<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jujur Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/jujur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/jujur/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2021 13:11:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>jujur Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/jujur/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2021 13:01:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[Di Belakangku]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kebohongan]]></category>
		<category><![CDATA[keterbukaan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5273</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang kau lakukan, di belakangkuMengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul Di Belakangku dari album Bintang di Surga. Karena liriknya cukup puitis, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Apa yang kau lakukan, di belakangku<br>Mengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku</p></blockquote>



<p>Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul <em><strong>Di Belakangku</strong></em> dari album <em>Bintang di Surga</em>.</p>



<p>Karena <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">liriknya cukup puitis</a>, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, lagu ini menceritakan tentang ketidakjujuran yang dilakukan kekasih kepada kita.</p>



<p>Untuk artikel <em>Tentang Rasa </em>kali ini, Penulis akan sedikit mengulik masalah ketidakjujuran dalam hubungan ini, sebuah sikap yang bisa merusak sebuah hubungan menjadi titik terendahnya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keterbukaan dalam Hubungan</h2>



<p>Penulis pernah membaca bahwa salah dua kunci sebuah hubungan berhasil adalah <strong>saling terbuka</strong> dan <strong>komunikasi yang baik</strong>. Kunci yang pertama jelas membutuhkan sebuah kejujuran dari kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak semata.</p>



<p>Dengan saling terbuka, kita bisa saling tahu kondisi satu sama lain tanpa perlu menerka-nerka. Dengan saling terbuka, meskipun terkadang bisa menyakitkan, seharusnya masalah-masalah kesalahpahaman bisa terhindarkan.</p>



<p>Yang jadi masalah adalah jika salah satu memutuskan untuk tertutup dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kalau pihak satunya tidak peka, maka <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>bisa saja terjalin dari sana.</p>



<p>Sesuatu yang dipendam begitu lama, bisa saja tiba-tiba meletus selayaknya gumpalan magma di perut gunung berapi. BOOM. Hubungan yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan segudang permasalahan hanya karena tidak adanya keterbukaan.</p>



<p>Ada hal lain yang lebih berbahaya dari bersikap tertutup. Sudah tertutup, ia menunjukkan sikap yang berbeda di depan dan di belakang kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</h2>



<p>Frasa yang digunakan pada <em>header </em>di atas bisa diidentikkan dengan banyak hal, seperti pengkhianatan yang dilakukan oleh teman atau perselingkuhan yang dilakukan oleh pacar.</p>



<p>Dalam tulisan ini, Penulis mengonotasikan sebagai <strong>perbedaan sikap yang dilakukan oleh seseorang kepada kita</strong>, apapun bentuk hubungannya. Di hadapan kita, ia terlihat begitu manis. Di belakang kita, ia menyemburkan kata-kata yang menyakitkan kita.</p>



<p>Di hadapan kita, ia berkata tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja. Di belakang kita, ia menceritakan semua kemarahan dan sumpah serapahnya tentang kita kepada orang lain.</p>



<p>Bisa saja ia beralasan melakukan hal tersebut karena (klisenya) tidak ingin menyakiti kita, tapi sudah tidak mampu untuk menahannya sendirian. Bisa saja ia beralasan kalau dirinya tidak terbiasa untuk terbuka ke orang lain.</p>



<p>Bersikap <em>fake </em>atau berpura-pura lekat dengan yang namanya kebohongan. Mau apapun alasannya, kebohongan jarang sekali menjadi pilihan yang benar. Apalagi dalam sebuah hubungan, kebohongan bisa menjadi duri yang menyakitkan.</p>



<p>Penulis selalu berprinsip sepahit-pahitnya kejujuran, lebih pahit lagi kebohongan. Alasannya, kita harus menerima dua hal buruk sekaligus: <strong>Pahitnya kebohongan</strong> dan <strong>pahitnya kenyataan yang ia sembunyikan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tak Kau Tunjukkan di Hadapanku?</h2>



<p>Memang, Penulis menyadari tidak semua orang bisa jujur apa adanya. Penulis menyadari bahwa terkadang <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/"><strong>ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan</strong></a> dan lebih baik disimpan untuk diri sendiri.</p>



<p>Minta solusi atau pendapat ke pihak ketiga memang sah-sah saja, dan kadang memang dibutuhkan. Mungkin, masalah yang dihadapi memang terlalu pelik sehingga dibutuhkan seorang mediator.</p>



<p>Hanya saja, sikap yang seperti itu bisa mencederai hubungan tersebut, apalagi kalau sampai menceritakan masalah ke pihak ketiga tanpa pernah berusaha menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu.  </p>



<p>Mungkin, ada yang ragu untuk terbuka karena pihak satunya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada mendengarkan keterbukaan kita. Ketika kita coba terbuka, dianya malah marah-marah dan tidak bisa mendengarkan omongan kita.</p>



<p>Namun, setidaknya berdasarkan pengalaman Penulis, kebohongan seperti itu sangat menyakitkan, seolah ada yang menusuk dari belakang. Sakitnya datang secara tiba-tiba tanpa pernah bisa kita antisipasi.</p>



<p>Yang jelas, ada banyak alasan mengapa yang disembunyikan di belakang tersebut tidak pernah ditunjukkan di hadapan kita. Seringnya, kita tidak akan pernah tahu alasan mana yang menjadi penyebabnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Merespon Ketidakterbukaan</h2>



<p>Seperti yang banyak diajarkan pada aliran filsafat stoikisme, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sifat orang tidak bisa kita kendalikan</a>. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah <strong>bagaimana kita merespon sikap ketidakterbukaan atau kebohongan orang lain tersebut</strong>.</p>



<p>Ada yang merasa kecewa, ada yang merasa dikhianati, ada yang merasa sedih, ada yang merasa marah. Ada yang langsung memutuskan hubungan, ada yang mengulik kesalahan-kesalahannya, ada yang ingin balas dendam atas sakit yang diterima.</p>



<p>Yang hebat jika bisa meresponnya dengan ikhlas dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Yang hebat jika bisa memaklumi dan menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa jujur dan terbuka apa adanya, lalu menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.</p>



<p>Apa yang kau lakukan di belakangku? Entahlah, mungkin kita tidak akan pernah tahu. Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku? Ada berjuta alasan dan mungkin kita tidak perlu tahu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 5 September 2021, terinspirasi dari lagu Peterpan yang berjudul <em>Di Belakangku</em></p>



<p>Foto: <a href="https://bugfox.net/fun/2016/01/25/erased-anime-early-impressions/">FunBlog</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sindir-Menyindir di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2018 07:50:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[menyindir]]></category>
		<category><![CDATA[sarkasme]]></category>
		<category><![CDATA[sindir]]></category>
		<category><![CDATA[sindir-menyindir]]></category>
		<category><![CDATA[terus terang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1007</guid>

					<description><![CDATA[<p>Status, story, dan bentuk-bentuk ekspresi di media sosial lainnya kerap kali menjadi lahan yang dimanfaatkan untuk menyindir seseorang. Terkadang berupa curhatan, walau seringkali diperhalus dengan menggunakan quote-quote yang bertebaran di dunia maya. Coba kita lihat apa arti dari kata sindir di kamus tercinta kita, KBBI: n celaan; ejekan; pb mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan itu ditujukan kepada orang lain; Sedangkan menyindir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/">Sindir-Menyindir di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Status, <em>story</em>, dan bentuk-bentuk ekspresi di media sosial lainnya kerap kali menjadi lahan yang dimanfaatkan untuk menyindir seseorang. Terkadang berupa curhatan, walau seringkali diperhalus dengan menggunakan <em>quote-quote </em>yang bertebaran di dunia maya.</p>
<p>Coba kita lihat apa arti dari kata <strong>sindir</strong> di kamus tercinta kita, KBBI:</p>
<p style="text-align: center;">n <em>celaan; ejekan; </em>pb<em> mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan itu ditujukan kepada orang lain;</em></p>
<p>Sedangkan <strong>menyindir</strong> memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;">v<em> mengkritik (mencela, mengejek, dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang; </em>pb <em>mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan-perkataan itu ditujukan kepada orang lain;</em></p>
<p>Jika dijadikan satu, <strong>sindir-menyindir</strong> berarti:</p>
<p style="text-align: center;">v <em><b class="num">1</b> saling (berganti-ganti) menyindir; <b class="num">2</b> hal menyindir</em></p>
<p>Dengan kata lain, sindiran digunakan ketika kita ingin mengutarakan sesuatu kepada orang lain secara tidak langsung. Sarkasme termasuk salah satu bentuk sindiran. Masalahnya, apa penyebab kita lebih memilih untuk menggunakan sindiran daripada berbicara terus terang?</p>
<p><div id="attachment_1009" style="width: 794px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1009" class="size-full wp-image-1009" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1.jpg" alt="" width="784" height="431" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1.jpg 784w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-768x422.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-356x196.jpg 356w" sizes="(max-width: 784px) 100vw, 784px" /><p id="caption-attachment-1009" class="wp-caption-text">Wajah Sarkas (http://news.bitofnews.com/sarcastic-people-are-smarter/)</p></div></p>
<p>Mungkin, untuk menghindari konflik yang berkepanjangan. Sebagai contoh, kita sedang kesal dengan seseorang. Kita ingin mengumpat kelakukan orang tersebut, dan jelas mengumpat di hadapannya langsung akan menimbulkan pertikaian. Akhirnya, kita memutuskan untuk menyindir di laman media sosial kita, berharap yang disindir tidak merasa.</p>
<p><em>Atau justru berharap supaya yang disindir merasa?</em></p>
<p>Memang ada orang-orang yang membuat sindiran dengan berharap yang disindir merasa bahwa sindiran tersebut ditujukan kepada mereka. Jika yang disindir merasa, ada dua tipe respon yang diberikan:</p>
<ol>
<li><strong>Mengelak</strong>, mengatakan bahwa status tersebut bukan untuk menyindir mereka. Ini merupakan tipe pengecut yang tidak berani jujur.</li>
<li><strong>Mengakuinya</strong>, mungkin ia membuat status agar dapat memulai diskusi (atau pertikaian?) dengan yang bersangkutan.</li>
</ol>
<p>Dalam opini penulis, sindir-menyindir dapat mengakibatkan kesalahpahaman. Membuat status dengan subyek yang ambigu dapat disalahartikan oleh banyak pihak. Bisa saja kan ada orang yang merasa sindiran tersebut ditujukan ke dirinya, meskipun sebenarnya bukan?</p>
<p>Alangkah lebih baik jika <em>grundelan </em>di dalam hati diungkapkan secara terus terang daripada membuat status yang multitafsir. Jika tidak bisa terus terang, maka lebih baik diam. Jika butuh orang lain untuk mendengar keluhanmu, ceritakan permasalahanmu kepada orang-orang terdekat, tidak perlu diumbar ke khalayak umum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 19 Juli 2018, terinspirasi dari sebuah drama di media sosial</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.bustle.com/articles/166098-9-weird-texting-habits-that-can-make-people-want-to-be-around-you-more">https://www.bustle.com/articles/166098-9-weird-texting-habits-that-can-make-people-want-to-be-around-you-more</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/">Sindir-Menyindir di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Jangan) Memendam Permasalahan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2018 03:51:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[koreksi]]></category>
		<category><![CDATA[memendam]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=914</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernah jengkel terhadap orang lain? Rasanya jika manusia normal tentu pernah mengalaminya. Kadang perbuatan maupun perkataan orang lain dapat melukai hati kita, walau belum tentu orang tersebut memang berniat untuk melakukannya. Memendam Permasalahan Beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam hati permasalahan yang tengah mereka hadapi. Dalam bahasanya Jawa mungkin disebut nggerundel. Biasanya, orang-orang yang memilih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/">(Jangan) Memendam Permasalahan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah jengkel terhadap orang lain? Rasanya jika manusia normal tentu pernah mengalaminya. Kadang perbuatan maupun perkataan orang lain dapat melukai hati kita, walau belum tentu orang tersebut memang berniat untuk melakukannya.</p>
<p><strong>Memendam Permasalahan</strong></p>
<p>Beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam hati permasalahan yang tengah mereka hadapi. Dalam bahasanya Jawa mungkin disebut <em>nggerundel</em>. Biasanya, orang-orang yang memilih jalur ini berusaha untuk menghindari konflik.</p>
<p>Alasan lainnya adalah karena mereka ingin berusaha menjaga perasaan orang yang melukai mereka. Mereka takut apa yang akan mereka katakan akan balik menyakiti perasaan orang tersebut. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak ingin balas dendam.</p>
<p><div id="attachment_916" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-916" class="size-full wp-image-916" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1.jpg" alt="" width="1000" height="667" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/girl-crying-1-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-916" class="wp-caption-text">Jangan DIpendam (http://www.jff.org.za/jjf-activism/girl-crying-2/)</p></div></p>
<p>Nah, yang buruk adalah jika kita memutuskan untuk memendam permasalahan yang terjadi, namun berpikiran buruk di belakang yang bersangkutan. Contohnya, membuat status yang digunakan untuk menyindir pihak-pihak tertentu.</p>
<p>Bisa juga, mereka menghasut yang lain dengan menceritakan keburukan-keburukan yang terjadi. Tentu ini dapat memperluas lingkup konflik yang tengah terjadi. Ini sama sekali bukan tindakan yang solutif.</p>
<p><strong>Mengutarakan Permasalahan</strong></p>
<p>Alangkah baiknya jika sedang menghadapi permasalahan, kita hadapi secara terbuka. Langsung temui orang-orang yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, lalu saling membuka diri. Abaikan resiko mereka akan menjadi tersakiti karena keterbukaan kita.</p>
<p>Sama seperti benda organik (selain tanaman yang memang harus ditanam) yang dipendam di dalam tanah, lama kelamaan benda tersebut akan membusuk. Permasalahan yang dipendam hanya akan memperbesar masalah tersebut. Jika bukan hari ini, esok masalah tersebut akan terkuak dengan sendirinya.</p>
<p>Jika kita merasa tidak suka dengan perbuatan orang lain, utarakan secara terus terang apa yang membuat kita tidak suka. Sampaikan dengan santun agar orang tersebut tidak tersinggung dengan ucapan kita. Bagaimana orang lain akan berubah jika kita tidak membantu mereka untuk koreksi diri?</p>
<p>Sebaliknya pun begitu, kita harus terbuka dengan kritikan orang lain. Apabila ada orang lain yang mengatakan ketidaksukaannya terhadap kita, jadikan hal tersebut sebagai bahan interopeksi. Jika perlu, diskusikan kepada orang tersebut, bagaimana caranya dapat mengubah sikap-sikap kita yang membuat orang lain kurang berkenan.</p>
<p><div id="attachment_917" style="width: 730px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-917" class="size-full wp-image-917" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking.jpg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking.jpg 720w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/two-people-talking-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><p id="caption-attachment-917" class="wp-caption-text">Saling Membuka Diri (http://www.au-pair.blog/5-aspects-you-and-your-au-pair-should-discuss/two-people-talking/)</p></div></p>
<p>Apakah semua permasalahan harus diselesaikan secara terbuka? Sejauh ini, penulis cenderung mempercayai hal tersebut dari berbagai pengalaman yang telah penulis alami. Menyimpan permasalahan sendirian hanya akan membuat kita stres. Menyelesaikan permasalahan secepatnya dengan keterbukaan akan mengurangi beban-beban yang kita pikul.</p>
<p>Walau, penulis akui, terkadang terdapat permasalahan yang menurut kita membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Juni 2018, terinspirasi dari sebuah permasalahan yang diselesaikan oleh Ketua Katar yang baru secara cepat dan terbuka</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.flexjobs.com/blog/post/flexibility-help-employees-with-mental-illness/">https://www.flexjobs.com/blog/post/flexibility-help-employees-with-mental-illness/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/">(Jangan) Memendam Permasalahan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-memendam-permasalahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2018 04:07:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bitter truth]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>
		<category><![CDATA[melindungi]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[sweet lie]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=849</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis percaya, bahwa terkadang kita terpaksa berbohong demi melindungi orang-orang yang kita cintai. Kita tidak ingin melukai perasaan orang tersebut, sehingga terpaksa kita mengeluarkan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam bahasa Inggris, disebut sweet lie, kebohongan yang manis. Mengapa disebut demikian? Tentu karena kebohongan tersebut membuat hati kita tenang, terkadang membuat segala prasangka buruk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/">Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis percaya, bahwa terkadang kita terpaksa berbohong demi melindungi orang-orang yang kita cintai. Kita tidak ingin melukai perasaan orang tersebut, sehingga terpaksa kita mengeluarkan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam bahasa Inggris, disebut <em>sweet lie, </em>kebohongan yang manis.</p>
<p>Mengapa disebut demikian? Tentu karena kebohongan tersebut membuat hati kita tenang, terkadang membuat segala prasangka buruk kita lenyap begitu saja.</p>
<p>Akan tetapi, benarkah kebohongan yang manis lebih baik dari kenyataan yang pahit?</p>
<p>Beberapa lebih memilih menerima kenyataan yang ada, alias <em>bitter truth</em>. Tak apa ia membuat kita tersakiti, asalkan jujur apa adanya. Mungkin kita akan sedih untuk beberapa saat, namun waktu akan mengobati luka tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Telling lies to protect someone you love only destroys them in the end</em></p>
<p>Penulis menemukan kata mutiara yang indah di internet, yang bermakna bahwa mengatakan kebohongan untuk melindungi orang yang kita cintai hanya akan menghancurkan mereka pada akhirnya.</p>
<p>Jika dianalogikan, situasi ini bisa digambarkan sebagai seorang wanita yang sedang menyunggingkan senyum manis di bibirnya, namun memegang sebilah pisau kebenaran di balik punggungnya.</p>
<p>Kebohongan jarang sekali dapat bertahan lama, kecuali memang ditakdirkan seperti itu. Bahkan rahasia (dan kebohongan) yang disimpan pemerintah Amerika Serikat dengan penjagaan super ketat pun akhirnya dibocorkan ke publik oleh Julian Assange melalui Wikileaks.</p>
<p>Ketika seseorang mengetahui bahwa ternyata apa yang ia percayai sebagai kebenaran ternyata hanya kebohongan semata, hati mereka akan hancur berkeping-keping karena merasa dikhianati. Kepercayaan kita terhadap mereka pun akan sirna secara perlahan-lahan.</p>
<p>Dalam bahasa <em>game</em>, bisa dikatakan sebagai <em>double hits</em>. Sudah dibohongi, mendapatkan kenyataan yang pahit pula. Kombo inilah yang terkadang menghancurkan banyak hal, mulai perasaaan hingga kepercayaan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, jika penulis harus memilih, penulis lebih memilih <em>bitter truth </em>daripada <em>sweet lie</em>. Kenyataan yang pahit jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Juni 2018, terinspirasi sebuah <em>quote</em> yang indah</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://nicelycaptured.blogspot.com/2012/05/sweet-lie-or-bitter-truth_10.html">http://nicelycaptured.blogspot.com/2012/05/sweet-lie-or-bitter-truth_10.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/">Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
