Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime

Pembentukan karakter seorang tokoh ketika menulis novel bisa dikatakan gampang-gampang susah. Kita bisa menggunakan orang-orang yang ada di sekeliling kita, baik keluarga, teman maupun kekasih sebagai referensi. Beberapa novel yang sudah saya baca terlalu jelas menarik garis batas antara tokoh protagonis dan antagonis. Kehidupan sehari-hari bisa menjadi referensi yang baik karena di dunia nyata sifat manusia tidak ada yang hanya sekedar hitam putih.

Hal ini semakin ditegaskan ketika saya menamatkan anime Gekkan Shojo Nozaki-kun yang menurut saya adalah anime terkocak yang pernah saya lihat (alasannya, anime ini sukses membuat saya tertawa lepas). Tokoh utama dalam anime ini, Nozaki, adalah seorang mangaka. Dalam mencari inspirasi tokoh, ia cukup memperhatikan teman-temannya yang memang memiliki banyak sekali keunikan yang menjurus ke arah keanehan. Untuk adegan-adegan dalam manga karangannya pun ia cukup memperhatikan tingkah pola mereka.

Masalahnya, manusia yang ada di sekeliling saya mayoritas memiliki kehidupan yang normal, sehingga kurang ada sisi yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah karakteristik. Kurangnya variasi disini membuat saya susah untuk berimajinasi dalam menciptakan sosok imajiner untuk novel. Dibutuhkan sumber inspirasi lain, dan saya mencoba menggalinya melalui anime.

Meskipun terkadang sifat-sifat yang ada pada tokoh di anime terkesan berlebihan (anime yang saya lihat harus memiliki unsur komedi), setidaknya saya bisa mengambilnya secara parsial. Sebagai contoh, dalam anime Chuunibyou demo Koi ga Shitai, saya sangat suka karakter dari tokoh Rikka Takanashi yang menderita sindrom kelas 8, sebuah sindrom dimana penggunanya merasa memiliki kekuatan super sehingga tidak bisa membedakan antara dunia fantasi dan nyata.

Rikka Takanashi (http://anguerde.com/TTF-279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai.html#)

Saya mengambil karakternya yang polos dan tidak punya rasa malu untuk menunjukkan imajinasinya ke orang lain untuk salah satu karakter di novel Kenji. Tentu saya tidak membuatnya sebagai orang yang memiliki sindrom tersebut. Ia hanya saya tampilkan sebagai orang yang gemar menulis cerita sehingga imajinasinya sangat luas. Ia tidak akan segan memasukkan orang lain ke dalam dunia fantasinya hanya untuk menjadikan mereka referensi dalam ceritanya.

Menemukan inspirasi karakter adalah salah satu alasan saya menonton anime, selain membiasakan diri mendengar bahasa Jepang. Sebenarnya, menonton film-film lokal maupun barat juga bisa menjadi referensi. Sayangnya, saya bukan penggemar film, sehingga pilihan saya pun jatuh ke anime.

 

Lawang, 14  Januari 2018, setelah menjual motor Beat saya yang telah menemani suka duka dunia perkuliahan

Sumber Foto: https://www.zerochan.net/1742019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.