<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>filosofi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/filosofi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/filosofi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Dec 2024 16:35:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>filosofi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/filosofi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Dec 2024 16:31:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Filsafat selalu menjadi topik yang menarik bagi Penulis, meskipun harus diakui kalau dirinya tidak selalu paham. Walau begitu, hal tersebut tak menghalangi Penulis untuk membaca buku-buku filsafat, apalagi jika disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Oleh karena itu, tentu buku karangan Fahruddin Faiz menjadi sesuatu yang menarik, karena beliau dalam video-videonya mampunya menjabarkan filsafat secara sederhana. Penulis sudah pernah <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">membaca satu bukunya</a>, sehingga ketika tahu ada buku baru, Penulis membelinya.</p>



<p>Berjudul <em><strong>Filsafat Kebahagiaan</strong></em>, buku ini langsung mencuri perhatian Penulis karena konsepnya yang terfokus pada satu topik: <strong>kebahagiaan</strong>. Ini adalah topik menarik untuk didalami, karena kita sebagai manusia kerap bingung mendefinisikan apa itu kebahagiaan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/how-to-train-your-dragon-3-the-hidden-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton How to Train Your Dragon: The Hidden World" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-how-to-train-your-dragon-the-hidden-world/">Setelah Menonton How to Train Your Dragon: The Hidden World</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Filsafat Kebahagiaan</em></li>



<li>Penulis: Fahruddin Faiz</li>



<li>Penerbit: Mizan Pustaka</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2024</li>



<li>Tebal: 288 halaman</li>



<li>ISBN: 9786024413323</li>



<li>Harga: Rp89.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p><em>Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya? </em></p>



<p><em>Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya. </em></p>



<p><em>Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan mengulas filsafat kebahagiaan dari sudut pandang empat tokoh: <strong>Plato</strong>, <strong>al-Farabi</strong>,<strong> al-Ghazali</strong>, dan <strong>Ki Ageng Suryomentaram</strong>. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda untuk mendefiniskan kebahagiaan.</p>



<p>Plato sebagai salah satu filsuf dari Yunani kuno tentu meletakkan fondasi untuk memahami kebahagiaan. Lalu, pemikiran tersebut dijabarkan lagi melalui pendekatan Islam melalui al-Farabi dan al-Ghazali yang lebih sufi. </p>



<p>Penulis secara pribadi tertarik dengan keputusan Faiz untuk memasukkan Ki Ageng Suryomentaram, yang tentu saja menyelipkan filsafat-filsafat Jawa. Dengan demikian, buku ini berisi filsafat Barat, Islam, dan Jawa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Plato</h3>



<p>Kalau menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya, badan hanya manifestasi dari jiwa. Secara singkat, menurut Plato jiwa itu mengandung tiga unsur (di mana ketiga unsur ini dipengaruhi ole Eros atau cinta), yaitu: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Epithumia</strong>: Lambang nafsu manusia yang rendah, seperti makan, minum, seks</li>



<li><strong>Thumos</strong>: Lambang hasrat, ambisi, atau harga diri, seperti afektivitas, rasa semangat, agresivitas</li>



<li><strong>Logistikon</strong>: Lambang akal, rasio, </li>
</ul>



<p>Ketiga unsur inilah yang akan memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang menurut Plato. Apabila kita bisa mengendalikan ketiganya dan mampu menetapkan batasan, maka kita akan bisa menemukan kebahagiaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Farabi</h3>



<p>Nah, konsep kebahagiaan yang diungkap oleh Plato bersifat indidualis. Menurut al-Farabi, kebahagiaan itu juga butuh hubungan sosial. Selain itu, kenikmatan yang punya nilai ibadah akan punya kualitas kebahagiaan yang lebih awet.</p>



<p>Ada satu <em>quote </em>yang cukup menohok di bagian al-Farabi,&#8221;Tuhan menciptakan kita untuk bahagia. Kalau mudah galau, Anda melecehkan Tuhan.&#8221; Tentu ini akan membuat kita jadi termenung dan berusaha bersyukur atas apapun yang sudah kita dapatkan hingga saat ini.</p>



<p>Bahagia menurut al-Farabi akan tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal. Caranya adalah dengan mengoptimalkan daya gerak, daya mengetahi, dan daya berpikir yang sudah menjadi fitrah manusia. </p>



<p>Jangan lupa, kebahagiaan juga harus didapatkan dari kebahagiaan sosial. Bukan hanya dari lingkup keluarga atau pertemanan, tapi juga dari negara. Bayangkan saja jika kita memiliki kehidupan yang baik, tiba-tiba negara merusaknya, maka kebahagiaan itu bisa hilang.</p>



<p>Oleh karena itu, menurut al-Farabi kunci kebahagiaan itu dipegang oleh filsuf, ulama, dan pemimpin negara. Kalau dari sendiri, kita harus bisa menakhlukkan jiwa untuk tercapai jiwa yang tenang dan terus melakukan perilaku utama atau kebajikan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi al-Ghazali</h3>



<p>Kalau menurut al-Ghazali, kunci kebahagiaan itu adalah dengan mengenali diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, kita juga akan bisa menemukan citra Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dekat lagi.</p>



<p>Mirip dengan Plato, al-Ghazali menyebut manusia memiliki tiga unsur, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Untuk bisa bahagia, manusia harus bisa mewaspadai syahwat dan amarah, serta terus mencari ilmu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Filsafat Kebahagiaan Versi Ki Ageng Suryomentaram</h3>



<p>Beda lagi dengan pendapatnya Ki Ageng Suryomentaram. Menurut beliau, rumus kebahagiaan itu bisa disingkat sebagai 6S yang intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sakbutuhe (sekadar kebutuhan)</li>



<li>Sakperlune (sekadar keperluan)</li>



<li>Sakcukupe (sekadar kecukupan)</li>



<li>Sakbenere (sekadar kebenaran)</li>



<li>Sakmesthine (sekadar kepantasan/keharusan)</li>



<li>Sakpenake (sekadar kenyamanan/kenikmatan)</li>
</ol>



<p>Mirip dengan al-Ghazali, syarat bahagia versi Ki Ageng adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Untuk bisa melakukannya, kita harus bisa hidup saat ini (<em>saiki</em>), di sini (<em>ing kene</em>), dan seperti ini (<em>ngene</em>).</p>



<p>Ki Ageng juga menekankan kalau kebahagiaan itu harus tergantung oleh kondisi internal tanpa tergantung dengan kondisi eksternal. Kita juga harus bisa mengendalikan keinginan diri, entah kesenangan fisik, reputasi, maupun status sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</h2>



<p>Selama hampir tujuh tahun menulis artikel ulasan buku di blog ini, rasanya baru kali ini bagian &#8220;Isi Buku&#8221; sepanjang sekarang. Salah satu alasannya adalah agar Penulis bisa mengingat apa saja isi dari buku ini, yang menurut Penulis sangat penting untuk kehidupannya.</p>



<p>Walau sudah menulis sepanjang itu, percayalah bahwa masih ada banyak bagian yang tidak Penulis banyak. Buku ini memang tergolong tipis, tapi isinya sangat padat dan daging semua. Karena begitu menarik, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cukup cepat.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, buku ini benar-benar menggambarkan ciri khas Fahruddin Faiz yang bisa menyampaikan hal berat menjadi ringan sehingga bisa dipahami oleh semua orang, bahkan yang asing dengan dunia filsafat sekalipun.</p>



<p>Kata filsafat yang selama ini terkesan mengerikan berhasil diubah menjadi menyenangkan dan terkesan santai untuk dipelajari. Sama sekali tidak ada penjelasan yang <em>njelimet </em>yang membuat kita harus membaca ulang lagi.</p>



<p>Lantas, apakah buku ini akan membuat kita langsung paham apa itu kebahagiaan? Tentu tidak semudah itu. Pada akhirnya, kebahagiaan itu tanggung jawab kita sendiri. Buku ini hanya hadir untuk membantu kita menemukan kebahagiaan itu.</p>



<p>Bahagia adalah bagian dari diri manusia, dan sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan dengan cara-cara yang benar. Manusia sudah sewajarnya merasa bahagia, karena itu adalah fitrah kita sebagai manusia.</p>



<p>Semoga saja makin banyak topik-topik filsafat lain yang akan diulas oleh Fahruddin Faiz, dengan mempertahankan gaya bahasanya yang mudah dicerna. Saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral</em>, yang juga akan tandas dalam waktu dekat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Desember 2024, terinspirasi setelah membaca <em>Filosofi Kebahagiaan</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">[REVIEW] Setelah Membaca Filsafat Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2021 10:08:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jules Evans]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis tidak pernah belajar filsafat secara formal. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya. (Fyi, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI) Paling banter, Penulis hanya membaca novel Dunia Sophie dan buku-buku karya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang IPA dan kuliah jurusan Informatika, Penulis <strong>tidak pernah belajar filsafat secara formal</strong>. Padahal, Penulis sangat tertarik untuk mengetahui ilmu-ilmunya.</p>
<p>(<em>Fyi</em>, Penulis sempat memiliki pikiran untuk mengambil jurusan Filsafat di Universitas Indonesia. Walaupun tidak jadi, Penulis akhirnya memiliki teman anak filsafat dari UI)</p>
<p>Paling banter, Penulis hanya membaca novel <strong><em>Dunia Sophie </em></strong>dan <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">buku-buku karya Jostein Gaardner</a> lainnya. Itupun banyak tidak pahamnya.</p>
<p>Semakin beranjak dewasa, Penulis mencoba untuk membaca buku-buku filsafat ringan seperti <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><strong><em>Filosofi Teras </em></strong>karya Henry Manampiring</a> yang menjadi salah satu buku favorit Penulis.</p>
<p>Di sana Penulis belajar tentang <em>stoisme </em>dan tertarik untuk mendalaminya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em><strong>Filosofi untuk Hidup</strong></em> karya <strong>Jules Evans</strong>.</p>
<p>Sebenarnya buku ini berjudul<strong> <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya</em></strong>. Hanya karena terlalu panjang, Penulis memutuskan untuk menyingkatnya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebagai orang yang kerap berkonflik dengan dirinya sendiri, buku-buku bertemakan <em>self-help </em>kerap Penulis baca agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Buku ini Penulis beli untuk alasan tersebut. Ketika membaca sinopsisnya di bagian belakang, tertulis bahwa buku ini mencakup <strong>12 pemikir terbesar di dunia</strong>.</p>
<p>Pemikiran mereka disinyalir dapat membuat kita mampu menangani masalah dalam hidup, seperti meminimalisir emosi berlebihan, mengatur ekspetasi agar tak mudah kecewa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Keduabelas orang tersebut dan tema filsafat yang dibawa adalah:</p>
<ol>
<li>Socrates dan Seni Filsafat Jalanan</li>
<li>Epictetus dan Seni Menjaga Kendali</li>
<li>Musonius Rufus dan Seni Kerja Lapangan</li>
<li>Seneca dan Seni Mengelola Ekspetasi</li>
<li>Epicurus dan Seni Menikmati Saat Ini</li>
<li>Heraclitus dan Seni Kontemplasi Kosmis</li>
<li>Phytagoras dan Seni Mengingat Mantra</li>
<li>Kaum Skeptis dan Seni Memupuk Keraguan</li>
<li>Diogenes dan Seni Anarki</li>
<li>Plato dan Seni Keadilan</li>
<li>Plutarch dan Seni Heroisme</li>
<li>Aristoteles dan Seni Pertumbuhan</li>
</ol>
<p>Di antara bab-bab tersebut, Penulis paling menyukai <strong>bab 2 tentang menjaga kendali</strong> dan <strong>bab 4 tentang mengelola ekspetasi</strong>. Kedua hal ini dibahas di buku <em>Filosofi Teras</em>.</p>
<p>Penulis merupakan tipe orang yang <a href="https://whathefan.com/karakter/terlalu-suka-mengendalikan/">berusaha untuk mengendalikan segala sesuatu</a> yang ada di sekelilingnya. Bab ini mengingatkan Penulis kalau yang bisa kita kendalikan sepenuhnya hanya diri kita.</p>
<p>Penulis juga masih (sangat) sering berekpetasi kepada orang lain meskipun <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">sudah sering dikecewakan</a>. Bab ini berkaitan dengan bab 2, di mana kita berusaha mengendalikan respon orang lain yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.</p>
<p>Selain dua bab ini, pembahasan yang ditulis cukup menarik meskipun ada beberapa bab yang tidak terlalu Penulis pahami karena keterbatasan otak yang dimiliki.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Filosofi untuk Hidup</em></h3>
<p>Sebagai buku filsafat, sang penulis buku ini berusaha menuliskannya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh pembaca awam seperti Penulis.</p>
<p>Evans menulis buku ini dengan membuat kita berimajinasi sedang mengikuti kelas filsafat, lengkap dengan sesi pagi, sesi siang, hingga ada istirahat makan siangnya.</p>
<p>Dengan menggunakan banyak contoh dari kejadian nyata, kita dibuat lebih mudah untuk memahami dan membayangkan materi di tiap babnya.</p>
<p>Walaupun begitu, tetap saja ada bagian yang susah untuk dimengerti. Kalau Penulis pribadi merasa kesulitan untuk memahami bab 9 yang membahas tentang seni anarki.</p>
<p>Meskipun keliatan kecil, buku ini terasa sangat padat dan berisi. Penulis menyarankan untuk membacanya tidak lebih dari satu bab sehari agar bisa memahaminya lebih baik lagi.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang ingin belajar filsafat praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Nilai: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>Filosofi untuk Hidup </em>karya Jules Evans</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/">Setelah Membaca Buku Filosofi untuk Hidup</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-buku-filosofi-untuk-hidup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:28:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[stoa]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kamu kok berubah sih?&#8221; Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya. Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Kamu kok berubah sih</em>?&#8221;</p>
<p>Pernah menanyakan pertanyaan di atas kepada orang yang dekat dengan kita? Kemungkinan besar pernah. Perubahan sikap orang lain kerap menganggu pikiran kita, apalagi jika kita tidak tahu apa penyebabnya.</p>
<p>Secara manusiawi, kita pasti ingin mereka kembali seperti semula dan menjalin hubungan seperti biasanya. Sayangnya, tidak semua berhasil. Ada yang pada akhirnya berpisah jalan.</p>
<p>Perubahan sikap orang lain seperti ini menjadi contoh mengenai <strong>apa yang tidak bisa kita kendalikan</strong>.</p>
<h3>Dikotomi Kendali</h3>
<p>Penulis pernah menuliskan artikel terkait dikotomi kendali yang terinspirasi dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/"><em>Filosofi Teras</em></a> karya Henry Manampiring. Intinya, di dunia ini<strong> ada yang bisa kita kendalikan </strong>dan<strong> ada yang tidak</strong>.</p>
<p>Selain perubahan sikap orang lain, apa yang tidak bisa kita kendalikan? Sebagai seorang individu, di antaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Cuaca</li>
<li>Bencana alam</li>
<li>Terbitnya matahari dari Timur</li>
<li>Kucing boker sembarangan</li>
<li>Pacar yang selingkuh</li>
<li>Orangtua yang toxic</li>
<li>Perekonomian negara secara global</li>
<li>Tuntutan bos yang tidak masuk akal</li>
<li>Menyebarnya video tidak senonoh</li>
<li>Perdebatan netizen</li>
<li><em>Nyinyiran</em> tetangga</li>
<li>Dan masih banyak (banget) lainnya</li>
</ul>
<p>Lantas, apa yang bisa kita kendalikan? Cuma satu.</p>
<p><strong>Diri kita.</strong></p>
<p>Pola pikir kita, prinsip kita, pandangan kita, respon kita terhadap sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, itu semua adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semuanya ada di dalam diri kita.</p>
<p>Ambil contoh perubahan sikap orang lain yang tiba-tiba tanpa alasan. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk kembali seperti dulu lagi atau bahkan sekadar meminta penjelasan apa yang telah terjadi.</p>
<p>Yang bisa kita kendalikan adalah <strong>memberikan respon terhadap perubahan</strong> tersebut. Mau <em>legowo</em>, mau terus <em>ngeyel </em>meminta penjelasan, mau bodo amat, itu semua bisa kita pilih.</p>
<p>Terkadang kita, termasuk Penulis, terlalu fokus dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan sehingga<strong> lupa</strong> dengan apa saja yang bisa dikendalikan.</p>
<h3>Apa yang Bisa Kita Kendalikan</h3>
<p>Penulis sedang membaca buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans. <em>Ndilalah</em>, bab awal dari buku ini membahas Seni Menjaga Kendali yang dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Epictetus.</p>
<p>Di sini, ada poin menarik yang mengusik Penulis. Menurut Epictetus, ada dua kesalahan kita yang menimbulkan penderitaan.</p>
<ol>
<li>Kita berusaha mengendalikan sesuatu yang di luar kendali kita</li>
<li>Kita tidak bertanggung jawab atas hal-hal yang <em>seharusnya </em>bisa kita kendalikan</li>
</ol>
<p>Contohnya, kita punya cita-cita mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.  Ambisi kita yang besar akan menjadi percuma jika usahanya tidak sebanding. Bukannya belajar dan mempersiapkan diri, kita justru banyak <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">menghabiskan waktu di depan layar ponsel</a>.</p>
<p>Keputusan untuk diterima atau tidaknya itu di luar kendali kita, tapi usaha untuk meraih itu sepenuhnya kendali kita. Apa yang bisa kita kendalikan itulah tanggung jawab kita.</p>
<p>Jika kita bisa memisahkan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, <em>insyaAllah </em>hidup kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa cemas, stres, depresi, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tidak dipungkiri kalau ada saja faktor eksternal yang akan memengaruhi kehidupan kita. <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">Faktor </a><em><a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/apa-yang-salah-dengan-privilege/">privilege</a> </em>juga sangat memberikan dampak yang tidak kecil terhadap kehidupan kita.</p>
<p>Hanya saja, perlu diingat kalau kita punya kuasa penuh atas diri kita sendiri. Penulis meyakini kalau sebenarnya <strong>semua kejadian itu netral</strong>, persepsi manusia yang menentukan kejadian tersebut termasuk baik atau buruk.</p>
<p>Penulis kurang lebih sudah 2 tahun mempelajari mengenai filosofi yang disebut stoikatau stoisme ini. Hasilnya? Susahnya bukan main menerapkan segala teori di atas dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walau begitu, Penulis yakin jika kita terus berusaha dan berlatih, pada akhirnya kita akan bisa menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 12 November 2020, terinspirasi setelah membaca bab kedua buku <em>Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya </em>karya Jules Evans</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rohanmakhecha">Rohan Makhecha</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">Apa yang Bisa Kita Kendalikan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2019 17:48:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target. Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan. Terkadang, ada sesuatu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa diskusi, ayah penulis seringkali menggunakan analogi mengemudi dalam menjelaskan sesuatu. Salah satunya adalah bagaimana kita harus mempunyai target.</p>
<p>Saat kita mengemudi, dengan memiliki tujuan tentu kita akan tahu jalur mana yang harus kita lalui. Ketika ada halangan seperti perbaikan jalan, kita bisa mencari jalur lain yang bebas dari halangan.</p>
<p>Terkadang, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa meneruskan perjalanan, misalnya karena ada bencana alam sehingga daerah tujuan kita terisolasi. Jika seperti itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah tujuan perjalanan kita.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah fungsi target dalam hidup kita, sebagai pemandu kita mau mengemudikan hidup kita ke arah mana dan melalui jalan apa.</p>
<h3>Target-Target Dalam Jangka Waktu Dekat</h3>
<p>Setelah bekerja di Mainspring Technology, penulis berkesempatan meliput acara pengenalan CEO baru salah satu perusahaan agensi iklan terbesar di Indonesia, <strong>Dentsu Aegis Network</strong>.</p>
<p>Nama CEO tersebut adalah <strong>Maya Watono</strong>. Selepas acara, penulis berkesempatan untuk mewawancarainya bersama wartawan-wartawan lain.</p>
<p>Ada satu pertanyaan untuk Maya, tentang resep kesuksesan hingga bisa seperti sekarang. Ia menjawab bahwa salah satu caranya adalah menetapkan tujuan-tujuan dalam jangka pendek, selain ada tujuan untuk jangka panjang yang lebih besar.</p>
<p>Ketika penulis mendengarkan jawaban tersebut, penulis seolah menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan. Penulis terlalu fokus terhadap target yang jauh di sana, hingga mengabaikan target-target kecil yang harus dicapai terlebih dahulu.</p>
<p>Misal, jika ingin kuliah di luar negeri, maka penulis akan memasang target dalam satu hari minimal belajar delapan jam. Penulis tentu saja belajar setiap hari, tapi tidak sebagai target sehingga durasi belajarnya tergantung <em>mood </em>penulis.</p>
<p>Oleh karena itu, sekarang penulis berusaha menetapkan target secara berjangka. Dalam jangka waktu ini, penulis harus melakukan ini ini dan ini. Agar bisa seperti itu, penulis mulai hari ini harus melakukan itu itu dan itu.</p>
<p>Kurang lebih seperti itu.</p>
<h3>Mengalir Bersama Air</h3>
<p>Akan tetapi, tidak semua orang merasa nyaman dengan target. Beberapa orang lebih memilih untuk mengalir bersama air, mengikuti akan ke mana hidup membawanya.</p>
<p>Apakah ini salah? Penulis tidak akan menyatakannya salah. Penulis akan menggunakan kembali filosofi mengemudi untuk mengilustrasikan hal ini.</p>
<p>Terkadang, kita hanya ingin mengemudikan kendaraan kita untuk pergi berkeliling tanpa tujuan pasti. Kita hanya ingin menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ternyata kita menemukan sebuah barang yang sudah lama diinginkan. Maka, perjalanan yang awalnya tidak memiliki tujuan khusus tersebut ternyata menghasilkan sesuatu yang membahagiakan.</p>
<p>Begitu pula di dalam hidup. Kita tidak menentukan target-target dalam beberapa aspek kehidupan karena percaya selama yang dilakukan adalah hal yang benar, Tuhan akan menunjukkan jalan kita.</p>
<h3>Lantas, Apakah Kita Butuh yang Namanya Tujuan?</h3>
<p>Masing-masing orang akan memiliki jawaban yang berbeda. Bagi penulis, <strong>butuh</strong>. Mungkin karena penulis adalah tipe orang yang tidak mau keluar rumah kecuali ada tujuan yang jelas.</p>
<p>Akan tetapi dalam prosesnya, mungkin kita perlu untuk terbawa arus air kehidupan agar bisa menentukan tujuan. Kita tidak tahu akan datang dari mana yang namanya inspirasi dan rezeki.</p>
<p>Penulis kerap mengalami kegagalan dalam meraih target. Sering sekali. Apakah hal tersebut membuat penulis memutuskan untuk membuat target karena kerap membuat stres? Tentu tidak.</p>
<p>Pepatah lama mengatakan kegagalan hanya keberhasilan yang tertunda. Bagi penulis, kegagalan hanyalah salah satu tahap yang harus dilalui sebelum mencapai keberhasilan. Bisa sesuai dengan target, bisa yang lebih baik lagi.</p>
<p>Ingat, yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan sang pemilik hidup ini. Kita boleh merasa bahwa target A dan B adalah yang terbaik untuk kita, padahal ternyata target XZ yang paling cocok untuk kita.</p>
<p>Penulis tidak akan menjelek-jelekan orang yang menolak untuk memiliki tujuan hidup. Bagaimana bisa seperti itu jika ibu penulis adalah tipe orang yang seperti itu?</p>
<p>Hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk memiliki target atau menjalani saja hidup ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 April 2019, terinspirasi setelah berdiskusi panjang dengan seorang kawan</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@samuele_piccarini">Samuele Errico Piccarini</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filosofi Merakit Gundam</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2018 03:32:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Gundam]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[model kit]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[rakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1916</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah Gundam tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe Build Strike Gundam Full Package 001. Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di display toko Multitoys Pondok Indah Mall 1. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah <strong>Gundam </strong>tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe <strong>Build Strike Gundam Full Package 001</strong>.</p>
<p>Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di <em>display </em>toko <strong>Multitoys Pondok Indah Mall 1</strong>. Sebenarnya ada yang lebih murah, tapi tak bersayap.</p>
<p>Begitu membeli, malamnya penulis langsung merakit Gundam tersebut non-stop. Maklum, penulis memang sedikit memiliki sifat kekanakan jika memiliki barang baru.</p>
<p>Proses merakit Gundam ini memakan waktu kurang lebih <strong>5 jam</strong>, mulai jam 9 malam hingga jam 2 pagi. Penulis tak bosan memandang Gundam yang penulis rakit dengan susah payah ini.</p>
<p>Namanya juga baru pertama kali, jelas tekniknya masih amatir, tidak seperti teman kerja penulis. Selain itu, penulis mencoba untuk menemukan filosofi apa yang bisa ditemukan ketika merakit sebuah model kit.</p>
<h3>Proses Itu Lebih Nikmat Dari Hasil</h3>
<p>Daripada memandangi hasilnya, penulis lebih menikmati proses merakitnya. Bagaimana kita memotong secara bertahap bagian-bagian dari Gundam yang kecil-kecil, bagaimana kita menyusunnya sesuai dengan panduan yang ada, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis sejak lama lebih menikmati sebuah proses. Bisa jadi karena pengaruh buku-buku yang penulis baca, seperti buku-buku <strong>John C. Maxwell</strong>. Bukan berarti penulis tidak menikmati hasil. Jelas hasil juga memberikan rasa kepuasan tersendiri.</p>
<p><div id="attachment_1918" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1918" class="size-large wp-image-1918" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1918" class="wp-caption-text">Proses Lebih Nikmat dari Hasil</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis meyakini hasil hanya mengikuti kerja keras kita selama proses. Jika proses dijalani dengan baik dan benar, maka hasil pun akan mengikuti. Lantas bagaimana jika ada yang telah berupaya keras namun tidak membuahkan hasil yang setimpal?</p>
<p>Itukan dari perspektif manusia. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Selama mempercayai Tuhan itu Maha Adil, maka yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan proses yang telah kita lakukan.</p>
<h3>Proses Itu Bertahap</h3>
<p>Jika sudah profesional, mungkin perakit Gundam tidak membutuhkan buku panduan untuk menyusun bagian-bagiannya. Akan tetapi, untuk seorang pemula, buku panduan mutlak dibutuhkan dan diikuti dengan teratur.</p>
<p>Ketika merakit Gundam, penulis mengikuti tahap demi tahap tanpa tergoda untuk melompat ke bagian lain. Dimulai dari menyusun kepala, kedua lengan, tubuh, bagian kaki, hingga terakhir bagian sayap.</p>
<p><div id="attachment_1920" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1920" class="size-large wp-image-1920" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1920" class="wp-caption-text">Proses Itu Bertahap</p></div></p>
<p>Penulis sempat lupa menempelkan stiker mata di bagian kepala karena tidak memahami arti buku panduan. Alhasil, bagian mata dari Gundam penulis sedikit cacat meskipun tak terlihat dari kejauhan.</p>
<p>Yang namanya proses ya seperti itu, ada tahapannya. Memang, kita bisa membeli sebuah Gundam yang langsung jadi. Akan tetapi, di mana kenikmatannya? Hal instan seperti itu tidak akan berkesan karena mudah didapatkan.</p>
<h3>Merakit Gundam Saja Ada Panduannya, Apalagi Hidup</h3>
<p>Bayangkan bagaimana jika seorang pemula merakit Gundam tanpa adanya buku panduan. Yang jelas, ia akan merasa kebingungan memahami bagian-bagian Gundam yang tersebar menjadi beberapa jenis.</p>
<p>Itu baru merakit Gundam. Lantas bagaimana dengan manusia? Oleh karena itulah turun kitab suci sebagai panduan hidup manusia. Jika manusia tidak mengikuti panduan hidup tersebut, bisa jadi hidupnya tidak karuan.</p>
<p><div id="attachment_1919" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1919" class="size-large wp-image-1919" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1919" class="wp-caption-text">Manusia Butuh Panduan</p></div></p>
<p>Tapi kan banyak orang-orang yang tidak menjadikan kitab suci sebagai panduan hidupnya bisa menjadi orang baik? Sekali lagi, itu merupakan sudut pandang dari seorang manusia, dan manusia bisa berbuat salah.</p>
<p>Kitab suci bukan hanya panduan untuk bagaimana ketika hidup. Kitab suci juga memberikan panduan untuk menyiapkan bekal-bekal yang harus dibawa setelah mati.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setidaknya tiga hal itulah yang penulis dapatkan ketika merakit Gundam. Mungkin ada lagi yang lain, seperti bagaimana kita harus bekerja secara hati-hati dan sabar demi mendapatkan hasil yang maksimal.</p>
<p>Namun penulis rasa, tiga hal itulah yang menjadi inti filosofi merakit Gundam. Karena telah merasakan keasyikan merakit Gundam, bukan tidak mungkin penulis akan membeli Gundam lagi beberapa bulan ke depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Desember 2018, terinspirasi setelah merakit Gundam untuk pertama kali</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Kita Ada?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2018 08:00:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[eksistensi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1427</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sering insomnia membuat penulis kerap kali overthinking tentang kehidupan yang penulis jalani. Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis yang muncul, salah satunya adalah mengapa penulis ada di dunia ini? Cogito ergo sum Rene Descartes Filsuf asal Perancis, Rene Descartes, menyatakan bahwa dengan kita berpikir, maka itu menunjukkan eksistensi kita di dunia ini. Ya itu memang penerjemahan paling dangkal, tapi setidaknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/">Untuk Apa Kita Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sering insomnia membuat penulis kerap kali <em>overthinking </em>tentang kehidupan yang penulis jalani. Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis yang muncul, salah satunya adalah mengapa penulis ada di dunia ini?</p>
<blockquote><p>Cogito ergo sum</p>
<p>Rene Descartes</p></blockquote>
<p>Filsuf asal Perancis, Rene Descartes, menyatakan bahwa dengan kita berpikir, maka itu menunjukkan eksistensi kita di dunia ini. Ya itu memang penerjemahan paling dangkal, tapi setidaknya itu membuktikan tidak ada yang salah dengan berpikir.</p>
<p>Penulis termasuk orang yang doyan berpikir. Mulai hal yang penting sampai yang sepele penulis pikirkan. Makanya, penulis membeli buku <a href="http://whathefan.com/2018/09/28/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat</a> untuk mengetahui bagaimana cara menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak penting dan berfokus pada hal-hal penting.</p>
<p>Mempertanyaan keberadaan di dunia termasuk golongan yang mana? Menurut penulis masih termasuk penting, tapi juga jangan terlalu lama dipikir. Apalagi jika sudah menemukan jawabannya.</p>
<p>Apakah penulis sudah menemukannya? Penulis pernah menemukannya pada buku tulisan ustad Felix Siauw yang berjudul <strong>Beyond the Inspiration</strong>. Pada buku tersebut, beliau mengutip Al-Quran bahwa kita diciptakan di dunia tidak lain dan tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Tuhan.</p>
<p>Penulis membaca buku tersebut ketika kuliah. Ketika itu penulis masih belum merasa mantap dengan jawaban tersebut. Penulis belum merasa puas dengan jawaban tersebut karena dalam bayangan penulis ibadah adalah kegiatan-kegiatan ritual seperti sholat dan puasa.</p>
<p>Sekarang, penulis sadar bahwa makna dari ibadah itu sangat luas. Berbuat baik adalah ibadah. Memberi senyum adalah ibadah. Tidak menyakiti binatang adalah ibadah. Membuang sampah pada tempatnya adalah ibadah.</p>
<p>Artinya, kita ini ada untuk berlomba berbuat kebaikan. Kita ada bukan semata-mata hanya untuk beribadah dengan menyembah-Nya, tapi juga berbuat baik terhadap sesama manusia dan makhluk hidup.</p>
<p>Terlebih lagi, kita telah diamanahkan untuk menjadi pemimpin di Bumi karena kita adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain. Sudah sepantasnya jika kita melaksanakan tugas tersebut dengan baik, sehingga pengerusakan terhadap alam harus dihindari semaksimal mungkin.</p>
<p>Dengan memaknai alasan keberadaan kita di dunia ini, semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 3 September 2018, terinspirasi ketika insomnia melanda</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/0LU4vO5iFpM?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Greg Rakozy</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/">Untuk Apa Kita Ada?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencari Makna Keluarga Pada The Puppeter</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 10:15:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Jostein Gaarder]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[The Puppeter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sering merasa bahwa hidup ini sepi? Sering merasa bahwa hidup kalian tidak dikeliling orang-orang yang mendukung kita? Jika iya, coba baca buku The Puppeter karya Jostein Gaarder ini. Seperti buku-buku Gaarder yang lain (Baca juga: Dongeng Jostein Gaarder), novel ini ditulis dengan gaya dongeng yang mempesona. Penulis membeli buku ini ketika akan merantau ke Jakarta dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/">Mencari Makna Keluarga Pada The Puppeter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sering merasa bahwa hidup ini sepi? Sering merasa bahwa hidup kalian tidak dikeliling orang-orang yang mendukung kita? Jika iya, coba baca buku <strong>The Puppeter</strong> karya Jostein Gaarder ini.</p>
<p>Seperti buku-buku Gaarder yang lain (Baca juga: <a href="http://whathefan.com/2018/06/08/dongeng-jostein-gaarder/">Dongeng Jostein Gaarder</a>), novel ini ditulis dengan gaya dongeng yang mempesona. Penulis membeli buku ini ketika akan merantau ke Jakarta dan jauh dari keluarga.</p>
<p>Buku ini dibuka dengan surat-surat yang dituliskan oleh tokoh utama bernama Jacob kepada Agnes, kawannya. Isi dari surat-surat tersebut adalah berbagai cerita ketika Jacob menghadiri berbagai pemakaman.</p>
<p>Jacob selalu memiliki cerita tentang bagaimana hubungannya dengan para almarhum, hingga pada suatu hari Agnes memergoki bahwa cerita Jacob selama ini hanya bohong semata.</p>
<p>Apa yang membuat Jacob merasa seperti itu? Ternyata, Jacob merasakan kehangatan keluarga dengan menghadiri pemakaman-pemakaman tersebut. Agar tidak mencurigakan, ia harus membuat karangan bagaimana ia kenal dengan almarhum.</p>
<p>Kehidupan keluarga Jacob sendiri kurang menyenangkan. Ia memiliki ayah yang buruk, dan ia harus bercerai dengan istrinya. Perceraian ini terjadi karena (satu-satunya) teman yang Jacob miliki bernama Pelle Skrindo.</p>
<p>Di sinilah terjadi <em>plot twist</em>, karena ternyata Pelle hanya sebuah boneka tangan. Bisa dianggap, Jacob sering berbicara sendiri dengan boneka tersebut. Mungkin hal ini terjadi berkat kesepian yang melanda perasaan Jacob.</p>
<p>Sebenarnya bahasa pada novel ini tergolong ringan. yang membuat berat adalah banyak dialog yang membahas akar bahasa, karena Jacob sendiri merupakan seorang intelektual sekaligus dosen. Berkali-kali dibahas bahwa berbagai bahasa di dunia memiliki akar bahasa yang sama.</p>
<p>Novel ini cocok bagi pembaca yang ingin berfilosofi mengenai pentingnya keluarga dan pembaca yang memiliki ketertarikan terhadap perkembangan bahasa di dunia.</p>
<p>Nilainya <strong>3.8/5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropilitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel The Puppeter karya Jostein Gaarder</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/">Mencari Makna Keluarga Pada The Puppeter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/mencari-makna-keluarga-pada-the-puppeter/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2018 15:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan. Jalan menatap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan.</p>
<p>Jalan menatap lurus ke depan sama dengan masa kini, jalan mendongak sama dengan masa depan, dan jalan menunduk sama dengan masa lalu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil sekelumit hikmah dari penganalogian ini?</p>
<p>Jalan menunduk, artinya terjebak masa lalu, selalu terbayang-bayang kesalahan yang pernah diperbuat di masa lampau. Takut untuk melangkah maju karena takut melakukan hal yang sama, melakukan penyesalan-penyesalan yang percuma. Akibatnya, kita akan terlampau sering “menabrak” kenyataan hidup yang sedang dijalani dan membuat hidup tertatih-tatih.</p>
<p>Jalan mendongak, artinya memikirkan masa depan. Bukankah bagus menjadi seseorang yang visioner? Iya, namun akan buruk akibatnya jika kita hanya fokus untuk masa depan sehingga mengabaikan hidup di masa kini. Termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang berangan-angan “besok aku akan menjadi orang yang lebih baik” bukan “sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik”. Akibatnya, ia akan tersandung oleh kerikil kehidupan yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan membuatnya berhenti berjalan.</p>
<p>Jalan itu menatap lurus ke depan. Ketika kita berjalan seperti itu, kita tidak hanya melihat apa yang ada di depan kita, melainkan juga apa yang ada di bawah dan atas kita. Fokus dengan yang dikerjakan hari ini (depanmu), namun mengambil pelajaran yang telah kita alami di masa lalu (bawahmu) dan menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan (atasmu). Itulah hakikat yang bisa diambil dari sebuah aktivitas kita sehari-hari, berjalan.</p>
<p>Berjalan itu menatap lurus ke depan, bukan menunduk bukan mendongak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Februari 2018, setelah membuat konten Instagram untuk WTF</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.flickriver.com">www.flickriver.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/">Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/berjalan-itu-menatap-lurus-ke-depan-bukan-menunduk-bukan-mendongak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
