<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hasil Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/hasil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/hasil/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Jul 2023 14:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>hasil Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/hasil/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jul 2023 15:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[kendali]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<category><![CDATA[stoisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6630</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.</p>



<p>Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. </p>



<p>Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu <em>negative self-talk</em>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/kado-manis-kross-kado-pahit-reus-banner.jpg 1200w " alt="Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">Kado Manis untuk Kroos, Kado Pahit untuk Reus</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. <strong>Hasil dari sesuatu yang kita kejar</strong> <strong>adalah salah satunya</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama <strong>stoisme</strong> atau <strong>stoik</strong>. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah <em>overthinking </em>seperti Penulis.</p>



<p>Diawali dari membaca buku <em>Filsafat Teras</em>, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai <strong>dikotomi kendali</strong>.</p>



<p>Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis <em>Dunia Sophie</em>, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.&#8221;</p>
</blockquote>



<p>Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita). </p>



<p>Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami <strong>yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan</strong>. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan</h2>



<p>Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau <strong>hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan</strong>. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.</p>



<p>Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.</p>



<p>Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya <em>privilege </em>yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.</p>



<p>Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat <strong>hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan</strong>.</p>



<p>Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.</p>



<p>Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.</p>



<p>Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?</p>



<p>Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita </p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@andrew/">Andrew Neel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/">Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hasil-itu-ada-di-luar-kendali-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filosofi Merakit Gundam</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2018 03:32:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Gundam]]></category>
		<category><![CDATA[hasil]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[model kit]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[rakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1916</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah Gundam tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe Build Strike Gundam Full Package 001. Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di display toko Multitoys Pondok Indah Mall 1. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, impian sejak bangku SMA untuk membeli sebuah <strong>Gundam </strong>tercapai beberapa hari yang lalu. Penulis yang memang hobi merakit merasa lega setelah membeli sebuah Gundam dengan tipe <strong>Build Strike Gundam Full Package 001</strong>.</p>
<p>Alasan memberi tipe tersebut sederhana, paling murah di antara yang lain. Penulis mengecek satu persatu harga Gundam yang ada di <em>display </em>toko <strong>Multitoys Pondok Indah Mall 1</strong>. Sebenarnya ada yang lebih murah, tapi tak bersayap.</p>
<p>Begitu membeli, malamnya penulis langsung merakit Gundam tersebut non-stop. Maklum, penulis memang sedikit memiliki sifat kekanakan jika memiliki barang baru.</p>
<p>Proses merakit Gundam ini memakan waktu kurang lebih <strong>5 jam</strong>, mulai jam 9 malam hingga jam 2 pagi. Penulis tak bosan memandang Gundam yang penulis rakit dengan susah payah ini.</p>
<p>Namanya juga baru pertama kali, jelas tekniknya masih amatir, tidak seperti teman kerja penulis. Selain itu, penulis mencoba untuk menemukan filosofi apa yang bisa ditemukan ketika merakit sebuah model kit.</p>
<h3>Proses Itu Lebih Nikmat Dari Hasil</h3>
<p>Daripada memandangi hasilnya, penulis lebih menikmati proses merakitnya. Bagaimana kita memotong secara bertahap bagian-bagian dari Gundam yang kecil-kecil, bagaimana kita menyusunnya sesuai dengan panduan yang ada, dan lain sebagainya.</p>
<p>Penulis sejak lama lebih menikmati sebuah proses. Bisa jadi karena pengaruh buku-buku yang penulis baca, seperti buku-buku <strong>John C. Maxwell</strong>. Bukan berarti penulis tidak menikmati hasil. Jelas hasil juga memberikan rasa kepuasan tersendiri.</p>
<p><div id="attachment_1918" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1918" class="size-large wp-image-1918" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-30.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1918" class="wp-caption-text">Proses Lebih Nikmat dari Hasil</p></div></p>
<p>Akan tetapi, penulis meyakini hasil hanya mengikuti kerja keras kita selama proses. Jika proses dijalani dengan baik dan benar, maka hasil pun akan mengikuti. Lantas bagaimana jika ada yang telah berupaya keras namun tidak membuahkan hasil yang setimpal?</p>
<p>Itukan dari perspektif manusia. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Selama mempercayai Tuhan itu Maha Adil, maka yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha dan proses yang telah kita lakukan.</p>
<h3>Proses Itu Bertahap</h3>
<p>Jika sudah profesional, mungkin perakit Gundam tidak membutuhkan buku panduan untuk menyusun bagian-bagiannya. Akan tetapi, untuk seorang pemula, buku panduan mutlak dibutuhkan dan diikuti dengan teratur.</p>
<p>Ketika merakit Gundam, penulis mengikuti tahap demi tahap tanpa tergoda untuk melompat ke bagian lain. Dimulai dari menyusun kepala, kedua lengan, tubuh, bagian kaki, hingga terakhir bagian sayap.</p>
<p><div id="attachment_1920" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1920" class="size-large wp-image-1920" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-14.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1920" class="wp-caption-text">Proses Itu Bertahap</p></div></p>
<p>Penulis sempat lupa menempelkan stiker mata di bagian kepala karena tidak memahami arti buku panduan. Alhasil, bagian mata dari Gundam penulis sedikit cacat meskipun tak terlihat dari kejauhan.</p>
<p>Yang namanya proses ya seperti itu, ada tahapannya. Memang, kita bisa membeli sebuah Gundam yang langsung jadi. Akan tetapi, di mana kenikmatannya? Hal instan seperti itu tidak akan berkesan karena mudah didapatkan.</p>
<h3>Merakit Gundam Saja Ada Panduannya, Apalagi Hidup</h3>
<p>Bayangkan bagaimana jika seorang pemula merakit Gundam tanpa adanya buku panduan. Yang jelas, ia akan merasa kebingungan memahami bagian-bagian Gundam yang tersebar menjadi beberapa jenis.</p>
<p>Itu baru merakit Gundam. Lantas bagaimana dengan manusia? Oleh karena itulah turun kitab suci sebagai panduan hidup manusia. Jika manusia tidak mengikuti panduan hidup tersebut, bisa jadi hidupnya tidak karuan.</p>
<p><div id="attachment_1919" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1919" class="size-large wp-image-1919" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg" alt="" width="1024" height="498" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-1024x498.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-300x146.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-768x373.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28-356x173.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-28.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1919" class="wp-caption-text">Manusia Butuh Panduan</p></div></p>
<p>Tapi kan banyak orang-orang yang tidak menjadikan kitab suci sebagai panduan hidupnya bisa menjadi orang baik? Sekali lagi, itu merupakan sudut pandang dari seorang manusia, dan manusia bisa berbuat salah.</p>
<p>Kitab suci bukan hanya panduan untuk bagaimana ketika hidup. Kitab suci juga memberikan panduan untuk menyiapkan bekal-bekal yang harus dibawa setelah mati.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setidaknya tiga hal itulah yang penulis dapatkan ketika merakit Gundam. Mungkin ada lagi yang lain, seperti bagaimana kita harus bekerja secara hati-hati dan sabar demi mendapatkan hasil yang maksimal.</p>
<p>Namun penulis rasa, tiga hal itulah yang menjadi inti filosofi merakit Gundam. Karena telah merasakan keasyikan merakit Gundam, bukan tidak mungkin penulis akan membeli Gundam lagi beberapa bulan ke depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Desember 2018, terinspirasi setelah merakit Gundam untuk pertama kali</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
