<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fahruddin Faiz Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/fahruddin-faiz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/fahruddin-faiz/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Dec 2024 16:35:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Fahruddin Faiz Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/fahruddin-faiz/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b-300x192.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b-300x192.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b-768x491.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b-1024x655.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b-356x228.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/photo-1483706600674-e0c87d3fe85b.jpg 1982w " alt="Diam" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sajak/diam/">Diam</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 23:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah Ngaji Filsafat yang diisi oleh Fahruddin Faiz. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya. Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah <strong>Ngaji Filsafat </strong>yang diisi oleh <strong>Fahruddin Faiz</strong>. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya.</p>



<p>Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya sesekali ketika kebetulan ayah Penulis sedang menontonnya.</p>



<p>Untuk itu, sewaktu tahu Fahruddin Faiz menulis sebuah buku berjudul <em><strong>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</strong></em>, Penulis langsung tertarik membacanya karena pada dasarnya Penulis lebih suka membaca daripada menonton.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Menjadi Manusia Menjadi Hamba</li><li>Penulis: Fahruddi Faiz</li><li>Penerbit: Noura Books</li><li>Cetakan: Cetakan Kedua</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 309 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini mengambil beberapa topik yang pernah dibahas di kanal YouTube Ngaji Filsafat, sehingga ketika membacanya Penulis bisa membayangkan suara Fahruddin Faiz yang tenang dan bertempo lambat di kepala.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yakni <strong>Manusia</strong>, <strong>Waktu</strong>, dan <strong>Penghambaan</strong>. Di setiap babnya selalu membahas <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">mengenai berbagai filsafat</a>, baik dari Yunani Kuno, Barat, hingga China.</p>



<p>Tidak hanya berhenti sampai di sana, Fahruddin Faiz juga mengombinasikannya dari sisi Islam, baik dari Alquran maupun Hadis. Dengan begitu, nilai-nilai filsafat yang ingin disampaikan masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.</p>



<p>Pada bab Manusia, kita dijelaskan mengenai <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">fitrah kita sebagai manusia</a> yang seharusnya menghamba ke Tuhan, bukannya menghamba ke selain Tuhan seperti harta, jabatan, hingga manusia lainnya.</p>



<p>Bab ini terdiri dari lima subbab, yakni Fitrah, Humor, Pernikahan, Doa, Main-Main dalam Hidup, dan Nama Baik. Kita bisa memilih mau membaca yang mana duluan, tidak perlu membacanya secara berurutan.</p>



<p>Bab Waktu menjabarkan tentang filosofi waktu dalam kehidupan kita, tentang bagaimana kita harus bisa menggunakan dan memaknai waktu sebaik mungkin. Bab terakhir lebih menjelaskan mengenai ibadah kita sebagai makhluk Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</em></h2>



<p>Sama seperti video di YouTube-nya, di buku ini Fahruddin Faiz berusaha memberikan wejangan dengan cara yang bersahabat dan tidak menggurui. Tidak lupa selalu ada selipan humor agar topik yang serius ini tidak terlalu terasa serius.</p>



<p>Pembahasan d bab pertama (Manusia) sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di era modern seperti sekarang, kita sering melihat fenomena bagaimana kita sering mengagungkan selain Tuhan.</p>



<p>Contohnya adalah kita yang hidup terlalu matrealistis, terlalu memuja seseorang/kelompok, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Bab ini hadir untuk mengingatkan fitrah kita tersebut.</p>



<p>Buku ini akan membawa kita banyak merenung mengenai kodrat kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kandungan filsafat yang ada di dalamnya sama sekali tidak terasa berat karena berhasil dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Akan ada banyak <em>quote-quote </em>yang <em>mak jleb </em>dan terasa begitu sesuai dengan yang kita. Apalagi seperti yang sudah Penulis singgung di atas, kita bisa memilih bagian mana yang ingin kita baca tanpa perlu urut dari halaman pertama. </p>



<p>Untuk itu, buku ini akan Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang ingin mencari semacam &#8220;pencerahan&#8221; dalam hidupnya dan yang ingin belajar tentang filsafat dengan penuturan yang mudah untuk dipahami. </p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang. 10 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hampa </em>karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
