<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>guru Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/guru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/guru/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 May 2024 15:06:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>guru Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/guru/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2024 15:06:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7238</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan ulasan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri Funiculi Funicula. Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan ulasan novel <a href="https://whathefan.com/olahraga/biasakan-nonton-mu-sampai-habis-lol/"><em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>, </a> Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-funiculi-funicula-before-the-coffee-gets-cold-spoiler-version/">Funiculi Funicula</a></em>.</p>



<p>Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul <strong><em>Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</em> </strong>karya <strong>Sakae Tsuboi</strong>. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, sehingga Penulis jadi malas membuat ulasannya.</p>



<p> Namun, karena sesuai jadwal harusnya novel ini dibuat ulasannya dan kemalasan menuliskannya membuat tulisan yang lain jadi ikut tertunda, Penulis pun meniatkan diri untuk menyelesaikan artikel ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/12/Kepingan-Puzzle-Terakhir-untuk-Messi-Telah-Lengkap-banner.jpg 1280w " alt="Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kepingan-puzzle-terakhir-untuk-messi-telah-lengkap/">Kepingan Puzzle Terakhir untuk Messi, Telah Lengkap</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</li>



<li>Penulis: Sakae Tsuboi</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keduabelas</li>



<li>Tanggal Terbit: Maret 2023</li>



<li>Tebal: 248 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020651729</li>



<li>Harga: Rp70.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p><em>Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Berhubung novelnya tipis (hanya sekitar 200 halaman), sebenarnya cerita yang disajikan sederhana saja. Apa yang tertuang di bagian sinopsis sudah menjelaskan garis besar cerita novel ini, sehingga rasanya Penulis tidak perlu menceritakan lagi apa isi buku ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</h2>



<p>Ketika melihat novel ini di toko buku, Penulis tertarik dengan latar pendidikan yang diangkat di antara dua era Perang Dunia ini. Dengan jumlah murid yang sedikit di tempat terpencil, Penulis juga jadi berharap kalau isinya akan mirip dengan <em>Laskar Pelangi</em>.</p>



<p>Sayangnya, harapan tersebut pupus begitu saja ketika Penulis sudah mulai membaca novel yang tergolong klasik ini. Penulis sama sekali kesulitan untuk bisa menikmati gaya bahasanya dan alur ceritanya. </p>



<p>Bahkan, Penulis tidak bisa banyak ingat apa saja kisah yang ada di dalamnya. Ceritanya berkutat di antara bagaimana bu guru yang bergaya modern harus beradaptasi dengan lingkungan desa judgemental<em> </em>dan berbagai konflik yang dihadapi oleh para muridnya.</p>



<p>Selain itu, berbeda dengan <em>Laskar Pelangi</em>, Penulis sangat kesulitan untuk membedakan murid-muridnya. Apalagi, novel ini juga tidak memiliki satu figur tokoh utama yang bisa membantu kita menavigasi arah cerita.</p>



<p>Sudah namanya sulit-sulit, masing-masing pun rasanya tidak terlalu memiliki ciri khas yang menonjol untuk diingat. Alhasil, sepanjang cerita, Penulis kesulitan untuk membayang tiap adegan yang terpampang karena merasa kesulitan untuk mengasosiasikan ini siapa itu siapa.  </p>



<p>Saat mengecek di Goodreads, sebenarnya ada banyak pembaca novel ini yang jatuh cinta dan menganggap ceritanya yang <em>bittersweet</em> menyentuh hati. Sayangnya, Penulis bukan salah satunya karena sungguh tidak bisa menikmatinya.</p>



<p>Bahkan ketika habis membacanya, sama sekali tidak muncul perasaan haru. Yang ada justru rasa syukur karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini yang walaupun pendek, rasanya sangat berat untuk menamatkannya.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga bersyukur karena akhirnya bisa mengurangi &#8220;tanggungannya&#8221; dengan menuliskan ulasan singkat tentang novel ini. Setidaknya satu beban tulisan telah selesai.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Rating: 3/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 12 Mei 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Dua Belas Pasang Mata </em>karya Sakae Tsuboi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/">[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-twenty-four-eyes-dua-belas-pasang-mata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 14:42:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Assassination Classroom]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[manga]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pinggir]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4989</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya. Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pertama kali Penulis mendengar tentang manga <em><strong>Assassination Classroom</strong> </em>adalah ketika ada semacam acara &#8220;lomba presentasi&#8221; di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.</p>



<p>Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.</p>



<p>Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.</p>



<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang <em>Assassination Classroom</em>.</p>



<p>Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5010" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>SMP Kunugigaoka (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Kunugigaoka_Magic_Academy">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di <strong>SMP Kunugigaoka</strong>. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.</p>



<p>Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah,<strong> Gakuho Asano</strong>, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari <em>End </em>tersebut.</p>



<p>Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.</p>



<p>Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.</p>



<p>Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.</p>



<p>Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.</p>



<p>Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengembangkan Bakat dan Minat Murid</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5009" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Setiap Murid Berbeda (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://ansatsukyoshitsu.fandom.com/wiki/Class_3-E">Assassination Classroom Wiki &#8211; Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p>Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.</p>



<p>Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil <strong>mengeluarkan potensi setiap murid</strong> yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.</p>



<p>Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.</p>



<p>Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. <strong>Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka</strong>. </p>



<p>Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.</p>



<p>Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Guru yang Serba Bisa</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5008" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Guru Idaman (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://wallpaperaccess.com/koro-sensei">WallpaperAccess</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat <strong>menyampaikan ilmunya dengan baik</strong> ke murid-muridnya.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan<strong> metode mana yang paling cocok untuk tiap murid</strong> sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.</p>



<p>Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.</p>



<p>Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi <em>expert </em>di mata pelajaran tersebut.</p>



<p>Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.</p>



<p>Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif. </p>



<p>Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.</p>



<p>Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.</p>



<p>Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.</p>



<p>Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga <em>Assassination Classroom</em></p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.netflix.com/bd/title/80045948">Netflix</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/">Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/sistem-pendidikan-ala-assassination-classroom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
