<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fenomena Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/fenomena/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/fenomena/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2022 16:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>fenomena Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/fenomena/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2022 16:07:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[quiet quitting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6029</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berselancar di YouTube Shorts, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah video dari Raymond Chin yang sedang menjelaskan quiet quitting yang katanya tengah menjadi tren di kalangan Gen Z. Singkatnya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan karyawan yang bekerja setengah-setengah karena sebenarnya ingin resign. Hanya saja, ada kondisi yang membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Dengan kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berselancar di YouTube Shorts, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah <a href="https://www.youtube.com/shorts/yqrL1UqsBTk">video dari Raymond Chin</a> yang sedang menjelaskan <em><strong>quiet quitting</strong></em> yang katanya tengah menjadi tren di kalangan Gen Z. </p>



<p>Singkatnya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan <strong>karyawan yang bekerja setengah-setengah karena sebenarnya ingin <em>resign</em></strong>. Hanya saja, ada kondisi yang membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Dengan kata lain, kerja setengah hati.</p>



<p>Mereka hanya melakukan kewajiban mereka dan datang-pulang kantor tepat waktu. Dari sisi karyawan, mungkin ini adalah hal yang baik karena mereka jadi punya <em>work-life balance </em>yang baik dan punya waktu untuk kehidupan pribadi mereka.</p>





<p>Hanya saja, Raymond berpendapat bahwa hal tersebut kurang bagus untuk <em>personal growth </em>kita. Bahkan Raymond memberikan saran agar lebih baik kita mencari tempat baru yang membuat kita bisa bekerja sepenuh hati, bukan setengah-setengah. </p>



<p>Nah, ketika mampir ke kolom komentar, hampir semuanya kontra dengan pendapat Raymond tersebut. Dari yang Penulis baca, dapat disimpulkan bahwa mereka berpendapat ya memang sudah seharusnya karyawan cukup untuk bekerja sesuai dengan <em>jobdesk</em>-nya saja.</p>



<p>Penulis pun jadi terpikirkan untuk menuliskan pendapat pribadinya mengenai fenomena ini. Apakah kita memang perlu bekerja secukupnya saja, atau memberikan <em>value </em>lebih telah menjadi kewajiban untuk bisa bersaing di dunia kerja yang makin keras?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Pribadi Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6033" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Persaingan Kerja Makin Keras, Kita Harus Punya Value Lebih? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/person-writing-on-a-notebook-beside-macbook-1766604/">Judit Peter</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis akan mencoba beropini lewat pengalaman pribadinya terlebih dahulu. Hingga saat ini, secara formal Penulis telah bekerja di dua tempat. Dua-duanya, Penulis sering memberikan lebih dari <em>jobdesk </em>awalnya.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Di tempat pertama, ketika masih menjadi <em>content writer</em></a>, Penulis dengan sukarela mengajukan diri untuk menjadi admin Instagram perusahaan. Di tempat kedua, Penulis yang seorang editor seolah merangkap sebagai <em>data analyst </em>dan <em>SEO specialist </em>kecil-kecilan.</p>



<p><strong>Kok mau diperbudak sama korporat? </strong>Padahal kan kalau kerjaan tambahannya tidak dilakukan, gajinya juga sama saja? Iya, memang kelihatannya seperti itu. Penulis seolah terlihat bodoh karena mau saja &#8220;dikerjai&#8221; oleh perusahaan.</p>



<p>Namun, Penulis melihatnya dari sisi lain. Bagi Penulis, hal tersebut adalah kesempatan <strong>untuk bisa mengembangkan diri sendiri dengan menambah <em>skill-skill </em>baru</strong>. Apalagi, Penulis juga jadi punya &#8220;wadah&#8221; untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang didapatkan.</p>



<p>Bagi Penulis pribadi, mendapatkan pekerjaan yang di luar <em>jobdesk </em>boleh saja dilakukan, <strong>asal kita mendapatkan <em>value </em>lebih dan dilakukan dalam batas wajar</strong>. Kalau kerjaan tambahannya hanya menambah lelah tanpa kita mendapatkan apapun, ya <em>skip</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun tidak merasa keberatan jika memang ada <em>jobdesk </em>lain selama itu juga memberikan keuntungan bagi Penulis. Hanya saja, memang perlu diingat kalau kita perlu menarik batas yang tegas sampai sejauh apa kita bekerja di luar <em>jobdesk</em>.</p>



<p>Dengan begitu, baik Penulis maupun perusahaan sama-sama mendapatkan keuntungan. <em>Win-win solution</em>. Penulis dapat ilmu dan <em>skill </em>baru, perusahaan juga mendapatkan benefit dari apa yang Penulis kerjakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Quiet Quitting Berawal dari Kurangnya Apresiasi Kantor?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6034" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Apakah Perusahaan Sudah Cukup Memberi Apresiasi? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/mad-formal-executive-man-yelling-at-camera-3760790/">Andrea Piacquadio</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam kolom komentar video Raymond Chin, banyak yang curhat kalau mereka sudah mengupayakan yang terbaik dan bekerja melampaui kewajibannya. Hanya saja, kantor seolah tutup mata dan kurang mengapresiasi kerja keras mereka tersebut.</p>



<p>Penulis, untungnya, merasa cukup diapresiasi kerjanya, sehingga tidak memiliki keluhan tersebut. Hanya saja, Penulis juga berempati kepada rekan-rekan pekerja yang tidak mendapatkan apresiasi yang pantas mereka dapatkan tersebut.</p>



<p>Perusahaan memang ada baiknya melakukan interopeksi diri,<strong> apakah mereka sudah memperlakukan karyawannya</strong> <strong>dengan baik atau tidak</strong>. Jika ada yang berprestasi dan mampu memajukan perusahaan, sudahkah ada <em>reward </em>yang diberikan?</p>



<p>Penulis mengetahui kalau ada perusahaan-perusahaan yang &#8220;nakal&#8221; ke karyawannya. Jangankan apresiasi, hak karyawan saja kadang ditahan-tahan. Karena orientasi perusahaan itu <em>cuan</em>, tak jarang mereka mengorbankan karyawan demi hal tersebut.</p>



<p>Sebaliknya, para karyawan pun juga perlu melakukan interopeksi diri. <strong>Apakah dalam jam kerja kita sudah bekerja dengan optimal?</strong> Apa jangan-jangan kita sering membuang waktu kerja kita dengan bermain media sosial, main <em>game</em>, ataupun nonton YouTube?</p>



<p>Jangan sampai fenomena <em>quite quitting </em>ini disalahartikan kalau kita bisa kerja seenak kita. Penulis sedikit khawatir ada beberapa oknum yang menggunakan fenomena ini sebagai alasan untuk bekerja ala kadarnya, lantas ngomel-ngomel karena merasa tidak diapresiasi.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, ada baiknya sesekali kita memosisikan diri sebagai bos. Seandainya kita menjadi bos dan memiliki karyawan seperti kita, apakah kita akan senang dan mempertahankannya? Jika jawabannya tidak, mungkin kita yang perlu memperbaiki diri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pulang Tepat Waktu = Tidak Outstanding?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6036" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-1536x1024.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih-3-1-2048x1365.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Masa Iya Harus Lembur Tiap Hari? (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/black-twin-bell-alarm-desk-clock-on-table-714701/">JESHOOTS.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada satu hal yang tidak Penulis suka dari kalimat Raymond, yakni ketika ia <strong>mempermasalahkan karyawan yang datang dan pulang kantor tepat waktu</strong>. Loh, adanya peraturan jam datang-pulang kantor kan untuk ditaati, masa dilanggar?</p>



<p>Menurut Penulis, selama kerjaan dan tanggung jawabnya selesai, karyawan memang harus pulang tepat waktu. Kalau kita bisa melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/"><em>time management </em>dengan baik di jam kerja</a>, maka pulang tepat waktu adalah sesuatu yang harus diwajarkan. </p>



<p>Kerjaan sudah beres dengan baik, tapi masih dituntut untuk lembur mengerjakan sesuatu yang tidak menambah <em>value </em>kita. Kalau seperti itu mungkin perusahaannya memang <em>toxic </em>dan ingin mengeksploitasi karyawannya demi menghemat <em>cuan</em>.</p>



<p>Jika kita memosisikan diri sebagai bos, tentu senang melihat ada karyawan yang mampu bekerja secara efisien, cerdas, dan tepat waktu. Yang lembur-lembur, bisa jadi malah karena terlalu <em>leha-leha </em>di jam kerjanya.</p>



<p>Jadi, menurut Penulis<strong> pulang tepat waktu tidak sama dengan tidak <em>outstanding</em></strong>. Kita bisa kok jadi karyawan yang <em>outstanding </em>tanpa harus lembur setiap hari. Caranya, tentu dengan memaksimalkan jam kerja dan mencari cara bekerja yang paling efektif dan efisien.</p>



<p>Selain itu, bekerja sesuai dengan jam kerja juga tidak sama dengan bekerja setengah hati. Kita pun memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani. Kalau kita kenapa-napa (seperti sakit), belum tentu perusahaan mau bertanggung jawab.</p>



<p>Toh, kalau alasannya lembur untuk <em>personal growth</em>, <strong>ada banyak cara di luar kantor untuk melakukannya</strong>. Misalnya, seperti yang sedang Penulis lakukan sekarang, adalah dengan mengikuti berbagai kelas <em>online </em>yang bisa menambah <em>skill</em>. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu pemicu dari fenomena <em>quiet quitting </em>ini adalah adanya kondisi yang tidak memungkinkan untuk <em>resign</em>. Contohnya adalah karena sudah memiliki tanggungan keluarga atau sedang ada cicilan yang harus dilunasi.</p>



<p>Kalau memaksa <em>resign </em>seperti saran Raymond, belum tentu kita bisa mendapatkan gantinya dengan cepat. Kecuali, kita mengajukan <em>resign </em>setelah mendapatkan kepastian di tempat lain, tentu lebih baik kita pindah ke tempat yang kita rasa akan lebih baik untuk kita.</p>



<p>Lantas, mana yang benar? Kerja secukupnya atau kasih <em>value </em>lebih. Jawabannya Penulis kembalikan ke Pembaca, karena bagi Penulis tidak ada pilihan yang salah. Semua orang memiliki alasan masing-masing untuk memiliki mau bekerja seperti apa.</p>



<p>Kalau Penulis pribadi, Penulis akan memberi <em>value </em>lebih ke perusahaan dengan syarat itu juga akan menambah <em>value </em>untuk diri Penulis sendiri. Kalau tidak, ya untuk apa dikerjakan. Dapat ilmu/apresiasi enggak, capek dan sakit yang iya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 19 Oktober 2022, terinspirasi setelah menonton YouTube Shorts dari Raymond Chin</p>



<p>Foto: <a href="https://www.forbes.com/sites/meghanbiro/2020/11/24/exhausted-employees-4-surprising-ways-to-better-lead-them/">Forbes</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">Kerja Secukupnya atau Kasih Value Lebih?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Bucin</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2019 00:43:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bucin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[fanatik]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[hujat]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2042</guid>

					<description><![CDATA[<p>Istilah bucin bisa dibilang sedang booming saat ini. Merupakan kepanjangan dari budak cinta, kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu berkorban demi menyenangkan pasangannya. Kita tentu sering melihat orang-orang yang rela mengurangi waktu kebersamaan bersama teman maupun keluarga demi sang kekasih. Lebih dari itu, mereka seolah rela melakukan apa saja yang diminta dan patuh terhadap segala perintah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">Fenomena Bucin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah <strong>bucin </strong>bisa dibilang sedang <em>booming </em>saat ini. Merupakan kepanjangan dari <em>budak cinta</em>, kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang <a href="http://whathefan.com/renungan/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">terlalu berkorban</a> demi menyenangkan pasangannya.</p>
<p>Kita tentu sering melihat orang-orang yang rela mengurangi waktu kebersamaan bersama teman maupun keluarga demi sang kekasih. Lebih dari itu, mereka seolah rela melakukan apa saja yang diminta dan patuh terhadap segala perintah yang dititahkan.</p>
<p>Nah, kata bucin tersebut bagi penulis telah mengalami perluasan makna. Bukan hanya kepada pacar (karena tidak semua orang memilikinya), tetapi bisa juga mem<em>bucin</em>kan diri ke idola. Fenomena inilah yang akan penulis bahas kali ini.</p>
<h3>Definisi Bucin</h3>
<p>Penulis tidak menyalahkan orang-orang yang mengidolakan individu ataupun grup tertentu. Penulis sendiri juga memiliki idola. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika tingkat mengidolakan seseorang ini mencapai tahap yang <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/akar-fanatisme-membabi-buta/">terlalu fanatik</a>.</p>
<p>Dari hasil wawancara kepada seseorang yang mengaku bucin kepada salah satu <em>boyband </em><a href="http://whathefan.com/musikfilm/%EB%A6%AC%EC%8C%8D-%ED%9E%99%ED%95%A9-%EB%93%80%EC%98%A4-%EC%BD%94%EB%A6%AC%EC%95%84/">Korea</a>, penulis mencari tahu apa penyebab para bucin mem<em>bucin</em>kan diri kepada idolanya dan apa saja yang membuat seseorang menjadi bucin.</p>
<p><div id="attachment_2045" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2045" class="size-large wp-image-2045" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Super-Junior-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Super-Junior-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Super-Junior-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Super-Junior-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/Super-Junior.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2045" class="wp-caption-text">Idol Korea (Pusat Informasi Anti Hoax)</p></div></p>
<p>Yang pertama, jelas karena suka dengan mereka, baik karena faktor wajah, suara yang memikat, dan lain sebagainya. Untuk contoh yang lebih ekstrem, para bucin merasa telah &#8220;diselamatkan&#8221; oleh lagu-lagu yang dibawakan oleh idola mereka.</p>
<p>Ada juga alasan karena menghargai perjuangan yang telah ditempuh idola mereka demi meraih puncak popularitas. Penulis mengiyakan pendapat ini karena tahu, meskipun secara tidak langsung, bagaimana para <em>public figure </em>terutama di Korea harus menjalani <em>training </em>selama bertahun-tahun.</p>
<p>Para bucin ini memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satu yang paling kentara adalah terlalu sering mengunggah foto idola mereka di <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">media sosial</a> yang dimiliki. Hal ini (mungkin) membuat teman-temannya yang bukan bucin merasa risih.</p>
<p>Sering juga ketika idola mereka berulangtahun, mereka akan mengucapkan selamat ulang tahun dengan begitu antusias seolah pesan mereka benar-benar akan dibaca. Tentu hal tersebut menjadi miris jika hal yang sama tidak dilakukan kepada orang-orang terdekat, terutama keluarga.</p>
<h3>Sensitivitas Bucin</h3>
<p>Salah satu hal yang mengerikan dari bucin adalah betapa galaknya mereka jika idola mereka dihujat. Mereka akan berdiri di garda terdepan jika ada yang berani berkata buruk terhadap idola yang dipujinya.</p>
<p>Mereka akan mengeluarkan berbagai pembelaan demi melindungi harga diri idola mereka. Contohnya, betapa orang-orang yang menghujat tersebut tidak memahami perjuangan idolanya demi bisa meraih kesuksesan.</p>
<p>Dan itu tidak salah.</p>
<p><div id="attachment_2047" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2047" class="size-large wp-image-2047" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520-1024x701.jpg" alt="" width="800" height="548" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520-1024x701.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520-768x526.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520-130x90.jpg 130w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/12302034_f520.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2047" class="wp-caption-text">Berkata Buruk (Rebel Circus)</p></div></p>
<p>Menghujat, dalam bentuk apapun, adalah salah. Mengatakan semua orang Korea melakukan operasi plastik tentu kejam, karena pada kenyataannya tidak seperti itu. Memang banyak yang melakukan oplas, tapi banyak juga idola Korea yang sudah tampan maupun cantik sejak lahir.</p>
<p>Mungkin kita sering tak habis pikir bagaimana para bucin bisa begitu mencintai idolanya. Akan tetapi, berkata buruk juga tidak akan membantu kita untuk memahami mereka.</p>
<p>Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menghargai mereka. Andai kata tindakan mereka dirasa telah melampaui batas, kita ingatkan secara perlahan tanpa adanya unsur menyebar kebencian.</p>
<p>Untuk para bucinnya sendiri, juga jangan terlalu galak. Jika ada yang menghujat idola kalian, terangkan secara baik-baik bahwa apa yang mereka katakan itu tidak bermanfaat dan merugikan diri mereka sendiri.</p>
<p>Seandainya kedua belah pihak bisa menahan diri dengan baik, tentu perdebatan kusir yang kerap kali terjadi di media sosial bisa berkurang.</p>
<h3>Tingkat Bucin yang Berbahaya</h3>
<p>Bicara soal melampaui batas, ada yang membuat penulis mengelus dada ketika memperhatikan para bucin ini. Beberapa bucin terkadang melakukan suatu hal ekstrem yang meresahkan orang lain, termasuk pujaannya sendiri.</p>
<p>Salah satu hal yang mengejutkan penulis adalah ketika mengetahui ada penggemar wanita yang melemparkan <em>Breast Holder</em> alias <strong>BH </strong>kepada idolanya ketika menggelar konser.</p>
<p><div id="attachment_2044" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2044" class="size-large wp-image-2044" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/635760317085038089-1671254765_nyc-live-28-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/635760317085038089-1671254765_nyc-live-28-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/635760317085038089-1671254765_nyc-live-28-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/635760317085038089-1671254765_nyc-live-28-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/635760317085038089-1671254765_nyc-live-28.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2044" class="wp-caption-text">Konser Idola (Odyssey)</p></div></p>
<p>INI APA MAKSUDNYA COBA?</p>
<p>Penulis benar-benar tidak memahami tujuan dari tindakan tersebut. Yang jelas, bagi penulis orang-orang yang berbuat demikian telah menjatuhkan harga diri mereka sedemikian rendahnya.</p>
<p>Selain itu, seperti yang sudah disebutkan pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/racun-literasi-pada-platform-digital/">Racun Literasi Pada Platform Digital</a>, banyak fans usia sekolah yang membuat cerita fantasi seks dengan membuat idolanya menjadi subyek. Mereka menulis dan menyebarkannya di ruang publik secara gratis.</p>
<p>Mirisnya, <em>fans fiction</em> tersebut laris manis dan dibaca ratusan ribu hingga jutaan kali. Penulis akan membantah dengan keras jika ada yang bilang hal tersebut merupakan bentuk kreativitas. Yang ada, itu merupakan bentuk pelampiasan nafsu kepada sang idola.</p>
<p>Bagi penulis, bucin seperti inilah yang <em>toxic</em>. Mereka bisa meracuni orang lain dengan aktivitas negatif yang mereka lakukan. Bucin seperti inilah yang butuh pencerahan entah dari siapa yang bisa menyadarkan mereka.</p>
<h3>Pencurahan Cinta yang Kurang Tepat</h3>
<p>Poin-poin yang telah disebutkan di atas membuat penulis membuat hipotesis dangkal. Para bucin mencurahkan cinta mereka ke idola (secara berlebihan) karena di sekeliling mereka merasa <strong>tidak ada orang yang layak dicintai dengan baik</strong>, entah karena memang tidak ada atau tidak sadar.</p>
<p><div id="attachment_2046" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2046" class="size-large wp-image-2046" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529180979161-06b8b6d6f2be-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529180979161-06b8b6d6f2be-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529180979161-06b8b6d6f2be-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529180979161-06b8b6d6f2be-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529180979161-06b8b6d6f2be.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2046" class="wp-caption-text">Lebih Layak Dicintai (Mike Scheid)</p></div></p>
<p>Tentu tidak semua seperti itu, ada juga yang mem<em>bucin</em>kan diri sebagai pelampiasan keadaan semata, ada juga yang sekadar suka tanpa perlu alasan lebih lanjut. Akan tetapi, penulis yakin ada orang-orang yang merasa seperti itu.</p>
<p>Seandainya hipotesis tersebut benar, tentu penulis akan merasa prihatin. Jika kita sadar, sebenarnya kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita sehingga lebih layak untuk kita cintai. Tidak perlu pacar, tengoklah keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p><em>&#8220;Tapi aku memang enggak punya orang yang layak dicintai. Aku sering bertengkar sama orangtua, di sekolah juga enggak punya teman yang ngertiin aku!&#8221;</em></p>
<p>Jika demikian, coba <a href="http://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">tengok ke dalam diri</a> terlebih dahulu. Mungkin ada yang salah dengan diri kita sehingga orang-orang berlaku demikian. Jika merasa tidak ada yang salah, setidaknya kamu masih punya <a href="http://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Tuhan</a>. Berdoalah, karena Tuhan tentu lebih mendengar daripada idolamu.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Bolehkan mem<em>bucin</em>kan diri? Tidak ada yang salah dengan mengidolakan orang lain, selama tidak berlebihan hingga melanggar norma-norma tertentu.</p>
<p>Kita yang merasa bukan bucin, harus berusaha menghargai mereka yang merasa bucin. Yang merasa bucin, harus menerima secara lapang dada apabila diingatkan oleh yang merasa bukan bucin.</p>
<p>Seandainya sikap saling menghargai tersebut dipelihara oleh masing-masing dari kita, tentu hidup rukun bukan lagi menjadi hal yang susah untuk digapai.</p>
<p>Terakhir, sebelum mencintai orang yang bahkan tidak tahu kita ada, alangkah baiknya kita memperhatikan orang-orang yang berada di dekat kita. Mereka lebih layak mendapatkan cinta kita daripada orang yang berada jauh di sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Januari 2019, terinspirasi dari fenomena bucin yang tengah terjadi pada generasi pemuda Indonesia</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.koreaboo.com/lists/list-things-never-kpop-concert-remember/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiKmufT_vDfAhVJqI8KHa-TAO0QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Koreaboo</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/">Fenomena Bucin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
