<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Funiculi Funicula Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/funiculi-funicula/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/funiculi-funicula/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Mar 2024 08:21:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Funiculi Funicula Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/funiculi-funicula/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 08:17:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Dona Dona]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7093</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca dua buku Funiculi Funicula yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul Dona Dona di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut. Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari Funiculi Funicula karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah membaca dua buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula</a> </em>yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul<strong> <em>Dona Dona </em></strong>di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut.</p>



<p>Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a> </em>karena judulnya yang benar-benar berbeda. Yang membuat Penulis sadar kalau buku ini merupakan buku ketiga dari seri tersebut adalah desain <em>cover</em>-nya, yang masih &#8220;gaya&#8221; yang sama dengan dua buku sebelumnya.</p>



<p>Ternyata, siapa sangka, kalau kafe Funiculi Funicula di Tokyo memiliki cabang di Hokaido, dengan keluarga pemilik yang sama pula. Kafe ini pun sama ajaibnya, karena mampu membawa pengunjungnya untuk pergi ke masa lalu maupun masa depan, dengan segudang peraturan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Dona Dona</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ketiga</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2023</li>



<li>Tebal: 264 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020671710</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Dona Dona</h2>



<p><em>Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita. </em></p>



<p><em>Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya. </em></p>



<p><em>Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Dona Dona</h2>



<p><strong>Nagare Tokita</strong>, pemilik kafe Funiculi Funicula, harus pergi ke Hakodate, Hokaido, untuk menjaga kafe Dona Dona yang selama ini dikelola oleh ibunya, <strong>Yukita</strong>. Alasannya, Yukita tiba-tiba pergi ke Amerika untuk menolong seseorang.</p>



<p>Untuk sementara waktu, Funiculi Funicula di-<em>handle </em>oleh anak Nagare, Miki, karena<strong> Kazu Tokita</strong> juga ikut ke Hokaido. Menariknya, kita akan berkenalan dengan <strong>Sachi</strong>, anak dari Kazu yang secara resmi menjadi penuang kopi yang akan membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan.</p>



<p>Karakter Sachi bisa dibilang sebagai pencuri perhatian terbesar di buku ini. Kemampuannya membaca buku-buku berat (mulai karya Shakespears hingga fisika kuantum) di usianya yang baru 7 tahun menandakan kecerdasan ibunya menurun padanya. </p>



<p>Di antara banyaknya buku yang ia baca, <em><strong>Seratus Pertanyaan: Bagaimana Jika Hari Esok Kiamat</strong></em> menjadi fokus utama dari buku ini karena hampir selalu disebutkan di masing-masing bab, dan releven untuk masing-masing kisah yang diceritakan.</p>



<p>Tidak hanya Yukita (yang belum terlihat sosoknya) dan Sachi, ada beberapa karakter baru yang dihadirkan oleh novel ini, seperti <strong>Reiji </strong>(pekerja paruh waktu di Dona Dona), <strong>Nanako </strong>(teman masa kecil Reiji), hingga <strong>Saki </strong>(pengunjung tetap Dona Dona, seorang psikiater).</p>



<p>Sama seperti dua pendahulunya, buku ini juga memiliki empat cerita dengan keunikannya masing-masing. Keempat cerita tersebut adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Kisah Anak Perempuan yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Dasar Menyebalkan&#8221;</strong>: Tentang seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian</li>



<li><strong>Kisah Komedian yang Tidak Bisa Bertanya &#8220;Apa Kau Bahagia?&#8221;</strong>: Tentang seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya</li>



<li><strong>Kisah Seorang Adik yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Maaf&#8221;</strong>: Tentang seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya</li>



<li><strong>Kisah Pemuda yang Tidak Bisa Mengatakan &#8220;Aku Suka Padamu&#8221;</strong>: Tentang seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya</li>
</ol>



<p>Tidak hanya lokasi kafe yang berubah, sosok hantu yang menduduki kursi ajaib di kafe Dona Dona juga berbeda. Jika di Funiculi Funicula sosoknya adalah ibu Kazu, maka di Dona Dona ada sosok pria tua yang masih misterius.</p>



<p>Meskipun hanya sekilas, buku ini juga menjadi penjelas mengapa ketika Rei Nagare melakukan <em>time traveling </em>di buku pertama, Nagare dan Kazu justru berada di Hokaido. Untungnya, Miki masih ada di Tokyo dan akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Dona Dona</h2>



<p>Secara formula, sebenarnya <em>Dona Dona </em>memiliki formula yang mirip-mirip dengan <em>Funiculi Funicula</em>, di mana pengunjung yang memiliki &#8220;masalah&#8221; di masa lalu (maupun masa depan) ingin melakukan perjalanan waktu.</p>



<p>Walaupun menggunakan formula yang sama, Penulis sama sekali tidak mempermasalahkannya karena menganggap hal tersebut sebagai konsistensi. Apalagi, cerita-cerita yang disajikan juga sangat <em>heartwarming </em>dan menyentuh hati.</p>



<p>Dengan lokasinya yang berpindah ke Hokaido juga berhasil memberikan efek penyegaran, yang ditambah dengan adanya beberapa karakter baru (yang tentu juga membutuhkan waktu untuk mengingatnya, mengingat betapa sulitnya nama-nama Jepang).</p>



<p>Jika dibandingkan dengan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">dua buku sebelumnya</a>, <em>Dona Dona </em>lebih sering membahas tema tentang kematian dan perasaan kehilangan. Bahkan, ada cerita yang di mana tokohnya ingin <em>stay </em>di masa lalu (untuk mati), seperti yang pernah terjadi di buku pertama.</p>



<p>Menurut Penulis (dan rasanya akan ada banyak pembaca buku ini yang setuju), salah satu <em>quote </em>kunci dari buku ini adalah ucapan dari Yukita di akhir buku yang berbunyi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang untuk tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan.&#8221;</p>
<cite>Hal. 263</cite></blockquote>



<p>Salah satu alasan unik yang membuat buku ini akan membuat penasaran para pembacanya adalah adanya halaman yang berwarna hitam pekat. Ternyata, alasan halaman tersebut dibuat berwarna hitam adalah karena mati lampu! Tentu alasan lainnya adalah menimbulkan efek dramatisir yang menarik.</p>



<p>Meskipun ada banyak karakter baru, Kazu tetap menjadi karakter favorit Penulis di sini berkat pembawaannya yang dewasa dan tenang. Kemampuan analisis dan kecerdikannya juga cukup terlihat di sini, walau mungkin ada yang berpendapat hal tersebut kalah jika dibandingkan buku keduanya.</p>



<p>Masih banyak misteri yang belum terungkap di buku ketiga ini, seperti sosok Yukita yang masih keluar negeri maupun cerita di balik sosok pria tua yang menjadi hantu penunggu kursi di Dona Dona.</p>



<p>Setelah melakukan riset kecil-kecilan, ternyata buku ini juga akan memiliki buku keempat dan kelimanya, sehingga tinggal menunggu waktu saja untuk membeli buku-buku tersebut ketika sudah dirilis di Indonesia untuk menjawab misteri yang tersisa.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dona Dona</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 May 2023 13:34:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6539</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah dua tulisan membahas tentang Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi. Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah dua tulisan membahas tentang <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a></em>, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong>.</p>



<p>Meskipun efeknya tidak &#8220;sedahsyat&#8221; buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di buku pertama.</p>



<p>Bisa jadi, itulah alasan mengapa judul yang dipih adalah &#8220;Kisah-Kisah yang Baru Terungkap&#8221;, karena memang baru di buku inilah hal tersebut terungkap. Lantas, siapa yang kini pergi ke masa lalu (atau masa depan) di kedai Funiculi Funicula? <em><strong>SPOILER ALERT!!!</strong></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/maskulinitas-pada-musik-dewa-banner.jpg 1280w " alt="Maskulinitas pada Musik Dewa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Maskulinitas pada Musik Dewa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 200 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020663852</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sama seperti buku pertama, <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap </em>juga terbagi menjadi empat bagian, yakni &#8220;Sahabat&#8221;, &#8220;Ibu dan Putra&#8221;, &#8220;<a href="https://whathefan.com/sajak/kerinduan-seorang-kekasih/">Kekasih</a>&#8220;, dan &#8220;Suami dan Istrinya&#8221;. Bisa dilihat jika konsep dan formulanya masih tetap sama.</p>



<p>Buku ini mengambil latar waktu beberapa tahun setelah Kei Tokita meninggal dunia ketika melahirkan <strong>Miki</strong>. Kehidupan kedai Funiculi Funicula pun berjalan seperti biasa, di mana Miki sudah mulai bisa membantu sedikit-sedikit di kedai.</p>



<p>Mungkin karena di sini banyak karakter baru yang muncul, maka si penulis buku ini membuat semacam diagram hubungan antara karakternya untuk memudahkan para pembacanya. Penulis jujur saja tidak bisa menghafal mereka semua.</p>



<p>Yang jelas, ada beberapa karakter lama yang kembali, seperti <strong>Kazu Tokita</strong> sang pembuat kopi, <strong>Nagare Tokita</strong> si pemiliki kedai, hingga <strong>Fumiko Kiyokawa</strong> yang pernah pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan kekasihnya.</p>



<p>Cerita-cerita yang diangkat di sini ada seorang pria yang pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan sahabatnya yang telah meninggal, di mana ia mengasuh putrinya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengungkapkan hal sebenarnya kepadanya.</p>



<p>Lalu ada seorang anak yang ingin pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggal, di mana ia tidak bisa datang ke pemakamannya karena terlilit masalah ekonomi demi mengejar ambisi sebagai pengrajin tembikar.</p>



<p>Cerita ketiga bercerita tentang seorang pria yang telah didiagnosis tidak berumur lama. Ia ingin pergi ke masa depan, tepatnya dua tahun kemudian, untuk mengetahui kalau kekasihnya yang ia tinggalkan bahagia</p>



<p>Penutup cerita ini adalah seorang detektif yang ingin pergi ke masa lalu untuk memberikan hadiah istrinya yang telah meninggal karena perampokan. Hadiah tersebut akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir dalam pernikahan mereka yang singkat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</h2>



<p>Apa yang Penulis suka dari novel ini adalah terungkapnya banyak fakta seputar <strong>Kazu Tokita</strong>. Ternyata, wanita bergaun putih yang menjadi hantu di kedai tersebut adalah ibunya! Ia menjadi hantu karena telat (atau menolak untuk) kembali ke masa kini.</p>



<p>Selain itu, diketahui kalau Kazu di cerita ini merasa bahwa dirinya tidak berhak untuk bahagia, karena ia adalah orang yang membuatkan kopi agar ibunya bisa pergi ke masa lalu. Sejak hari naas tersebut, Kazu menjadi sosok yang terus dihinggapi rasa bersalah.</p>



<p>Ini menjawab misteri mengenai mengapa Kazu terlihat menjadi sosok yang dingin dan sangat pendiam. Untungnya, di akhir novel ini, pada akhirnya Kazu mau belajar untuk memaafkan dirinya sendiri.</p>



<p>Hal menari kalinnya seputar Kazu adalah ia telah mengandung seorang anak. Ternyata, hal ini membuatnya kehilangan kekuatan untuk membuat kopi &#8220;super&#8221; tersebut, karena kekuatannya langsung menurun ke anak dalam kandungan tersebut.</p>



<p>Untungnya, Miki Tokita sudah berusia tujuh tahun di buku ini, sehingga ia telah memiliki kemampuan tersebut dan kedai pun tetap dapat berjalan kembali. Sebagai tambahan, peran Miki sebagai &#8220;pengundang tawa&#8221; di novel ini cukup terasa kental.</p>



<p>Jika cerita-cerita di novel pertama terasa berkesinambungan, maka cerita-cerita di novel ini lebih terasa berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang muncul untuk pergi ke masa lalu/masa depan tidak terlalu berkaitan satu sama lain.</p>



<p>Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, cerita-cerita yang ada di novel ini masih terasa menarik, tapi dampak emosionalnya kurang <em>nendang</em>. Dibandingkan kisah orang-orang yang melakukan perjalanan waktu, Penulis lebih tertarik dengan kisah yang dimiliki oleh Kazu.</p>



<p>Meskipun begitu, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Dengan segala aturan yang tetap sama, kita akan menyaksikan orang-orang pergi ke masa lalu, meskipun tahu apa yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa kini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Mei 2023, terinspirasi setelah membaca <em>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</em> karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-kisah-kisah-yang-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 May 2023 13:55:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6500</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel review tentang novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan spoiler. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat review kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel <em>review </em>tentang novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/"><em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></a>. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan <em>spoiler</em>.</p>



<p>Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat <em>review </em>kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca cerita-cerita sederhana yang getir dalam novel ini.</p>



<p>Kalau Pembaca berniat untuk membaca novel ini, Penulis sarankan jangan melanjutkan membaca karena artikel ini akan <em>full spoiler</em>. Kalau tidak keberatan, <em>monggo </em>dibaca sampai habis.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Cerita-Cerita Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Total ada empat cerita di dalam novel ini, di mana judul-judulnya terdengar sederhana saja. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, terdapat cerita yang cukup menyayat hati. Penulis yang hampir tidak pernah merasa terharu ketika membaca novel pun jadi merasakannya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1. Kekasih</h3>



<p>Cerita yang pertama berfungsi sebagai perkenalan kepada pembaca bagaimana konsep <em>time travel </em>dalam novel ini berjalan. Untuk itu, kasus yang dibawa pun tidak terlalu berat dan tergolong ringan saja.</p>



<p>Karakter utama di sini adalah <strong>Fumiko Kiyokawa</strong>, seorang wanita karir yang harus menerima kenyataan kalau kekasihnya harus pergi ke luar negeri untuk mengejar impiannya. Sosoknya yang <em>tsundere </em>membuatnya tak bisa mengatakan apa yang ia ingin dikatakan saat berpisah.</p>



<p>Karena menyesal, Fumiko pun datang ke kafe Funiculi Funicula dengan harapan bisa menemui kekasihnya dan mengatakan hal yang sebenarnya. Untungnya, mereka berdua memang berpisah di kafe kecil tersebut.</p>



<p>Ketika bertemu di masa lalu, Fumiko pun baru menyadari kalau kekasihnya sebenarnya merasa minder dan khawatir kalau Fumiko akan tertarik dengan pria lain. Fumiko pun jadi tahu kalau yang ia perlu lakukan hanyalah menanti kekasihnya tersebut pulang.</p>



<p>Dengan ceritanya yang ringan, detail-detail seperti persyaratan pergi ke masa lalu pun bisa disajikan dengan lengkap di sini. Oleh karena itu, meskipun ceritanya biasa saja, fungsinya sebagai perkenalan mampu berjalan dengan baik.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. Suami-Istri</h3>



<p><strong>Kotaro Fusagi</strong> menjadi sosok berikutnya yang memutuskan untuk pergi ke masa lalu di kafe Funiculi Funicula. Ia merupakan seorang perawat yang suaminya terkena Alzeimer, sehingga ia lupa kalau punya Kotaro sebagai istrinya.</p>



<p>Meskipun suaminya melupakannya, Kotaro tetap dengan sabar mampu merawatnya. Namun, ia penasaran dengan sebuah surat yang pernah ditulis oleh suaminya, tetapi belum pernah diberikan kepadanya. Itulah alasannya untuk pergi ke masa lalu ketika suaminya belum sakit.</p>



<p>Ternyata, sang suami telah menyadari penyakitnya dan mengkhawatirkan hal tersebut. Untuk itu, ia membuat surat yang mengharukan kepada Kotaro, di mana ia mengungkapkan semua perasaan cintanya, bahkan mempersilakan Kotaro pergi jika penyakit lupanya makin parah.</p>



<p>Baru di cerita kedua, <em>damage</em>-nya sudah cukup terasa. Penulis benar-benar merasa terhanyut dalam ceritanya dan merasakan simpati kepada sosok suami-istri ini. Penulis begitu terharu bagaimana hebatnya kesetiaan Kotaro kepada suaminya tersebut.</p>



<p>Sebelumnya, Kotaro memilih untuk dipanggil dengan nama depannya untuk tidak membingungkan suaminya. Setelah kembali dari masa lalu, ia dengan mantap ingin dipanggil dengan Fusagi juga, agar suaminya yakin kalau mereka memang sepasang suami-istri.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3. Kakak-Adik</h3>



<p>Satu hal yang menarik dari novel ini adalah adanya semacam <em>clue </em>siapa yang akan pergi ke masa lalu selanjutnya di judul berikutnya. <strong>Yaeko Hirai</strong>, pemilik bar di depak kafe ini, telah diperlihatkan sejak cerita kedua ketika ia menghindari adiknya, Kumi.</p>



<p>Alasan Yaeko menghindari adiknya sendiri adalah karena dirinya tidak ingin pulang ke kampung halamannya dan melanjutkan usaha keluarga. Ia ingin hidup bebas, sehingga usaha keluarga tersebut diurus oleh adiknya.</p>



<p>Namun, saat Kumi hendak pulang setelah gagal menemui kakaknya, ia mengalami kecelakaan dan membuatnya tewas. Yaeko, meskipun terkesan cuek, ternyata menyimpan perasaan bersalah yang mendalam sehingga ingin pergi ke masa lalu dan menemui adiknya tersebut.</p>



<p>Dalam pertemuan tersebut, ia menyadari betapa adiknya menyayanginya, bahkan sempat terbesit pikiran untuk tidak kembali ke masa kini. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan melanjutkan kerja adiknya selama ini dalam melanjutkan usaha keluarga.</p>



<p>Dibandingkan dua cerita sebelumnya, cerita ketiga cukup terasa kelam karena baru ini pelanggan kafe pergi ke masa lalu untuk menemui orang yang telah meninggal. Jika tidak diingatkan, mungkin Yaeko akan terjebak di masa lalu selamanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">4. Ibu dan Anak</h3>



<p>Sudah ada tiga pengunjung yang pergi ke masa lalu, tapi bagaimana jika yang pergi adalah pemilik kafenya sendiri? Kafe Funiculi Funicula dimiliki oleh Nagare Tokita, yang memiliki istri bernama <strong>Kei Tokita</strong>. Nah, Kei menjadi tokoh utama di cerita keempat ini.</p>



<p>Kei yang periang dan ceria sedang mengandung anak dari pernikannya dengan Nagare. Namun, muncul kekhawatiran kalau Kei yang secara fisik memang lemah mampu melahirkan anak tersebut tanpa kehilangan nyawanya.</p>



<p>Merasa dirinya tidak akan pernah berkesempatan untuk bertemu dengan anak yang dikandungnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke masa depan untuk melihat anaknya setidaknya satu kali seumur hidup. Iya, kafe ini bisa membawa kita ke masa depan juga.</p>



<p>Sayangnya, terdapat kesalahan dalam prosesnya, sehingga Kei datang bukan di waktu yang telah ditentukan. Untungnya, ia tetap bertemu dengan anak perempuannya yang bernama <strong>Miki</strong>, yang awalnya terlihat canggung ketika bertemu dengan ibunya yang telah meninggal.</p>



<p>Sebelumnya, sosok Miki telah di-<em>tease </em>di cerita ketiga, di mana ia datang dari masa depan untuk bisa bertemu dan berfoto dengan ibunya. Nah, di cerita keempat ini kita kembali melihat Miki yang telah berusia belasan tahun.</p>



<p>Bisa dibayangkan betapa menyedihkannya cerita seorang ibu yang tahu dirinya akan meninggal bertemu dengan anaknya yang sudah beranjak remaja. Miki pun harus menerima kenyataan kalau wanita yang di depannya adalah orang yang melahirkannya di dunia.</p>



<p>Sebagai penutup, cerita ini benar-benar mampu memberikan akhir yang sangat mengharukan. Perasaan Penulis terasa diaduk-aduk dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh karakter-karakter yang ada di dalam novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika membaca ringkasan cerita di atas, memang kisah-kisahnya terkesan sederhana. Namun, penulis buku ini, Toshikazu Kawaguchi, mampu memberikan dialog-dialog yang <em>ngena </em>dan mampu menghadirkan suasana dramatis yang kuat.</p>



<p>Tidak hanya itu, isi pikiran orang-orang yang pergi ke masa lalu pun berhasil digambarkan dengan baik. Kita jadi bisa merasakan berbagai macam dilema yang muncul ketika mereka berada di situasi yang pelik.</p>



<p>Selain itu, karakter Kazu Tokita, pembuat kopi yang mampu membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan, juga masih terkesan misterius di novel ini. Di buku keduanya, <em><strong>Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap</strong></em>, barulah kisah Kazu terungkap.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Maret 2023, terinspirasi karena ingin menulis lebih banyak lagi tentang novel <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Apr 2023 13:26:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Funiculi Funicula]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Toshikazu Kawaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6438</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pepatah memang menyebutkan don&#8217;t judge a book by its cover alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya. Contoh terbarunya adalah novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pepatah memang menyebutkan <em>don&#8217;t judge a book by its cover</em> alias jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Namun, sejujurnya Penulis beberapa kali membeli buku karena terpikat dengan sampulnya.</p>



<p>Contoh terbarunya adalah novel <em><strong>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</strong></em> karya <strong>Toshikazu Kawaguchi</strong> yang akan Penulis bahas pada tulisan kali ini. Begitu melihatnya, langsung ada perasaan kalau Penulis harus membelinya.</p>



<p>Apa yang membuat Penulis menyukai sampul ini adalah gaya anime realis yang dimilikinya, salah satu <em>artstyle </em>yang Penulis sukai. Bahkan tak hanya satu, Penulis langsung membeli buku keduanya juga yang akan Penulis bahas di tulisan selanjutnya.</p>





<p>Tentu Penulis menyempatkan diri untuk membaca sinopsis singkat yang ada di bagian belakang buku. Ternyata, ada unsur supernatural dalam buku ini karena menceritakan sebuah kafe yang mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu.</p>



<p>Biasanya, Penulis menghindari genre-genre fantasi seperti ini. Namun, entah mengapa Penulis tetap terpikat dengannya. Intuisi Penulis benar, ini adalah salah satu novel dengan cerita paling bagus sekaligus paling menyayat hati!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</em></li>



<li>Penulis: Toshikazu Kawaguchi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keenam Belas</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2023</li>



<li>Tebal: 223 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651927</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Seperti yang sudah Penulis singgung sedikit di atas, novel ini berkisah tentang sebuah kafe tua nan kecil bernama Funiculi Funicula yang terletak di sebuah gang kecil di Tokyo. Kita bisa melihat ilustrasi kafe ini pada bagian sampul buku.</p>



<p>Yang istimewa dari kafe ini bukan dari kopi ataupun sajiannya, melainkan karena mampu membawa pengunjungnya pergi ke masa lalu, bahkan masa depan. Hanya saja, ada banyak syarat yang harus mampu dipenuhi oleh pelanggan.</p>



<p>Beberapa di antaranya adalah kita hanya bisa bertemu dengan seseorang di masa lalu/depan jika orang tersebut pernah mengunjungi kafe tersebut. Lalu, kita harus duduk di kursi tertentu dan tidak boleh berpindah tempat sekalipun, atau kita akan langsung diseret ke masa kini.</p>



<p>Masalahnya, kursi spesial tersebut kerap diduduki oleh roh hantu perempuan yang membaca novel. Katanya, itu terjadi karena pernah ada seseorang yang pergi ke masa lalu dan melebihi batas waktu yang telah ditentukan.</p>



<p>Seberapa lama waktu yang bisa kita gunakan untuk menjelajahi waktu? Ternyata tergantung dari kopi yang akan mengirimkan kita ke masa lalu tersebut. Kita harus &#8220;pulang&#8221; sebelum kopinya menjadi dingin, seperti yang tertera di judul buku ini.</p>



<p>Selain itu, kita juga harus memahami bahwa apapun yang kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah kenyataan yang akan terjadi hari ini. Konsepnya mirip dengan konsep <em>time travel </em>di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/">Avengers: Endgame</a></em>.</p>



<p>Ribet? Jelas, apalagi yang akan kita lakukan di masa lalu tidak akan mengubah apapun.. Setelah mengetahui ada begitu banyak peraturan yang ada, banyak yang mengurungkan niatnya untuk pergi ke masa lalu. </p>



<p>Namun, tetap saja ada segelintir orang yang tetap yakin ingin melakukannya. Ada seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, ada seorang perawat yang ingin membaca surat yang dibuat oleh suaminya yang sakit.</p>



<p>Ada seorang kakak yang menemui adiknya untuk terakhir kalinya, dan ada seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin tidak akan pernah dijumpainya seumur hidup. Penulis tidak akan membocorkan detail kisah perjalanan mereka di sini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</h2>



<p>Awalnya Penulis mengira kalau buku ini merupakan sebuah kumpulan cerpen di mana kisah dari masing-masing babnya tidak memiliki keterkaitan. Ternyata, walau terkesan tidak memiliki kesinambungan, ada benang merah yang menyambungkannya.</p>



<p>Itu adalah salah satu poin plus dari novel ini, sehingga menghadirkan sedikit <em>plot twist </em>yang walaupun tidak terlalu mengejutkan, tetap memberikan <em>damage</em>. Apalagi, kisah-kisah yang terkandung di dalamnya terasa nyata dan bisa saja terjadi pada kehidupan kita.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Konsep Time Travel yang Disederhanakan</h3>



<p>Ketika membaca cerita pertama tentang seorang perempuan yang ingin berbaikan dengan kekasihnya, Penulis masih merasa biasa saja. &#8220;Oh, begini konsep <em>time travel</em>-nya,&#8221; begitu pikir Penulis. </p>



<p>Namun, begitu masuk ke cerita kedua, emosi Penulis langsung dibuat naik turun tak karuan. Seumur hidup, rasanya baru kali ini Penulis berhasil dibuat terharu oleh sebuah novel. Masalahnya, cerita ketiga dan keempat <em>damage</em>-nya lebih besar lagi.</p>



<p>Meskipun memiliki konsep <em>time travel</em>, sama sekali tidak ada penjelasan ilmiah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tidak dijelaskan juga bagaimana kopi buatan kafe tersebut bisa mengirimkan orang pergi ke masa lalu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kisah-Kisah yang Sederhana, tapi Bermakna</h3>



<p>Menurut Penulis, menyederhanakan konsep <em>time travel</em> adalah upaya sang penulis buku ini untuk menyederhanakan cerita. Tanpa perlu tahu pun, kita masih bisa menikmati ceritanya. Memang tidak masuk akal, tapi bukan rasionalitas yang menjadi kekuatan utama buku ini.</p>



<p>Buku ini justru ingin memberi tahu kita tentang hal-hal sepele yang mungkin selama ini kita abaikan, dan baru merasa menyadari hal tersebut ternyata penting setelah kita kehilangannya. Tiga cerita di awal berpusat pada konsep tersebut.</p>



<p>Lalu, bagaimana dengan yang terakhir? Cerita terakhir bisa dibilang mengandung bawang yang paling banyak. Karena takut terlalu membocorkan kisahnya, Penulis hanya bisa bilang kalau cerita keempat menjadi satu-satunya yang pergi ke masa depan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Apakah Ada Kekurangannya? </h3>



<p>Jika disuruh mencari kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau nama-nama karakter yang ada di dalamnya membutuhkan waktu agar Penulis bisa menghafalnya. </p>



<p>Bahkan, ada beberapa karakter yang awalnya Penulis kira laki-laki, ternyata perempuan. Namun, itu hanya kekurangan minor yang terjadi karena ketidakmampuan Penulis dalam menghafal karakternya dengan cepat.</p>



<p>Jika disuruh memilih, Penulis paling menyukai karakter Kazu Tokita yang misterius dan senantiasa tidak menunjukkan emosinya. Sedikit <em>spoiler</em>, ia adalah pramusaji di kafe tersebut yang bertugas membuat kopi bagi pelanggan yang ingin pergi ke masa lalu.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Sejujurnya masih ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan terkait novel ini. Namun, Penulis khawatir jika akan memberikan <em>spoiler </em>terlalu banyak. Mungkin saja, Penulis akan memberikan versi <em>full spoiler </em>pada tulisan selanjutnya jika ingin menulisnya.</p>



<p>Untuk saat ini, rasanya sudah cukup ulasan yang Penulis berikan untuk novel ini. Sudah lama Penulis tidak menemukan kepuasan setelah menamatkan novel seperti ini. Jelas, <em>Funiculi Funicula </em>akan menjadi salah satu novel terbaik versi Penulis.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 April 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold </em>karya Toshikazu Kawaguchi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/">Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
