mana Pandu ikut menginap.

Hari Kelima, Minggu, 19 Februari 2023

Niat untuk main PS sepuasnya akhirnya dilakukan pada hari terakhir Penulis di Jakarta. Penulis juga berhasil membantai Dika di game FIFA 23 sebelum abang rentalnya mengambil PS tersebut. Setelah itu, Penulis pun bersiap untuk packing.

Kebetulan, jam keberangkatan Penulis berdekatan dengan jam kedatangan istri Dika dari Bali, sehingga Penulis mendapatkan tumpangan gratis. Dengan begitu, berakhirlah liburan Penulis ke Jakarta selama lima hari.

Penutup

Jakarta selalu memiliki tempat istimewa di hati Penulis, karena di kota inilah Penulis pertama kali merantau cukup jauh dari rumah, sekaligus menjadi tempat bekerja pertama. Maka dari itu, setiap ada kesempatan, Penulis pasti akan mampir ke Jakarta.

Mungkin akan ada peluang kalau pada akhirnya tempat kerja Penulis memutuskan untuk Work from Office (WFO), sehingga Penulis harus kembali ke Jakarta. Namun, sampai hal tersebut benar-benar terjadi, Penulis akan menikmati waktunya di rumah.


Lawang, 3 Oktober 2023, terinsirasi karena terdorong ingin segera menyelesaikan artikel liburan ini

Foto Featured Image: X

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan