Filsafat Ala Attack on Titan

Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime Attack on Titan (AoT) atau Shingeki no Kyojin. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai.

Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, hype dari season ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali.

Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menjadi fans karbitan. Untuk mengejar ketertinggalan, Penulis memutuskan untuk mengambil jalan pintas: menonton video rekapnya di YouTube.

(Cara seperti ini juga Penulis lakukan ketika season terakhir dari serial Game of Throne akan rilis pada tahun 2019 kemarin, walaupun Penulis memang membaca novelnya sampai buku ketiga)

Melalui video rekap yang ada di YouTube tersebut, Penulis jadi mengerti mengapa banyak sekali orang yang menjadi penggemar anime ini. Jalan cerita dan animasinya patut diacungi jempol.

Karena penasaran dengan lanjutan ceritanya, Penulis juga memutuskan untuk membaca manganya secara daring. Sekitar 5 jam Penulis butuhkan untuk membaca chapter yang akan menjadi awal season 4 hingga chapter terakhir yang telah dirilis.

Sebagai fans karbitan, Penulis menemukan beberapa hal yang menarik dari anime ini. SPOILER ALERT!!!

Hitam Putih Baik Buruk

Eren, Baik atau Buruk? (Superhero Hype)

Satu poin yang menjadi kekuatan utama dari AoT adalah susahnya untuk mengetahui mana yang merupakan pihak baik mana yang merupakan pihak buruk.

Hal ini tidak akan kita temukan dari anime shonen lain seperti Naruto, Dragon Ball, One Piece, My Hero Academia, dan lain sebagainya.

Karakter utamanya dipastikan selalu menjadi pihak yang akan membela kebenaran. Naruto, Goku, Luffy, Midoriya, semuanya berjuang untuk memberantas kejahatan di muka bumi.

Sedangkan di anime AoT, ada begitu banyak plot twist yang akan membuat kita kebingungan. Bahkan karakter utama di anime ini, Eren Yeager, telah berubah menjadi tokoh antagonis utama yang ingin menghabisi semua umat manusia yang ada di luar pulau Paradis.

Penulis membayangkan banyak penggemar AoT yang terkejut ketika mengetahui hal ini.  Karakter yang selama ini begitu diidolakan karena ingin balas dendam ke titan yang memakan ibunya menjadi seperti itu.

Tidak hanya sampai di situ, plot twist yang ada juga bisa dibolak-balik berkali-kali. Awalnya kelihatan baik, ternyata jahat, eh ternyata baik, eh ternyata beneran jahat. Pola seperti itu akan sering kita temui.

Contohnya ada pada karakter ayah Eren, Grisha Yeager. Coba para pembaca yang menonton AoT, apakah Grisha merupakan karakter yang baik atau jahat? Kakak tiri Eren, Zeke, apakah dia karakter yang baik atau jahat? Silakan putuskan sendiri jawabannya.

Pengkhianatan? Jangan ditanya, ada banyak! Yang A mengkhianati B demi C, eh ternyata C mengkhianati A demi tujuannya sendiri. Banyak top anime betrayal pada AoT.

Bahkan karakter Eren sendiri pun belum bisa ditentukan apakah ia baik atau jahat. Toh, Eren punya alasan kuat demi mengejar tujuan terbesarnya: Kebebasan.

Filsafat Determinisme dan Free of Will

Mengejar Kebebasan (Den of Geek)

Ada yang pernah mendengar tentang filosofi determinisme? Berdasarkan video dari Satu Persen di YouTube, filosofi determinisme adalah:

Semua peristiwa terjadi karena ada sebab atau bersifat kasualitas.

Berubahnya Eren dari karakter protagonis menjadi antagonis tentu tidak terjadi begitu saja. Perubahan terjadi karena ia begitu terobsesi dengan yang namanya kebebasan.

Hal ini dapat dimaklumi karena sejak kecil ia harus tinggal di balik tembok yang tinggi demi melindungi manusia dari serangan titan. Ia mengharapkan kebebasan yang diharapkan ada di balik tembok.

Setelah berhasil keluar dari tembok, ia menyadari bahwa kebebasan yang dikejar ternyata tidak berhasil didapatkan. Malah, ia menemukan fakta yang akan membuat kehidupannya berubah 180 derajat.

Keputusannya untuk melenyapkan seluruh umat manusia yang ada di luar pulau Paradis dengan menggunakan ribuan titan juga dilakukan demi mengejar kebebasan yang ia dambakan.

Di sini kita pun jadi bertanya-tanya, apakah kita sebagai manusia benar-benar memiliki kebebasan (free of will)?

Rasanya tidak ada yang namana kebebasan yang benar-benar bebas. Ada banyak aturan yang mengelilingi kita, mulai agama hingga hukum negara. Moral juga turut membatasi gerak-gerik kita yang negatif.

Seandainya kita benar-benar memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya, dunia ini nampaknya akan menjadi kacau balau tak beraturan. Lha mong orang bebas mau melakukan apa aja.

Penulis kurang memahami kebebasan apa yang diharapkan Eren. Membuat penduduk pulau Paradis menjadi bebas karena orang-orang yang selama ini membuat mereka menderita lenyap? Apa yang menjamin konflik akan berakhir dengan keputusan tersebut?

Menarik untuk disimak bagaimana anime AoT akan berakhir nanti.

Penutup

Dua alasan di atas, kebaikan versus kejahatan yang tidak hitam putih dan adanya filsafat determinisme, menjadi beberapa alasan mengapa anime AoT sangat menarik untuk ditonton.

Masih banyak hal lain yang bisa kita temukan, mulai dari banyaknya karakter favorit yang mati, tidak ada fan service, sampai kekuatan karakternya yang overpowered.

Yang jelas, anime ini menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang related dengan kehidupan kita yang sebenarnya. Tanpa titan tentunya, dan gear yang membuat kita terbang, dan tanpa tembok yang terbuat dari titan.

 

 

Lawang, 16 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton video rekap Attack on Titan dan membaca manganya

Foto: CBR

Sumber Artikel:

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.