Connect with us

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona

Published

on

Setelah membaca dua buku Funiculi Funicula yang sudah pernah Penulis ulas sebelumnya, tak pernah terbesit di pikiran kalau buku ini akan memiliki buku ketiganya. Maka dari itu, ketika pertama kali melihat buku berjudul Dona Dona di rak toko buku, Penulis benar-benar terkejut.

Awalnya, Penulis tak mengira kalau buku ini merupakan sekuel dari Funiculi Funicula karena judulnya yang benar-benar berbeda. Yang membuat Penulis sadar kalau buku ini merupakan buku ketiga dari seri tersebut adalah desain cover-nya, yang masih “gaya” yang sama dengan dua buku sebelumnya.

Ternyata, siapa sangka, kalau kafe Funiculi Funicula di Tokyo memiliki cabang di Hokaido, dengan keluarga pemilik yang sama pula. Kafe ini pun sama ajaibnya, karena mampu membawa pengunjungnya untuk pergi ke masa lalu maupun masa depan, dengan segudang peraturan.

Detail Buku

  • Judul: Dona Dona
  • Penulis: Toshikazu Kawaguchi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ketiga
  • Tanggal Terbit: Agustus 2023
  • Tebal: 264 halaman
  • ISBN: 9786020671710

Sinopsis Buku Dona Dona

Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita.

Mereka yang ingin memutar waktu adalah seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian, seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya, seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya, dan seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya.

Mungkin perjalanan mereka hanya akan menyisakan kenangan. Namun, kehangatannya akan membekas dan barangkali, pada akhirnya, menumbuhkan tekad baru untuk menjalani hidup…

Isi Buku Dona Dona

Nagare Tokita, pemilik kafe Funiculi Funicula, harus pergi ke Hakodate, Hokaido, untuk menjaga kafe Dona Dona yang selama ini dikelola oleh ibunya, Yukita. Alasannya, Yukita tiba-tiba pergi ke Amerika untuk menolong seseorang.

Untuk sementara waktu, Funiculi Funicula di-handle oleh anak Nagare, Miki, karena Kazu Tokita juga ikut ke Hokaido. Menariknya, kita akan berkenalan dengan Sachi, anak dari Kazu yang secara resmi menjadi penuang kopi yang akan membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan.

Karakter Sachi bisa dibilang sebagai pencuri perhatian terbesar di buku ini. Kemampuannya membaca buku-buku berat (mulai karya Shakespears hingga fisika kuantum) di usianya yang baru 7 tahun menandakan kecerdasan ibunya menurun padanya.

Di antara banyaknya buku yang ia baca, Seratus Pertanyaan: Bagaimana Jika Hari Esok Kiamat menjadi fokus utama dari buku ini karena hampir selalu disebutkan di masing-masing bab, dan releven untuk masing-masing kisah yang diceritakan.

Tidak hanya Yukita (yang belum terlihat sosoknya) dan Sachi, ada beberapa karakter baru yang dihadirkan oleh novel ini, seperti Reiji (pekerja paruh waktu di Dona Dona), Nanako (teman masa kecil Reiji), hingga Saki (pengunjung tetap Dona Dona, seorang psikiater).

Sama seperti dua pendahulunya, buku ini juga memiliki empat cerita dengan keunikannya masing-masing. Keempat cerita tersebut adalah:

  1. Kisah Anak Perempuan yang Tidak Bisa Mengatakan “Dasar Menyebalkan”: Tentang seorang wanita muda yang menyimpan dendam kepada orangtua yang menjadikannya yatim piatu kesepian
  2. Kisah Komedian yang Tidak Bisa Bertanya “Apa Kau Bahagia?”: Tentang seorang komedian yang kehilangan tujuan hidup setelah berhasil mewujudkan impian mendiang istrinya
  3. Kisah Seorang Adik yang Tidak Bisa Mengatakan “Maaf”: Tentang seorang adik yang khawatir kakaknya takkan bisa tersenyum lagi setelah kepergiannya
  4. Kisah Pemuda yang Tidak Bisa Mengatakan “Aku Suka Padamu”: Tentang seorang pemuda yang tak mampu mengungkapkan cinta terpendam kepada sahabatnya

Tidak hanya lokasi kafe yang berubah, sosok hantu yang menduduki kursi ajaib di kafe Dona Dona juga berbeda. Jika di Funiculi Funicula sosoknya adalah ibu Kazu, maka di Dona Dona ada sosok pria tua yang masih misterius.

Meskipun hanya sekilas, buku ini juga menjadi penjelas mengapa ketika Rei Nagare melakukan time traveling di buku pertama, Nagare dan Kazu justru berada di Hokaido. Untungnya, Miki masih ada di Tokyo dan akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya.

Setelah Membaca Buku Dona Dona

Secara formula, sebenarnya Dona Dona memiliki formula yang mirip-mirip dengan Funiculi Funicula, di mana pengunjung yang memiliki “masalah” di masa lalu (maupun masa depan) ingin melakukan perjalanan waktu.

Walaupun menggunakan formula yang sama, Penulis sama sekali tidak mempermasalahkannya karena menganggap hal tersebut sebagai konsistensi. Apalagi, cerita-cerita yang disajikan juga sangat heartwarming dan menyentuh hati.

Dengan lokasinya yang berpindah ke Hokaido juga berhasil memberikan efek penyegaran, yang ditambah dengan adanya beberapa karakter baru (yang tentu juga membutuhkan waktu untuk mengingatnya, mengingat betapa sulitnya nama-nama Jepang).

Jika dibandingkan dengan dua buku sebelumnya, Dona Dona lebih sering membahas tema tentang kematian dan perasaan kehilangan. Bahkan, ada cerita yang di mana tokohnya ingin stay di masa lalu (untuk mati), seperti yang pernah terjadi di buku pertama.

Menurut Penulis (dan rasanya akan ada banyak pembaca buku ini yang setuju), salah satu quote kunci dari buku ini adalah ucapan dari Yukita di akhir buku yang berbunyi:

“Menurutku, kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang untuk tidak bahagia. Sebab, tak ada orang yang tak akan mati. Jika kematian adalah penyebab ketidakbahagiaan, berarti semua orang dilahirkan untuk tidak bahagia. Hal itu tidak benar. Setiap orang tentu dilahirkan demi kebahagiaan.”

Hal. 263

Salah satu alasan unik yang membuat buku ini akan membuat penasaran para pembacanya adalah adanya halaman yang berwarna hitam pekat. Ternyata, alasan halaman tersebut dibuat berwarna hitam adalah karena mati lampu! Tentu alasan lainnya adalah menimbulkan efek dramatisir yang menarik.

Meskipun ada banyak karakter baru, Kazu tetap menjadi karakter favorit Penulis di sini berkat pembawaannya yang dewasa dan tenang. Kemampuan analisis dan kecerdikannya juga cukup terlihat di sini, walau mungkin ada yang berpendapat hal tersebut kalah jika dibandingkan buku keduanya.

Masih banyak misteri yang belum terungkap di buku ketiga ini, seperti sosok Yukita yang masih keluar negeri maupun cerita di balik sosok pria tua yang menjadi hantu penunggu kursi di Dona Dona.

Setelah melakukan riset kecil-kecilan, ternyata buku ini juga akan memiliki buku keempat dan kelimanya, sehingga tinggal menunggu waktu saja untuk membeli buku-buku tersebut ketika sudah dirilis di Indonesia untuk menjawab misteri yang tersisa.

Skor: 9/10


Lawang, 17 Maret 2024, terinspirasi setelah membaca buku Dona Dona

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X

Published

on

By

Setelah menamatkan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan slice of life.

Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan penggemar novel-novel detektif dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Yang jadi pertanyaan adalah judul mana yang sebaiknya Penulis baca dulu.

Setelah melihat rating di Goodreads, Penulis memutuskan untuk memilih novel berjudul The Devotion of Suspect X atau Kesetiaan Mr. X yang mendapatkan rating 4.2/5. Alhasil, novel ini berhasil membuat Penulis membeli novel Keigo lainnya.

Detail Buku The Devotion of Suspect X

  • Judul: The Devotion of Suspect X: Kesetiaan Mr. X
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Kedua Belas
  • Tanggal Terbit: Januari 2024
  • Tebal: 320 halaman
  • ISBN: 9786020330525
  • Harga: Rp99.000

Sinopsis The Devotion of Suspect X

Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.

Isi Buku The Devotion of Suspect X

Seringnya, novel detektif akan membawa kita ke sebuah misteri di mana sosok pelaku masih belum diketahui. Sepanjang cerita, kita akan mengikuti penyelidikan yang dilakukan oleh detektif hingga akhirnya bisa menyimpulkan siapa pelaku pada kasus tersebut.

Nah, formula yang berbeda Penulis temukan pada novel ini. Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu siapa yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan dan bagaimana ia mendapatkan bantuan dari tetangganya agar tidak perlu sampai ditangkap oleh polisi.

Dari sana, alur yang dimiliki oleh novel ini sama seperti novel detektif kebanyakan, di mana pihak kepolisian yang buntuk akhirnya akan meminta bantuan orang di luar kepolisian. Di sini, sosok detektifnya adalah Dr. Manabu Yukawa yang merupakan seorang asisten dosen fisika.

Sama seperti Hercule Poirot ataupun Sherlock Holmes, Yukawa juga memiliki metodenya sendiri untuk bisa memecahkan sebuah kasus. Apalagi, kali ini teman kuliahnya yang bernama Ishigami terlibat, sehingga ia memiliki cara pendekatannya sendiri.

Duel antara Yukawa yang merupakan jenius fisika dan Ishigawa yang merupakan jenius matematika menjadi bagian yang cukup menarik. Pertarungan mereka seperti pertanyaan: mana yang lebih sulit, menulis jawaban sendiri atau mengoreksi jawaban orang lain?

Kejeniusan Ishigawa berhasil membuat Yasuko Hanaoka dan putrinya, yang menjadi pelaku pembunuhan mantan suaminya, memiliki alibi sempurna. Semua skenario seolah sudah ia perhitungkan, dan selama Yasuko dan anaknya yang bernama Misato bisa melakukan apa yang perintah, harusnya semua aman.

Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Ishigawa adalah keterlibatan Yukawa di kasus ini. Jika saja Yukawa tidak terlibat, kemungkinan besar semua rencana yang telah ia susun akan berhasil hingga akhir dan pihak kepolisian akan mengalami kebuntuan.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya tidak akan ikut olimpiade jatuh juga.

Penulis tidak akan terlalu banyak membocorkan cerita dari novel ini, karena nilai plusnya justru di bagian plot twist-nya. Yang jelas, Penulis yang sudah sering membaca novel detektif pun terkecoh hingga bagian akhir.

Setelah Membaca The Devotion of Suspect X

Belajar dari kesalahan tak bisa menghafal nama-nama Jepang di novel-novel Jepang, Penulis memutuskan untuk memberi otaknya waktu sejenak untuk menghafalkan ini siapa dan perannya apa. Hal tersebut cukup membantu Penulis membedakan karakter-karakter yang ada di novel ini.

Sebenarnya Penulis tidak ingin terlalu memberikan bocoran mengenai alur cerita novel ini. Hanya saja, ada beberapa poin yang ingin Penulis ulas yang mengharuskan Penulis sedikit memberikan bocoran. Oleh karena itu, Penulis akan memberikan spoiler alert di sini.

Awalnya Kurang Mengesankan, Akhirnya Bikin Terkejut

Saat membaca bagian awal novel ini, Penulis merasa kalau alurnya cukup tertebak karena kedalaman ceritanya memang cukup dangkal jika dibandingkan dengan karya Agatha Christie. Apalagi, di pembatas buku tertulis Asianlit, sehingga Penulis merasa wajar jika cerita misterinya dibuat agak ringan.

Sejak awal, Penulis sudah menebak kalau Ishigami pada akhirnya akan menyerahkan diri ke polisi apabila situasinya sudah semakin gawat. Dari awal hingga menjelang akhir, inilah aksi paling bucin dari Ishigami kepada Yukawa.

Untuk apa sampai berbuat segitunya demi orang yang tidak terlalu dekat? Bukankah membantu menutupi pembunuhan saja sudah tidak normal? Di bagian akhir nanti akan dijelaskan mengapa Ishigami sampai sebucin dan senekat itu.

Lantas jika tertebak, di mana letak plot twist-nya? Jawabannya ada di dua bab terakhir, di mana plot twist-nya adalah tentang sampai sejauh mana Ishigami rela berbuat demi melindungi Yukawa. Penulis benar-benar terkejut ketika membacanya.

Membandingkan Yukawa dengan Poirot dan Holmes

Berbicara tentang sosok Yukawa yang menjadi main detective di novel ini, kesan pertama yang Penulis dapatkan adalah kemampuan deduksi dan analisisnya masih di bawah Poirot dan Holmes. Cara-cara yang ia lakukan dalam menyelesaikan kasus ini bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Yukawa memang bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya seperti yang dilakukan Poirot dengan sel-sel kelabu di otaknya, tetapi entah mengapa terasa cukup lamban. Kalau kemampuan deduksi, Holmes jelas masih di atasnya.

Yukawa seolah digambarnya sebagai seorang akademisi yang kebetulan kelewat jenius saja, sehingga bisa melihat apa yang dilewatkan oleh pihak kepolisian. Namun, kemampuan detektifknya bisa dibilang tidak terlalu menonjol.

Duelnya dengan Ishigawa sendiri bukan duel ala Holmes vs. Moriaty di mana mereka berusaha saling mengalahkan. Duel mereka “hanya” bagaimana Yukawa berusaha membongkar trik yang dilakukan oleh Ishigawa untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Yasuko.

Memang terlalu dini untuk menilai Yukawa karena Penulis baru membaca satu serinya. Penulis jadi tidak sabar untuk membaca seri Detektif Galileo selanjutnya, mungkin penilaian Penulis terhadapnya akan berubah.

Sedikit Kekurangan

Jika disuruh menuliskan kekurangan dari novel ini, mungkin bagian penyelidikan yang dilakukan oleh Detektif Kusanagi dan lainnya cukup berputar-putar di tempat tanpa ada progres yang berarti, sehingga di beberapa bagian alurnya akan terasa lambat.

Sejak awal, Yasuko menjadi target utama kepolisian karena hubugannya sebagai mantan istri Togashi. Namun, alibi Yasuko dan Misato nyaris sempurna dan pihak kepolisian tidak bisa membuktikan alibi mereka palsu. Inilah yang membuat penyelidikan menjadi berputar-putar.

Apalagi, Yasuko dan Misato berhasil menjalankan semua perintah Ishigawa dengan sempurna, sehingga kepolisian pun jadi yakin atas kesaksian mereka. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, rencana Ishigawa bisa buyar.

***

Kesimpulannya, The Devotion of Suspect X merupakan sebuah novel detektif dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menebak-nebak siapa pelakunya, kita justru diberikan suguhan duel antara dua jenius: yang ingin menutupi kejahatan dan yang ingin membongkarnya.

Dengan pendekatan yang fresh ini, Penulis jadi merasa membaca sebuah novel yang unik dan cukup berkesan. Konklusi kisahnya pun memuaskan, meskipun terasa getir. Mungkin Keigo memang doyang membuat kisah yang membuat hati pilu.

Skor: 8/10

Saat hampir menamatkan novel ini pada hari Kamis (6/6/24) kemarin, Penulis memutuskan untuk membeli novel Keigo lainnya yang berjudul A Midsummer’s Equation. Semoga saja keseruan ceritanya minimal setara dengan yang baru Penulis tamatkan ini.


Lawang, 8 Juni 2024, teinspirasi setelah membaca buku The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino

Continue Reading

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan

Published

on

By

Kalau sering membaca ulasan buku di blog ini, mungkin Pembaca menyadari kalau Penulis cukup menggemari buku-buku stoik. Beberapa buku yang pernah dibaca adalah Stoik: Apa dan Bagaimana dan Filosofi Teras.

Walaupun sudah mengetahui konsep dasarnya, Penulis merasa tetap perlu untuk membaca referensi lagi untuk semakin mendalami salah satu cabang filsafat ini. Seperti kata pepatah, semakin kita tahu, semakin sadar kalau yang tidak kita diketahui selalu lebih banyak.

Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku A Happy Life: Sebuah Perenungan yang merupakan karya Seneca, salah satu toko Stoik yang dari Yunani. Berikut adalah ulasan Penulis setelah menyelesaikan buku yang satu ini.

Detail Buku

  • Judul: A Happy Life: Sebuah Perenungan
  • Penulis: Seneca
  • Penerbit: Noura Books
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: Februari 2023
  • Tebal: 308 halaman
  • ISBN: 9786232423831
  • Harga: Rp84.000

Sinopsis A Happy Life: Sebuah Perenungan

Kebahagiaan—paling sering dibicarakan, sekaligus paling sukar dipahami. Dalam keadaan buta dan tergesa-gesa, semua orang mengejar kebahagiaan tanpa arah, yang akhirnya hanya mendapatkan lelah.

A Happy Life, yang dirangkum dari kumpulan catatan dan surat-surat Lucius Annaeus Seneca, mengajak kita merenungi “apa tujuan kita”, kemudian “mana jalan terbaik untuk mencapainya”. Salah satu pemikir Romawi yang disebut sebagai paling cerdas di antara semua filsuf Stoa ini, mencoba menjawab dua pertanyaan tentang apa itu bahagia dan apa saja yang mendasarinya.

Pembaca era modern saat ini akan merasakan, betapa buah pikir Seneca tak pernah usang dan tetap relevan meski sudah dua milenium berselang sejak dituliskan.

Isi Buku A Happy Life: Sebuah Perenungan

Sebagai salah satu tokoh stoik yang paling terkenal, Seneca membagikan pemikirannya melalui tulisan-tulisan, yang lantas terangkum dalam buku ini. Sesuai dengan judulnya, tema yang diusung adalah mengenai “kebahagiaan.”

Bagi manusia, tema kebahagiaan adalah salah satu topik yang paling sering didiskusikan. Apa itu bahagia? Mengapa kita sulit untuk bahagia? Mengapa manusia mengejar kebahagiaan? Mengapa rasa bahagia hanya bertahan sebentar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Buku ini tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang. Sesuai dengan sub-judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk merenungkan sendiri tentang kebahagiaan, lantas menemukan jawabannya sendiri.

Dalam membahas mengenai kebahagiaan, buku ini dibagi dengan beberapa bab yang cukup pendek, hanya sekitar 10 halaman saja. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok menjadi teman perjalanan atau mengisi waktu luang yang sedikit.

Total ada 25 bab pada buku ini, mulai dari “Tentang Hidup Bahagia dan Apakah Kebahagiaan Itu” hingga “Kemiskinan adalah Keberkahan dan Bukan Kemalangan.” Dalam penyusunannya, buku ini dibuat sesuai dengan sub-topiknya.

Misalnya, bab I hingga VIII berusaha menjelaskan mengenai definisi kebahagiaan dan apa yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Bab IX hingga XIV menjelaskan tentang penyebab ketidakbahagiaan. Bab sisanya lebih ke praktik untuk bagaimana cara agar kita bisa bahagia.

Ketika membaca buku ini, tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Baca saja setiap babnya secara perlahan, lalu renungkan isinya. Dengan begitu, isi buku ini pun bisa lebih masuk ke dalam diri kita.

Setelah Membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan

Penulis memiliki “ketakutan” akan karya-karya klasik karena merasa tidak percaya diri bisa memahami tata bahasanya, yang kadang bisa terasa sangat sulit untuk dicerna. Untungnya, buku A Happy Life: Sebuah Perenungan ini tidak seperti itu.

Entah karena skrip aslinya memang menggunakan bahasa yang mudah atau kemampuan penerjemahnya, buku ini sama sekali tidak terasa sebagai literatur klasik yang dibuat di awal-awal tahun masehi. Isinya sederhana, tapi bermakna.

Dalam menulis, di sini Seneca menggunakan gaya bahasa seolah sedang berdialog dengan kita pembacanya. Jangan heran kalau Pembaca akan menemukan banyak kata “Aku” dalam buku ini, karena memang gaya penulisannya seperti itu.

Jadi, ketika kita membaca buku ini, rasanya kita sedang mengikuti kuliah di zaman Yunani kuno. Tentu ini pengalaman membaca yang menyenangkan bagi sebagian orang yang memiliki obsesi terhadap kebudayaan Yunani kuno.

Selain itu, Seneca juga menyelipkan beberapa tokoh Yunani kuno di dalam tulisannya agar kita sebagai Pembaca bisa lebih membayangkan apa yang ia sampaikan. Jadi, meskipun ini buku filsafat/pengembangan diri, kita bisa sedikit-sedikit belajar sejarah Yunani kuno juga.

Namun, beberapa bagian mungkin akan terasa cukup membingungkan dan agak terlalu bertele-tele. Meskipun di awal Penulis bilang buku ini relatif mudah dipahami, tetap saja ada bagian yang “khas” karya klasik.

Penulis akan menyarankan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan filsafat stoik, tapi sudah pernah membaca buku-buku lain sebelumnya. Bisa dibilang, buku ini lebih bersifat komplementer untuk yang tertarik dengan stoik, bukannya elementer.

Namun, jika memutuskan untuk membaca buku ini sebagai perkenalan stoik, ya sebenarnya sah-sah saja. Bahasanya tidak terlalu njelimet sehingga bisa dipahami dengan mudah. Akan ada banyak bagian yang akan membuat kita merenungkan tentang kebahagiaan.

Rating: 7/10


Lawang, 1 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca A Happy Life: Sebuah Perenungan karya Seneca

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata

Published

on

By

Pada tulisan ulasan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri Funiculi Funicula.

Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, sehingga Penulis jadi malas membuat ulasannya.

Namun, karena sesuai jadwal harusnya novel ini dibuat ulasannya dan kemalasan menuliskannya membuat tulisan yang lain jadi ikut tertunda, Penulis pun meniatkan diri untuk menyelesaikan artikel ini.

Detail Buku

  • Judul: Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
  • Penulis: Sakae Tsuboi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Keduabelas
  • Tanggal Terbit: Maret 2023
  • Tebal: 248 halaman
  • ISBN: 9786020651729
  • Harga: Rp70.000

Sinopsis Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Isi Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata

Berhubung novelnya tipis (hanya sekitar 200 halaman), sebenarnya cerita yang disajikan sederhana saja. Apa yang tertuang di bagian sinopsis sudah menjelaskan garis besar cerita novel ini, sehingga rasanya Penulis tidak perlu menceritakan lagi apa isi buku ini.

Setelah Membaca Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata

Ketika melihat novel ini di toko buku, Penulis tertarik dengan latar pendidikan yang diangkat di antara dua era Perang Dunia ini. Dengan jumlah murid yang sedikit di tempat terpencil, Penulis juga jadi berharap kalau isinya akan mirip dengan Laskar Pelangi.

Sayangnya, harapan tersebut pupus begitu saja ketika Penulis sudah mulai membaca novel yang tergolong klasik ini. Penulis sama sekali kesulitan untuk bisa menikmati gaya bahasanya dan alur ceritanya.

Bahkan, Penulis tidak bisa banyak ingat apa saja kisah yang ada di dalamnya. Ceritanya berkutat di antara bagaimana bu guru yang bergaya modern harus beradaptasi dengan lingkungan desa judgemental dan berbagai konflik yang dihadapi oleh para muridnya.

Selain itu, berbeda dengan Laskar Pelangi, Penulis sangat kesulitan untuk membedakan murid-muridnya. Apalagi, novel ini juga tidak memiliki satu figur tokoh utama yang bisa membantu kita menavigasi arah cerita.

Sudah namanya sulit-sulit, masing-masing pun rasanya tidak terlalu memiliki ciri khas yang menonjol untuk diingat. Alhasil, sepanjang cerita, Penulis kesulitan untuk membayang tiap adegan yang terpampang karena merasa kesulitan untuk mengasosiasikan ini siapa itu siapa.

Saat mengecek di Goodreads, sebenarnya ada banyak pembaca novel ini yang jatuh cinta dan menganggap ceritanya yang bittersweet menyentuh hati. Sayangnya, Penulis bukan salah satunya karena sungguh tidak bisa menikmatinya.

Bahkan ketika habis membacanya, sama sekali tidak muncul perasaan haru. Yang ada justru rasa syukur karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini yang walaupun pendek, rasanya sangat berat untuk menamatkannya.

Tidak hanya itu, Penulis juga bersyukur karena akhirnya bisa mengurangi “tanggungannya” dengan menuliskan ulasan singkat tentang novel ini. Setidaknya satu beban tulisan telah selesai.

Rating: 3/10


Lawang, 12 Mei 2024, terinspirasi setelah membaca buku Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan