Connect with us

Anime & Komik

Sistem Pendidikan Ala Assassination Classroom

Published

on

Pertama kali Penulis mendengar tentang manga Assassination Classroom adalah ketika ada semacam acara “lomba presentasi” di Karang Taruna. Salah satu anggota menceritakan tentangnya.

Ketika mendengar penjelasannya, Penulis langsung merasa tertarik dengan premisnya. Ada seorang guru berbentuk gurita kuning yang miliki kekuatan super dan kecepatan hingga 20 Mach. Dengan kemampuannya, ia justru memilih untuk menjadi seorang guru di kelas bermasalah.

Anehnya, Penulis justru tertarik untuk membaca manganya daripada menonton animenya. Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli semua serinya, dari volume 1 sampai 21.

Beberapa hari yang lalu, Penulis tiba-tiba tergerak untuk membaca ulang semua volumenya. Oleh karena itu, Penulis ingin menulis artikel tentang Assassination Classroom.

Karena ini merupakan manga lama (rilis perdana pada tahun 2012), rasanya Penulis tidak perlu menulis panjang lebar tentang alur ceritanya. Penulis ingin berfokus pada sesuatu yang unik tentang manga ini, yakni tentang sistem pendidikannya.

Sistem Sekolah SMP Kunugigaoka

SMP Kunugigaoka (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Hal unik yang ingin Penulis bahas di tulisan ini adalah tentang sistem pendidikan yang diterapkan di SMP Kunugigaoka. Setiap tingkat memiliki lima kelas, di mana kelas E menjadi tempat murid bermasalah dan kurang berprestasi.

Hal ini dilakukan oleh sang kepala sekolah, Gakuho Asano, untuk menciptakan ekosistem pendidikan dengan daya saing yang tinggi. Para murid didoktrin agar jangan sampai mereka masuk ke kelas E yang dianggap singkatan dari End tersebut.

Waktu Penulis SMP, yang ada justru kebalikannya. Kelas A menjadi kelas unggulan yang berisikan murid-murid yang berhasil mendapatkan peringkat teratas ketika ujian masuk. Sebaliknya, kelas paling bawah (kelas G) menjadi kelas yang peringkatnya paling bawah.

Sistem seperti ini Penulis jalani selama 2 tahun, karena ketika kelas 9 semua kelas diacak agar sama rata. Tidak ada lagi kelas unggulan, tidak ada lagi kelas yang dibuat berdasarkan urutan nilai murid.

Bagi Penulis, kelas dengan sistem diskriminasi yang diterapkan oleh Asano di sekolahnya jelas tidak ideal. Impiannya untuk membuat 95% muridnya menjadi lebih superior dibandingkan yang 5% murid di kelas E jelas merusak mental.

Selain itu, bukan tidak mungkin para murid akan saling senggol karena yang ada di pikiran mereka hanyalah menyelamatkan diri sendiri agar tidak sampai masuk ke kelas E.

Jika saja Koro sensei tidak masuk ke kelas tersebut, bisa saja murid-murid kelas E akan merasa tidak berguna sepanjang hidupnya.

Mengembangkan Bakat dan Minat Murid

Setiap Murid Berbeda (Assassination Classroom Wiki – Fandom)

Nah, salah satu nilai jual dari manga ini adalah hubungan unik antara guru dan muridnya. Di dunia ini, tidak ada satupun murid yang diperintahkan untuk menghabisi gurunya. Bahkan tidak ada sekolah yang diajar oleh makhluk berbentuk gurita berwarna kuning.

Anehnya, hubungan unik ini justru berhasil mengeluarkan potensi setiap murid yang ada di sana. Karena memiliki misi menyelamatkan dunia, perasaan tidak berguna perlahan-lahan hilang dari diri mereka.

Kelas ini awalnya memiliki 26 murid, sebelum akhirnya bertambah 2 murid tambahan yang bertujuan untuk membunuh Koro sensei. Mereka semua ternyata memiliki bakat masing-masing dan Koro sensei membantu mereka mengasah bakat tersebut.

Pendekatan yang dilakukan oleh Koro sensei inilah yang kurang dari pendidikan kita. Semua murid diperlakukan sama tanpa mempedulikan apa bakat dan minat mereka.

Jika dianalogikan sebagai hewan, semua murid diperintah untuk terbang, tidak peduli kita ikan, kucing, dan hewan lain yang memang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Semua menggunakan standar penilaian yang sama.

Ideologi yang dianut oleh Koro sensei jelas berbeda dengan yang dianut oleh kepala sekolah. Hal inilah yang membuat mereka kerap berseberangan dalam menentukan sikap bagaimana membina murid.

Guru yang Serba Bisa

Guru Idaman (WallpaperAccess)

Sebagai seorang guru, Koro sensei memiliki pengetahuan yang begitu luas. Ia menguasai semua mata pelajaran sehingga dapat menyampaikan ilmunya dengan baik ke murid-muridnya.

Tidak hanya itu, ia juga bisa menentukan metode mana yang paling cocok untuk tiap murid sehingga mereka bisa mencerna pelajaran secara efektif. Latar belakangnya sebagai pembunuh nomor satu membuatnya menguasai banyak hal.

Jika menengok ke sistem pendidikan kita, rata-rata guru di SMP dan SMA hanya menguasai satu mata pelajaran. Kalaupun bisa lebih dari satu, biasanya masih berkaitan dengan mata pelajaran utama yang ia kuasai.

Hal ini sebenarnya tidak masalah. Guru-guru kita pun ketika kuliah memang hanya mengambil satu konsentrasi untuk bisa menjadi expert di mata pelajaran tersebut.

Hanya saja, metode yang digunakan terkadang kurang efektif. Memang banyak guru kreatif yang menemukan banyak cara agar mata pelajarannya menarik, tapi kebanyakan menggunakan cara konservatif yang kuno dan membosankan.

Di sisi lain, murid pun rata-rata kurang proaktif sehingga belajar di kelas terasa kurang interaktif dan tidak menyenangkan. Belajar di kelas menjadi rutinitas yang membosankan. Ilmu yang didapatkan pun menjadi tidak efektif.

Tidak hanya itu, guru seolah lepas tangan untuk masalah masa depan murid mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan pengembangan murid setelah lulus seolah dibebankan ke guru BK, itu pun jarang dimaksimalkan oleh murid.

Memang hal ini tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi pada umumnya yang terjadi di lapangan seperti itu.

Seandainya kita memiliki guru sehebat Koro sensei, mungkin kita semua bisa mengenali potensi yang ada di dalam diri. Bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembimbing murid-muridnya.

Penutup

Meskipun secara ide cerita manga ini sangat khayal dan tidak realistis, nyatanya ada nilai-nilai yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita, terutama untuk dunia pendidikan. Tiga poin yang Penulis sampaikan di atas adalah contohnya.

Ada banyak celah di dunia pendidikan kita yang butuh ditingkatkan lagi agar murid tidak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mampu mengembangkan dirinya menjadi versi terbaiknya. Mungkin, kita bisa belajar hal tersebut melalui manga ini.


Lawang, 26 Maret 2021, terinspirasi setelah membaca ulang manga Assassination Classroom

Foto: Netflix

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Anime & Komik

Kecemasan Sosial ala Komi Can’t Communicate

Published

on

By

komi can't communicate

Sudah agak lama tidak menonton anime, Penulis memutuskan mencoba untuk menontonnya lagi untuk mengisi waktu luang. Genre yang Penulis pilih tetap seperti biasa, comedy-romance yang ceritanya santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu rekan kantor Penulis pernah memberikan saran sebuah anime yang berjudul Komi-san wa, Comyushou desu atau Komi Can’t Communicate. Dari premisnya, Penulis mengetahui kalau ceritanya berpusat pada seseorang yang mengalami kecemasan sosial.

Karena topiknya beririsan dengan mental health, Penulis pun memutuskan untuk menonton serial anime yang satu ini. Setelah menonton, pendapat Penulis bisa dibilang cukup campur aduk.

Kecemasan Sosial yang … Berlebihan?

komi can't communicate
Komi dan Tadano (Sportskeeda)

Anime ini dibuka melalui sudut pandang main character yang terasa seperti side character, Hitohito Tadano. Ia adalah siswa SMA Itan yang terlihat rata-rata dan tidak menonjol sama sekali, bahkan sering terkesan kalau dia mudah sekali untuk diabaikan.

Sebaliknya, teman sebangkunya Shouko Komi adalah gadis remaja yang begitu populer dan terlihat sempurna. Ia cantik, anggun, dan pintar. Semua teman sekolah begitu kagum padanya, hingga ada yang menganggapnya sebagai dewi.

Namun di balik kesempurnaannya, Komi sebenarnya memiliki masalah kecemasan sosial yang parah hingga tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Sekadar menyapa “hai” saja tidak sanggup. Nah, hanya Tadano-lah yang menyadari hal ini.

Setelah itu, Tadano pun jadi memahami Komi sebenarnya ingin bisa memiliki 100 teman. Ia pun bertekad untuk membantu Komi meraih impiannya tersebut dan dimulailah “petualangan” mereka!

komi can't communicate
Extreme Social Anxiety (Chapteria)

Plot cerita di atas sebenarnya menarik dan unik karena Penulis belum pernah menemukan anime yang mengangkat masalah anxiety yang ekstrem seperti ini. Bahkan, Penulis belum pernah bertemu seseorang di dunia nyata yang memiliki kecemasan sosial separah itu.

Di animenya, selalu ada narator yang menyebutkan bahwa orang yang mengalami kecemasan sosial seperti Komi sebenarnya bukan tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain, melainkan karena memang tidak bisa.

Tidak hanya tidak mampu untuk bercakap, Komi pun kerap gugup dan gemetar ketika berhadapan dengan orang lain. Berkat bantuan Tadano, tabiat ini bisa dikurangi meskipun ia tetap membutuhkan media buku dan alat tulis untuk bisa berkomunikasi dengan temannya.

Oleh karena itu, Penulis pun kadang merasa kalau kecemasan sosial yang dialami Komi sedikit berlebihan. Apalagi, tidak ada (atau setidaknya belum ada) latar yang kuat mengapa Komi bisa seperti itu. Apakah karena trauma di masa lalu?

Apalagi, Komi adalah gadis yang cantik. Jika hidup di dunia nyata, mungkin ia akan mudah viral di TikTok atau diangkat menjadi brand ambassador tim esports. Itu mungkin akan membantunya untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang lain.

Beberapa Teman yang Sudah Didapatkan Komi

komi can't communicate
Najimi Osana (CBR)

Berkat bantuan Tadano, Komi pun perlahan bisa menjalin pertemanan dengan orang lain. Teman masa kecil Tadano yang supel, Najimi Osana, menjadi teman lain pertama Komi setelah Tadano. Sayangnya, Penulis merasa risih karena gendernya yang tidak jelas.

Selain itu, ada juga Ren Yamai yang memiliki obsesi berlebihan dan tidak sehat kepada Komi (satu lagi yang membuat Penulis merasa kurang nyaman). Karakter yandere yang dimilikinya terasa menyeramkan dan ia pun tak segan menyakiti orang yang dekat dengan Komi.

Nama-nama lain yang sering muncul dan telah menjadi teman Komi adalah Omoharu Nakanaka yang punya sindrom chuunibyo, Himiko Agari yang masokis, Makeru Yadano yang menganggap Komi sebagai rivalnya, dan masih banyak lagi karakter-karakter unik yang menjadi teman Komi.

Apakah anime ini akan tamat ketika Komi berhasil mendapatkan targetnya mendapatkan 100 teman? Bisa jadi. Pada akhirnya, mungkin Komi bisa mengatasi masalah berkomunikasinya dan akhirnya bisa melakukan percakapan kecil dengan teman-temannya tanpa bantuan alat tulis.

Selain itu, bumbu romansa antara Komi dan Tadano pun perlahan mulai terlihat. Tadano memiliki semacam inferior complex yang membuatnya tidak percaya diri dan merasa tidak pantas untuk memiliki hubungan romantis dengan perempuan secantik Komi. Sebaliknya, Komi sendiri belum yakin dengan perasaannya sendiri ke Tadano.

Apakah mereka akan berakhir menjadi sepasang kekasih? Jika melihat kebiasaan anime-anime yang pernah Penulis tonton dengan genre seperti ini, biasanya akan memiliki akhir yang menggantung dan diserahkan kepada penonton.

Penutup

Komi Can’t Communicate adalah anime yang memiliki premis menarik karena mampu mengemas masalah kecemasan sosial (yang mungkin banyak dialami oleh orang introvert) dengan tidak membosankan dan ringan. Bumbu komedi dan romance yang dimiliki tidak berlebihan dan terasa pas untuk dinikmati dengan santai.

Hanya saja, Penulis merasa risih dengan beberapa karakter yang ada di dalamnya. Anime ini berpotensi untuk memiliki lebih banyak lagi karakter karena Komi memiliki target 100 teman, sehingga Penulis harap tidak ada lagi karakter yang bisa membuat risih.

Untuk penggemar genre slice of life, anime ini jelas layak untuk dicoba. Season keduanya sedang mengudara tahun ini, jadi mungkin waktu yang tepat untuk segera maraton dari season pertamanya.


Lawang, 1 Juni 2022, terinspirasi setelah menonton anime Komi Can’t Communicate

Foto Banner: Gowapos

Continue Reading

Anime & Komik

Setelah Menonton My Hero Academia The Movie: World Heroes’ Mission

Published

on

By

Akhir-akhir ini, Penulis sudah tidak terlalu sering menonton anime. Entah apa alasannya, mungkin karena sudah merasa jenuh saja. Padahal, aktivitas ini baru Penulis lakukan mulai tahun 2017.

Walaupun begitu, masih ada beberapa anime atau manga yang masih diikuti. Salah satunya adalah Boku no Hero Academia atau My Hero Academia. Selain menonton animenya, Penulis juga rutin membaca manganya di internet.

Nah, sewaktu mengetahui movie ketiga dari anime ini tayang di bioskop, Penulis langsung tertarik untuk menontonnya walau dua movie sebelumnya belum ditonton. Karena kebetulan ada teman nonton yang sama-sama suka, jadilah Penulis menonton film My Hero Academia The Movie: World Heroes’ Mission.

SPOILER ALERT!!!

Jalan Cerita My Hero Academia The Movie: World Heroes’ Mission

Dari kiri, Bakugo, Midoriya, Todoroki (Funimation Film)

Cerita berpusat pada aksi terorisme dari kelompok bernama Humarise yang dipimpin oleh Flect Turn. Kelompok ini ingin memusnahkan pemilik quirk dari muka bumi karena percaya bahwa manusia murni alias mereka yang tidak memiliki quirk akan punah gara-gara mereka.

Caranya adalah dengan menggunakan bom yang diisi gas “Trigger” untuk memusnahkan pemilik quirk. Bom tersebut akan membuat pemilik quirk kehilangan kendali. Hal ini tentu memicu berbagai hero dari penjuru dunia untuk menghentikan aksi gila mereka.

Beberapa murid kelas A dari U.A. High School turut membantu para pahlawan profesional dan berpencar ke berbagai negara. Izuku Midoriya, Katsuki Bakugo, dan Shoto Todoroki ditugaskan ke negara bernama Otheon yang menjadi markas utama Humarise.

Belanja di Otheon (Animation World Network)

Sayangnya ketika menyerbu ke sana, tidak ditemukan jejak Humarise sehingga mereka harus stand by di sana untuk sementara waktu. Ketika sedang belanja, mereka mendapati adanya perampokan permata. Midoriya mengejar salah satu kurir penjahat yang bernama Rudy Soul, anak jalanan yang harus menafkahi dua adiknya.

Di sisi lain, ada seorang ilmuwan Humarise bernama Allan Kay yang melarikan diri dengan membawa data penting tentang Humarise di dalam koper, tetapi dihentikan oleh agen Humarise bernama Beros.

Hal ini mengakibatkan koper yang dibawa Rudy tertukar dengan koper penting tersebut. Setelah Midoriya berhasil mengejar Rody, isi dari koper tersebut ternyata barang-barang biasa. Anehnya, mereka justru menjadi diburu polisi dan Midoriya didakwa telah melakukan pembunuhan massal.

Merasa ada yang aneh, Midoriya memutuskan untuk kabur bersama Rody setelah meninggalkan pesan untuk Todoroki. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke negara tetangga Klayd agar tidak bisa ditangkap oleh polisi. Tidak hanya itu, kelompok Humarise juga memburu mereka berdua.

Rudy Soul (Anime2You)

Singkat cerita setelah kejar-kejaran antara kelompok Humarise dan Midoriya dkk, diketahui kalau koper yang dibawa Rody berisikan kunci untuk menghentikan rencana jahat Humarise. Kunci tersebut diciptakan oleh ayah Rody yang bernama Eddy Soul.

Midoriya, Bakugo, Todoroki, dan Rody pun memutuskan untuk pergi ke markas utama Humarise. Terjadi pertempuran-pertempuran seru, termasuk pertempuran terakhir antara Midoriya melawan Flect Turn yang ternyata memiliki quirk mencerminkan apapun yang bersentuhan dengannya.

Setelah pertarungan akhir ala shounen yang khas, akhirnya Midoriya berhasil mengalahkan Flect Turn dan Rody dengan Piconya berhasil memasukkan kunci sehingga serangan bom Humarise berhasil digagalkan.

Setelah Menonton My Hero Academia The Movie: World Heroes’ Mission

Satu hal yang Penulis suka dari film ini adalah ceritanya yang langsung to the point begitu mulai. Tidak ada intro membosankan yang memperkenalkan satu per satu karakter beserta quirk yang dimiliki.

Memiliki durasi sekitar 1 jam 45 menit, film ini terasa padat dengan pace yang cukup cepat. Tidak banyak adegan yang terasa bertele-tele untuk sekadar memanjangkan cerita. Kalau mengikuti anime dan manganya, pasti tahu siapa saja karakter-karakter yang ada di film ini selain beberapa karakter baru seperti Rudy Soul.

Karakter baru ini cukup menarik karena memiliki quirk yang unik (burung kecilnya Pico merupakan quirk miliknya) dan kepribadian yang membuatnya mudah diingat. Keadaan memaksanya berbuat kriminal, walau sebenarnya dirinya memiliki hati yang baik.

Menonton di bioskop artinya kita akan menonton dengan suara yang menggelegar. Itulah yang Penulis rasakan ketika menyaksikan adegan-adegan pertarungan yang ada di dalamnya. Bahkan, kadang terasa terlalu keras sehingga membuat telinga sakit.

Animasi yang dimiliki juga sangat bisa dinikmati, Penulis hampir tidak menemukan keanehan animasi di film ini. Ada beberapa adegan yang menggunakan teknik one shot keren, seperti ketika Rody berusaha kabur dari kejaran Midoriya dengan lincahnya.

Walaupun begitu, film ini tetap memiliki klise ala anime shounen. Terdesak sampai rasanya tidak ada harapan, lantas ada pemicu yang membuat karakter utama mendapatkan kekuatan tiba-tiba sampai bisa mengalahkan lawannya yang kuat.

Selain itu, adegan koper tertukar juga rasanya menjadi formula yang cukup banyak dipakai, sehingga orisinalitas filmnya terasa berkurang. Villain utama di film ini juga tipe villain yang akan mudah dilupakan begitu saja. Entah mengapa motivasinya terasa kurang.

Secara overall, Penulis masih bisa menikmati film ini dan jadi penasaran dengan dua film sebelumnya. Kata teman nonton Penulis, film yang kedua masih lebih bagus dari yang satu ini.

Peringkat: 7 dari 10.

Lawang, 28 November 2021, terinspirasi setelah menonton My Hero Academia The Movie: World Heroes’ Mission

Foto: Viu

Continue Reading

Anime & Komik

Memaknai Kesepian Ala Naruto dan Sasuke

Published

on

By

Jika bicara tentang rivalitas antara karakter anime, nama Naruto Uzumaki dan Sasuke Uchiha jelas perlu disebut. Dua tokoh utama dari serial Naruto ini memiliki sejarah persaingan yang panjang.

Sewaktu masih di akademi, Naruto adalah murid yang nilainya paling buruk, sedangkan Sasuke adalah yang paling tertinggi. Jika Naruto kerap dianggap konyol, maka Sasuke begitu dikagumi oleh para perempuan karena dianggap cool.

Terlepas dari perbedaan yang dimiliki oleh keduanya, ada satu kemiripan yang mungkin membuat mereka memiliki ikatan yang begitu kuat. Ketika masih kecil, mereka sama-sama merasakan kesepian.

Kesepian Ala Naruto

Naruto Suka Berbuat Jahil (Wallpaper Cave)

Naruto Uzumaki lahir dari pasangan Minato Namikaze alias Hokage Keempat dan Kushina Uzumaki. Sayangnya, Naruto tidak pernah bertemu dengan orang tuanya sejak lahir karena harus tewas melindungi desa Konoha dari serangan monster berekor sembilan.

Di manga tidak pernah dijelaskan secara rinci bagaimana Naruto hidup di masa kecil. Kemungkinan, ia diasuh oleh Hokage Ketiga hingga usia tertentu sebelum “dibiarkan” hidup sendirian tanpa tahu siapa orang tuanya.

Anak kecil yang hidup sendirian tentu akan merasakan kesepian tanpa tahu mengapa ia kesepian. Selain itu, penduduk desa juga menjauhinya karena dianggap sebagai reinkarnasi dari rubah ekor 9 yang menghancurkan desa.

(Bisa dibilang, ini salah satu plot hole yang dimiliki oleh Naruto: Bagaimana bisa anak dari seorang pahlawan desa mendapatkan perlakukan sedemikian buruk dan seolah ditelantarkan begitu saja)

Untuk melawan rasa kesepian tersebut, Naruto pun kerap berbuat konyol dan jahil demi mendapatkan perhatian dari penduduk desa. Meskipun konotasinya negatif, setidaknya bagi Naruto itu lebih baik daripada merasa kesepian.

Kesepian Ala Sasuke

Itachi dan Sasuke (Pinterest)

Sasuke Uchiha memiliki kisah yang lebih tragis. Lahir dari klan Uchiha yang terkenal karena mata Sharingan-nya, ia merupakan anak dari Fugaku dan Mikoto Uchiha. Ia juga memiliki seorang kakak jenius yang bernama Itachi Uchiha.

Sasuke sejak kecil selalu dibayang-bayangi oleh kehebatan kakaknya, hingga ia berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Walaupun begitu, Sasuke tidak pernah membenci kakaknya. Sebaliknya, ia sangat menyayanginya.

Semua berubah ketika Itachi harus membantai seluruh klan Uchiha, sebuah misi rahasia yang diberikan kepadanya demi menghindari kudeta yang hendak dilakukan oleh mereka. Itachi menyanggupi misi tersebut dengan syarat Sasuke harus tetap hidup.

Semenjak itu, Sasuke pun menjadi satu-satunya klan Uchiha yang tersisa di desa Konoha dan hidup sendirian. Secara mendadak, ia harus merasakan kesepian yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Ketika Naruto hendak menghentikan Sasuke yang pergi ke tempat Orochimaru, Sasuke berkata bahwa Naruto tidak pernah merasakan kehilangan seperti dirinya karena sejak awal tidak punya siapa-siapa, sehingga ia menganggap Naruto tidak akan pernah paham apa yang ia rasakan.

Cara Naruto dan Sasuke Merespon Kesepian

Sasuke dan Naruto (MyAnimeList)

Selain berusaha mendapatkan perhatian dari tindakan konyolnya, Naruto sejak kecil juga bercita-cita untuk menjadi seorang Hokage agar mendapatkan pengakuan dari penduduk desa. Hal ini terasa mustahil untuk anak yang dikucilkan sejak kecil.

Di sisi lain, Sasuke merespon tragedi yang ia alami dengan cara berusaha keras untuk menjadi ninja yang hebat sehingga bisa membunuh kakaknya dan membalaskan dendam klan Uchiha. Tak heran ia selalu jadi yang nomor satu sewaktu di akademi.

Nasib (dan campur tangan orang dalam) membuat mereka berdua berada dalam satu tim bersama Sakura Haruno di bawah bimbingan Kakashi Hatake. Dua orang yang masa kecilnya sendiri akhirnya menemukan keluarga baru.

Bedanya, Naruto selalu berusaha melindungi “keluarga baru” tersebut dan Sasuke dibutakan oleh balas dendam sehingga sempat meninggalkan keluarganya tersebut. Bahkan, ada di satu titik kalau Sasuke ingin membunuh Naruto, Sakura, hingga Kakashi.

Pada perjalanannya, Naruto perlahan mendapatkan apa yang ia inginkan: Pengakuan dari warga desa. Ia telah dianggap sebagai pahlawan setelah berhasil mengalakan Pain, ketua organigasi Akatsuki.

Di sisi lain, Sasuke tak pernah habis dengan dendamnya. Setelah Itachi mati, ia ingin menghancurkan desa Konoha. Setelah itu berubah lagi ia ingin membuat revolusi dan menjadi seorang Hokage. Kebencian telah mengonsumsi Sasuke secara buruk.

Penutup

“Kita adalah bocah-bocah kesepian yang mendambakan cinta… tapi, malah menuai kebencian.”

Sasuke Uchiha di komik naruto Vol. 71

Meskipun melalui masa kecil yang kesepian, pada akhirnya Naruto dan Sasuke berhasil keluar dari neraka tersebut. Mereka sama-sama memiliki keluarga kecil yang relatif bahagia dan kekuatannya diakui oleh semua orang.

Di sini kita bisa melihat kalau Naruto merespon rasa kesepian tersebut dengan cara berusaha mendapatkan atensi dari pihak luar. Dengan memiliki hubungan dengan orang lain, Naruto bisa menghilangkan rasa kesepian yang ia rasakan.

Sasuke merespon rasa kesepiannya dengan mengembangkan dirinya sendiri agar menjadi kuat. Ia seolah tidak peduli dengan orang lain dan hanya berfokus pada dirinya agar bisa meraih tujuan yang ia inginkan.

Mana cara yang benar? Tidak ada benar dan salah di sini. Semua orang punya caranya masing-masing untuk mengatasi masalah kesepian yang dialami. Kisah Naruto dan Sasuke hanyalah beberapa contoh yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesepian.

Ada banyak cara untuk mengatasi kesepian dan setiap individu pasti memiliki cara yang berbeda-beda. Mana yang paling cocok untuk kita, hanya kita yang tahu.


Lawang, 7 November 2021, terinspirasi setelah membaca komik Naruto vol. 71

Foto: Wallpaper Access

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan