<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hebat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/hebat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/hebat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Dec 2019 04:28:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>hebat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/hebat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 04:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[canda]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata. Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah tertulis pada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">tulisan-tulisan sebelumnya,</a> penulis gemar merenungi tentang alam semesta yang luasnya tak terkira ini.</p>
<p>Salah satu alasannya adalah karena meyakinkan penulis bahwa keberadaan Tuhan benar-benar ada. Segala keteraturan yang ada tidak mungkin hanya karena kebetulan semata.</p>
<p>Karena memercayai keberadaan Tuhan, tentu penulis tidak akan pernah berani merasa lebih hebat dari-Nya. Tapi, benarkah seperti itu?</p>
<h3>Menjalankan Perintah, Menjauhi Larangan</h3>
<p>Jika memang benar penulis tidak pernah merasa lebih hebat dari Tuhan, seharusnya penulis bisa menjalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan baik sesuai yang tertuang di kitab suci ataupun sumber-sumber lain.</p>
<p>Kenyataannya, penulis masih sering melalaikan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Padahal setiap perbuatan tersebut pasti ada ganjarannya, entah di dunia ataupun di akhirat nanti.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Ketika melakukan interopeksi, mungkin karena penulis kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai muslim, penulis termasuk jarang mendengarkan pengajian, baik secara langsung ataupun melalui YouTube.</p>
<p>Ibadah yang wajib pun terkadang masih ada yang tidak dilaksanakan. Dosa dan maksiat yang jelas-jelas dilarang pun masih sering dilakukan. Jika penulis benar-benar menjadi hamba-Nya yang taat, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.</p>
<h3>Belajar Kepada yang Lebih Berilmu</h3>
<p>Jika mau sedikit lunak, sebenarnya apa yang penulis lakukan tersebut sangat manusiawi. Toh, manusia tidak bisa luput dari dosa. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kepada yang lebih berilmu agar kita bisa semakin taat kepada-Nya.</p>
<p>Untuk urusan agama, yang lebih berilmu tentu saja ulama atau ustaz. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari ceramah-ceramah mereka. Apalagi, dengan adanya YouTube dan media sosial membuat kita bisa mengaksesnya lebih mudah.</p>
<p>Ketika menyampaikan suatu hukum dan lain sebagainya, mereka tentu merujuk kepada Alquran, Hadis, hingga pendapat-pendapat imam yang telah disepakati.</p>
<p>Karena Islam ada berbagai mazhab, perbedaan pandangan itu adalah hal yang lumrah. Kita bisa memilih mana yang paling membuat kita merasa yakin.</p>
<p>Nah, yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang membantah perkataan ulama hanya dengan menggunakan logika ataupun dalil kemanusiaan. Bagi penulis, ini salah besar.</p>
<p>Mungkin ada ustaz-ustaz yang kurang cocok dengan kita. Akan tetapi, jangan sampai kita membuat hukum sendiri karena keterbatasan ilmu kita. Jika kurang merasa sreg, coba cari perbandingan dengan ustaz lain.</p>
<p>Kalau penulis amati akhir-akhir ini, banyak orang yang langsung menghujat ustaz karena ceramahnya dianggap kontroversi. Mereka terlihat benci kepada ustaz yang apa-apa diharamkan.</p>
<p>Padahal, beliau mengutip dari sumber yang jelas. Kita pun kemungkinan jarang mendengarkan ceramah-ceramahnya yang lain. Lantas, mengapa kita bisa menjadi sangat <em>judgemental</em>?</p>
<p>Jika sudah demikian, bukankah kita seperti menentang ayat Tuhan? Kita ini siapa kok berani-beraninya meragukan ayat Tuhan.</p>
<h3>Agama Sebagai Bahan Bercanda</h3>
<p>Satu hal lain yang sering membuat penulis mengelus dada adalah ketika agama dijadikan sebagai bahan bercanda. Fenomena ini sering penulis temukan di Twitter.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak pernah tertawa ketika mendengar atau membaca sebuah candaan yang berkaitan dengan agama. Dalilnya di Alquran jelas.</p>
<blockquote><p><em>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa </em>yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya agama yang penulis yakini, penulis juga sama sekali tidak senang ketika ada agama lain dijadikan bahan olok-olokan meskipun yang punya agama pun tertawa karenanya.</p>
<p>Penulis sendiri tidak habis pikir, mengapa fenomena ini seolah dianggap biasa saja. Apakah penulis yang terlalu kaku? Atau kita benar-benar telah merasa lebih hebat dari Tuhan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Teman penulis pernah memberi teguran bahwa iman lebih diutamakan dibandingkan akal. Kita tidak bisa melihat atau mendengar Tuhan secara langsung, sehingga dibutuhkan keimanan untuk memercayai keberadaan-Nya.</p>
<p>Penulis bukannya mau sok suci atau merasa yang paling benar. Justru, penulis menulis ini sebagai pengingat diri agar tidak merasa lebih hebat dari Tuhan yang diyakini ada sejak kecil.</p>
<p>Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama untuk diri penulis sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi oleh banyak hal yang membuat penulis banyak merenung</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@mindaugasbravo">Mindaugas Vitkus</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">Merasa Lebih Hebat dari Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hebat dengan Cara Kita Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 09:54:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>
		<category><![CDATA[minder]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=829</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat.</p>
<p>Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi rendah diri alias minder, tidak percaya dengan diri sendiri.</p>
<p>Yang paling berbahaya tentu iri dengan harta orang lain. Kita iri dengan orang yang punya iPhone X, membawa <em>Lamborghini</em> hingga menggunakan jam tangan Rolex asli.</p>
<p>Iri terhadap barang benda yang sejatinya tidak dibawa mati ini tentu akan membuat kita terus merasa tidak puas. Kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki dan justru berfokus dengan apa yang kita tidak miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[15]">فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ</span><br id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[17]" /><em><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[18]">&#8220;Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?&#8221; (QS. Ar-Rahman [55] )</span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan untuk perbandingan yang kedua, yakni membandingkan sifat, masih bisa kita cari positifnya, asalkan tidak iri dengan sifat jelek orang lain. Seandainya kita melihat orang lain memiliki banyak sifat-sifat positif dan iri karenanya, kenapa kita tidak berusaha menjadi seperti mereka?</p>
<p><em>Karena saya ingin menjadi diri saya sendiri.</em></p>
<p>Lo bukan begitu pola pikirnya. Tidak ada yang menyuruh untuk menjadi orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri <em>yang terus berubah menjadi lebih baik setiap harinya</em>. Mengubah sifat buruk menjadi sifat baik tidak akan menghilangkan jati diri kita.</p>
<p>Selain itu, terkadang kita merasa kagum dengan kehebatan orang lain dan membatin, <em>kenapa aku tidak bisa sehebat dia</em>. Kata siapa? Kita hebat dengan cara kita sendiri, yang belum tentu orang lain memilikinya. Hanya saja, terkadang manusia melupakan kehebatan dirinya sendiri, dan justru iri dengan kehebatan orang lain.</p>
<p><em>Saya memang tidak pernah berbuat sesuatu yang menurut saya hebat</em>.</p>
<p>Baiklah, seandainya memang seperti itu, maka buatlah sesuatu yang hebat sekarang! Tidak ada gunanya meratapi masa lalu sambil memeluk lutut di sudut ruang. Jika kamu merasa seperti itu, bertindaklah, buat dirimu hebat!</p>
<p>Bagaimana caranya? Hanya kita yang tahu bagaimana caranya. Orang lain mungkin hanya bisa memberikan masukan-masukan, tapi kita lah yang menentukan jalan kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maksimalkan kelebihan kita sembari mereduksi kekurangan kita secara perlahan-lahan.</p>
<p>Percayalah, kita hebat dengan cara kita sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi setelah berdiskusi dengan salah satu anggota Karang Taruna</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116">https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
