<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Greg McKeown Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/greg-mckeown/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/greg-mckeown/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 15:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Greg McKeown Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/greg-mckeown/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 16:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless. Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Setelah membaca buku <em>Effortless</em></a> yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku <strong>Greg McKeown </strong>lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni<strong> <em>Esensialisme</em></strong>. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku <em>Effortless</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku <em>Effortless.</em> Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">buku <em>Start with Why</em></a>. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner.jpg 1280w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Contagious" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-contagious/">[REVIEW] Setelah Membaca Contagious</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Esensialisme</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Esensialisme</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: Desember 2025</li>



<li>Tebal: 354 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656151</li>



<li>Harga: Rp108.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Esensialisme?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan <em>tagline </em>&#8220;Pentingkan yang Penting Saja&#8221;, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat orang yang suka <em>ruwet </em>dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian <em>cover </em>ini terdapat semacam ilustrasi garis <em>ruwet </em>dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan &#8220;ini&#8221; di tengah-tengahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan buku <em>Effortless</em>, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Intisari</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Esensialis</strong></li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih</li>



<li><strong>MELIHAT DAN MENCERMATI</strong>: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal</li>



<li><strong>TRADE-OFF</strong>: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, ini adalah bagian &#8220;pembukaan&#8221; untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian <em>trade-off</em> atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Eksplorasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>MEMBEBASKAN DIRI</strong>: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia</li>



<li><strong>MENCERMATI</strong>: Melihat Mana yang Sungguh Penting</li>



<li><strong>BERMAIN</strong>: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda</li>



<li><strong>TIDUR</strong>: Melindungi Aset</li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni &#8220;bermain&#8221; dan &#8220;tidur&#8221;. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian III: Eliminasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>KLARIFIKASI</strong>: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan</li>



<li><strong>BERANI</strong>: Kedahsyatan Jawaban &#8220;Tidak&#8221; yang Anggun</li>



<li><strong>MELEPAS KOMITMEN</strong>: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi</li>



<li><strong>MENYUNTING</strong>: Seni yang Tidak Kelihatan</li>



<li><strong>BATAS</strong>: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan </li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian IV: Eksekusi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>PENYANGGA</strong>: Keunggulan yang Tidak Wajar</li>



<li><strong>MENGURANGI</strong>: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan</li>



<li><strong>KEMAJUAN</strong>: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil</li>



<li><strong>ALIRAN (FLOW)</strong>: Hebatnya Sebuah Rutin</li>



<li><strong>FOKUS</strong>: Apa yang Penting Sekarang?</li>



<li><strong>JADILAH</strong>: Hidup Seorang Esensialis</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Esensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena buku <em>Effortless</em>, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup &#8220;umum&#8221; dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa <em>dragging </em>dan cukup repetitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku <em>Start with Why</em>, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ada satu <em>quote </em>dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni<strong> &#8220;No more yes, it&#8217;s either HELL YEAH or no!&#8221;</strong> yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah <em><strong>sink-cost bias</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, <em>sink-cost bias </em>adalah kondisi di mana kita sudah merasa &#8220;berinvestasi&#8221; banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa <em>overwhelmed </em>dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Esensialisme </em>karya Greg McKeown</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2025 14:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8434</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik. Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre <em>self-improvement</em>. Bukan karena merasa <em>self</em>-nya sudah <em>improve</em>, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku <em>self-improvement </em>seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul <em>Effortless </em>dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-300x188.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-768x480.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-356x223.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600.jpg 960w " alt="Batasan Kebebasan Berekspresi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Effortless</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-6</li>



<li>Tanggal Terbit: Juli 2025</li>



<li>Tebal: 320 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020658780</li>



<li>Harga: Rp98.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah Anda pernah merasa seperti:</em></p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?</em></li>



<li><em>Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?</em></li>



<li><em>Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?</em></li>



<li><em>Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?</em></li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, <em>Essential</em>, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-<em>breakdown </em>menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat  berfokus lebih mudah</em>?)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?</li>



<li>Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?</li>



<li>Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan</li>



<li>Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun</li>



<li>Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut &#8220;Selesai&#8221;?</li>



<li>Dimulai: Aksi Nyata Pertama</li>



<li>Disederhanakan: Dimulai dari Nol</li>



<li>Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa</li>



<li>Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (<em>Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?</em>)</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain</li>



<li>Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang</li>



<li>Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis</li>



<li>Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi</li>



<li>Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Effortless</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a></em>. Nah, <em>Effortless </em>ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku <em>self-love</em>. Semua berawal dari diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan <em>effortless</em>. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa <em>effortless </em>untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak <em>study case </em>yang membuat kita lebih memahami isi buku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa <em>quote </em>paling penting akan di-<em>highlight</em> dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa <em>burnout </em>dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca <em>Effortless </em>karya Greg McKeown</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">[REVIEW] Setelah Membaca Effortless</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
