Connect with us

Tentang Rasa

Ternyata Tidak Semua yang Dirasa Harus Diungkapkan

Published

on

Dari beberapa buku self-improvement yang Penulis baca, salah satu cara untuk menjalin hubungan dengan orang adalah dengan menjaga komunikasi yang terbuka.

Sebisa mungkin, jangan sampai ada hal yang mengganjal di dalam hati. Jika ada permasalahan, coba untuk segera diselesaikan dengan baik-baik.

Katanya dengan komunikasi yang baik dan saling jujur satu sama lain, hubungan kita dengan orang lain akan bertahan lama dan semakin erat.

Penulis pun berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika berkaitan dengan orang-orang terdekat.

Hanya saja akhir-akhir ini, Penulis jadi meragukan hal tersebut. Ternyata, tidak semua hal harus diungkapkan.

***

Perasaan itu ada banyak bentuknya, entah kecewa, senang, marah, sayang, cemburu, sakit hati, dan lain sebagainya. Apa tujuan kita menyampaikan apa yang kita rasa?

Bisa macam-macam, seperti agar tidak ada yang mengganjal di hati, orang lain dapat memahami perasaan kita, dan lain sebagainya. Hanya saja, realitas yang terjadi bisa berbeda dengan ekspetasi yang kita harapkan.

Syukur-syukur kalau orang tersebut bisa mendengar apa yang kita rasa dan menerimanya dengan lapang dada. Tapi, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?

Harapan agar orang lain memahami perasaan kita setelah diungkapkan justru memicu percikan permasalahan baru. Bisa jadi orang tersebut justru merasa tersinggung atau risih dengan yang kita lakukan.

Terkadang, setelah kita mengungkapkan apa yang kita rasakan, orang tersebut justru menjauh. Keinginan kita agar hubungan menjadi lebih dekat pun jadi sirna.

Yang terjadi kemudian? Orang-orang yang mudah overthinking seperti Penulis pun berpikir ke sana kemari. Muncul perasaan bersalah, seharusnya kita tidak mengungkapkan perasaan tersebut agar tidak terjadi pertengkaran, agar dia tidak menjauh.

Mungkin terkadang memang lebih baik diam, menyimpan bentuk perasaan yang sekiranya akan menyakiti atau mengganggu orang lain walau hati sendiri yang menjadi korbannya. 

Dalam kehidupan nyata, teori-teori indah yang tertulis di buku self-improvement itu ternyata tidak selalu terjadi.

***

Bahasa yang digunakan untuk menyampaikan perasaan kita juga sebisa mungkin tidak menyakiti orang lain. Bisa jadi, orang tersinggung dengan pemilihan kata yang kita pilih, bukan perasaan yang kita sampaikan.

Memang benar jika memendam sesuatu terlalu lama itu tidak baik. Bukan tidak mungkin jika itu berubah menjadi sesuatu yang buruk seperti stres dan depresi.

Hanya saja, ada baiknya kita memilah dulu mana yang memang harus diungkapkan dan mana yang sebaiknya disimpan saja. Tentu susah untuk menentukannya, tapi seiring berjalannya waktu kita akan terbiasa melakukannya.

Mungkin, kita butuh menyibukkan diri dengan kegiatan yang produktif agar kita bisa melupakan perasaan-perasaan yang terpendam itu.

 

 

 

Lawang, 4 Desember 2020, terinspirasi setelah menyadari kalau tidak semua hal harus diungkapkan, ada yang sebaiknya disimpan saja

Foto: Yolanda Sun on Unsplash

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tentang Rasa

Mengorbankan Kebahagiaan Diri Sendiri

Published

on

By

“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”

Sujiwo Tejo

Penulis hampir membaca semua buku karya Sujiwo Tejo. Bisa dibilang, quote yang berasal dari buku Talijiwo di atas merupakan favorit Penulis.

Ketika kita cinta atau sayang seseorang, secara umum kita akan berharap kalau yang dicintai bisa selalu bahagia. Kalau bisa, kita yang menjadi sumber kebahagiaannya.

Kalau kita sudah menyayangi seseorang, seolah kita mau dan bersedia untuk melakukan apa yang ia minta. Tak jarang kita membelikan sesuatu untuk menyenangkan hatinya.

Pertanyaannya, jika ia meminta kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebahagiaannya, apakah kita rela untuk melakukannya?

Ketika Kita Diminta Mengorbankan Kebahagiaan Sendiri

Logikanya, jika orang tersebut benar-benar menyayangi kita, apakah mereka akan meminta kita mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi kebagiannya sendiri? Jawabannya mungkin tidak.

Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat ia “terpaksa” meminta hal tersebut demi berbagai alasan. Salah satunya adalah demi kebaikan bersama.

Contoh 1: Berpisah karena Sering Bertengkar

Anggap saja ada situasi seperti ini. Kita baru saja bertengkar hebat dengan pasangan karena permasalahan yang sebenarnya sudah sering terjadi, tapi terus berulang.

Menurutnya, perpisahan adalah pilihan terbaik karena seringnya pertengkaran yang terjadi menunjukkan kalau kita tidak cocok untuk menjalin hubungan.

Mau kita berargumentasi seperti apapun, ia tetap bersikukuh dengan keputusannya. Mau tidak mau, kita pun mengorbankan perasaan kita yang sebenarnya masih memiliki rasa kepadanya.

Dalam kondisi seperti ini, kemungkinannya adalah masing-masing harus saling mengorbankan kebahagiannya. Sebenarnya masih ingin bersama, tetapi rasanya perpisahan menjadi jalan keluar satu-satunya demi kebaikan masing-masing.

Contoh 2: Dia Sudah Tidak Kuat dengan Keburukan Kita

Contoh lain, pasangan kita merasa sudah capek dengan sikap buruk kita. Mau kita berjanji seperti apapun, ia tidak memberikan kesempatan kedua untuk membuktikkan kalau kita bisa berubah.

Bisa juga ia sudah memberikan beberapa kesempatan agar kita mengubah sikap. Sayangnya, kita tetap saja melakukan kesalahan yang sama hingga membuat ia muak dan risih.

Padahal, kita merasa bahagia karena memiliki hubungan dengannya. Sayangnya, ia merasa tidak bahagia jika kita ada di dekatnya. Ia baru bisa merasa bahagia jika kita menjauh darinya karena menurutnya kita memiliki sifat-sifat yang buruk.

Dalam kasus seperti ini, kita jauh lebih dituntut untuk mengorbankan kebahagiaan kita sendiri dibandingkan contoh kasus yang pertama.

Contoh 3: Pasangan Toxic yang Semaunya Sendiri

Ada lagi yang lebih buruk. Misal kita sudah begitu bucin kepada seseorang yang begitu demanding, bisa dipastikan kita akan selalu diminta untuk mengorbankan banyak hal.

Ia sering meminta dibelikan sesuatu, melarang kita kumpul bersama teman, menuntut kita menjadi ini itu. Ia ingin diperlakukan sebagai orang yang paling istimewa dalam hidup kita.

Kalau sudah demikian, itu sudah bukan hubungan yang sehat, melainkan toxic sehingga sebaiknya diakhiri saja. Pengorbanan kita tidak sebanding dengan yang kita dapatkan.

Penutup

Masih ada banyak contoh lain tentang pengorbanan kebahagiaan kita demi kebahagiaan orang yang kita sayang. Hanya saja, tiga contoh di atas rasanya sudah cukup.

Idealnya jika ada dua orang saling menyayangi, mereka tidak akan meminta orang yang disayangi untuk mengorbankan kebahagiannya. Pasti kita ingin saling membahagiakan.

Sayangnya, terkadang ada keadaan atau kondisi yang membuat hal tersebut harus terjadi. Konflik yang terjadi mungkin sudah terlalu pelik sehingga harus ada yang berkorban atau pedihnya saling berkorban demi kebaikan bersama.

Bisakah kita berkorban tanpa perlu merasa berkorban? Mungkin bisa, tapi rasanya begitu berat untuk bisa seperti itu. Manusia pada dasarnya memiliki ego yang cukup besar, sehingga perasaan berkorban pasti ada jika dipaksa melakukan sesuatu.

Cinta memang tidak membutuhkan perasaan berkorban. Jika datang masanya ketika kita mulai merasa berkorban, mungkin perasaan cinta tersebut sudah mulai pudar seperti kata Sujiwo Tejo.


Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi dari kamu

Foto: Jeremy Bishop

Continue Reading

Tentang Rasa

Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan

Published

on

By

Pepatah lama mengatakan, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Masalahnya, perpisahan yang seperti apa?

Terkadang ada perpisahan baik-baik, ada yang buruk, ada yang menyeramkan. Yang pasti, tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Semua perpisahan terasa menyesakkan dada.

Hubungan antar manusia pun tak bisa terelakkan dari perpisahan. Dipisahkan maut, visi yang berbeda, kesalahpahaman, hubungan yang toxic, hingga yang tiba-tiba terasa asing.

Kebanyakan, selalu ada dua pihak. Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan.

Orang yang memutuskan untuk meninggalkan pasti punya alasannya sendiri. Demi kebaikan bersama, karena menuruti ego, karena tak tahan dengan kondisi, dan masih banyak lainnya.

Bagaimana dengan yang ditinggalkan? Pilihannya lebih sedikit, antara ikhlas menerima atau merutuk keadaan yang ia alami.

Perihal meninggalkan dan ditinggalkan memang tak pernah semudah yang terlihat.

Terkadang, ada alasan-alasan yang membuat kita tetap ingin tinggal. Terjebak kenangan, terjerat komitmen, mengkhawatirkan masa depan.

Baik yang meninggalkan maupun ditinggalkan sejatinya sama-sama berat jika perpisahan sebenarnya bukan hal yang diinginkan. Perpisahan menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Meninggalkan bukan hanya tentang memutuskan hubungan dengan seseorang. Meninggalkan artinya harus bisa menerima kenyataan bahwa setelah ini hidup tak akan lagi sama tanpanya.

Meninggalkan bukan hanya tentang mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang kita sayang. Meninggalkan artinya harus berusaha melupakan berbagai memori indah yang membuat kita menyimpulkan senyum.

Ditinggalkan bukan hanya tentang melihatnya pergi menjauh tanpa sebab yang pasti. Ditinggalkan artinya berusaha memahaminya walau tak ada penjelasan apapun.

Ditinggalkan bukan hanya tentang menerima takdir. Ditinggalkan artinya harus bersiap dengan salah satu kondisi hati yang paling buruk.

Pada akhirnya, perihal meninggalkan dan ditinggalkan tidak pernah sederhana.

***

Hubungan antar manusia memang tidak ada yang abadi. Keluarga, teman, pacar, semua pasti memiliki akhir dengan bentuk yang berbeda-beda. Secara garis besar, ada dua penyebab utamanya: kematian atau hubungan yang memburuk.

Jika berpisah karena kematian, mungkin kesannya “lebih mudah” karena hal tersebut sudah takdir sehingga kita mau tidak mau harus menerima keadaan. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menentang takdir.

Tapi jika hubungan berakhir karena hubungan yang memburuk, rasanya terasa lebih susah dan berat untuk kedua belah pihak. Mungkin ada satu dua hal yang membuatnya terasa mudah, tapi kebanyakan tidak seperti itu.

Naluri kita sebagai manusia akan berusaha untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan yang buruk tersebut. Kecuali, jika orang tersebut membuat kesalahan yang fatal sehingga rasanya lebih baik berpisah jalan dengannya.

Penulis merasa bahwa perasaan ditinggalkan adalah salah satu perasaan terburuk yang pernah dirasakan. Apalagi, Penulis adalah tipe orang yang lebih suka menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain.

Akibatnya, Penulis seolah terus merutuk diri sendiri dan menyesali perbuatan yang dianggap sebagai pemicu buruknya hubungan. Padahal, belum tentu prasangka Penulis benar dan mungkin orang tersebut memang sekadar ingin menjauh saja.

Walau sudah sering merasa ditinggalkan, hal tersebut masih terasa berat bagi Penulis. Mungkin, seiring berjalannya waktu, Penulis bisa belajar untuk lebih dewasa dan menerima keadaan tersebut.


Lawang, 3 Juli 2021, terinspirasi ketika sedang merasa (lagi-lagi) ditinggalkan

Photo by Alexander Lam on Unsplash

Continue Reading

Tentang Rasa

Ketika Perasaan dan Logika Saling Bertentangan

Published

on

By

Kata orang, laki-laki itu lebih mengandalkan logika. Sebaliknya, perempuan lebih mengandalkan perasaan.

Pada kenyataannya, menurut Penulis, tidak selalu seperti itu. Tak jarang laki-laki menggunakan perasaannya, tak jarang pula perempuan memilih percaya dengan logikanya.

Baik laki-laki maupun perempuan bisa menggunakan keduanya. Kadang bisa berimbang, lebih sering berat sebelah. Akibatnya, kita kerap berdebat dengan diri sendiri. Perasaan dan logika kita saling berebut kuasa atas diri kita.

***

Secara sederhana, logika adalah akal berpikir kita yang membuat penalaran dari sebuah peristiwa. Dalam masalah hati, logika kerap menghubungkan apa yang terjadi saat ini dengan apa yang akan terjadi di masa depan.

Contoh, jika kita memiliki pasangan yang malasnya minta ampun, logika kita akan membayangkan kalau ia akan jadi ibu yang buruk sekali. Ia akan lalai melakukan kewajibannya dan menghabiskan waktu untuk bersantai. Walau belum tentu benar, kurang lebih seperti itu logika bermain.

Sedangkan perasaan kerap dikaitkan dengan reaksi batin dari dalam diri. Cinta, gembira, sakit, kecewa, adalah contoh perasaan yang kerap kita rasakan sebagai manusia.

Nah, logika dan perasaan dalam diri ini seolah saling bertolak belakang. Akibatnya, tak jarang kita dibuat dilema mana yang harus kita pilih antara keduanya.

***

Dalam masalah percintaan, perasaan dan logika kerap saling bertentangan. Perasaan merasa nyaman dengannya, tetapi logika berkali-kali menolak keberadaannya.

Contoh, kita merasa sayang dengan seseorang karena memiliki banyak kesukaan yang sama. Logika kita menolak menjalin sebuah hubungan karena sifatnya yang bertentangan atau tidak cocok dengan kita.

Contoh lain, kita dekat dengan dua orang lawan jenis. Perasaan kita tertambat dengan si A tanpa tahu apa alasannya, namun logika mengatakan kalau si B jelas menjadi calon pasangan yang lebih baik untuk masa depan.

Contoh lain, kita merasa begitu cinta dengan seseorang karena ia adalah sosok ideal. Logika kita menyuruh untuk melupakan karena masalah beda agama, akan ada banyak sekali yang menentang hubungan tersebut.

Ada banyak contoh lainnya, tapi rasanya cukup itu saja. Penulis mengakui dirinya kurang berpengalaman dalam masalah percintaan.

***

Ketika perasaan dan logika sudah saling bertentangan, tak jarang kita akan dibuat stres dan uring-uringan. Karena sulit membuat keputusan, emosi kita jadi labil dan memengaruhi keseharian kita.

Jika sudah demikian, cobalah untuk menepi sejenak. Coba tenangkan diri hingga diri kita bisa berpikir dengan lebih jernih. Coba ganti suasana dengan cara apapun sesuai dengan kepribadian kita.

Selain itu, tidak ada salahnya untuk mencurahkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita ke orang yang kita percaya. Walaupun tidak 100% menghasilkan solusi, bercerita ke orang lain dapat meringankan beban kita.

Jika kebimbangan kita melibatkan orang lain, coba ajak orang tersebut untuk berbicara dari hati ke hati. Mungkin kita akan mendapatkan sudut pandang baru darinya. Jangan mengambil keputusan secara sepihak, jangan menuruti ego sesaat.

***

Tidak ada teori manapun yang mengatakan kalau salah satu dari perasaan atau logika adalah pilihan yang lebih baik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung dari banyak faktor.

Mau manapun yang dipilih, semua memiliki konsekuensinya sendiri. Kita dituntut untuk bisa menerima konsekuensi tersebut.

Kalau Penulis sendiri, idealnya keduanya bisa seimbang. Logika yang berperasaan atau perasaan yang berlogika. Jangan terlalu condong ke satu sisi. Sulit? Jelas, makanya Penulis menyebutnya sebagai kondisi ideal.


Lawang, 22 Mei 2021, terinspirasi setelah menyadari perasaan dan logikanya kerap bertentangan

Foto: PxHere

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan