Pengembangan Diri
Hasil Itu Ada di Luar Kendali Kita
Berapa kali dalam kehidupan kita mengalami kegagalan? Berapa kali apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan? Tak peduli sekeras apapun berusaha, tak peduli selantang apapun berdoa, ternyata hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Penulis juga termasuk orang yang pernah mengalami kegagalan. Gagal diterima bekerja di NET TV, gagal mendapatkan beasiswa hingga empat kali, hingga gagal dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Ujung-ujungnya, Penulis jadi menyalahkan diri sendiri karena merasa usahanya masih kurang maksimal. Seolah selalu ada kekurangan di dalam diri Penulis yang membuatnya gagal. Perasaan menyesal dan bersalah pun muncul, yang memicu negative self-talk.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia, Penulis semakin memahami bahwa sebenarnya ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Hasil dari sesuatu yang kita kejar adalah salah satunya.
Usaha (dan Doa) Bisa Kita Kendalikan
Dalam beberapa tahun terakhir, Penulis berusaha mendalami sebuah filsafat bernama stoisme atau stoik. Alasannya sederhana, karena Penulis merasa kalau penerapan dari filsafat ini sangat cocok untuk orang yang mudah overthinking seperti Penulis.
Diawali dari membaca buku Filsafat Teras, Penulis pun berusaha mencari referensi lain baik dari buku, posting di media sosial, maupun video. Salah satu hal yang benar-benar Penulis pelajari adalah mengenai dikotomi kendali.
Penulis baru menyelesaikan membaca novel grafis Dunia Sophie, di mana Penulis menemukan satu kutipan yang dapat menggambarkan tentang apa itu dikotomi kendali. Berikut adalah kutipan tersebut:
“Berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa kuubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”
Secara sederhana, stoisme mengajak kita untuk membedakan mana yang bisa kita kendalikan (yang sejatinya hanya diri kita sendiri) dan mana yang tidak bisa kita kendalikan (apapun yang ada di luar kita).
Nah, dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidup, kita harus memahami yang bisa kita kendalikan adalah usaha dan doa yang kita lakukan. Kita bisa mengendalikan diri mau berusaha dan berdoa sekeras apa. Apapun hasilnya nanti, itu sudah di luar kendali kita.
Hasil Tidak Bisa Kita Kendalikan
Kadang kita merasa, padahal sudah berusaha keras, padahal sudah berdoa hingga bangun di tengah malam, tapi kok masih gagal. Terkadang kita lupa, kalau hasil itu tidak bergantung pada apa yang telah kita lakukan. Banyak faktor lain yang memengaruhi sebuah hasil.
Katakanlah sebagai contoh upaya untuk mendapatkan beasiswa. Ketika mendapatkan pengumuman kalau kita gagal, muncul perasaan tidak percaya karena kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.
Namun, kita lupa bahwa hasil ujian itu jauh di luar kendali kita. Bisa jadi ada peserta beasiswa lain yang berusaha lebih keras dari kita, lebih punya persiapan yang lebih panjang, punya privilege yang tidak kita miliki, atau bahkan murni karena keberuntungan.
Hasil yang tidak seusai dengan harapan, tidak sepenuhnya gara-gara kita. Sekali lagi, ada banyak faktor eksternal yang mungkin tidak akan pernah kita tahu. Itu yang membuat hasil tidak akan pernah bisa kita kendalikan.
Selain itu, terkadang ketika akan mencoba sesuatu, kita sudah khawatir duluan dengan bagaimana hasilnya nanti. Sudah, yang penting usaha dulu, gimana hasilnya urusan nanti. Mong itu enggak bisa kita kendalikan, buat apa terlalu dipusingkan.
Oleh karena itu, ada baiknya kita memfokuskan perhatian kita terhadap apa yang bisa kita kendalikan. Cukup fokus berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Setelah itu, kita hanya bisa mempasrahkan diri kepada Tuhan tentang hasilnya.
Penutup
Salah satu alasan mengapa Penulis begitu tertarik dengan stoisme adalah karena Penulis merasa penerapannya sesuai dengan agama Penulis. Di dalam agama, kita diminta untuk berusaha dan berdoa, lantas berpasrah diri kepada Tuhan.
Hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi memang menyebalkan. Seperti kata orang, mau sebagus apapun manusia merencanakan, tetap Tuhan yang menentukan. Maka, buat apa kita terlalu memusingkan jika hasil yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan?
Tentu manusiawi jika ada perasaan kecewa dan sedih jika hal tersebut terjadi. Namun, jangan terlalu berlarut-larut. Lebih baik kita mempersiapkan diri, sesuatu yang bisa kita kendalikan, untuk melanjutkan hidup. Usaha itu bisa kita kendalikan, hasil tidak.
Lawang, 4 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau hasil, dalam apa pun, berada di luar kendali kita
Foto Featured Image: Andrew Neel
Produktivitas
Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca
Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.
Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.
Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.
Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.
Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).
Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.
Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.
Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.
Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.
Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.
Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.
Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.
Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.
Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.
Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.
Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.
Penutup
Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.
Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.
Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.
Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil
Pengembangan Diri
Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung
Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.
Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.
Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.

Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.
Postur Duduk Jang Wonyoung
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.
Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.
Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.
Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.
Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.
Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.
Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.
Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.
Mindset ala Lucky Vicky

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.
Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.
Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.
Penutup
Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.
Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).
Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.
Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak
Produktivitas
Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).
Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.
Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.
Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:
- Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
- Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
- Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
- Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
- Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
- Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)
Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.
“Tidak ada nanti”
Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.
Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.
Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.
Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.
Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.
Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.
Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.
Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.
Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.
Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.
Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).
Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.
Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.
Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.
Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda
Featured Image Photo by Moose Photos
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga11 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login