<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jawa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/jawa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Apr 2024 16:28:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Jawa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/jawa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Jokowi Mengalahkan Lawan-Lawannya Tanpa Berperang</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2024 16:28:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) yang cukup panjang akhirnya selesai, di mana pada akhirnya gugatan yang diajukan oleh kubu 01 dan 03 ditolak semua. Dengan begitu, maka kemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pun telah bisa dipastikan. Tentu saja hasil sidang ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat sepanjang sejarah pemilihan presiden (pilpres) di Indonesia, pihak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/">Bagaimana Jokowi Mengalahkan Lawan-Lawannya Tanpa Berperang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) yang cukup panjang akhirnya selesai, di mana pada akhirnya gugatan yang diajukan oleh kubu 01 dan 03 ditolak semua. Dengan begitu, maka kemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pun telah bisa dipastikan.</p>



<p>Tentu saja hasil sidang ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat sepanjang sejarah pemilihan presiden (pilpres) di Indonesia, pihak kalah yang menggugat tak pernah menang. Prabowo pun pernah melakukan dan mengalaminya dua kali pada tahun 2014 dan 2019.</p>



<p>Namun, pada tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas mengenai hasil sidang tersebut. Penulis ingin membahas hal lain yang masih terkait, yakni tentang bagaimana selama beberapa tahun terakhir Presiden Jokowi bisa mengalahkan lawan-lawannya tanpa perlu &#8220;berperang.&#8221;</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Merangkul Lawan untuk Masuk ke Pemerintahan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7231" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">AHY dan Partai Demokrat Bergabung dengan Pemerintahan Jokowi (<a href="https://www.viva.co.id/berita/politik/1695067-ahy-walau-pendatang-baru-begitu-masuk-saya-merasa-nyaman">Viva</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama Jokowi menjabat sebagai presiden, setidaknya dalam kurun waktu lima tahun terakhir, beliau kerap &#8220;menakhlukkan&#8221; lawan-lawannya dengan <strong>mengajak mereka berkoalisi dan bergabung dengan pemerintahannya</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling mudah tentu saja di tahun 2019, ketika Jokowi mengajak Prabowo untuk bergabung ke dalam kabinetnya sebagai Menteri Pertahanan. Partai yang Prabowo pimpin, Gerindra, tentu saja juga ikut bergabung setelah di periode pertama Jokowi menjadi oposisi.</p>



<p>Setelah Gerindra bergabung dengan pemerintahan, otomatis jumlah oposisi pun menjadi semakin tipis, mengingat sejak awal sudah cukup banyak partai yang berpihak kepada Jokowi. Praktis, hanya PKS dan Partai Demokrat saja yang memiliki jumlah kursi yang signifikan di parlemen untuk bisa menjadi oposisi.</p>



<p>Nama partai terakhir pun ujung-ujungnya berpindah haluan. Setelah sembilan tahun menjadi oposisi, Partai Demokrat resmi merapat di mana &#8220;putra mahkota&#8221; <strong>Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) </strong>menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN).</p>



<p>Setelah Prabowo dan Gibran terpilih, bau-bau lawan mereka di kancah pilpres kemarin untuk bergabung pun semakin tercium. Setelah beberapa waktu lalu dengan Partai Nasdem, baru-baru ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dipimpin Muhaimin Iskandar juga terlihat ada tanda-tanda akan bergabung dengan pemerintahan.</p>



<p>Meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi peserta pilpres, gaya &#8220;merangkul lawan&#8221; sepertinya masih akan terjadi. Dengan <em>gimmick </em>&#8220;demi persatuan bangsa&#8221; dan sejenisnya, para tokoh politik kita akan dengan mudahnya berpindah haluan, tanpa rasa malu.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan era kepresiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), batas antara pemerintahan dan oposisi pada masa itu benar-benar terlihat dan cukup seimbang. PDI Perjuangan sebagai motor oposisi pun terlihat sangat hebat dalam menjalankan perannya tersebut.</p>



<p>Kini, batas antara pemerintah dan oposisi semakin kabur, jika bukan hilang sama sekali. Bagaimana tidak, rasanya hampir semua partai (sejauh ini, selain PKS) akan menganggukkan kepala jika diajak bergabung ke dalam pemerintahan, meskipun sebelumnya menjadi lawan di pemilu.</p>



<p>Inilah cara Jokowi bisa mengalahkan lawan-lawannya tanpa berperang, <strong>dengan mengajak mereka bergabung dengan kubunya</strong>, entah iming-iming apa yang mereka bicarakan di belakang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Politik Jawa ala Jokowi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7230" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/jokowi-menang-tanpa-perang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Prabowo dan Gibran (<a href="https://nasional.kompas.com/read/2024/04/24/11315501/kpu-resmi-tetapkan-prabowo-gibran-presiden-dan-wapres-terpilih-2024-2029">Kompas</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam buku <em>Orang Makan Orang</em> karya Seno Gumira Ajidarma pada halaman 82, disebutkan bahwa <strong><em>dalam politik Jawa, oposisi itu merupakan destabilisisasi, dan Jokowi tidak ingin ada oposisi karena menghindari “dua matahari” yang akan melemahkan daya kekuasaannya</em>.</strong></p>



<p>Mengingat Jokowi merupakan orang Jawa, tentu wajar-wajar saja jika ia menerapkan gaya politik Jawa dalam kepemimpinannya. Namun, apakah politik Jawa yang diterapkan oleh Jokowi benar-benar menyeluruh atau hanya <em>cherry picking </em>saja?</p>



<p>Penulis tidak mendalami apa itu politik Jawa, sehingga tulisan ini lebih bersifat ke penafsiran bebas sesuai pemahamannya. Pada sejarahnya, politik Jawa identik dengan sistem monarki, meingat ada banyak sekali jenis kerajaan yang pernah berdiri di pulau ini.</p>



<p>Kalau sistem monarki di mana titah raja bersifat absolut, wajar jika oposisi dianggap sebagai sesuatu yang bisa mengancam &#8220;stabilitas&#8221; kerajaan. Alhasil, membungkan lawan politik pun bisa dilancarkan dengan mudah demi menjaga &#8220;stabilitas&#8221; tersebut.</p>



<p>Nah, pertanyaannya sekarang, apakah sistem pemerintahan di Indonesia itu monarki atau demokrasi? Jika politik Jawa diterapkan dalam sistem demokrasi, menurut Penulis itu akan menjadi sesuatu yang tidak sehat dan bisa mengarahkan negara kita menjadi tirani.</p>



<p>Ketika periode kedua Presiden Jokowi berjalan, bisa dibilang<strong> ia selalu bisa memuluskan apapun yang diinginkan </strong>mengingat mayoritas kursi di DPR akan mendukungnya. Buktinya, ada banyak aturan atau keputusan yang bisa selesai dalam waktu kilat, jika memang dibutuhkan.</p>



<p>Menurut Penulis, contoh yang paling jelas terlihat adalah pengesahan undang-undang (UU) terkait <a href="https://whathefan.com/politik-negara/analogi-perpindahan-ibu-kota/">Ibu Kota Negara (IKN) baru</a> di Kalimantan. Tanpa dijanjikan ketika pemilu, dalam waktu singkat UU tersebut disahkan dan harus dilanjutkan oleh presiden selanjutnya.</p>



<p>Jika memiliki oposisi yang kuat, mungkin saja keputusan untuk memindahkan IKN tersebut bisa terhambat, bahkan belum disahkan ketika Jokowi lengser pada tahun ini. Namun, karena begitu <em>powerful</em>, UU dan rencana yang harusnya membutuhkan waktu tersebut bisa ketok palu dengan cepat.</p>



<p>Dengan kata lain, gaya memimpin Jokowi yang &#8220;merangkul semuanya&#8221; bisa dibilang adalah <strong>upayanya untuk melemahkan oposisi</strong>, agar daya kuasanya tetap besar. Meskipun ia tak lagi memimpin selama lima tahun ke depan, Penulis rasa pengaruhnya masih akan tetap besar, apalagi dengan adanya anaknya di kursi wakil presiden.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada tahun 2019 setelah masa pilpres, Penulis membuat prediksi bahwa salah satu alasan Prabowo mau menjadi menteri Jokowi adalah untuk &#8220;memuluskan&#8221; ambisinya menjadi presiden di tahun 2024.</p>



<p>Prediksi tersebut ternyata ada benarnya, di mana secara cukup mengejutkan ia mendapatkan <em>support </em>penuh dari Jokowi, bahkan hingga mendudukkan anaknya Gibran sebagai wakilnya untuk membantu mendongkrak suara Prabowo. </p>



<p>Terbukti, strategi tersebut berhasil dan Prabowo-Gibran berhasil terpilih dengan lebih dari 58% suara pemilih. Penulis tidak akan menilai apakah kemenangan itu berhasil didapatkan secara <em>fair </em>atau penuh kecurangan, itu Penulis kembalikan ke para Pembaca sekalian.</p>



<p>Yang jelas, jika mengikuti perkembangan politik akhir-akhir ini, tampaknya Jokowi, melalui Prabowo dan Gibran, akan tetap melakukan politik Jawanya dengan merangkul lawan-lawannya. </p>



<p>Jangan heran jika seorang Anies atau Ganjar pun tiba-tiba menjadi menterinya Prabowo nanti. Tak perlu heran, karena memang seperti itulah cara Jokowi berhasil mengalahkan lawan-lawannya tanpa perlu berperang.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 April 2024, terinspirasi setelah membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma dalam buku <em>Orang Makan Orang</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.porosjakarta.com/sosok/063722075/fakta-unik-jokowi-presiden-indonesia-yang-menginspirasi">Poros Jakarta</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/">Bagaimana Jokowi Mengalahkan Lawan-Lawannya Tanpa Berperang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/bagaimana-jokowi-mengalahkan-lawan-lawannya-tanpa-berperang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[santun]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua. Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.</p>
<p>Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah <strong>maaf</strong>, <strong>tolong</strong>, dan <strong>terima kasih</strong>. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.</p>
<p><strong>Maaf</strong></p>
<p>Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata <strong>maaf</strong>. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak <em>semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang</em>.</p>
<p>Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak <strong>baper</strong>.</p>
<p><div id="attachment_1616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1616" class="size-large wp-image-1616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash.jpg 1800w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1616" class="wp-caption-text">Photo by Tim Mossholder on Unsplash</p></div></p>
<p>Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.</p>
<p>Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata <strong>permisi</strong>, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.</p>
<p>Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.</p>
<p><strong>Tolong</strong></p>
<p>Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata <strong>tolong </strong>harus terucap.</p>
<p>Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di <em>chat</em>. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.</p>
<p>Alih-alih berkata &#8220;mas, tolong save ya&#8221;, mereka justru hanya berkata &#8220;mas save&#8221;. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.</p>
<p><div id="attachment_1617" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1617" class="size-large wp-image-1617" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg" alt="" width="1024" height="735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-768x551.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-356x255.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash.jpg 1097w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1617" class="wp-caption-text">Photo by Dane Deaner on Unsplash</p></div></p>
<p>Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.</p>
<p>Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.</p>
<p>(Peribahasa Jawa <em>kebo nyusu gudhel </em>yang bermakna <strong>yang tua belajar kepada yang muda</strong> benar-benar kerap terjadi di era ini)</p>
<p>Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.</p>
<p><strong>Terima Kasih</strong></p>
<p>Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, <strong>terima kasih </strong>bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.</p>
<p><div id="attachment_1618" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1618" class="size-full wp-image-1618" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-356x244.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1618" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div></p>
<p>Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.</p>
<p>Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah <strong>sama-sama</strong>. Bisa juga dengan kata sederhana seperti <em>oyi, siap, yuhuu</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.</p>
<p>Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.</p>
<p>Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>chat</em> dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/VZILDYoqn_U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Caleb Woods</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sorry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
